AYO CERAI!

AYO CERAI!
Deja Vu


__ADS_3

Kelana Besari tumbuh di keluarga yang problematik, dia bukan anak broken home, bukan juga salah satu dari circle keluarga cemara. Bagaimana mengatakannya, dimulai dari sang Papa, Sutopo, kepala dari keluarga kecilnya itu tempramental, bipolar, atau entah bagaimana Kelana mendeskripsikannya. Yang jelas, Sutopo kadang terlihat seperti setan, kadang juga seperti malaikat jatuh dari surganya Tuhan. Terutama saat suasana keuangan rumah atau hal lain sedang memburuk dalam rumah Sutopo tidak segan membentak dan membentak Mama, melemparkan seluruh kesalahan dan membuat segala hal yang terjadi seolah-olah kesalahan Mama, padahal orang gila pun tahu salah itu adalah salah Papa.


Sedangkan Mama Mentari hanya perempuan desa yang kurang beruntung menjalin rumah tangga dengan laki-laki aneh seperti Papa, Mama sebenarnya hanya wanita yang ingin kebahagiaan yang sederhana, seperti anak-anaknya tidak kekurangan juga suaminya tidak main perempuan, Mama tidak pernah menuntut Papa untuk hal-hal mewah, tapi sikap Papa yang terkadang melampiaskan segalanya pada Mama membuat Mama sama-sama sering kali berubah sewaktu-waktu di rumah terdapat masalah. Mama akan menangis dan memaki Papa ketika Papa muak dan pergi dari rumah sementara waktu.


Sebagai anak tunggal yang tinggal dan bertahan di rumah sepanjang hidupnya Kelana benar-benar muak, terkadang ketika saat Mama dan Papanya mulai bertengkar, Kelana ingin sekali mencetuskan kata cerai saja pada sang Mama, tapi kata itu tertelan begitu saja ketika keesokan harinya Mama dan Papa bersikap seperti biasa, bahkan lebih manis dari keluarga mana pun. Siklus gila itu sebenarnya hampir membuat Kelana tidak waras.


Kabar baiknya, kondisi ekonomi keluarga mereka berangsur membaik ketika Kelana ikut menjadi donatur kas rumah tangga, setidaknya skala pertengkaran dalam rumah mereka jarang sekali terjadi ketika atmosfer rumah terasa lebih ringan, tidak ada lagi Papa yang marah dan menuduh Mama boros, atau Mama yang tersiksa batin karena ulah Papa.


Hasil dari semua itu, Kelana membuang jauh-jauh angan-angannya untuk menikah. Baginya pernikahan hanya ajang untuk mempersulit hidupnya sendiri, Papa yang masih menganut Patriaki juga membuat Kelana jengah, jika menikah hanya membuatnya terkungkung dalam jerat suaminya, sampai mati Kelana tidak akan menyerahkan dirinya pada siapapun.


***


"Na, sarapan dulu." Mama muncul dari dapur dengan dua mangkuk yang berisi sayur di tangannya, pagi itu matahari begitu hangat, sehangat senyuman Mama yang menyambut Nana pagi itu.


Nana mengucek matanya yang masih buram karena baru saja terjaga dari tidur, wanita 25 tahun itu turun dari lantai dua dengan piyama bercorak lucu, ketika tiba di meja makan, Nana menggolerkan kepalanya begitu saja sembari menatap Mama yang sibuk mengangkut sayur dan alat makan, "Masak apa, Ma?"


"Rendang. Kamu lagi diet 'kan? Mama taruh salad kamu di sana," kata Mama menunjuk semangkuk salad tepat di depan kepala Nana yang tergelak di atas meja, "Mau kurus kaya gimana lagi sih, Na? Diet mulu."


Setelah memastikan angkutannya selesai, Mama geleng-geleng kepala melihat wajah bantal anak tunggalnya itu, "Cuci muka dulu, gadiss!!"


"Males, ah! Kalau cuci muka nanti gak ngantuk lagi, abis ini Nana mau tidur lagi," tolak Nana mentah-mentah, perempuan itu dengan malas menengakkan kepala lalu meraih mangkuk salad sayur yang tampak seperti makanan kambing versi premium, sejenak Nana melenguh, dia bosan dengan makanan rendah kalori itu sebenarnya.


"Mau kamu diet seribu tahun juga kalau mageran dan jam tidur kamu berantakan terus, badan kamu gak akan pernah sehat, Na." Mama mengoceh, ia tak tau lagi bagaimana mengingatkan anaknya itu, padahal Nana adalah sarjana, pasti lebih tau pola hidup sehat lebih dari dirinya sendiri yang hanya lulusan SD.

