
Mungkin, ini ide yang buruk.
Oddy perlahan menyeret kakinya melalui gang kecil. Tangannya mulai berkeringat melihat rumah jingga yang kian mendekat jaraknya. Jarinya mengetuk layar ponselnya, memberi kabar kepada Mudita.
Sayang...
Selagi menunggu, Oddy duduk di sebuah pijakan, walaupun kawasan itu milik orang lain. Pandangannya tidak lepas dari rumah jingga itu.
Selang beberapa menit, suara pintu terbuka menyadarkan Oddy dari lamunannya. Oddy berdiri ketika melihat Mudita keluar dari pintu—diikuti oleh seorang wanita, ibunya. Seketika Oddy merasa jantungnya akan melompat keluar dari dadanya, tetapi ia tetap menjaga image-nya. Perlahan ia berjalan menuju mereka.
Mudita berpamitan kepada ibunya, keduanya menyambut Oddy dengan seulas senyuman. "Kalo bisa, pulangnya jangan malem-malem, ya," ucap si wanita.
"Iya, tante," Oddy mengulurkan tangannya untuk berpamitan. "Ya udah, kita pergi dulu ya, tante."
"Iya, ati-ati."
Mudita menundukkan kepalanya, diikuti oleh Oddy, sebelum berjalan keluar gang dan menuju jalan besar. "Kamu bilang apa sama ibu?" tanya Oddy, melirik ke Mudita.
Mudita hanya mengangkat kedua bahunya. "Ya, aku bilang aku masuk Hati."
Oddy diam, menunggu lanjutan cerita Mudita. "Terus...? Ceritain, lah."
Mudita menghela nafas. "Ya, kemaren pas pulang aku langsung kasih tau ibu. Ibu kaget, trus bapak protes. Katanya ngga mungkin lah, atau gimana. Kita maklumin, dia lagi sakit. Tapi, ya, aku bilang mau diomongin lagi ama yang lebih ngerti. Cuma, aku bilangnya kumpul di Mahar."
"Keren," Oddy menaiki motornya, menyalakan mesinnya. "Selama ini kita pacaran, aku masih jadi pacar gelap kamu."
Mudita ikut menaiki motor. "Ya, ngga lah. Udah pada tau juga."
"Hmm," Oddy menarik gas, menuju Yonzikon.
__ADS_1
...♡...
Perjalanan mereka terbilang singkat—atau mungkin karena mereka bercanda selama perjalanan, jadi terasa singkat. Sementara Oddy memarkirkan motornya, Mudita menunggu di gerbang utama. Seorang lelaki dengan seragam biru muda duduk di pos satpam, mengetik di laptopnya. Mudita hanya memandangi orang itu dari kejauhan.
Seakan sadar akan keberadaannya, lelaki itu mengangkat kepalanya. "Ngapa lu liat-liat?" tanyanya dengan nada datar.
Mudita mati kutu. Ia menundukkan kepala, perlahan berjalan mundur. "M-Maaf, mas! Saya ngga bermaksud!"
Lelaki itu hanya berdehem. "Awas nabrak."
Mudita bingung, namun langkahnya terhenti ketika ia menabrak seseorang. Ia menoleh ke belakang, mendapati Oddy dan seorang lelaki tinggi. "Ahh, maaf!" ia menunduk, lagi.
"Ini temen lu, Dy?" tanya om Sujana. "Ngga usah takut, gue ngga gigit. Ngga tau si Oddy."
"Yeh, om," Oddy tertawa kecil, menepuk pundak Mudita. "By, minjem hape, boleh?"
Oddy menerimanya, kemudian membuka aplikasi perpesanan. Jarinya mengetuk pesan teratas. "Ini, om," Oddy menunjukkan pesannya. "SMSnya sebelas-dua belas ama surat yang biasanya dikirim ke anggota baru."
Lelaki itu perlahan mengambil ponsel Mudita dari genggaman Oddy. Matanya memandang lauar ponsel Mudita. Tangannya kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel miliknya sendiri. "Iya, kok bisa nomor gue, ya?" ia mengangkat kepalanya. "Rip, sini bentar deh, Rip!"
Satpam yang semula mengetik di laptopnya kemudian bangkit, berjalan mendekati mereka. "Ngapa, bang?" tanyanya, menatap gawai yang afa di genggaman om Sujana.
"Ini, ada orang ngirim pesen pake nomer gue ke hape die. Masalahnya, itu nomer pribadi yang ngga pernah gue bagi-bagi," om Sujana memberikan ponsel Mudita kepada bang Arif. Bang Arif berdehem, jemarinya mengetuk layar ponsel dengan cekatan.
"Kurang tau dah, bang. Bisa aja sih nyoba dilacak, cuma makan waktu."
"Hapenya boleh dipinjem dulu, ngga?" om Sujana melirik ke arah Mudita. Gadis itu tampak berpikir, tangannya menggenggam tangan Oddy.
"Kira-kira berapa lama ya?" tanya Mudita.
__ADS_1
"Berapa lama, Rip?"
Bang Arif diam, berpikir. "Harusnya sih, ngga kena sehari. Tergantung juga," jawabannya membuat Mudita bimbang—dia tidak bisa pulamg tanpa ponselnya. Apa yang akan dikatakan orang tuanya?
Seakan membaca pikiran Mudita, om Sujana kemudian tersenyum lebar. "Ah, begini. Sekalian nunggu, kita ke tempat Hati aja," om Sujana menoleh ke bang Arif. "Lu ikut aja dah, Rip. Sekalian cuci mata kite."
"Cuci mata...?" Mudita bertanya, suaranya pelan.
"Iye lah, neng. Tua begini juga butuh yang seger-seger. Cewe Hati sini kan, bening-bening, lebih cakep daripada Wajik yang menang duit doang."
Oddy melirik Mudita, tertawa kecil. "Boleh juga tuh, om," ucapannya menerima tamparan di lengan kanannya oleh Mudita. Oddy hanya tertawa, "Ihh, kan biar kita sekalian tau kamu beneran diterima di Hati atau ngga."
"Bener tu kata Oddy. Kite ngga bakal tau lu diterima atau kagak. Kudu kita cek langsung ke markasnya," ucap om Sujana.
"Emang markas Hati di mana, om...?" tanya Mudita, masih belum mempercayai kedua askar itu.
"Ngga jauh, kok. Ikut aja, lu bisa liat sendiri nanti."
Sesaat berlalu dan Mudita akhirnya membuat keputusan. Gadis itu menganggukkan kepalanya perlahan dan dalam sekejap, om Sujana dan bang Arif telah mempersiapkan sebuah mobil. Mereka memasuki mobil, mendapati seorang lelaki di kursi pengendara.
"Mau jalan-jalan ke mana hari ini?" tanya om Rival.
"Pal, kite ke Rindu Pohon deket Haji Lele," ucap om Sujana yang duduk nyaman di kursi depan.
Om Rival mengangguk, menoleh ke kursi belakang. "Loh, ada Oddy sama pacarnya. Mau sekalian kencan, ya?"
Candaan om Rival menuai tawa dari Oddy. "Ya, gitu deh, om," sementara itu, Mudita mendekati Oddy dan menggenggam lengannya, menjauhi bang Arif yang duduk di sebelahnya.
Dengan begitu, om Rival menancap gas, mengendarai mobil keluar dari kawasan Yonzikon. Seorang askar menyalami mereka setelah melewati gapura Yonzikon.
__ADS_1