
Aroma jahe semerbak memenuhi ruangan, bahkan sampai ke rumah tetangga. Desis tumisan terdengar nyaring di telinga sebelum akhirnya kompor dimatikan. Sepanci penuh sayuran dengan warna hijau, merah dan kuning, siap untuk disajikan. Berharap saja sepanci penuh itu bisa memenuhi kebutuhan pangan 4 orang.
Terdapat sebuah ruangan kecil dalam rumah tersebut-ya, setidaknya cukup untuk tempat tidur, lemari dan meja belajar kecil. Terlelap dalam hangatnya dekapan selimut adalah seorang lelaki. Seulas senyuman menghiasi wajahnya, mencerminkan indahnya alam mimpi.
Decitan pintu terdengar, dan melalui celah sempit di antara pintu, masuklah seorang wanita paruh baya. Ia menghela nafas, wajahnya menunjukkan emosi yang tertahan ketika melihat si lelaki tertidur. "Oddy!" wanita itu berteriak, menarik selimut dari tubuhnya. "Udah jam segini, masih aja tidur. Mau jadi apa kau?!"
Lelaki itu, yang disebut sebagai Oddy, menggeliat, mencari kehangatan selimutnya yang hilang. "Mamah..."
"Ngga ada mamah-mamahan! Bangun sekarang!" tanpa menunggu balasan dari anaknya, wanita tersebut keluar dari kamar itu, membanting pintu dengan keras.
Oddy mengerjapkan matanya, rasa kantuk masih menggantung di pelupuk mata. Ia berbaring, menatap langit-langit kamarnya. Ada yang beda dengan hari ini. Ada yang mengganggu perasaannya, moodnya tidak stabil. Apa dia melupakan sesuatu?
Emang ngaruh?
Dengan helaan nafas, Oddy beranjak dari kasurnya. Telapak kakinya dingin ketika menginjak lantai, tetapi ia hiraukan. Oddy mendorong lemarinya menjauhi pintu agar pintu dapat dibuka lebar. Ia menundukkan kepala, khawatir kepalanya akan terbentur ventilasi pintu. Dari tempatnya berdiri sudah dapat melihat meja makan yang diletakkan dekat televisi, dan di meja makan itu hanya ada dua perempuan yang tengah makan.
"Daddy di mana, mah?" ia bertanya sembari berjalan menunu meja makan.
"Baru berangkat tadi," singkat jawaban dari mamah.
Oddy hanya mendengungkan jawabannya. Di hadapannya ada 3 piring: 2 potongan ikan, sepiring penuh sayuran, dan nasi goreng. Tangannya menggapai piring penuh nasi goreng, tangan lainnya menggenggam sendok. Sebelum Oddy dapat menyantap hidangannya, mamah memberikannya secarik amplop. "Kamu dapet surat," ucap mamah. "Bacanya nanti aja. Kamu makan dulu. Udah telat ni."
Oddy hanya dapat menatap heran surat tersebut, namun menuruti ucapan mamah. Ia makan dengan lahap dan dalam sekejap, yang tersisa hanyalah piring dan sebuah sendok. Ia berdiri, meninggalkan piringnya di meja makan dan bergegas menuju kamar mandi.
...♤...
Oddy mematikan motornya, memarkirnya di lapangan sekolah. Matanya memandang ke atas, menemui beberapa temannya yang sudah sampai. Bibirnya tersungging, tersenyum. Tangan kanannya menggenggam tas, kakinya siap melangkah.
"Tunggu!"
__ADS_1
Oddy menoleh, mendapati seorang gadis pendek berlari menuju arahnya. Senyumnya semakin lebar, matanya yang sipit hampir tak terlihat. "Tumben pagi," ucapnya, menatap sang gadis; Wajahnya berseri-seri, rambutnya dikuncir tinggi, poninya menutupi mata kirinya; seragamnya lengkap, sama seperti miliknya, kemeja putih, dasi hitam, tanda pengenal. Yang beda dari si gadis hanya celana jeansnya-karena, kelas 10 belum mendapatkan seragam sekolah.
Gadis tersebut menggelengkan kepalanya, perlahan berjalan di sampingnya. "Tumben masuk," balasnya dengan sebuah tawa kecil.
Oddy tertawa, "Yeh, bocahnya songong," ia mengangkat tangan kirinya, mengacak-acak rambut sang gadis.
Mereka berbincang, berjalan perlahan memasuki bangunan sekolah. Si gadis menaiki tangga terlebih dahulu, diikuti oleh Oddy dari belakang. Keadaan di lantai 2 ricuh; di pojok kiri bangunan, tepatnya di depan kelas 12, ada beberapa senior yang sedang bernyanyi dan bermain gitar, di pojok kanan bangunan ada sekelompok kelas 10 yang sedang bersenda gurau, beberapa di antaranya memainkan handphone mereka, dan di balkon sekolah ada beberapa kelas 11 yang berlari-larian.
