
Dering handphone membangunkannya dari alam mimpi. Oddy mengerang, tangannya menggapai handphonenya untuk menerima panggilan. Ia meletakkan handphonenya di telinga. "Halo?"
"Selamat pagi," sapa suara seorang lelaki dengan tegas. "Kami dari pihak Waru sudah meminta izin kepada sekolah. Kami akan menjemput Anda untuk pelatihan pada pukul 9."
Oddy terlonjak kaget, lantas duduk di atas ranjangnya. "Ah, iya, pak. Makasih," kantuknya segera hilang. "Saya harus bawa apa nanti, ya?"
"Segala keperluan untuk pelatihan sudah ditanggung oleh King Waru. Kami hanya meminta Anda untuk hadir dan tidak kabur saat kami datang menjemput. Belakangan ini, banyak peserta dinyatakan gugur karena tidak hadir, bahkan kabur ketika kami jemput."
Oddy mendengarkan penjelasannya dengan saksama. "Oke, pak," jawabannya dibalas dengan dengungan, kemudian panggilan dimatikan oleh pihak Waru. Ia menyalakan handphonenya lagi untuk melihat jam. 05:28. Handphonenya kembali berdering, namun kali ini panggilan dari Mudita. Menghela nafas, Oddy mengangkat teleponnya. "Hmm."
"Tumben udah bangun. Masih—"
"Udah. Dibangunin askar Waru tadi."
Hening sempat melintas sejenak. "...serius?" pekik Mudita.
"Ngga percaya sama aku?" Oddy bersandar di dinding. "Katanya jam 9 nanti aku dijemput. Mau disidang."
"Aku ngga boleh ikut, dong?"
"Ge," Oddy berdiri. "Udahlah. Aku mandi dulu."
"Ya udah... Dah."
"Dah. Love you."
"I love you, too,"
Oddy mengakhiri panggilan, melempar handphonenya ke kasur. Ia berjalan keluar kamar dengan kuapan lebar.
...♤...
"Eh, Dy," panggil seorang lelaki berkukit hitam manis. Oddy mendengung, mengambil kembali buku absen dari salah satu temannya. "Lu calon askar Waru, ya?"
"Yoi," ia tersenyum kepadanya. "Tau dari mana lu, Mike?"
Mike mengangkat kedua bahunya. "Udah jelas, sih."
"Petarung, ya?" timpal Icha. "Gua kemaren masuk Hati, asli santuy banget. Kerjaannya cuma gitu-gitu doang."
"Ya, kalo lu masuk Hati, tergantung lu, sih. Kalo lu aktif, bisa aja tugas lu ditambahin. Atasan lu kan cuma-"
__ADS_1
"Lu masuk mana, Mike?" tanya Oddy.
"Gua?" ia tersenyum, menutup matanya. "Mm, gua masuk Wajik."
"Ha? Bukannya kemaren lu bilang lu masuk Hati?" Icha bertanya.
"Gua becanda waktu itu," Mike tertawa kecil.
"Kok, lu bisa tau kegiatan Hati?"
"Kan, temen gua banyak yang masuk Hati. Bukan lu doang."
"Masa?"
Oddy mengabaikan percakapan mereka, menghitung jumlah murid yang absen. Sekelebat jeans biru tua melintas di hadapannya dan dari suara pelan tersebut, tangannya spontan menangkap kaki seorang murid. "Ahh, aku mau ke kelas!" seru Mudita, menepuk halus genggaman tangannya. Sebelum Oddy dapat menjawabnya, bel berbunyi. Ia melepaskan genggamannya, membiarkan Mudita memasuki kelas lalu menuju lapangan untuk ritual morning.
...♤...
Suasana kelas hening, terkecuali untuk suara menggelegar pak Ahmad yang sedang ceramah. "Udah. Kalian mau bertanya atau materi aja?" ia menatap seisi ruangan, tatapannya tajam.
"Nanya aja, pak!" serempak seisi kelas menjawab.
"Ya udah, mau nanya apa?"
"Fungsi pemerintah itu mengelola tata negara, sudah seperti itu sejak zaman baheula. Kalo pemimpin negara mengatur penggolongan, berarti mereka juga bertanggung jawab atas pelatihan dan konsekuensi yang mungkin terjadi ketika calon suatu golongan dilatih," pak Ahmad menarik nafas, kacamata yang sedari tadi ia pakai disangga di atas keningnya. "Berarti apa? Dana lagi, dong? Makanya, kalaupun pemerintah menentukan golongan, mereka belum tentu bakal angkat bicara. Kenapa? Tanggung jawab lagi. Duit lagi."
Kelas larut dalam kesunyian. Mereka memandangi satu sama lain, berharap ada yang ingin bertanya. Tatapan pak Ahmad kian tajam. "Ayo? Ada yang mau bertanya lagi? Atau kita materi aja?"