__ADS_1


"Sehat kalau gak bahagia buat apa?" Kata Nana tetap ngeyel, saat ia ingin menyendok saladnya, Mama menahan tangannya.


"Jangan makan dulu, Papa belum makan, kita makan bareng."


"Makan mah makan aja, Mom." Nana mendelik, "apa-apa nunggu Papa mulu."


Mama menjitak dahi Nana tidak terlalu keras, suaminya dan anaknya memang seperti anjing yang kucing, Nana yang selalu sinis dan juga Papa yang selalu tersinggung dan menganggap tidak menghormatinya, saking seringnya anak dan ayah itu tidak akur, Mama terkadang menyimpulkan bahwa bertengkar dan saling sindir adalah bahasa cinta antar keduanya.


"Bentar doang, Papa pamit keluar bentar tadi, katanya ada urusan penting di sebelah." Mama ikut duduk di hadapan Nana sambil menuangkan air, kata-katanya malah membuat dahi Nana berkerut.


"Di sebelah? Rumah kosong itu?" Nana tiba-tiba menutup mulutnya ngeri, "Astaghfirullah, Ma! Ayo kabur, Papa pasti ada apa-apa sama setan di sana!"


Tuk!


"PAPA!!" Nana melotot pada Papa yang dengan acuh menarik kursi di antara Nana dan Mama, lalu meneguk segelas air dari gelas Mama.


"Kalau aku gegar otak terus mati gimana?!"


"Baguslah, Papa bisa bikin anak lagi."


"Dih!" Nana menatap jijik pada Papa, "Kaya masih mampu bereproduksi aja!"


Mendengar itu, Papa tidak mau kalah, pria itu menatap anaknya remeh, "Dari pada kamu, masih mampu reproduksi tapi ga ada rekan yang mau reproduksi bareng kamu. Dasar perawan tua."

__ADS_1


"Maaaa ..." perempuan itu prustasi, tidak menyangka pada ayahnya, ia menunduk sambil meremas rambutnya, lalu mendongak dan menatap nyalang kedua orang tuanya.


"Bilang sama aku?? Aku ini anak pungut, 'kan? Bilang aku di pungut di mana?!!!" katanya kesal, bukannya mendapatkan tanggapan serius, Papa malah tertawa, sedangkan Mama bingung harus bagaimana.


"Lho, baru sadar? Papa gak sengaja nemuin kamu waktu berburu babi di hutan Kalimantan, waktu itu kamu nangis bunyinya 'khok khok' Papa kaget, kirain binatang buas, ternyata anakan babi."


Nana menggigit bibir bawahnya marah, perempuan itu berdiri dari kursinya lalu pergi dari sana dengan langkah menggebu-gebu, "ngomong sama babi!"


***


Di sinilah Nana sekarang, sambil memegang sekotak kue buat Mama dan piyama yang belum berganti, perempuan itu menekan bel berulang kali. Papa bilang rumah yang telah kosong 15 tahun di samping mereka itu kedatangan penghuni, dan Nana harus mengantarkan bolu pemberian Mama sebagai tanda perkenalan diri. Padahal Papa sudah dari sini tadi pagi, dan Nana tidak punya niat berkenalan sama sekali. Kalau bukan Papa yang menaruh speaker di depan kamarnya lalu memutar lagu dangdut dengan volume gila-gilaan hingga ia bangun dan menuruti perintahnya, Nana tidak akan mau memakai kaki untuk menghantarkan ke rumah yang bahkan masih terkesan seperti rumah hantu itu.


"Sebentar!"


Dari dalam sana, Nana bisa mendengar suara maskulin laki-laki dewasa, tanpa peduli ia bersadar di gerbang sambil menyeka dahinya yang tidak mengeluarkan keringat sama sekali, di bawah matahari pagi itu Nana merasa ia sudah selevel menyedihkankan dengan kuli yang bekerja siang bolong di bawah terik matahari.


Cklek!


Nana menoleh ke arah pintu kecil di sebelah gerbang utama, seolah pria matang dengan kaus putih keluar dari sana, Nana bisa mencium aroma debu yang pekat menempel di sekitar pria itu.


Saat pria itu berjalan mendekat Nana hampir tidak merasakan massa kue bolu yang bertengger di atas tangannya.


Demi Na Jaemin dan senyumnya yang paling menawan yang pernah Nana lihat, Nana terpesona bagaimana pria itu menarik kedua sudut bibirnya saling menjauh, lalu membentuk lengkung indah yang menampakkan gigi-gigi cantik di belakangnya.

__ADS_1


Senyuman itu membuatnya deja vu.


__ADS_2