
Kegiatan belajar-mengajar mungkin terdengar membosankan. Namun, lain halnya jika kalian diajar oleh bang Bastian—anak dari kepala sekolah yang mengajar sebagai guru editing. Karena pelajarannya yang membutuhkan teknologi, ia seringkali membagikan kembali handphone kepada kelas yang akan diajar, walaupun sekolah berusaha keras untuk tidak mengunakan handphone, kecuali sangat diperlukan.
Alhasil, kelas porak-poranda. Ada yang berfoto ria, ada yang bermain game, ada yang membuka 'situs terlarang', bahkan ada yang keluar kelas untuk mencari suasana yang lebih tenang. Contoh saja Oddy; ia dan kawan-kawannya memilih untuk pindah ke kelas kosong di sebelah kelas mereka karena beberapa alasan. Satu, karena mereka bosan, dua, karena AC di kelas kosong tersebut lebih dingin, dan tiga, untuk mengindari curhatan halu bang Bastian. Setidaknya ada 5 orang di kelas tersebut.
Oddy menertawakan salah satu candaan yang ia katakan, diikuti oleh tawa kawan-kawannya. "Goblok lu, Ngor!" tawanya perlahan berhenti. Mereka semua berkumpul di tengah kelas, dua di antara mereka berbaring.
"Ngga salah dong, gua?" seorang yang terpendek di antara mereka bertanya. "Gua mikir, emaknya ngidam apa pas hamil."
"Produk gagal Tuhan, anjing," timpal Oddy.
"Oddy sekarang kasar, ya," ucap yang tertinggi di antara mereka.
Oddy menoleh ke arahnya, tangannya perlahan menggenggam tangan temannya. "Iya, Eja. Aku minta maaf."
Eja menarik tangannya kemudian menggulingkan tubuhnya yang sedang berbaring menjauh dari Oddy. "Oddy gay, anjir."
"Deh, si Eja," ucapnya. "Lu ngga inget malem Jumat kita ngapain?"
"Lu aja palkor, bego," Eja mengeluarkan handphonenya. "Ngajak ke Agoy malem-malem. Gua mules-mules, maksain ke Agoy. Gua tungguin kan, di Agoy. Bocah kok ngga dateng-dateng. Ampe—"
"Masa?" Oddy tertawa kecil. "Gua sih, owh aja, ya."
"Anjing lu, Dy," Eja mengabaikan mereka dan memilih untuk memainkan handphonenya.
Waktu berlalu dan mereka hampir tidak melakukan apapun selain bermain-main. Pada akhirnya, mereka pun tumbang dan yang tersisa hanyalah sekumpulan orang yang terbaring di tengah ruangan. Ruangan yang semula ricuh menjadi sepi, satu-satunya suara yang terdengar adalah suara dengkuran Eja dan Firdaus, si pendek.
...♡...
"Mas,"
__ADS_1
Suara lembut memanggilnya. Oddy membuka mulutnya lebar, menguap. Ia menggosok matanya untuk menghilangkan kantuk. Di hadapannya tak lain adalah pacarnya, Mudita. Tangannya membelai halus pipi Oddy, "Akhirnya kamu bangun."
"Jam berapa?" Oddy melihat sekelilingnya. Tidak ada siapapun dalam ruangan tersebut, kecuali dia dan Mudita. Meja yang tadinya berada di belakang pintu pun sudah dikembalikan ke posisi semula. "Yang lain ke mana?" ia bertanya, pandangannya sekarang tertuju pada Mudita.
Mudita tertawa kecil. "Udah pada pulang, lah," jawabnya singkat.
Oddy duduk, meregangkan otot-ototnya. "Bocah anj—"
Kalimatnya terpotong ketika Mudita menyodorkan sebuah kotak merah muda. Oddy menatapnya heran, kemudian memandangi kotak itu. "Ini apaan?" tangannya menggapai kotak tersebut; kotak berukuran sedang, dilapisi kertas kado berwarna merah muda dan sebuah pita biru di atasnya.