Tepat setelah pak Ahmad bertanya, pintu diketuk lalu terbuka. "Assalamualaikum," seorang wanita memasuki ruangan. "Maaf mengganggu, pak Ahmad. Saya mau minjem Oddy sebentar," ia menoleh ke Oddy. Pak Ahmad hanya mengangguk, mengizinkan Oddy untuk meninggalkan pelajarannya.
Oddy berdiri dan berjalan menuju pak Ahmad, menyalami tangannya. Lalu ia mengikuti si wanita yang sudah keluar ruangan terlebih dahulu. "Terima kasih, pak Ahmad," ia berjalan, Oddy mengekori dari belakang.
"Ngapa, Ges?" tanya Oddy, berjalan di samping si wanita.
"Lu ngga inget? Udah jam 9."
Oddy mengalihkan pandangannya, melihat sebuah mobil Agya terparkir di lapangan sekolah. "Oh," mereka menuruni tangga. Tak jauh dari tangga, berdiri di depan ruang guru, adalah seorang lelaki, berkemeja putih dengan celana biru gelap dan berbagai lencana serta pin kebanggaan Waru yang tersemat di saku kirinya. Lelaki tersebut mengangguk, berterima kasih kepada wanita itu.
"Om Rival?" tanya Oddy. Lelaki tersebut tertawa kecil, menepuk pundak keponakan yang menatapnya heran. "Om, kenapa ngga bilang om yang jemput Oddy?"
"Ngga suprise dong nanti," ia menoleh ke wanita di sebelah keponakannya. "Terima kasih, bu Gessica."
__ADS_1
"Saya masih muda, pak. Panggil aja kak Bodel," wanita tersebut tersenyum manis.
"Iya, iya," ia menaruh lengannya di kedua pundak Oddy. "Saya bawa dulu Oddy, ya. Assalamualaikum," dan dengan begitu, ia menarik Oddy bersamanya. Mereka berjalan keluar dari wilayah sekolah dan menuju mobil Agya putih yang terparkir di lapangan. Ia masuk terlebih dahulu, "Ayo, masuk."
Oddy memasuki mobil tersebut, kemudian menutup pintunya. Melalui kaca depan mobil, ia melihat tatapan tajam si sopir, meski tatapannya tersebut kemudian luluh dan berubah menjadi seulas senyuman. "Gimana sekolah, Oddy?" tanya om Rival, memecah kesunyian.
Oddy menoleh, "Ngga apa-apa, om. Tapi, bentar lagi harusnya PW, sih."
"Apa itu PW?"
"Project work. Oddy bakal buat film pendek, cuma belom dibagi kelompoknya juga."
"Oh, gitu?" om Rival mendengungkan jawabannya. "Kalo sambil latihan, ngga keganggu, kan?"
"Ya, ngga lah, om."
"Kamu kalo disuruh milih, lebih milih latihan atau sekolah?"
Oddy terdiam sejenak, berpikir. "Kalo bisa sih, Oddy mau nyelesaiin sekolah dulu. Ntar kalo udah dapet ijazah, baru full fokus latihan"
Seulas senyuman menghiasi wajah om Rival. "Ngga nyangka jawaban kamu," ucapnya. "Kadang om pikir, kamu bukan tipikal askar Waru. Jadi heran sendiri om."
"Emangnya kenapa, om?" sekarang, Oddy ikut terheran.
"Gimana, ya," om Rival berdehem. "Askar Waru itu lebih mentingin fisik. Kalo ditanya kaya tadi, biasanya mereka mentingin latihan. Ngga salah sih, cuma beda aja."
Oddy hanya mengangguk pelan. "Emang pelatihan itu gimana sih, om?"
"Aku yakin, papahmu pernah cerita. Ya, kaya gitu. Cuma, karena baru-baru ini ada kasus kematian askar Waru, kita jadi lebih waspada. Sekarang aja, golongan Waru masih dicap terlalu keras."
"Yang mati karena kecapean, kan?"
"Iya," om Rival menghela nafas. "Tapi, bukan Waru saja yang bermasalah. Sekarang tiap golongan punya masalahnya sendiri; punya aib mereka masing-masing. Jaman sekarang, penggolongan makin kacau."
"Kok, bisa?"
Om Rival mengangkat kedua bahunya. "Pemerintah juga angkat tangan. Pertanyaannya cuma satu: Siapa yang menentukan penggolongan?"
"Bukan Jack, King atau Queen tiap golongan?"
"Bukan, kalo begitu, udah pasti itu salah tiap golongan. Tapi, bukan. Kita blom tau."
__ADS_1
Sesaat, hening melintas. Namun, om Rival seringkali memulai percakapan agar suasana dalam mobil tidak terlalu tegang, terlebih dia sedang membawa calon askar. Oddy pun dengan senang hati menjawab bahkan bertanya beberapa kali kepada om Rival. Mau bagaimanapun, pertanyaan yang sama terngiang dalam benaknya selama perjalanan.
Siapa yang patut disalahkan?