
Perjalanan Oddy dan om Rival menuju tempat pelatihan Waru terbilang singkat, mungkin juga karena mereka banyak berbincang selama perjalanan. Oddy menoleh ke jendela mobil, mendapati sebuah pura yang megah di hadapan mereka. Tulisan "Batalyon Zeni Konstruksi 13/KE" terpampang jelas di atas pura tersebut.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti. Si pengendara melepaskan sabuk pengamannnya, diikuti oleh suara kunci pintu mobil yang terbuka. "Ayo," om Rival membuka pintu mobil terlebih dahulu. "Kita udah sampe," ia menahan pintu mobil, menunggu keponakannya beranjak keluar.
Oddy keluar, perlahan berdiri dan menatap sekelilingnya. Terdapat dua padang rumput yang terpisah, satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Padang rumputnya membentang luas sepanjang mata memandang. Di kejauhan terdapat beberapa bangunan yang sudah termakan usia. Adapula seruan para askar yang tengah melakukan pemanasan mengelilingi lapangan secara berkelompok. Om Rival berjalan menuju seorang askar, meninggalkan Oddy bersama sopir mereka.
"Lu punya riwayat penyakit?" nadanya datar, seakan enggan untuk bertanya.
"Ngga, sih. Cuma saya cardiomyopathy dari lahir," Oddy melirik ke arah sopir. Ada banyak perbedaan mencolok darinya dibanding para askar; kulitnya lebih putih dan terlihat bersih, wajahnya lebih culun, dan ia terbilang pendek. Apa benar dia seorang askar?
"Ngga usah kaku banget, ngapa," jawabnya. "Gua Arif, dan iya, gua askar Waru, tapi bidang IT."
Oddy mengangguk pelan, tersenyum kecil. "Gua Oddy—"
"Iya, gua ngga budeg. Gua denger lu ngobrol ama mas Rival."
Suasana sedikit canggung di antara mereka, namun sebelum itu bisa berlanjut, om Rival kembali. Ia membawa seorang lelaki bersamanya; tubuhnya kekar dan tinggi, kulitnya sawo matang dan ia mengenakan seragam Waru lengkap dengan berbagai lencana. Lelaki tersebut tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Oddy. "Gue Sujana, Jack golongan Waru daerah mari. Lu Oddy, kan?" kalimatnya diucapkan kental dengan aksen Betawi.
Oddy mengangguk dan menjabat tangannya. "Iya, om," tatapan Sujana yang tajam membuatnya sedikit risih.
"Anak Mahar?"
"Iya, om."
Sujana tertawa lebar kemudian menepuk pundak Oddy cukup keras. "Setagamnya masih oren aja, kek pasukan oren," senyumnya semakin lebar. "Mas Ari masih ngajar nari?"
__ADS_1
Oddy memaksakan dirinya untuk tertawa. "Masih, om. Saya juga ikut sanggar mas Ari."
"Wah," Sujana mulai berjalan memasuki kawasan Yonzikon, menarik Oddy bersamanya. "Gue inget dulu gue dateng ke Jakarta ama si Ari. Wah, kalo lu tau, ya—"
Oddy hanya menganggukkan kepalanya, berpura-pura mendengarkan ocehan lelaki paruh baya tersebut. Ia menoleh ke belakang, mendapati om Rival yang memberikannya senyuman kecil, seakan berkata; "Sabar, ya. Dia emang orangnya begitu."
—
"—begitu ceritanya!"
Berapa lama om Sujana bercerita? Oddy tidak tahu, tapi yang pasti, mereka sudah berjalan mengelilingi Yonzikon dan dia belum juga selesai bercerita. Mulai dari kedatangan om Sujana di Jakarta bersama mas Ari, sampai akhirnya dia diangkat menjadi Jack Waru sudah diceritakan. Sementara itu, Oddy sudah mulai bosan. Dia datang untuk latihan, bukan mendengarkan congor om Sujana yang tiada henti.
Mereka memasuki sebuah ruangan kecil. Sebuah bohlam menyala padam, menunjukkan sebuah meja kecil dan beberapa peti besar di tiap sisi ruangan. Om Sujana menghentikan langkahnya dan menoleh ke Oddy. "Lu beda."
Oddy merasa terpojok, matanya melirik ke om Sujana. "Um," ia menarik nafas. "Maksud om apa, ya?"
Oddy, fokus!
Oddy menelan ludah, meletakkan kedua tangannya di pangkuannya. Perasaannya campur aduk.
