
Perjalanan bisa dikatakan membosankan dan seru di saat yang bersamaan. Semua itu karena dalam satu mobil, ada dua orang generasi tua dan dua orang pemuda yang lebih mengerti perkembangan dunia masa kini. Seringkali om Sujana memulai perdebatan di antara mereka. Sementara mereka memperdebatkan keunggulan motor Beat dan Aerox, Mudita hanya dapat menyimak percakapan mereka—dan, pada akhirnya tertidur di bahu Oddy.
"Tapi gue sering baca kalo cewe suka cowo yang motornya Beat. Aerox ngga pernah dibahas," om Sujana membalas.
Oddy menahan tawa, sedangkan bang Arif menepuk jidatnya, laptopnya ada di pangkuannya. "Beda lagi itu, om," ucap Oddy singkat. "Beat kan pasaran, om. Yang punya Beat lebih banyak daripada Aerox. Bukannya cewe suka, emang rata-rata pada punyanya Beat."
Sebelum om Sujana dapat membalas ungkapan Oddy, mobil mereka mendadak berhenti. Mereka semua terhuyung ke depan, apalagi Mudita yang terjatuh dari tempat duduknya. Sementata Mudita siuman dan Oddy membantunya duduk kembali sambil menahan tawa, om Rival menghentikan dan keluar dari mobil.
"Ada apa?" tanya Mudita racau, suaranya terdengar seperti orang mabuk.
"Au. Ada orang diajak ngobrol diem, eh ternyata tidur. Terus j—" kalimat Oddy terpotong oleh om Sujana yang membuka pintu mobil dan keluar.
"Keluar yuk, udah sampe," ucapnya singkat ketika berpijak.
Bang Arif membuka pintu mobil dan menahannya, menunggu kedua mempelai beranjak keluar dari mobil. Dengan bantuan Oddy, Mudita yang masih setengah sadar dibimbing keluar.
Tempatnya tidak terlalu megah, namun dikelilingi oleh berbagai macam tanaman. Parkirannya sendiri terbilang sempit, walau asri. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri adalah sebuah rumah, di dalamnya tampak beberapa lauk-pauk, sayuran, dan beberapa meja dan kursi, layaknya warteg pada umumnya. Di kejauhan om Sujana dan om Rival berjalan mendekati seorang lelaki dan wanita.
"Oddy dan," om Sujana diam, mencoba mengingat nama Mudita yang belum memperkenalkan dirinya dari awal.
"Mudita, om," ucap Mudita.
"Mu... Mumu," om Sujana menepuk pundak lelaki asing di sebelahnya. "Ini Jack Hati, nah mbak yang di samping itu Queen Hati."
Lelaki itu menyodorkan tangannya kepada Oddy. Kulitnya kuning langsat. "Nama saya Fajri. Senang bertemu Anda," ia tersenyum, giginya sebelas-dua belas dengan kulitnya. Ia terlihat sebaya dengan bang Arif.
"Aku Reemar," wanita itu tersenyum manis. Lain halnya dengan Fajri, wanita yang bersamanya terlihat lebih menarik. Kulitnya putih bersih, rambut hitam-kecoklatannya sepundak. Tangannya terulur, menggenggam tangan Oddy.
Kalau saja Reemar hanya menjabat tangan Oddy, mungkin ia tidak akan merasa risih. Namun, tangan Reemar menggenggam tangan Oddy dengan erat. Oddy menarik tangannya paksa, mengalihkan pandangannya dari Reemar.
"Ya udah, masuk, yuk," Fajri memberi jalan untuk mereka memasuki kawasan Rindu Pohon. Fajri menjadi tuan rumah sekaligus pemandu jalan, berjalan di depan, berbeda dengan Reemar yang berjalan bersama rombongan Oddy.
Penampilan luar dan dalam Rindu Pohon jauh berbeda; dari luar, Rindu Pohon tampak sempit, namun di dalam, Rindu Pohon sangat luas. Terdapat tempat untuk rehat di beberapa titik dan berbagai sarana hiburan seperti ayunan. Selain itu, tanaman yang mereka temui semakin banyak dan beragam, bahkan sampai beberapa tanaman yang sudah jarang ditemukan di lingkungan sekitar.
"Oh, iya. Calon Hati baru kita di mana?" tanya Fajri, menoleh ke arah mereka.
Mudita perlahan mengacungkan tangannya, masih bersembunyi di balik tubuh Oddy. "Saya, mas," ucapnya lirih.
Senyumannya semakin lebar. Fajri menghampiri Mudita, menggenggam dan menarik lengannya. "Nah, kamu harus banyak belajar. Aku pinjem dia dulu, ya. Kalian bisa istirahat dulu di sini."
