Askar — Para Remi

Askar — Para Remi
Kembali


__ADS_3

"Makasih ya, om," Oddy bersalaman dengan om Rival lalu keluar dari mobil. Om Rival menurunkan kaca mobil, melambaikan tangannya. Kemudian mobil itu melaju, meninggalkan Oddy sendiri.


 Oddy membalikkan badannya, menghadap pagar sekolah yang terbuka. Anehnya, pagarbesar menuju bangunan sekolahnya sendiri sudah tertutup. Oddy mulai melangkah, memasuki parkiran sekolah yang sepi—terkecuali untuk sebuah motor di sudut parkiran. Ia menoleh, mendapati Mudita yang duduk termenung di pos satpam; hanya sebuah meja dari semen dan keramik, tiga buah kursi kayu yang bobrok, dan tumpukan poster karya para alumni. Senyuman licik menghiasi wajahnya. Kedua tangannya bersiap, kakinya mengendap-endap menuju Mudita. Tepat sebelum ia menyergap, Mudita menoleh ke belakang.


 "DUAR!"


 "ANJ—" kalimat Mudita terpotong, tubuhnya terhuyung ke belakang. "Ouch," rintihannya pelan, hampir tidak terdengar.


 Oddy melompati meja pos satpam, menarik kedua bahu Mudita untuk membantunya berdiri. Genggaman tangannya semakin keras. "Ngomong apa kamu tadi?" nadanya rendah, matanya menatap tajam Mudita. Suasana di antara mereka seketika menjadi tegang.


 Mudita tersenyum kecil, berharap itu akan memperbaiki suasana. "Kamu keringetan. Pulangnya jalan, ya?" senyumannya diabaikan, pertanyaannya teracuhkan. Tatapan Oddy kian tajam, genggamannya erat di kedua bahunya. Mudita menghela nafas, "Iya... Aku minta maaf. Ngga sengaja tadi," ia melirik, menatap pacarnya. Oddy hanya menghela nafas, kemudian duduk di meja pos. Belum sedetik, ia lalu berbaring di atas meja pos. "Ngapain aja tadi...?"


 Oddy memejamkan matanya, "Ngga ngapa-ngapain. Cuma dengerin curhatan Jack Waru," ia menatap atap pos yang kusam. "Terus kan, aku dibawa ke dalem. Tempatnya kecil, mana gelap lagi. Tiba-tiba om Sujana ngedeketin aku terus bilang; "Kamu beda"."


 "...Dia gay?"


 Oddy berguling, menghadap Mudita. "Ya, awalnya aku kira gitu. Badannya keker macam gigolo pula. Tapi, abis itu dia lanjut cerita lagi," ia kemudian beranjak duduk. Tangannya merogoh ke dalam kemeja jingganya, mengeluarkan belati yang diberikan om Sujana. "Terus, aku dikasih ini!"


 Mudita tersenyum lebar, tangannya meraih belati tersebut. "Mau liat!" sebelum tangannya dapat menggenggam sarung belati, Oddy mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun, perjuangan Mudita belum selesai. Gadis itu berdiri di meja pos, mencoba meraih belatinya. Apalah daya, ia sudah terlanjur pendek. "Mau megang...!"


 "Anak kecil ngga boleh mainan piso!" Oddy tersenyum, tangannya menarik lengan Mudita. "Mending kamu megang Jo—"


 "Ge," Mudita duduk, tangannya bersedekap.


 "Ya udah, ngga usah," Oddy menurunkan tangannya. Seketika itu juga, Mudita mengambil belati tersebut dari tangannya dan berlari. "Heh, maling!" ia hanya memandanginya dari kejauhan.


 Mudita tersenyum lebar, mengeluarkan belati itu dari sarungnya. Matanya berbinar, sementara Oddy menatapnya tajam. Semenit berlalu, gadis itu kembali membawa belati kepada pemilik aslinya. "Makasih," tangannya memberikan belati, namun Oddy memalingkan wajahnya.


 "Ge," ia menghela nafas. "Piso aja dimainin, cowonya dianggurin."


 "Anggur enak, dong?" Mudita mencoba menghibur. Oddy tetap diam. "Ihh, aku minta maaf. Aku penasaran, tau," ia menarik tangan pacarnya.


 Oddy melirik, masih dengan tatapan dingin yang sama. Seketika melihat wajah Mudita yang memelas, hatinya luluh. Oddy menggelengkan kepala, menepuk meja pos yang kosong di sebelahnya. "Kok, kamu blom pulang?" tangannya menerima belati miliknya, sementara Mudita duduk di sebelahnya.