Tangan Mudita terulur untuk membelai rambut Oddy. "Selamat ulang tahun!" kedua tangannya menarik Oddy dalam pelukan hangatnya.
"Loh?" ia mengerjapkan matanya. "Emang ini tanggal berapa?"
"26 Agustus," Mudita memandangnya heran. "Emang kamu lupa?"
Oddy terdiam, kemudian tersenyum lebar. Ia membalas pelukannya, kepalanya bersandar di pundak si gadis. "Makasih, ya," mendengar jawabannya, Mudita hanya tertawa kecil.
"Ngaco, dilempar-lempar!" teriak Mudita. Ia menghela nafas, "Tibang dibuka aja pake dilempar-lempar. Ntar pecah aja."
"Iya, iya, maaf," kotak tersebut sekarang berada di pangkuannya. Tangannya menyingkirkan pita biru muda terlebih dahulu, kemudian dirobek kertas kadonya. Untuk sebuah kotak kado, kardus yang digunakan terlihat lebih mahal dibanding kardus mie instan. Ia menarik perekat pada tutup kardus tersebut, lalu membukanya: dalam kotak tersebut ada topi dan tas selempang, beberapa mie instan, dan berbagai macam camilan.
"Aku inget, kamu naksir topi waktu itu. Ngga tau modelnya sama atau ngga, tapi—"
"Sutt," Oddy menekan telunjuknya di bibir Mudita. "Aku suka kok, makasih."
Oddy perlahan menutup kembali kotak tersebut. Kemudian, ia teringat sesuatu. Tangannya merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah amplop—amplop dengan segel merah dan nama lengkapnya dalam huruf kapital.
"Itu apa?" Mudita memandang amplop itu heran. Oddy mengangkat kedua bahunya, lalu menarik segel amplop itu. Ia mengeluarkan secarik kertas HVS. Isinya berbunyi :
__ADS_1
Kepada Ananda Yth.,
Berhubung penggolongan yang akan diberikan kepada tiap warga negara setelah berusia 18 tahun, kami telah menetapkan Anda dalam golongan WARU ( ♤ ). Anda berhak menjalani pelatihan sebagaimana yang telah diterapkan oleh tiap golongan pada hari Senin yang akan datang, tepatnya pada pukul 9 pagi. Peserta akan ditunggu selambat-lambatnya sampai pukul 10 dan jika tidak memenuhi permintaan tersebut, akan dikenakan sanksi dan hukuman yang akan ditentukan oleh King/Queen dari tiap golongan. King/Queen bertanggungjawab penuh atas pelatihan dan kami tidak bertanggungjawab apabila Anda gagal hadir atau gagal dalam proses pelatihan.
Sekian, terima kasih.
Ttd. J —
Senyuman Mudita melebar. "Kamu masuk Waru!"
Oddy terkekeh, "Udah tau," ia melipat kertas tersebut, menaruhnya dalam saku. "Berarti, Senin aku ijin dulu."
"Aku boleh ikut...?" Mudita tampak cemas. Ia tahu watak Oddy cocok dalam penggolongan Waru, tapi ada yang janggal.
Oddy mengabaikan kecemasannya. "Ngga. Besok kamu harus sekolah. Titik," ia kemudian berdiri. "Dah, sekarang pulang, yuk."
"Aku mau—"
"Udah, mba Ilmi ngga usah ditungguin. Udah gede," ia menarik lengan Mudita, memaksanya berdiri. Ketika ia menarik tangannya dan mulai melangkah menuju pintu, Mudita hanya mengikuti arahannya.
"Kamu ngga laper?"
"Mau makan apaan? Angin?"
Mudita hanya tertawa kecil—padahal, ia tidak mendengar pertanyaan Oddy. "Mau ke warkop deket rumah babeh?"
"Ngga," mereka menuruni tangga. Oddy mendecakkan lidahnya. "Ah, kamu maksa, sih. Ya udah, ayo."
"Aku ngga—"
__ADS_1
"ShhuuUrttt."
Seperti yang dikatakan oleh seorang Cina yang tak mau rugi, dikenal juga sebagai Oddy; Rezeki jangan ditolak.