
"Hei," laki-laki berkaus putih itu melambaikan tangannya di depan wajah Kelana tanpa melunturkan senyumnya sedikitpun, saat dia bersuara sekali lagi Kelana dengan panik memundurkan tubuhnya menjauh hingga tanpa sengaja membentur gerbang dan menghasilkan suara yang nyaring dari gesekan besi.
"Eh!" Nana terlonjak kaget ketika tubuh pria itu tiba-tiba sudah berada tepat di hadapannya, di tambah suara nyaring punggungnya yang menubruk pagar membuat Nana hampir terjungkal dan menjatuhkan kotak kue yang tidak lagi ia sadari ada di atas telapak tangannya.
Sebelum tubuh Nana jatuh dengan memalukan pria dengan tubuh berbau debu itu mengulurkan kedua tangannya, sebelahnya untuk menopang kotak kue dengan menumpu tangan Nana dan satunya lagi menarik sebelah tangan Nana yang bebas hingga menubruk dadanya, "Hati-hati."
"EHEM!!"
Dehaman yang jelas dibuat-buat itu membuat Kelana dan si pria menoleh, tepat di atas pagar pembatas, Nana dapat melihat Papa dengan kuas cat sambil menatap keduanya penuh selidik, "Belum mahrom!!"
"Apasih!" Nana yang di tegur seperti itu tentu saja langsung kesal, ia mendorong dada pria yang menopang punggungnya itu hingga termudur beberapa langkah, saat menyadari tangan pria itu ikut menopang kotak kue di bawah tangannya, Nana menarik tangannya hingga mereka tidak lagi bersentuhan sedikitpun.
Baru saja Nana ingin mengomeli Papanya, tapi ketika ia mendongak lagi ke arah pagar pembatas rumah si pria dan rumahnya sendiri Nana telah menemukan keberadaan Papa sudah lenyap seperti hantu tersapu matahari, terpaksa ia menelan mentah-mentah omelannya dan melampiaskan setelah sampai di rumah.
"Kamu gak pa-pa?" sekali lagi suara maskulin itu menyeruak di telinga Nana, efeknya Nana seperti baru saja di bisiki makhluk halus, nada suara pria itu yang terlalu rendah membuat bulu kuduk Nana berdiri tanpa disadari.
"Enggak makasih," sahut Nana cuek, lalu mengulurkan kotak kue di tangannya dengan wajah tidak ikhlas, "Bukan gue yang kasih, dari Mama dan di paksa antar sama Papa."
Pria itu tersenyum sekali lagi, reaksi itu, Tuhan ... Nana tanpa sadar menggigit bibir dalamnya untuk menahan diri agar tidak ikut tersenyum, "Oh, ya? Bilang terimakasih sama Tante Mentari dan Om Sutopo, ya? Terimakasih juga untuk kamu, Kelana."
Kelana
Kelana ....
Astaga, sepertinya Nana memang sudah tidak waras, tepat ketika pria itu menyebutkan namanya sambil menatap matanya dengan senyum manis Nana rasanya kehilangan seluruh isi kepalanya dan tubuhnya terasa mengawang-awang. Sebenarnya reaksi abnormal macam apa yang terjadi padanya?
"Lo ..." ada getaran dalam suaranya, Nana menunjuk wajah tampan pria di hadapannya dengan tatapan tidak mengerti, "tau nama gue dari mana?"
"Aku Nagara, Nagara Alfian."
Dahi Nana mengerut ketika pria itu malah memperkenalkan dirinya alih-alih menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, "Gue gak tanya nama lo, gue tanya lo tau nama gue dari mana?"
Pria itu, Nagara, diam sejenak, sesaat ia menatap Nana dengan tatapan yang tidak Nana mengerti sama sekali. Lalu tidak lama kembali mengulas senyum, "Dari Om, tadi pagi dia ke sini."
__ADS_1
"Sok akrab Lo manggil om-om."
"Memang akrab Kelana, bukan sok akrab."
"Ya ya, terselah lo! Gue balik."
"Kelana." ketika Nana berbalik dan hampir melangkah menjauh, tangan kasar Nagara kembali melingkari pergelangan tangan Nana lalu menariknya mendekat.
"Om bilang, kamu harus bantu beres-beres."
"Lah?!" Nana mendelik tidak terima, lagi-lagi menghempaskan cekalan tangan Nagara, lalu dengan emosi membumbung perempuan itu berbalik, "Siapa Lo sampe gue harus bantuin lo?!"
