
"Kamu duduk aja kalau emang gak mau bantuin, tapi jangan keluar biar enggak di lihat Om Sutopo." Nagara mengatakan itu setelah meletakkan segelas kopi di atas meja, pria dengan wajah manis itu tersenyum sekali lagi, tangannya bergerak mengusap rambut Nana pelan, lalu kakinya berbalik, ingin menjauh.
"Nagara."
"Iya?"
"Lo umur berapa?" kali ini Nana tidak bisa mengacuhkan rasa penasarannya, laki-laki di hadapannya memiliki sifat dan raut wajah yang sangat mirip dengan Na Jaemin, idol Korea yang menjadi satu-satunya laki-laki yang membuat Nana tergila-gila. Kemiripan itu, dan satu hal di dalam diri Nagara membuat Nana tertarik tanpa sadar.
Nagara melengkungkan bibirnya lebih lebar, Nana boleh bersikap menyebalkan padanya, tapi jika Nana keras kepala, mana Nagara adalah kepala batu. Nana boleh mengusirnya ratusan kali, tapi demi apapun Nagara akan tetap menghampiri Nana ribuan kali.
"30. Kita bisa lima tahun, Na. Kamu 25 'kan?"
Sekali lagi dahi Nana berkerut tidak mengerti, perempuan itu menatap lamat-lamat pada mata Nagara yang fokus pada dirinya, akhirnya dirinya bertanya dengan serius, "Lo kok tau banyak tentang gue? Papa cuma ke sini gak sampe 30 menit, gak mungkin 30 itu Papa cuma cerita tentang gue. Kecuali Papa memang lagi promosiin gue buat cari calon mantu."
"Pertama, aku memang tau banyak tentang kamu." dari dulu, aku paling tau tentang kamu, kalimat itu hanya berani Nagara lanjutkan di dalam hatinya, "kedua, om emang gak cuma cerita tentang kamu, ketiga sepertinya Om Sutopo emang lagi cari calon menantu, soalnya beliau bilang kamu udah tua tapi gak laku-laku."
Bukannya menjadi lega, rasa penasaran Nana malah semakin menjadi, tutur panjang dari mulut Nagara itu tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, dia hanya ingin tau, kenapa Nagara bertingkah seolah dia adalah sosok yang sudah mengenal Nana sejak lama, padahal Nana tidak punya secuil ingatan apapun tentang manusia bernama Nagara.
"Kenapa lo tau banyak tentang gue?" Nana mengulangi pertanyaannya dengan lebih spesifik.
Nagara hanya menanggapi itu dengan senyumannya yang manis, Nana yakin gigi pria itu meronta-ronta meminta Saliva karena kering saking lamanya mulut Nagara terbuka.
"Kenapa kamu gak tau banyak tentang aku?" Nagara malah melemparkan pertanyaan lain, "pertanyaan itu cuma kamu sendiri yang bisa jawab."
"Aku sakit kalau kamu enggak ingat aku sama sekali, Kelana. Ingat aku, Nagara Alfian."
***
Nana pulang dengan banyak pertanyaan bercokol di dalam benaknya, Nagara tidak berbohong perihal Papa yang tidak memperbolehkannya masuk, gerbang rumahnya setinggi tiga meter itu terkunci dari dalam. Dengan kesabaran setipis tisu, Nana menggunakan sebelah kakinya untuk menendang gerbang besi itu sambil berteriak-teriak seperti orang gila, berakhir dirinya sendiri yang meringis ngilu karena kakinya yang berulang kali beradu dengan besi.
"PAPA!! PAPA BUKAIN!!!"
"MAMA!!"
__ADS_1
Bruk!
Bruk!
"Woy, Pa!!"
"IYA SABAR!!" dari dalam sana, Nana bisa mendengar samar-samar suara teriakan Mama, "MAMA LAGI REBUT KUNCINYA DARI PAPA!"
Mama membuka kunci dengan tergesa-gesa takut jika anak gadisnya di luar sana meleleh di bawah sinar matahari. Nana hanya perempuan pemalas yang jarang keluar rumah, tapi demi apapun Mama sayang pada Nana seperti ibu yang mencintai buah hatinya, tidak peduli sebanyak apapun Nana membuat Mama kesal.
"Lagian Papa kurang kerjaan apa gimana, sih?!" ketika gerbang bergeser dan wajah ibunya terlihat di depan mata Nana, perempuan itu langsung mengomel, "Udah bau tanah, kelakuan tetep kaya bocah."
"Na, dia Papamu lho, begitu-begitu juga," kata Mama menengur dengan halus, lalu meraih tangan Nana agar berjalan lebih cepat ke dalam, "mandi, gih. Abis itu bantuin Mama masak."