 "Tadi nungguin mba Ilmi. Dia baru aja pulang," tangannya memberi botol minum, lalu mendekap tasnya yang jauh lebih besar daripada tubuhnya.

__ADS_1


 Oddy menerima botol minumnya. "Ngga kangen sama aku?" ia meneguk isi botol minumnya sampai habis.


 "Kangen, lah," Mudita berbisik. "Em... Mau pulang sekarang?"


 "Kamu mau pulang sekarang?"


 "Ngga, sih... Terserah kamu."


 Oddy menghela nafas. "Kebiasaan banget sih, cewe," ia memajukan bibirnya, mengulangi kata-kata Mudita. "Tirsirih kimi."


 "Ya, emang kamu mau ke mana lagi?"


 Oddy terdiam sejenak. "Mablong, yuk."



 Mungkin, kalian bertanya; Apa itu Mablong?


 Mablong, singkatan dari Mangga Bolong, adalah sebuah situ yang terdapat di perbatasan antara Depok dan Jakarta. Awalnya, situ itu terbengkalai. Namun, seiring berjalannya waktu dan kesadaran masyarakat yang bertambah, situ itu diperbaiki dan kini menjadi sebuah taman yang asri. Jalannya diberi jalan setapak, ditanami tumbuhan rindang, bahkan dibuatkan tempat duduk bagi pengunjung. Proyek berikutnya adalah untuk menyatukan Setu Mangga Bolong dan Setu Babakan.


 Seperti biasa, Mudita dan Oddy memilih duduk di tepian danau, di bawah sebuah pohon yang rindang. Semerbak bau angin rawa tercium—ya, mungkin aromanya tidak seenak atau seromantis di film, tapi setidaknya pemandangannya lumayan.


 "Kapan latian lagi?" tanya Mudita dengan mulut penuh tahu.


 Oddy mengangkat bahunya, menggigit sebuah combro. "Ngga tau. Nanti dikabarin lagi kali."


 "Kok, ngga ada kepastian gitu, sih?"


 "Kamu juga ngga ada kepastiannya. Tapi, aku setia, kan?"


 "Ngga, kok!" seru Mudita, memuncrstkan butiran tahu yang dikunyah.


 "Makan dulu yang bener. Muncrat kan, ah," Oddy menepis lengannya. Ia menghabiskan combronya, kemudian mengambil gorengan apapun dalam plastik secara acak.


 Mudita menghela nafas, "Aku jadi ngga sabar digolongin juga."

__ADS_1


 "Alah, paling masuk Hati kamu."


 "Ya, emang kenapa kalo masuk Hati?"


 "Hati ama Waru kan musuh bebuyutan."


 "Ngga!" seru Mudita, wajahnya jengkel. "Tau dari mana kamu?"


 Oddy mengambil ponsel Mudita. Jarinya dengan cekatan mengetuk layar ponsel, kemudian menunjukkannya kepada Mudita. "Noh, baca sendiri," ia menahan senyuman. "Pokoknya, kalo ampe kamu masuk Hati, kita tamat."


 "Ngga bisa begitu lah!" Mudita terus membaca semua artikel. "Kok, aku baru tau, ya?"


 "Kamu tau apa, sih? Kamu tuh, anak kecil!"


 "Kita seumuran, ya!"


 "Udah ngga, sih, yeuu. Aku 17."


 "...Tibang beda beberapa bulan."


 "Keitungnya beda setahun, lah."


 Mudita memajukan bibirnya, "Kiitingnyi bidi sitihin, lih."


 Oddy terkekeh, "Kamu songong sekarang, ya," ia menggigit cireng yang diambil. "Apaan Hati, ngga bisa apa-apa. Waru dong, mengabdi kepada negara!"


 "Kan, Hati cinta damai! Bayangin, kalo ngga ada Hati, mungkin bakal ada Perang Dunia ke-3!"


 "Masa? Hmm," Oddy meledek. "Ya, ngga papa, lah! Ntar, aku ada di barisan terdepan Waru. Pertama, aku deketin pemimpin Korut ama Rusia. Abis itu, kita bersekutu. Pas mereka udah ngasih persenjataan ama sumber daya, aku mengkhianat. Aku ambil alih pemerintahan mereka, abis itu—"


 "Mau jadi Hitler kedua kamu?"


 "Suuutt," Oddy melirik ke segala arah. "Hitler sebenernya blom mati, karena..." ia mendekati telinga Mudita, berbisik. "Aku Hitler."


 Mudita menatapnya dengan wajah datar. "Tapi, boong."

__ADS_1


__ADS_2