Awal & Akhir - 8 Juni

Awal & Akhir - 8 Juni
Chapter VII - Reuni Sang Legenda


__ADS_3

Dalam gedung Asosiasi PCI Bogor.


Sudah banyak sekali yang hadir di dalam aula pertemuan, mereka tak lain adalah para Cronites dan beberapa staff PCI, ada pula ketua PCI sang legenda yang menjadi momok menakutkan bagi Pires dan sangat dihormati Cronites


Tinggal hitungan menit saja sebelum dimulainya pertemuan Cronites.


Banyak Cronites yang sudah lama tak bertemu satu sama lain, para Cronites menikmati pertemuan ini layaknya reuni.


"Azkaaaaa.... " teriak Mishall dari jauh yang memanggil Azka.


Mishall yang tampil dengan mempesona demi bertemu Azka, mulai mendekati Azka.


"uwaaahh seperti biasa yah, kau selalu saja membuatku mabuk kepayang dengan pesonamu Mishall" kata Azka menggoda


"hahaha bisa aja kau, oh iya selamat yah sudah naik ke Tingkat I, semakin hebat aja kamu tak lama bertemu ini" ucap Mishall sambil menepuk bahu kanan Azka


"iyalaahhh, emang kau yang selalu saja betah di Tingkat III Shall hahaha" ucap azka meledeknya sambil memonyongkan mulutnya


"beraninya kauuu!! Sini kauu, tak serueetttt abis mukamu nanti" ucap Mishall dengan mata melotot dan ekspresi jengkel dari wajahnya.


"hahaha sudah sudah, jangan merengek dong Shall aku cuma bercanda doang kok" ucap Azka sambil nengelus kepala Mishall perlahan


Waktu pertemuan PCI pun dimulai.


"dimohon perhatiannya, bagi Cronites dipersilahkan untuk duduk di tempat yang telah disediakan" ucap staff Asosiasi PCI lewat mic


tak berselang lama, suasana menjadi tenang ditandai dengan kemunculan Ketua PCI Baskoro yang merupakan sang legenda Cronites Indonesia. Aura yang dipancarkan dari diri Ketua pun dirasakan oleh setiap orang yang ada di Aula tersebut.


Staff Asosiasi yang telah menyatakan kehadiran ke 127 Cronites yang telah diundang pun, mempersilahkan pak Ketua untuk memberi kata pembuka pada pertemuan ini.


"tak perlu berlama-lama, aku akan langsung memberitahukan langsung ke poin utamanya pada kalian" ucap Baskoro tak suka basa basi


"Pada senin malam kemarin, telah terjadi pertempuran Cronites dan Pires di malaysia. Alhasil, Malaysia yang diserang secara dadakan pada petang hari itu pun mengharuskan kehilangan beberapa kotanya dan mencapai ratusan korban yang melayang. Hal ini masih disembunyikan dari media, karena mereka tak ingin menjadi sorotan menanggung malu karena kekalahan mereka"


Spontan suara orang-orang yang sangat terkejut dengan ucapan ketua pun menjadi sontak ramai seketika.


Ketua yang hanya memperbesar Aura kekuatannya pun cukup untuk mengheningkan suasana kembali.


"Malaysia meminta untuk pengiriman bala bantuan pada Jepang, Singapura, Korea, Thailand, China, dan Indonesia untuk melawan Pires yang sudah hampir menguasai setengah negaranya"


Ketua PCI Baskoro mulai merasakan sosok yang kuat di dalam Aula tak menggubrisnya dan terus melanjutkan bicaranya.

__ADS_1


"setelah kupikirkan baik-baik semalam, telah kuputuskan aku hanya akan mengirim 6 Cronites terbaik saja membantu mereka"


"ketua.. mengapa cuma 6 saja yang dikirimkan. Bukankan lebih banyak yang dikirimkan akan lebih baik?" ucap Rusty kapten Cronites Indonesia menyelah pembicaraan yang merasa keputusan ketua adalah salah.


Para Cronites yang juga sependapat dengan kapten pun mulai bersorak kecil dengan ramai.


"para Pires mulai menuju ke sini, ke Indonesia.. " ucap Baskoro


Sontak ucapan dari ketua membungkam semua yang ada di Aula.


"Aku tak mau negara kita menjadi terancam, jika aku mengirimkan banyak orang untuk bertempur melawan pires disana, bagaimana dengan tempat tinggal kalian? Apa kalian mau mereka mati dibunuh Pires?" ucap Baskoro tegas


Suasana di aula semakin mencekam. Banyak Cronites yang mulai mengkhawatirkan orang-orang terdekat mereka karena ancaman dari Pires jika mereka berhasil berlabuh di Indonesia.


"baiklah ketua jika memang itu keputusan terbaik darimu, aku kan mengikuti arahanmu saja, maaf atas kelancanganku" ucap Kapten Rusty.


"tapi sebenarnya... Itu bukan pokok utama permasalahan yang ingin kusampaikan pada kalian, kemarin aku mendapat laporan dari kementrian Swedia, bahwa mereka telah gagal mempertahankan negaranya, alhasil Swedia telah menjadi hunian sekaligus markas Pires"


Suasana menjadi meledak dengan apa yang dikatakan Ketua Baskoro, banyak Cronites yang tak lagi bisa mengeluarkan senyum dan tawanya.