"Aku?" tanpa berdosa Nagara menunjuk dadanya sendiri dengan wajah polos, "Nagara."
"Ya gue tauuu!!" Nana menggeretakkan gigi emosi, memang sudah hukum alam yang rupanya elok otaknya agak belok atau bagaimana?
"Maksud gue lo bukan suami gue yang harus gue bantuin beres-beres rumah, Tuan Nagaraaa!!!"
Nana makin emosi, masih pagi tapi ia sudah merasa frustasi dua kali, Papa dan Nagara ada best combo untuk mengacaukan mentalnya, "Kita sebenarnya lagi bahas apa, sih?!"
"Om bilang, kalau kamu gak bantuin aku, kamu gak boleh masuk rumah."
"KOK NGATUR?!"
"Ayo masuk," ajak Nagara kembali menggenggam lengan Nana yang terhalang piyama, "Kulit kamu sensitif kan? Matahari mulai tinggi."
"Kok lo sok tau tentang gue sih?" Nana masih protes, tapi kakinya mau tak mau ikut melangkah ke dalam lingkungan rumah Nagara yang—YA TUHAN!!!
Rasanya rahang Nana hampir jatuh, ketika melihat rumah dua lantai yang luar biasa megah itu dindingnya hampir dominan dirayapi dedaunan hijau, dengan panik ia menarik tangannya dalam lingkung jari-jari Nagara."
"Lepasin! Gila, ini bukan rumah hantu! Ini hutan belantara!"
Tidak mau kecolongan lagi, Nagara mengeratkan genggamannya pada lengan Nana lalu menatap perempuan yang berada beberapa langkah di belakangnya itu sebentar, "Gak pa-pa. Di sini aman, aku jamin."
__ADS_1
"Ih, gamauuu, gue gak mau!! Gimana kalau ada hewan berbisa di semak-semak itu Nagara! Gue cuma manusia biasa yang bisa mati kalau di patok ular!"
"Kelana." kali ini Nagara benar-benar berbalik, di depan pintu utama rumahnya yang masih berdebu, ia meraih kedua bahu Nana, meminta perempuan itu menatap matanya, lalu dengan tatapan sungguh-sungguh ia berkata, "Kamu enggak akan mati, percaya sama aku. Aku ada di sini."
Seakan terhipnotis, Nana merasa terlindungi hanya dengan melihat bagaimana Nagara menatap matanya dan menekan bahunya tidak terlalu keras, dan saat Nagara membuka pintu rumahnya, Nana tanpa sadar mengikuti langkah tetangga barunya itu hingga Nagara menyuruhnya duduk di sofa, Nana menurut saja.
Gila, bagaimana mungkin wanita keras kepala dan anti di atur-atur seperti Nana bisa kehilangan kendali atas dirinya sendiri?
"Kelana," Nagara memanggil namanya perempuan itu sekali ketika tidak mendapatkan respon saat Nagara menanyakan minuman apa yang Kelana inginkan.
"Nana."
"Hei." Nagara menyentuh bahu Nana dari samping, lalu seperti seorang fisikawan yang sedang melakukan praktik terhadap arus listrik bertegangan tinggi, tubuh Nana terlonjak, perempuan itu hampir saja melompat dari duduknya.
"Mau minum apa, Kelana?" tanya Nagara dengan segala kesabarannya.
"Bisa stop manggil nama gue, gak?!" kali ini Nana protes keras, menatap Nagara yang berdiri menjulang di sampingnya, "Lo dukun kan? Ngaku lo! Lo pasti guna-guna Papa buat maksa gue masuk ke rumah lo mau lecehin gue 'kan? Iya 'kan?!"
"Hush!" Alih-alih menjitak kepala Nana seperti yang biasa Papa lakukan ketika mendengar segala pemikiran gila yang keluar dari kepala Nana, Nagara malah mendesis memperingatkan Nana sambil mengusap pucuk kepala Nana pelan.
"Isi otak kamu semuanya hal kriminal, ya?"
"Lo orang asing yang gue gak tau siapa! Wajar kalau gue curigaan sama gerak gerik lo, ya!"
Orang asing
Asing
Gak tau siapa
Sebenarnya, tanpa Nana tahu, dalam dadanya hati Nagara berdenyut nyeri, matanya boleh memancarkan tatapan ramah, tapi sebenarnya dalam hatinya Nagara mati-matian menahan rasa nyeri yang tidak bisa ia definisikan sebagai rasa sakit macam apa.
Ternyata aku memang enggak punya tempat sedikitpun dalam hidupmu, Kelana.
__ADS_1