Nana mendelik, perempuan itu menaikkan alisnya kembali tersulut emosi mendengar perkataan ibunya, "Mama enggak lupa 'kan kalau tadi pagi aku bilang aku mau tidur?"
"Udah jam sembilan, Na. Cuaca juga udah panas, Mama jamin kamu gak bakal nyaman kalau tidur lagi." sekali lagi Mama mengeluarkan argumen untuk membujuk anak tunggalnya itu, "Nurut sama Mama, ya?"
"Mama kenapa aneh, sih. Tadi Papa, sekarang Mama, bahkan tetangga samping itu juga sinting."
Lalu Mama pergi begitu saja, segudang pertanyaan semakin membludak dalam kepala Nana sampai rasanya ingin meledak, akhirnya mau tak mau, Nana membersihkan tubuhnya lalu turun membantu Mama memasak makanan yang terlalu banyak di bandingkan porsi biasanya.
Walau Nana keras kepala dan tidak suka di atur-atur, tapi Nana tetap sayang Mama.
Papa juga, sedikit.
***
Jam bandul yang tegak di sudut ruang tamu berdentang tidak terlalu keras, tapi cukup mengalirkan gema di segala sudut ruangan, matahari sudah ada di puncak kepala, dan cuaca benar-benar panas, Nana juga bisa merasakan tubuhnya mulai gatal karena berkeringat, ia meletakkan potongan buah nanas terakhir di piring, lalu menarik napas panjang, ia merasa lelah.
"Nana mau naik, ya, Ma," katanya menggaruk punggungnya di balik baju, "Nana keringetan, bau dapur juga. Nana mau mandi lagi."
"Iya. Kalau udah cepet turun, ya."
__ADS_1
Setelahnya Mama menguasai dapur seorang diri, wanita 45 tahun dengan tubuh yang masih ideal itu membawa piring berisi potongan buah nanas ke meja makan, akhirnya setelah hampir tiga jam, seluruh masakannya selesai.
"Permisi, Tante."
"Lho, Nagara udah dateng?" Mata Mama berbinar, apron masih melingkupi tubuhnya yang berbalut daster berwarna biru, tidak peduli dengan itu ia menghampiri sosok pria yang berdiri kaku di lorong ruang makan, Mama bisa melihat plastik dengan mereka bakery terkenal tergantung di jari-jari Nagara.
"Maaf, Nagara cuma bawa ini, Tante." Nagara meringis tidak enak hati sambil mengulurkan plastik itu pada Mama, "Nagara mau buat sendiri tapi dapur belum bisa digunakan, Tan."
"Ih, kok repot-repot, sih!" Mentari membimbing tamunya itu untuk duduk di salah satu kursi makan, "Kan Tante bilang bawa badan aja, kamu dateng aja Tante seneng, lho!"
"Kamu tunggu di sini, ya. Bentar lagi Kelana turun. Tante mau ke belakang dulu, nyamperin om kamu."
"Iya, Tan. Terimakasih."
Sepeninggalan Mama, Nagara duduk diam di kursinya dengan mata yang menjelajah ke mana-mana.
'Memang banyak yang berubah, Na. Termasuk kamu.'
Nagara membatin di dalam hatinya sendiri, 15 tahun memang waktu yang cukup lama untuk banyak hal berubah, tapi perubahan dari diri Nana adalah hal terakhir yang Nagara harapkan berubah.
"Lho?! Kok lo di sini?!"
Baru saja turun, tapi Nana sudah membelalakkan matanya kesal, perempuan itu menuding wajah Nagara dari tangga dengan telunjuknya, lalu mengambil langkah seribu untuk menghampiri Nagara.
"Lo nguntit, ya?!"
"Tante bilang, siang ini kita mau makan bareng. Makanya aku datang."
"Lo mempengaruhi Papa sama Mama pakai cara apa sih sampe mereka deket sama lo padahal lo belum sampe satu hari di sini?!"
Nagara mengulum bibirnya sedih, laki-laki menatap Kelana terluka, "Aku tau 15 tahun itu waktu yang lama. Aku enggak pernah berekspektasi berlebihan kamu bakal mengingat aku sebagai laki-laki yang kamu cintai, setidaknya kamu bisa ingat aku sebagai seorang Kakak."
Nagara meraih sebelah tangan Nana yang tergantung di sisi tubuh perempuan itu, lalu mengambil alih seluruh atensi Nana dengan membuat mata kedua beradu, lalu menyampaikan hal yang sekiranya tidak bisa ia ucapkan.
__ADS_1
"Apa kamu enggak merasa falimiar sama sekali tentang aku, Na? Ini aku ... Nagara Alfian."