Om Sujana, om Rival dan bang Arif tampak setuju saja dengan permintaan Fajri. Namun, tidak untuk Oddy. "Saya boleh ikut, ngga?" tanya Oddy spontan. Ia tidak akan meminjamkan pacsrnya kepada sembarang orang, apalagi ditinggal bersama perempuan asing lain.
"Kita mau langsung ngelatih dia aja. Anda bisa menunggu bersama Reemar dan yang lain," ucap Fajri, kian menarik lengan Mudita agar ia berjalan.
Mudita hanya bisa tersenyum kecil. "Aku tinggal sebentar, ya," ia meraih tangan Oddy, menyalaminya dan berpamitan. Mungkin karena ia sudah malas, Oddy tidak membalas salamnya dan menatapnya kecewa. Perlahan, Fajri dan Mudita berjalan menjauh dari rombongan, entah ke mana.
Dalam hitungan menit, para Askar sudah nyaman di tempat mereka masing-masing; om Sujana dan om Rival duduk di sebuah balai, menikmati secangkir kopi dan sebungkus rokok, sementara bang Arif melanjutkan tugasnya di laptop. Oddy? Terkadang ia duduk bersama om Sujana dan om Rival, terkadang juga menjaga ponsel Mudita dan melihat perkembangan bang Arif. Reemar masih tetap mengikuti Oddy.
__ADS_1
"Ngga mesen apa-apa?" tanya Reemar dengan senyuman manis. Ia duduk di bangku panjang yang sama dengan Oddy dan bang Arif, dan setiap detik bergerak mendekati Oddy.
"Ngga, makasih," jawab Oddy singkat. Wajahnya terlihat masam—jelas-jelas ia terlihat kesal, namun entah Reemar itu idiot atau tidak mengerti, tetap saja ia mencoba mendekati Oddy.
Beberapa menit kemudian, Oddy beranjak dan berjalan menuju meja om Sujana dan om Rival. Kehadirannya memotong pembicaraan mereka, karena seketika itu juga, mereka sadar akan wajah masam Oddy.
"Ngapa lu, Dy?" tanya om Sujana heran, menawarkan rokoknya.
Oddy hanya menggelengkan kepalanya. "Ngga papa, om. Cuma penasaran aja ama SMS itu."
Perhatian om Rival teralihkan, melirik ke arah Reemar yang kini sedang menyirami tanaman. "Kayanya cewe itu naksir sama kamu deh," ucap om Rival.
Seakan tidak mendengar ucapan om Rival, Oddy hanya meraih sebatang rokok. Dengan pemantik om Sujana, ia membakar rokoknya, menghembuskan asap. "Iya kali, ngga tau."
"Sikat aja, Dy!" bisik om Sujana. "Paling lu cuma beda berapa taun ama dia."
Oddy hanya menggelengkan kepalanya, menghisap rokoknya dalam diam.
Baru juga disebut, Reemar sudah berjalan menghampiri meja mereka. "Om, mau pesen yang lain? Kita ada cemilan juga, lho! Aku yang masak. Kualitasnya terjamin!"
"Ngga, neng. Makasih," balas om Rival
Om Sujana tertawa kecil. "Udah cakep, bisa masak lagi. Mau ngga jadi asisten rumah tangga om?"
Reemar hanya tersenyum, kemudian mendekati om Sujana dan berbisik di telinganya. Om Sujana menggelengkan kepalanya, "Ngga, neng. Emang kenapa?"
"Dy," bisik om Sujana, mendekati Oddy. "Masa tadi dia nanya ke gue, gue satu rumah ngga sama lu. Beneran demen kali ama elu dia."
Oddy mengangkat kedua bahunya, menaruh sisa putung rokoknya di asbak. Ia hanya berharap Mudita bisa segera kembali dan menemaninya di sini.
...♡...
Waktu menunjukkan pukul 2 siang—sudah 3 jam mereka menunggu Mudita dan Fajri untuk kembali. Om Sujana dan om Rival sudah menghabiskan setidaknya 4 bungkus rokok, sementara bang Arif mulai pasrah dengan ponsel Mudita. Pemuda itu menghela nafas panjang.
"Ngapa, bang?" tanya Oddy, menghisap sisa rokok yang dibakarnya sedari tadi.
"Kayanya ngga bisa dah," jawab bang Arif. "Gua udah nyoba ini-itu, ngga ketemu juga."
Om Sujana dan om Rival menghampiri meja bang Arif. "Gimane, Rip? Ketemu?" tanya om Sujana.
"Kagak, bang. Kagak tau juga. Arip udah nyoba ini-itu, tapi tetep aja ngga ketemu."
Mendengar jawabannya, om Sujana ikut menghela nafas. "Kalo begini, cuma satu pilihan kita."
"Apaan tu, om?" Oddy langsung menanggapi.
