AYO CERAI!

AYO CERAI!
Harus Dengan Cara Apa Lagi?


__ADS_3

"Lo ada acara besok malem, Na?" Perempuan dengan rambut ikal dan celana jeans biru itu menenggak minumannya sekaligus setelah menanyakan itu pada Nana.


"Gak ada."


"Jangan lupa Dateng ke pesta lajangnya Gianno, semua peneliti dan staf di udang sama dia." Teressa memberi tahu.


Nana, Teressa dan Hananta duduk melingkar di meja kantin, ketiganya memang menjadi teman akrab sejak pertama kali bekerja di laboratorium empat tahun lalu.


"Gak usah, Na." Hananta memperingatkan, "Pestanya di club. Papa sama Mama lo juga pasti ngelarang."


Nana menaikkan alisnya untuk bersikap ketus seperti biasa, "Siapa lo kok ngatur?"


"Pestanya terlalu bebas, Na. Itu gak cocok buat lo." Hananta ingin menasehati, tapi Nana malah menangkapnya sebagai kalimat yang merendahkannya. Memangnya dia anak kecil?


Perempuan itu memutar bola matanya malas, "Gak usah sok tau."


***


Nagara menonton TV di ruang keluarga Nana tanpa minat, pria itu melirik jam tangannya berulang kali, saat jam bandul berbunyi nyaring pertanda tengah malam, ia bertambah gelisah.


Beberapa jam yang lalu, ia ikut makan malam atas ajakan Mama Mentari, tapi mendapati bahwa Nana belum menunjukkan batang hidungnya sedari pagi malah membuatnya khawatir dan minta menginap, dan orang tua Nana tidak masalah sama sekali.


Bagi mereka, Nagara memang sudah seperti anak sulung mereka.


Dari pernyataan Papa Nana, Nagara hanya tau bahwa masalah di laboratorium, tempat Nana bekerja itu memang serius sekali. Dan satu-satunya peneliti yang mampu membereskan hanya Nana seorang, karena peneliti bidang elektronika yang lain tengah berkunjung ke kota bahkan Negara lain.


Nagara mengenakan piyama putih polos tanpa motif, orang tuanya Nana sudah terlelap hampir tiga jam yang lalu, bersisa dirinya yang menunggu Nana dengan gundah. Akankah perempuan itu tidak pulang malam ini?


Tok!


Tok!


Tok!


"Papa!"


Nagara spontan menghampiri pintu yang diketuk tidak terlalu keras, ia juga bisa mendengar suara Nana yang memanggil Papanya dengan jeritan tertahan.


"Kenapa baru pulang?" Nagara membuka pintu dan langsung menyemprot Nana dengan pertanyaan, sedangkan perempuan itu menatapnya dengan mata membola, terkejut.

__ADS_1


"Enggak bisa besok aja?"


"Kamu perempuan, masa enggak dikasih keringanan buat pulang di bawah jam malam?"


"Gimana kalau kamu kenapa-kenapa?"


"Nana. Denger, enggak?" Nagara menaikkan oktaf suara sedikit.


Nana hendak mendorong tangan Nagara agar menyingkir dari jalan, tapi Nagara bahkan tidak bergerak satu centipun, "Minggir."


"Aku khawatir," katanya. Alih-alih menjatuhkan tangannya dari pegangan pintu ke sisi tubuh, Nagara beralih menarik tubuh Nana yang mungil untuk dia dekap, "Aku hampir susulin kamu kalau om gak bilang kamu gak bakal suka."


"Kok lo ada di sini, sih?" tanya Nana tidak suka, tapi tidak menepis rengkuhan Nagara sama sekali.


"Nginep," sahut Nagara pendek, "Ayo masuk. Udah makan belum?"


"Udah, bareng Hananta sama Teressa."


"Hananta?" Nagara membeo sambil merangkul bahu Nana menuju sofa ruang keluarga yang isi oleh suara telivisi, "siapa?"


"Ahli mikrobiologi di Lab, kalau Teressa ahli Biokimia." Nana menurut ketika Nagara mengambil tas selempang di bahunya lalu membuatnya duduk di sofa, "Mereka temen aku di lab dari pertama masuk. Walau gak ada hubungan sama sekali sama kerusakan lab elektronika, mereka tadi temenin aku lembur sampe pulang."


Mengapa ia harus bercerita panjang lebar pada Nagara? Sihir apa yang sebenarnya Nagara gunakan padanya sampai Nana tidak mengenal dirinya sendiri ketika berhadapan dengan pria itu. Atau karena kedekatan mereka selama 10 tahun awal Nana hidup membuat dirinya merasa tidak asing terhadap kehadiran Nagara?


