Askar — Para Remi

Askar — Para Remi
Tersirat


__ADS_3

Sebenarnya, Rindu Pohon bukan taman, melainkan sebuah tempat peristirahatan. Kebetulan saja pemiliknya suka mengoleksi tanaman hias dan sebagainya dan menjadikannya daya tarik untuk tempat tersebut. Dalam bangunan utama Rindu Pohon terdapat sebuah lobby yang cukup besar; di bagian kiri bangunan ada dapur, dan di kanan berbagai macam fasilitas lain seperti perpustakaan, ruang makan, dan penginapan.


 Kemegahan bangunan tersebut membuat Mudita terperangah, secara dia belum pernah tahu betapa besarnya Rindu Pohon. Gadis itu mengekori Fajri, memasuki lorong bagian kanan.


 "Rumah kamu di mana?" suara Fajri menyadarkan Mudita dari lamunannya. Lelaki itu menoleh, kedua tangannya disembunyikan dalam saku celananya.


 Mudita terdiam, otaknya mencerna pertanyaan Fajri yang mendadak. "Saya orang asli sini, mas," ucapnya dengan senyuman terpaksa.


 "Oh, kok saya baru ngeliat kamu, ya? Saya juga orang asli sini."


 "Masa, sih?" Mudita terdiam sejenak. "Mas, kenal bude Marni, ngga?"


 "Ohh, kenal. Itu yang suka jualan di DP, kan? Tukang kacang ama gorengan keliling?"


 Jawabannya mungkin benar, tapi Mudita masih belum puas dan curiga. "Iya," jawabnya singkat. "Emang rumah mas di mana?"


 Fajri berdehem, "Ngga jauh dari sini. Deket masjid."


 "Berarti kenal bule Ikun?"


 Pertanyaan Mudita dihiraukan. Fajri mendadak belok kiri, masih menyusuri lorong yang sama. "Kamu keliatan muda. Atau, kamu yang terlalu pendek?"


 "Aku 16!" Mudita mendengus kesal. "Ngomong-ngomong, bukannya penggolongan buat umur 17an doang, ya? Kok, saya su—"


 "Mana saya tahu. Saya bukan Joker."


 "Kok, Joker, sih? Kan, kita Hati," Mudita mengoreksi ucapannya.


 Itu merupakan kata-kata terakhir yang terucap di antara mereka. Selebihnya, selama menyusuri lorong, Fajri diam—apalagi Mudita yang hanya menjawab pertanyaan semenjak memasuki bangunan tersebut.


 Selang beberapa menit, mereka akhirnya menemui ujung lorong. Sebuah pintu berwarna coklat tua berdiri sendiri. Fajri membuka lebar pintu itu dengan senyuman manisnya.


 "Pelatihan dimulai dari sekarang."



 Kembali lagi bersama para Askar yang masih duduk termenung di warteg pinggir jalan. Dalam kurun waktu kira-kira setengah jam, mereka sudah berhasil menghabiskan sebungkus rokok. Di tengah kesunyian mereka, sebuah benda bulat melintas cepat di lantai warteg menuju dapur. '"Astaghf—"


 "Assalamualaikum!" sahut penjaga warteg, memasuki ruangan. Kedua tangannya menggenggam beberapa kantung plastik.

__ADS_1


 "Waalaikumsalam," ucap para Askar serentak. "Dari mane aja lo? Apaan yang tadi gelinding?" tanya om Sujana.


 Penkaga warteg itu tertawa kecil. "Biasa, belanja bahan. 'Mayan dah, mumpung cabe murah."


 "Gue ngga ngelarang lu belanja. Cuma, tau waktu. Masa ampe nyuruh pelanggannya jaga warteg," om Sujana mematikan rokoknya.


 "Iye, maaf," lelaki itu berjalan memasuki dapur.


 Oddy menghela nafas, mematikan putung rokoknya. Ia memiringkan gelasnya, menggunakan sisa air minumnya untuk mencuci tangan. "Om, Oddy balik dulua—"


 "Ya Allah, gua beli semangka cakep-cakep malah bonyok," penjaga warteg itu kembali. Ia menampar-nampar semangka yang dibawanya.


 "Itu semangka buat dimakan. Bukan ditampar, Malih," ucap om Sujana.


 "Ya, kalo udah bonyok gini mah kagak bisa dimakan, bang."


 "Belaga lo. Itu bonyok kematengan. Kagak busuk," om Sujana berdiri. "Mending buat gua kalo kagak mau."


 "Bayar."


 Om Sujana mendengus kesal. "Dasar, kagak mau rugi. Gua bayar setengah dah."


