
"Apa kau bakal hadir Akio?" tanya Mishall
"hufftt, kupikir tadinya sesuatu itu apa.. ternyata masalah pertemuan toh" ucap Akio dengan menghela nafasnya yang dalam.
"kau tau Mishall, terakhir kali aku hadir di pertemuan PCI, yang kudengar cuman ocehan sok dari para Cronites yang merasa paling hebat, kurasa aku gak bakalan hadir deh besok. Lagian aku harus menemani ibu ku ke pasar untuk stok makanan, kalau aku datang ke pertemuan besok, bagaimana nasib perutku seminggu kedepan" ucap Akio dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"oh ayolah Akio, itukan karena mereka belum tau siapa dirimu, lagian aku juga ada disana saat terakhir kau hadir 3 tahun lalu yah kalo gak salah. Iyaa wajar saja mereka merasa hebat karena gak ada kau Haruma pikir mereka disana, lagian ibumu juga kan sedang berada di Bandung, dasar kau ini"
"hmmmm tapi baguslah juga sih, aku jadi bisa tau sifat angkuh mereka, tapi tetap aja aku gak akan hadir besok Shall"
"yasudah kalo gak ada lagi, aku pulang duluan Mishall, ngeri berlama dengan kau hahaha stalker yang berbahaya bkn cuma tentangku, bahkan ibuku yang sedang di Bandung aja kau tau hahaha, babaayyyy~" ucap Akio melangkah pergi
"tunggu sebentar Akio, sudah kuduga kau bakal menjawab seperti ini. Baiklah saatnya menggunakan senjata rahasiaku"
Mishall membuka tas merahnya, perlahan mencari senjata rahasianya.
"ini dia" gumam Mishall
"he he he ini Akio, ada surat dari Elli kecilku. Kau baca dulu" ucap Mishall sambil tertawa horror
Akio lalu mengambil surat dari tangan Mishall, walaupun pikir Akio ini hanya akal-akalan Mishall saja, lagian tak mungkin Ellia mengirimkan surat untuknya.
Sesaat Akio beranjak memegang amplop biru, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari dalam amplop tersebut. Akio yang melihat benda yang jatuh di sebelah sepatu hitamnya itu langsung memungut nya, benar saja benda yang ia pungut adalah gantungan kunci bentuk beruang warna krim merupakan hadiah hari jadi 22 yang ke 6 kalinya.
"ini kan..."
dengan cepat ia membaca pesan yang tertulis di kertas dalam amplop tersebut.
Dengan ekspresi yang sangat berharap, mulai terbentuk dari wajah Mishall yang menantikan jawaban dari Akio setelah melihat isi dari pesan tersebut.
Akio gemetar membaca isi pesan tersebut, perlahan ia mendekati Mishall yang berjarak 3 langkah darinya.
"hoii Mishall, bukankah sudah kubilang padamu jangan membocorkan identitas ku pada siapapun, apalagi pada Ellia yang harusnya paling tidak boleh tau soal aku, tapi malah kau bocorkan padanya! Matilah kau Mishall" ucap Akio dengan nada yang ngeri
Akio memegang kedua tangan Mishall, lalu Akio mengeluarkan senyum yang mengerikan dri balik senyumannya itu.
"[Teleport]..." ucap Akio mengeluarkan skillnya
Akio dan Mishall yang tadinya berada di atap sekolah... dalam sekejap sudah berada hamparan langit, tentu saja hal itu membuat Mishall ketakutan setengah mati.
"kau gilaaaaaaaaaaaaaa.... " teriak Mishall bercampur hembus angin yang kencang.
Akio yang tadinya terbang dilangit, tiba-tiba langsung menghilang dari pandangan Mishall.
__ADS_1
"KYAAAAAAA.... Mateeeee akooeeeeeee" teriak Mishall yang mulai jatuh kebawah dari langit.
Mishall yang hampir pingsan karena rasa takut yang membuat jantungnya hampir meledak hanya bisa pasrah sambil menutup matanya sekeras mungkin, seiring jatuhnya ia dari langit ke tanah.
"Straappp...." Akio menangkap Mishall
"yooww, bagaimana perjalanan mu Mishall " ucap Akio dengan tawanya.
Mendengar suara tersebut, Mishall pun membuka matanya perlahan. Ternyata Mishall sudah berada dalam gendongan diatas kedua tangan Akio terngangah dengan kemampuan gila Akio.
"bbb.. baiklah! ini pertama dan terakhir kalinya aku membocorkan identitasmu" ucap Mishall masih gemetaran dan lemas tak berdaya
"dasar mulut ember, tapi sekarang kau bileh membocorkannya pada Cronites lainnya Mishall, karena aku akan mengungkap diriku yang sebenarnya di pertemuan PCi besok nanti" ucap Akio dengan nada pelan.
Akio menurunkan Mishall, lalu berjalan meninggalkan Mishall yang masih gemetaran.
Mishall pun mencoba berdiri walaupun tubuhnya masih gemetaran karena hal tadi. Ia terkejut dengan perlakuan Akio barusan.
"huaaaaa paraahh banvet dia!" teriak Mishall sendiri
sesaat berdiri, Mishall berjalan keluar pintu atap, lalu Mishall melihat kertas pesan yang ditulis oleh Ellia untuk Akio yang terjatuh di lantai dekat pintu keluar/masuk atap. Mishall yang penasaran dengan isi nya pun segera memungut dan membacanya.
