
Jumat, hari yang terkesan singkat. Oddy , mas Kurnia, guru tata suara mereka, dan beberapa teman laki-lakinya beranjak menuju masjid sepulang sekolah. Sementara itu, khusus untuk perempuan, berkumpul di ruang bu Ani, kepala sekolah mereka, untuk sesi curhat atau 'keputrian'.
Setelah piket, Mudita dan beberapa temannya bergegas menuju ruang kepsek. Gadis itu mengetuk pintu, "Assalamualaikum—?" ia menahan pintu agar teman-temannya masuk. Mereka bersalaman dengan bu Ani kemudian duduk di antara murid perempuan lainnya.
Bu Ani, masih dengan tatapannya yang tajam, melirik kepada mereka. "Kamu kenapa telat?"
"Abis piket, bu," jawab Kamila pelan.
Bu Ani mengangguk singkat, "Ada lagi yang mau bertanya?" ia melihat seluruh ruangan. "Ayo, ngga papa. Yang mau cerita masalah pribadi, masalah cinta, masalah apaan aja yang mengganggu kalian. Karena—"
Suasana ruangan hening, perempuan yang bergabung dalam ruang kepsek mendengarkan bu Ani—ya, setidaknya sebagian besar dari mereka berusaha untuk mendengarkan. Seperti halnya Mudita yang terdiam, terlarut dalam pikirannya sendiri.
Selang beberapa menit, bu Ani menyelesaikan pidatonya. "Kok, jadi ibu yang cerita sih. Gantian kali—"
Mendadak, ponsel yang digenggam Mudita bergetar. Tidak ada deringnya, namun suara getaran ponselnya cukup untuk mengalihkan perhatian semua orang. Bu Ani menoleh, tatapannya tajam. "Kamu, matiin telponnya. Di silent sekalian," perintahnya.
Mudita hanya menganggukkan kepalanya. Matanya tidak sempat melihat nama ataupun nomor pemanggil, jarinya dengan cekatan mematikan panggilan dan getaran ponselnya. Kepalanya kembali diangkat, mendapati bu Ani yang melanjutkan pembicaraannya.
...♡...
Sekitar pukul 1 siang, Oddy kembali bersama mas Kurnia dan kak Arif. Hal pertama yang terlihat ketika mereka memasuki kawasan sekolah adalah Mudita bersama kak Lutfiyah, teman kak Arif, yang duduk di tangga.
Sementara mas Tanto berjalan memasuki ruang guru, Oddy dan kak Arif menghampiri mereka. Mudita mengangkat kepalanya dengan senyuman kecil. "Aku masuk Hati," ucap Mudita.
"Ha?" Oddy bertanya heran. "Apaan?"
__ADS_1
"Cewe lu ditelpon pas keputrian," ucap kak Lutfiyah. "Karena disuruh matiin ama bu Ani, tadi dia dapet SMS. Dia masuk golongan Hati."
Kak Arif ikut heran. "Lah, kok? Biasanya lewat surat?"
"Harusnya aku blom masuk golongan," Mudita menatap layar ponselnya. "Aku blom 17 tahun."
Oddy yang belum percaya mengambil ponsel Mudita dari tangannya. Aplikasi perpesanan terbuka dan sebuah SMS terlampir :
Berhubung nomor Ananda tidak dapat dihubungi, kami akan menyatakannya dalam bentuk SMS.
Kepada Ananda Yth., kami telah menetapkan Anda dalam golongan HATI ( ♡ ). Anda berhak menjalani pelatihan sebagaimana yang telah diterapkan oleh tiap golongan. Keterangan lebih lanjut akan disampaikan oleh pihak Hati. King/Queen bertanggungjawab penuh atas pelatihan dan kami tidak bertanggungjawab apabila Anda gagal hadir atau gagal dalam proses pelatihan.
Sekian, terima kasih.
Oddy menggenggam ponsel Mudita. "Yakin ini resmi?"
Oddy menghela nafas, kemudian membuka riwayat panggilan. Terdapat 12 missed call dari nomor yang tidak dikenal. Oddy mengetuk nomor tersebut, kemudian menempelkan ponselnya di telinga.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi. The num—"
"Kita udah coba telpon tadi," ucap kak Lutfiyah. "Nomornya ngga bisa dihubungin."
"Prank, kali?" Oddy menyalin nomor tersebut, mengirimkannya ke ponsel dia melalui WhatsApp.
"Kayanya blom pernah ada prank begitu," ucap Mudita, mengambil ponselnya kembali.
__ADS_1
"Ngga mungkin juga kali, Dy. Isu begitu keterlaluan. Ngga bakal lama kalo ada prank begituan," ucap kak Arif.
Oddy hanya diam, kemudian mencoba menelepon nomor yang sama melalui ponselnya. Tiga kali berdering, kemudian panggilan tersebut diangkat.
"Halo?" suaranya tidak asing.
"Halo, iya. Maksud bapak nelpon-nelpon tadi apa, ya?"
"Lho, saya tidak menelepon siapapun. Saya baru saja selesai melatih para askar."
Oddy semakin heran, begitupula semua yang mendengar percakapan mereka.
"Maaf, saya bicara dengan siapa, ya?"
"Oddy."
"Lho? Dy, ini gua, Sujana."
"Om Sujana?"
"Lu dapet nomor pribadi gue dari siapa?"
"Ngga tau. Tadi ada yang nelpon-nelpon temen saya ampe 12 kali. Abis itu, dia dapet SMS, katanya masuk golongan Hati. Padahal umurnya baru 16 tahun. Pas Oddy telpon, om Sujana yang ngangkat."
"Hah?" om Sujana terdiam. "Gue ngga nelpon siapa-siapa. Gue juga ngga pernah pake nomor ini buat nelpon selain keluarga."
__ADS_1
Oddy memandang ketiga orang yang berada di hadapannya dengan tatapan heran. Mereka semua terhenyak, mendengarkan pembicaraan Oddy dan om Sujana.
"Oddy," om Sujana berbisik. "Besok, lu ketemu ama gue di Yonzikon, jam 10. Bawa juga temen lu ama hapenya."