Sebelum om Sujana dapat menjawab, sesosok wanita dengan sundress putih mendekati meja mereka. Siapa lagi, kalau bukan Olivia. "Lagi pada sibuk, ya? Kok, tiba-tiba bergerombol gini?" ia tersenyum manis.
__ADS_1
Om Sujana menoleh kepada Olivia, membalas senyumannya. "Ngga kok, neng. Kite mau ke warteg bentar, ya."
Wajah Olivia tampak sedikit kecewa. "Aku baru aja masak, om. Makan di sini aja, ya?" nadanya terdengar memelas.
"Kita mau sekalian beli rokok juga di luar," timpal om Rival.
Walau terlihat kecewa, Olivia menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terpaksa. "Ya udah. Ati-ati, om, Oddy."
Dengan begitu, om Sujana dan om Rival mulai berjalan menuju gerbang utama. Melihat Oddy yang masih duduk di samping bang Arif, om Rival menghentikan langkahnya. "Oddy, ayo ikut!" sahut om Rival.
Oddy menggelengkan kepalanya. "Duit sisa buat bensin doang, om. Lagian Oddy juga ngga laper."
"Udeh, gue yang bayarin. Kaya ngga kenal gue aja lu!" balas om Sujana.
"Udah, lu ikut sana. Gua mau lanjutin ini bentar," ucap bang Arif sambil mengotak-atik laptopnya.
Karena dipaksa, terpaksa dan situasi yang memaksa, Oddy tanpa pikir panjang berjalan mengikuti om Sujana dan om Rival. Di satu sisi, ia cemas akan ponsel Mudita dan SMS yang belum juga terlacak; di sisi lain, ia lega karena bisa keluar dan bebas dari Olivia untuk sementara.
—
Karena letak Rindu Pohon yang strategis dan berada di pinggir jalan, para Askar tidak perlu jalan terlalu jauh. Mereka mampir di sebuah warung untuk membeli sebungkus rokok. Beberapa meter kemudian mereka berjalan, mereka menemui sebuah warteg.
Om Sujana memasuki warteg terlebih dahulu. "Assalamualaikum!" sapa hangat om Sujana kepada pemilik warteg. Dengan begitu, om Sujana dan pemilik warteg memulai perbincangan hangat mereka. "Lu pada mesen duluan ngga papa. Mumpung temen gue yang punya warteg."
Om Rival menarik kursi panjang dan duduk, diikuti oleh Oddy di sebelahnya. Mereka masing-masing memesan pilihan mereka dan mulai makan. Lain halnya dengan om Sujana yang hanya memesan secangkir kopi, menaikkan kaki kirinya di atas kursi. Abang pemilik warteg pamit, meminta om Sujana menjaga warteg selagi ia keluar.
"Dy," panggil om Sujana, menghembuskan asap rokoknya. "Kalo kite mau cepet nemuin Joker, pilihan kita cuma satu: Jadiin cewe lu umpan."
Nafsu makan Oddy kini menghilang. Nasi dan lauk dalam mulutnya terasa hambar. "Maksud om gimana?" ia bertanya, menelan makanannya.
"Gue belom pernah nemuin kasus kaya cewe lu. Yang keterima di bawah umur. Dan, dia satu-satunya orang yang kite kenal, yang langsung dihubungin ama si Joker. Jadi, ya, dia umpan kite. Mau ngga mau, kite harus selalu tau perkembangan "pelatihan" dia."
Oddy terhenyak, melepaskan sendok dan garpu dari genggamannya. "Kan, om bisa nanya langsung ke Jack Hati."
"Nah, begini, Dy," om Sujana bergeser mendekati Oddy. "Jack ama Queen Hati yang tadi baru. Masih muda lagi. Aslinya mah, tua. Gue curiga ama si Fajrinya."
"Kok, bisa? Bukannya jabatan tiap golongan gantinya barengan?"
"Nah, itu juga. Gue dapet kabar Hati ama Wajik udah ganti duluan dari kapan hari. Cuma Askar ama Keriting yang blom."
"Gimana, si?" kesabaran Oddy menipis.
Suara gelas dibanting terdengar dari kanan; Om Rival menggenggam erat gelasnya, namun wajahnya datar. "Sejak kematian Askar waktu itu, semuanya berubah..."
Om Sujana terhenyak, menganggukkan kepalanya. "Iye, gue juga ngerasa semuanya berubah," ia menghembuskan asap rokoknya, kini terdiam dan merenung.
Seketika, suasana berubah total. Warteg kemvali sunyi, terkecuali untuk suara komentator bola dari TV di warteg. Oddy perlahan mendorong piringnya, lalu meminta sebatang rokok dari om Sujana sebagai hidangan penutup. Semua kembali diam, berpikir.
__ADS_1
Masa iya, ngga ada cara lain?