"hai Kin.. sudah lama yah kita gak bertemu, oh iya aku mendapat pesan dari PCI loh, nanti kakak ku akan memberitahumu soal ini. Kuharap kau bakal hadir disana, dan juga kalau bisa kau menunjukkan identitasmu yang sebenarnya. Karena aku sedang jengkel sekali dengan Kapten Rhusty, dia selalu saja menggodaku, terus dia selalu saja menyuruhku mengurus kerjaan yang diberikan PCI untuknya. Kuharap kau mau menjadi kapten Cronites yang baru Kin, kutunggu kehadiran mu besok yah. Ohh iya aku menyegel amplop ini kecuali jika kamu yang memegangnya baru terbuka, kurasa kakak ku gak tau isi pesan ini. Dia juga memberitahuku soal dirimu, aku pura pura terkejut aja hahaha. Jadi perlakukan saja kakak ku seperti pertama kali kau menjahiliku yah Kin. (salam hangat Ellia)"
Mishall ternyata sudah dipermainkan dari awal pertemuan ia dengan Akio merasa sangat kesal. Apalagi adiknya yang ternyata sudah tahu siapa Akio sebenarnya tapi diam saja seperti tidak tau.
"tapiii... kalian memang sangat serasi Ellia,, Akio" ucap Mishall yang menatap ke langit dengan senyuman.
Mishall pun pergi keluar sekolah, tapi...
Disaat Mishall sedang berjalan keluar gerbang, ia terkejut karena sudah ada belasan siswa yang terkapar kesakitan. Mishall memang mendengar kabar kalau Akio akan berkelahi dengan Reko si banteng merah, tapi tak disangka jika Akio benar-benar akan menghajarnya beserta bawahan Reko sampai babak belur seperti ini.
***
"ayssss.. gimana mungkin aku bisa sampai lupa dengan si baboon itu, dasarr" gumam Akio menggerutu yang sedang berjalan pulang setelah memberi Reko dan anak buahnya pelajaran.
------------------------------------
Sabtu, 2 Maret 2020
Bogor, Indonesia.
Kota hujan yang menjadi tempat pertemuan PCI, jalanan bogor yang tak bisa lepas dari hujan disetiap harinya.. Terpilih menjadi tempat pertemuan besar antar Cronites yang akan membahas mengenai pergerakan dari Pires.
__ADS_1
Jalanan bogor menjadi sangat ramai tidak biasanya, karena banyak orang yang ingin melihat para ksatria Cronites mereka yang sudah menjadi idola banyak orang di Indonesia.
Apalagi didepan gerbang gedung PCI, banyak sekali wartawan yang hadir untuk meliput berita mengenai pertemuan Cronites ini.
"heemm Airi, apa gak sebaiknya kita berkeliling Bogor dulu sebelum hadir di pertemuan PCI?" ucap Juke dengan suara lembut.
"hmm mau sih, tapi males akunya hehe. Lagipula sepertinya hujan bakal turun Juke" ucap Airi dengan nada tak semangat.
Juke merupakan Cronites tingkat II, sedangkan Airi Cronites tingkat I. Mereka berdua adalah sepasang kekasih, yang cukup terkenal di Indonesia.
"heemm gak biasanya kamu gak suka hujan Airi, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Juke
"gak Juke, aku cuman merasa terganggu dengan hujan aja" ucap Airi sambil menyentuh bibir mungilnya dengan jari telunjuk kanannya.
"apa kau sedang memikirkan Haruma Airi?"
"mungkin juke, perasaan selalu saja turun hujan saat ia membantai Pires 7 tahun lalu, bahkan pas peristiwa awal 8 Juni Hujan juga turun dibandung kan"
"mungkin itu cuman kebetulan saja Airi, iya walaupun dengan singkat ia membantai Pires, lalu pergi menghilang saat Cronites lain datang dilokasi kejadian"
"heeemm.. tapi setelah kupikir-pikir ada benernya juga sih ucapanmu hmm" ucap Juke yang ikut memikirkan hal itu.
24 menit sebelum pertemuan PCI dimulai..
Banyak Cronites yang mulai berdatangan masuk ke dalam gedung PCI Bogor, tak luput pula banyak orang dan wartawan yang berbondong di depan gerbang yang sudah menantikannya sejak pagi.
"Lihaaatttt lihaattt.. ituuu!!! " ucap seorang wanita sambil menunjuk ke suatu orang.
Kapten Cronites yang berjalan dengan gagah dan pakaian glamour yang dikenakannya berjalan memasuki gerbang PCI sambil menyapa orang-orang dengan senyuman dan lambaian tangan kanannya ke arah orang-orang yang sedang meneriakan namanya.
"kak Rhustyyy tunggu aku dong" ucap Anggun Cronites tingkat III yang berlari mengejar Rhusty.
Rusty yng mendengar panggilan Anggun memperlambat jalannya.
"hi hi hi, ikutan populer juga dong kak hahha jangan sendiri-sendiri populernya" ucap Anggun tersenyum ke arah Rhusty.
"Hoeehhh,,, " Rhusty menghebuskan nafasnya dengan berat.
--------------------------
Bersambung...
__ADS_1