 Sementara om Sujana dan penjaga warteg melakukan transaksi, Oddy bersama om Rival menunggu di luar warteg. Oddy bersandar di dinding warteg, memainkan ponselnya. Notifikasi grup Whatsapp yang sedari tadi diabaikannya menarik perhatian ketika sekilas nama terlintas dalam notifikasi tersebut.


 _maaf, aku jarang nongol di grup:v_



 Sepanjang perjalanan kembali ke Rindu Pohon, om Sujana mengeluh perihal transaksisanya bersama si penjaga warteg. Kedatangan para Askar di Rindu Pohon disambut oleh Fajri, Olivia, bang Arif, dan Mudita yang tengah duduk di sebuah meja bundar.


 Olivia mengangkat kepalanya, menyadari keberadaan para Askar terlebih dahulu, diikuti oleh Mudita. "Ehh, udah pada balik!" sahutnya dengan senyuman lebar. "Makan di mana? Kok, lama baliknya?"


 Pertanyaan Olivia diacuhkan; Oddy hanya diam, lalu duduk di samping Mudita yang sedang mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Om Rival hanya tersenyum, membiarkan om Sujana menjawab pertanyaan Olivia. "Iye, lama. Semangka bonyok harganye 35 ribu, lah gue kagak terima—" dan seterusnya om Sujana mengeluh.


 Melihat tingkah dan wajah Oddy yang masam, Mudita perlahan geser mendekati Oddy. "Kamu dari mana?" suaranya lemah, nafasnya terdengar sedikit terengah-engah.


 "Warteg," jawaban Oddy singkat. Tangannya merogoh sakunya, mengambil ponselnya.


 Setelah ocehannya, om Sujana kemudian duduk di sebelah bang Arif. "Jadi, gimane? Si... Keponakan gue? Beneran masuk Hati, kan?" tanya om Sujana kepada Fajri.

__ADS_1


 "Iya, om. Dia udah bagus kok, latihannya," lelaki itu tersenyum kecil.


 Om Sujana mengangguk, "Cuman kok, dia keterima, ya? Bukannya masih di bawah umur?"


 "Kalau soal itu, saya kurang tahu, om. Di sini, saya kerjaannya cuma menjaga Rindu Pohon sekalian jadi Jack Hati."


 "Ohh," om Sujana mengalihkan pandangannya kepada Olivia. "Kalo neng? Tau ngga kenapa?"


 "Ngga tau, om. Saya ngga dapet info apa-apa dari atasan saya," ucap Olivia.


 "Loh, kamu kan Queen. Masih ada atasannya lagi?"


 "Maksudnya, mantan Queen Hati, om. Dia masih jadi konsultan saya. Soalnya, saya kan masih muda, ngga mungkin dong, tiba-tiba jadi Queen suatu golongan."


 "Ohh, iye, iye, bener," ucap om Sujana. "Emang mantan Queen Hati lagi di mana?"


 "Lagi di luar Jabodetabek, om. Katanya mumpung masih baru-baru ganti jabatan, masih blom sibuk, dia mau pulang kampung bentar. Ada urusan katanya di kampung," balas Fajri.


 Sementara para Askar berbincang bersama kedua wakil Hati, Oddy hanya memainkan apapun yang ada di ponselnya. Ia mencoba untuk mengabaikan keberadaan Mudita, menanti penjelasan darinya.


 Benar saja. Mudita perlahan mengelus pundaknya. "Kamu kenapa, sih? Tumben diem."


 Oddy menoleh, wajahnya datar. "Kamu kenapa? Tumben ngga ngabarin aku abis latian."


 "Kan, aku baru keluar—?"


 "Tapi, udah sempet nongol di grup Soapers?" Oddy mendecak. "Mana seru banget lagi ngobrolnya ama Reja."


 Mudita terdiam. "Ya, maksud aku abis itu, mau ngabarin kamu.. Kamu kenapa ngga ngabarin kamu keluar?"


 "Hape kamu aja ama bang Arip. Kalo kamu pengen tau kan tinggal nanya ke dia."


 Walau riuh terdengar percakapan para Askar dan Hati, Oddy dan Mudita terdiam. Wajah Mudita kembali datar pula, tangannya tidak lagi menggenggam erat ponselnya. "Ngapain aja tadi?" Oddy akhirnya bertanya.


 Mudita mengangkat kepalanya sejenak, menoleh ke arah gerombolan orang di samping mereka. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke Oddy, tersenyum kecil. "Nanti aku ceritain."


 "Emang sekarang kenapa?"


 Mudita terdiam, mengetuk layar ponselnya. Setelah selesai, ia mengangkat ponselnya, menunjukkannya kepada Oddy.

__ADS_1


 "Bahaya."


__ADS_2