"Ini rahasia antara kita," ucapnya dengan nada serius. "Kalo aja Rival waktu itu ngga ngawasin bocah bala itu, mungkin dia bakal jadi Jack Waru sekarang. Tapi, itu bukan salah Rival. Bukan salah siapa-siapa juga."
Sedetik terpana, barulah Oddy mengerti yang dibicarakan om Sujana. "Maksud om, calon askar yang mati kemaren?"
"Iye, lah," tangan kanannya menggebrak meja. Wajahnya memerah, menunjukkan amarahnya. Suasana ruangan mendadak berubah. "Bocah sialan!" ia menarik nafas, kemudian bersandar di kursi. "Sebenernya, bukan salah dia juga bisa begitu. Si Rival ampe pernah diancem segala macem. Untung aja King kita bersedia nutupin. Jadi, yang disorot media dia."
__ADS_1
Kantuk yang dirasakan Oddy lenyap. Tangannya berkeringat, adrenalinnya terpacu seketika. "Ceritanya sebenernya gimana sih, om...?"
"Awalnya, ya, kaya biasa aja. Pas si bocah jatoh, baru kita pada panik. Padahal belom kena 3 jam latihan. Mau penyakit apaan aja, kalo emang takdirnya jadi askar mah, harusnya kuat. Nah, ini kagak.
Udah tu, kan. Si bocah mati dan seterusnya. Sidang, debat, hoax, apalah nyebar di media. Pas mereka sibuk begitu, King Waru nyuruh Rival balik kampung dah tu. Ke Lombok ato Bali, au gue lupa. Kita nyusun alur cerita, biar anggota Waru tetep aman semua. Sekalinya dikecam, dikecam semua. Bukan atu orang doang.
Kalo kata media kita musuhan ama Hati, sebenernya kagak. Justru Jack Hati berpihak ama kita. Cuma para tolol itu aja nyebarin hoax ngga bener. Yang bego mah nyerocos wae mulutnya kek burung kenari yang kelaperan.
Ya, akhirnya, kita diskusi. Kita cari tau yang berbuat ulah siapa. Terus, kita sekarang punya kesepakatan," om Sujana berdiri. Ia berjalan mendekati salah satu peti. "Dan, kita baru sadar, ada yang dilupain di antara para golongan," ia menghadap arah datangnya sinar lampu, tubuhnya yang kekar membentuk siluet. "Ada namanya Joker; si bangsat yang seenaknya nentuin golongan orang-orang."
Oddy terdiam, mengamati setiap gerak-gerik om Sujana. Semua kata-kata yang diucapkan om Sujana mulai ia saring, otaknya mencoba menggali lebih dalam. "Kok, om bisa tau?"
"Heh, lu main judi ni, pake kartu remi jadul. Yang sering ngga dipake apa?"
"Joker."
"Nah, kalo sekarang kan, saking jarangnya dipake, kartu remi cuma ada Jack, King, Queen ama bawahannya."
"Terus, tadi katanya ada kesepakatan—?"
Om Sujana memotong perkataan Oddy dengan membuka peti di hadapannya. Ia membalikkan tubuhnya, kini menghadap arah Oddy. "Kita belom tau ada berapa Joker di luar sana. Tapi, baru kali ini ada ampe amburadul begini. Yang jelas, kita harus nyari Joker yang salah."
Ruangan kembali hening dan ketegangan di antara mereka mulai menipis. Bohlam yang menggantung tepat di atas om Sujana berkedip beberapa kali. "Oh, iya," om Sujana menghadap peti yang terbuka dan mulai menggali ke dalamnya. "Lu ke sini bentar, dah."
Oddy bangkit, lalu berjalan mendekati om Sujana. Langkahnya terhenti ketika ia sadar isi dalam peti tersebut. "Ini ada peninggalan dari buyut lu," om Sujana memberi sebuah belati pendek. Sarung dari belatinya terbuat dari kulit—atau, mungkin pelepah pisang? Yang jelas, sudah terlihat usang dimakan usia. "Si Rival bawa balik dari kampung."
__ADS_1
Oddy menggenggam belati tersebut, kemudian mengeluarkan bilahnya dari sarung. Cukup berat. Ia menghadap lain arah, melempar belati tersebut di udara. Matanya bersinar di bawah temaramnya bohlam, bahkan bilahnya tidak menunjukkan sedikitpun cacat. Oddy menangkapnya kembali dalam genggaman, tersenyum lebar. "Makasih, om," ia menghadap om Sujana. Lelaki tersebut hanya tertawa kecil, menepuk pundaknya.
"Gue suka gaya lo."