"Muditaa," panggil Oddy kepada si gadis. Namun, Mudita acuh dan terus berjalan. "Sayaaang," panggilnya lagi, namun sama saja. Oddy mendengus kesal, menarik kedua bahunya dan memutarbaliknya agar mereka berhadapan. "Kamu tadi sarapan, kan?" ia tersenyum, menahan emosi.
Mudita menghela nafas, "Kamu ngagetin aja!" kemudian tersenyum. "Udah, kok. Kan, tadi aku udah bilang."
Oddy menahan emosinya. Ia tahu pacarnya tadi tidak sengaja-dia budeg. "Aku manggil dari tadi juga," ia menghentikan langkahnya di depan kelas. "Nanti, abis taro tas, ke depan lagi, ya."
"Ngapain?"
"Temenin aku," ia tersenyum manis. "Yaa?" tangannya diangkat, menggenggam tangan Mudita dengan erat. Gadis itu hanya tertawa kecil, menganggukkan kepalanya. "Yes!" ia mengangkat tangannya, mencium punggung tangannya.
"Oddy!" sahut seorang gadis. Tangannya menyodorkan buku absen yang lusuh. "Sekalian lu ngebucin di luar."
"Iri aja lu, Na. Yeu," tangannya menarik buku absen dengan cekatan, seakan-akan emosi terhadap si gadis.
"Oh, udah berani ya, lu sekarang?" gadis tersebut berdiri dari kursinya, bersiap untuk mengejarnya.
"Ah," Oddy segera berlari menuju pintu kelas, menghindari si gadis. "Ampun, Na!" ia tertawa lebar. Setelah adrenalinnya turun dan tawanya berhenti, ia bersandar di depan kelasnya. Pandangannya dilempar, ke kanan dan kiri, memastikan ia duduk jauh dari bahaya.
Sesaat berlalu dalam kesunyian, Oddy hanya menghabiskan waktunya memberi buku absen kepada teman-teman sekelasnya yang berjalan melewatinya. Matanya tertuju kepada buku absen, menghitung jumlah murid yang absen. Lima orang, pikirnya. Diangkat kepalanya, hanya untuk bertemu dengan rambut ijuk. "Asnaga taga!" ia meletakkan tangannya di dada, terkejut.
"Eh, maaf, aku ngagetin, ya?" Mudita memandang wajah pacarnya dengan cemas. Kecemasannya hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Oddy. Ia memalingkan pandangannya, tangannya bersedekap.
__ADS_1
"Jantung aku kambuh aja, panik kamu," ia menahan tawa. Raut wajah si gadis semakin cemas, tangannya kini berada di pundak Oddy.
"Ih, maaf," gadis tersebut berdiri di hadapannya.
Sunyi melintas di antara mereka. Oddy akhirnya melepas tawa. Kedua tangannya menarik pipi Mudita sekuat tenaga. "Kamu lucu deh, kalo panik," ia memandang wajahnya dengan senyuman lebar.
Seakan tidak terima dengan perilakunya, Mudita mengangkat tangan kanannya. Tangannya menggenggam amplop yang semula ada di dalam saku Oddy. Matanya melirik, "Apa ini?" tangannya menyapu halus cubitan Oddy, perhatiannya sekarang tertuju pada amplop tersebut.
"Heh, maling," Oddy menarik amplop tersebut. "Ngga sopan ngambil barang orang."
"Maaf," gadis tersebut berjinjit. "Itu apa?" kembali ia bertanya. Zaman sekarang, mengirim pesan bisa dilakukan dengan cara yang lebih praktis. Selain itu, amplop tersebut berbeda-nama panjang pacarnya tertulis di pojok kiri dan ada segel berbentuk lingkarang merah di mulut amplop.
"Ngga tau, mamah ngasih ke aku tadi pagi," ia membolak-balik amplopnya.
"Belom kamu buka?"
"Belo-"
Bel berdering. Suara gitar, teriakan, dan murid yang berlarian berhenti dalam sekejap. Dari lapangan sekolah, terdengar feedback dari speaker. "Anak-anak, segera turun. Kita akan ritual morning," suara bunda Nova memecah kesunyian.
"Ahh, aku penasaran. Entar, abis sekolah, aku mau baca pokoknya."
"Ngga, kamu maling," ia mengacak-acak rambut Mudita dengan senyuman manis.
Mudita memajukan bibirnya, meniru suara Oddy. "Nggi kimi miling."
"Kamu songong, ya sekarang," Oddy memasang wajah kejamnya. Tangannya menggapai Mudita, tetapi sebelum ia bisa menangkapnya, Mudita sudah berlari dan masuk ke dalam kerumunan teman sekelasnya.
"Dasar, cabul!"
__ADS_1
"****** koe!"