"test, test, tessttt,,," suara mikrofon dari meja Ellia yang berada di sudut pintu keluar.


"permisii Baksooooro~ jangan risau jangan galau, seperti bukan kau saja hahaha" ucap Akio mencairkan suasana tapi terdengar garing


"ketua, kenapa kita tidak menghabisinya seperti dulu lagi? Seperti bukan kau saja yang mengaggap serius tentang Pires" ucap Akio dengan nada santai


Rhusty kapten Cronites yang tidak terima dengan perkataan lancang orang tersebut kepada ketua pun, berdiri dari mejanya dan menunjuk Akio dengan emosinya ke arah orang yang berbicara tersebut.


"beraninya kau berbicara tidak hormat seperti itu pada ketua cecungut!!!" teriak Rusty.


Orang-orang yang ada di aula sontak penasaran dengan orang yang berani berbicara seperti itu pada ketua.


"hah? Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah yah? maaf maaf hahaha" ucap Akio sambil tertawa


"kau ini gak bisa membaca situasi apa Kinn" ucap Ellia yang suaranya ikut terdengar terdengar karena dekat dengan mikrofon.


Ketua Baskoro yang tadinya hanya diam tak bergeming dari tempat duduknya, kini berdiri dengan senyuman kebahagiaan yang tak terkontrol.


Baskoro tertawa lepas hingga membuat semua orang yang ada di Aula terheran akan keadaan saat ini.


Melihat sambutan yang diperlihatkan oleh ketua, Akio pun berjalan perlahan menuju podium tempat Baskoro berdiri.

__ADS_1


Tatapan dari para Cronites yang membuat Akio sedikit cemas karena kemunculan yang penuh sensasional, terus berjalan ke arah podium tempat ketua berada sambil menundukkan kepalanya.


Baskoro mulai duduk kembali di kursinya, dan menenangkan dirinya kembali. Ketua yang mengerti akan keadaan dari sorot dan gaya Akio, perlahan mengarahkan mulutnya ke mikrofon.


Suara bisik bisik di Aula hingga membuat Aula menjadi berisik membuat suasana ramai.


"mohon tenang sebentar" ucap Baskoro


Akio yang sedang berjalan menaiki tangga kecil podium pun, telah menerima tekad yang telah ia putuskan tersebut.


"baiklah.. Pada semua orang yang ada di Aula ini, kuperkenalkan pada kalian,, dia adalah Akio Denta... yang dijuluki Haruma yang membasmi peristiwa awal 8 juni lalu di bandung"



Semua orang yang berada dalam aula mulai berbicara ramai membuat Aula penuh dengan suara yang terkejut, tidak percaya, dan perasaan lainnya.


Akio hanya tersenyum lebar di atas podium, menjadi seperti bintang besar dalam sekejap setelah pernyataan dari Baskoro barusan.


"misi... boleh saya minta kursi untuk duduk?" ucap Akio yang mulai seperti orang bodoh karena berdiri sendirian di atas podium


Akio memindahkan kursi yang disediakan para staff itu ke tempat meja ketua duduk.


"lama tak bertemu, Bakso" ucap Akio dengan panggilan ketua saat dulu masih perang bersamanya.


"nanti saja bocah sapaan bodohmu itu, lihat situasi bego" ucap Baskoro sambil tersenyum menahan rindu pertemuannya dengan Akio


Tiba-tiba kapten Rusty yang merasa tidak senang kehadiran HARUMA pun, mulai memancarkan aura yang menakutkan disekitarnya.


"Ketua! izinkan aku bicara" ucap Rusty dengan nada kesal.


"nanti saja bicaranya Rusty, ada yang ingin kusampaikan yang lebih penting lagi pada kalian semua" ucap ketua dingin.


Suasana yang tadinya sangat ramai, perlahan menjadi tenang.


"baiklah ada tiga hal yang akan kusampaikan pada kalian, pertama aku bahagia, kedua aku tenang, ketiga aku ingin tertawa hahaha" ucap ketua kegirangan.


Akio yang mendengar perkataan ketua pun ikut tertawa karena akhirnya, sifat ketua yang ia kenal memang penuh canda seperti ini.


"ehem ehem, maafkan apa yang kukatakan barusan. Baiklah tanpa pikir panjang lagi, aku akan mengumumkan bahwa Akio akan menjadi Jenderal PCI yang memegang semua alih komando"


Semua orang yang mendengar pun memberikan tepuk tangan yang meriah atas kembalinya Haruma dan menjabat sebagai Jendral PCI. Terang saja, sosok HARUMA adalah sosok penyelamat negara yang tak terlupakan. Semua orang di Aula yang tadinya ketakutan atas kejadian yang menimpa Malaysia dan Swedia, kini kembali menjadi gelak tawa yang mengubah suasana menjadi ceria kembali.

__ADS_1


------------------------------------


Bersambung...


__ADS_2