"Mau dipijitin? Besok berangkat jam berapa?" Nagara masih mencecar, matanya masih menyorot cemas, ia meremas tangan Nana yang ia genggam dalam tangannya sendiri.


"Ih, enggak usah!" Nana menolak mentah-mentah.


"Oh, ya udah." Nagara mendesah kecewa, "Jadi, besok?"


"Sore. Soalnya aku belum bisa pake labnya. Jadi, cuma berangkat buat hadirin acara temen aja."


Wah, Nana. Ada apa dengan 'aku' itu? Di mana logat Lo gue yang seharusnya ia gunakan?


"Sebenarnya aku mau ajak kamu pergi besok pagi, tapi jam sekarang kamu aja baru pulang. Kalau besok pagi pergi, pasti kamu gak cukup tidur." Nagara mengelus kepala Nana yang rambutnya sudah tidak Serapi tadi pagi, "Jadi mau temenin aku besok siang?"


"Makan?"


"Enggak." Nagara menggeleng, "jalan."

__ADS_1


"Bahasa lo jalan!" Nana tanda sadar merubah logatnya lebih kasar, "emang kita pacaran?"


Nagara tersenyum saja, "mau?"


"Dih! Apasih!" Nana menghempaskan tangan Nagara yang bertaut dengan tangannya, tapi Nagara tetap keras kepala untuk melakukan skinship itu.


Nana mungkin tidak menyadari bahwa pipinya berwarna merah muda di bawah cahaya lampu malam itu, andaikan Nana betulan sudah menjadi miliknya Nagara tidak akan segan menciumi seluruh wajah Nana karena perempuan itu terlalu menggemaskan.


"Awas, gue mau tidur!" Nana berusaha beranjak karena tatapan intens Nagara yang sama sekali tidak beralih dari wajahnya, pria itu tidak mengatakan apa-apa membuatnya merasa salah tingkah.


"Mandi dulu." Nagara mengingatkan, "sini, peluk dulu."


Ia merengkuh tubuh Nana sekali lagi begitu erat, sampai punggung Nana yang dilingkari sebelah lengan kekar Nagara itu tersudut ke sandaran sofa.


Nagara tidak mengatakan apa-apa selama beberapa waktu, hanya memejamkan matanya sambil mengusap punggung dan pinggang Nana yang ramping.


"I Wanna cuddle with you, Na." Nagara menaikkan tangannya hingga menyentuh belakang kepala perempuan itu, "You so comfort if i hug you like this."


"Cud-cudle?" Nana mengulangi kata-kata Nagara tidak menyangka, "Cuddle yang kaya di tik tok itu?"


"Hm, serupa kaya gitu."


"Ngaco!"


"Beneran, aku enggak pernah bosen peluk kamu kaya gini, Na." Nagara memvalidasi sekali lagi, "Kamu senyaman itu."


Suara tv yang tidak begitu besar dan lampu yang remang meromantisasi bagaimana Nagara memeluk raga Nana begitu erat, dan mungkin merengkuh jiwa Nana juga untuk terus terikat padanya.


Keduanya tidak bergerak, Nana mengepalkan tangannya di sisi tubuh, perkataan Nagara yang ambigu itu sungguh mengganggu. Sebenarnya tujuan Nagara memperlakukannya seperti sekarang itu apa? Apa yang Nagara pikirkan tentang mereka? Atau hubungan apa yang Nagara yang inginkan di antara mereka?


Nana tidak pernah tertarik berhubungan dengan pria manapun, hatinya sudah lama tidak berdebar untuk siapapun, bahkan Hananta yang banyak membuat perempuan menjerit. Tapi, kenapa hanya dengan Nagara , Nana merasa hatinya yang kemarin-kemarin bukannya mati, tapi hanya tak satupun orang mampu menyentuhnya, bahkan dirinya sendiri.


"Sebenarnya kita ini apa?" Nana akhirnya melontarkan kalimat itu setelah banyak sikap membingungkan Nagara, ia tidak mau terlanjur jatuh padahal ternyata Nagara benar-benar hanya menganggapnya sebagai adik sebagaimana perkataan Papa dan Mama.


Nagara membawa hidungnya menyusuri belakang telinga Nana hingga turun lebih berani pada garis leher Nana, spontan perempuan itu menahan suaranya dan meremas sisi baju Nagara yang dapat digapainya.


"Egh!"


"Memangnya kurang jelas, Na?" Nagara menghirup napas dalam di leher Nana, lalu memberikan kecupan di sana, "Harus dengan cara apa lagi aku kasih tau kalau aku pengen kamu? Aku cinta kamu. Aku cinta kamu dari dulu, dari aku tau apa itu cinta aku cinta sama kamu. 15 tahun lalu, atau bahkan 25 tahun lalu waktu aku lihat kamu lahir ke dunia ini."

__ADS_1


__ADS_2