AYO CERAI!

AYO CERAI!
Harusnya Lebih Hati-Hati


__ADS_3

"Lo ngapa dah, Na?" Teressa menyenggol lengan sahabatnya itu dengan lengannya sendiri, keduanya kini sedang duduk di sofa bar bersama pekerja laboratorium perempuan yang lain. Teressa tau Nana memang bukan sosok yang senang membagi senyum, tapi muram bukan juga ekspresi yang sering bertengger di wajahnya manis sahabatnya itu, "Nahan eek apa gimana, dah?"


"Gue gak pa-pa." Nana menjawab singkat sambil menenggak cairan jus yang ada di gelasnya, "Cuma lagi mood swing aja, mungkin mau dapet bentar lagi."


"Oh, iya. Akhir bulan." Teressa terkekeh, perempuan itu ikut menenggak cairan anggur yang sudah menjadi incarannya sejak pertama datang, "Kasian banget, lo. Udh akhir bulan krisis keuangan malah ditambah ngadepin hormon yang berubah-ubah."


"Apa gue minum pil KB aja kali, ya?" Nana kali ini mengeluh, ia memijit pelipisnya, di dalam batok kepalanya itu seperti Nagara sudah mengambil semua tempat di sana, tidak peduli Nana ingin mengenyahkan bayangan laki-laki itu, Nagara tetap di sana, dalam pikirannya dan menerornya dengan rasa bersalah dan tidak nyaman, "Gue capek haid tiap bulan, Ter. Atau gue operasi kelamin juga? Gue capek jadi cewek!"


"Kalau lo capek jadi cewe kesepian, kenapa lo gak coba sama Hananta aja? Kayanya dia bisa ngetread lo like A queen kaya di tik tok itu." Kali ini Teressa mulai melantur,  dalam Kerlip lampu bar yang berwarna warni, Nana masih bisa melihat rona merah yang samar di pipi perempuan yang duduk di sampingnya itu.


"Gue capek jadi cewek, bukan cewek kesepian, Teressa!"


"Tapi, Na. Kenapa lo gak coba liat Hananta sekali aja? Semua orang tau dia suka sama lo, jadi lo gak usah sok bego." saat gelasnya terasa ringan, Teressa meraih botol anggur dan mengisinya lagi, matanya menemukan Hananta yang berada di sofa sebrang bersama rekan kerja mereka dengan kelamin sejenis. Teressa tau, sejak Nana menginjakkan kakinya di pintu bar bersama dirinya, mata Hananta sama sekali tidak berpaling, seolah dunia pria itu memanglah berotasi pada Nana, "Lo liat? Ini udah jam 10, Na. Dari kita datang jam tujuh tadi, itu cowo gak berhenti liatin lo."


"Liatin lo kali, ah!" Nana menyahut tidak berminat, memilih mengabiskan jus mangganya. Perempuan itu tidak memilih alkohol karena ia harus berkendara setelah ini, lagipula Teressa butuh sosok yang lebih waras untuk tetap memastikan perempuan yang sudah mabuk itu pulang, bukan ke kamar hotel bersama pria hidung belang.


Setelahnya Teressa hanya menenggak anggur itu dalam diam, menelan semua rasa panas dan pahit anggur itu gila-gilaan. Setidaknya rasa panas dan pahit anggur itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa yang serupa di hatinya.


***


"Cewek, kiw!"


Nana mengumpat di dalam hati ketika segerombolan pria berkerumun tidak jauh dari mobilnya yang terparkir, salah dirinya juga memarkirkan mobil terlalu ujung, di luar pula bukannya masuk ke basemen yang sudah disediakan pihak bar. Demi tidak memutar mobil, perempuan itu tanpa pikir panjang memakirkan mobil di pinggir jalan seperti ini, padahal ia tau pasti dirinya akan pulang tengah malam.


"Sial, Teressa. Gue bun*h lo!" Nana bertambah meradang ketika Teressa yang ia rangkul dengan susah payah itu betulan kehilangan kesadaran, membebankan seluruh tubuhnya pada bahunya yang tidak seberapa, berakhir keduanya jatuh tersungkur ke tanah. Selamat tinggal pada opsi putar balik yang Nana pikirkan tadi.


"Duh, berat banget tuh pasti. Gue bantuin yuk!" dari sana gerombolan pria itu mendekat, penerapan area tempat itu terlalu temaram, Nana bahkan tidak bisa melihat detail wajah para pria yang berjalan mendekat itu.

__ADS_1


"Mimpi! Pergi, gue bisa sendiri!" Nana menepis tangan salah satu pria yang ingin meraih Teressa, wajah-wajah hidung belang bisa dengan mudah ia kenali dari gerombolan pria ini.


Pria yang di tepis tangannya mundur lalu tertawa, "galak amat, sih. Tapi gue suka cewe galak, apalagi kalau galak di ranjang."


"Hahaha ...."


Mereka semua tertawa. Ini pelecehan! Nana tau ia sedang dilecehkan, ia tau ia kalah jumlah, tapi sebuah tamparan sama sekali tidak bisa ia tahan. Nana bangkit, perempuan itu menampar keras pipi si pria samping pria itu tertoleh, setelahnya suara tawa hilang sepenuhnya. Tersisa hening dan tatapan mata para pria yang marah.


"Berani ya, lo!"


Bugh!


Kali ini Nana kembali tersungkur, sudut bibir perempuan itu berdarah. Pria yang ia tampar tadi membalasnya dengan sebuah tinjuan, tapi api kemarahan yang berkobar di mata Nana sama sekali tidak berganti dengan rasa takut, perempuan itu malah mencaci.


"Dasar banci!"


"Cih!" Nana meludahi tangan pria yang hampir menyentuh kakinya, ia menendang tangan itu lalu mundur menjauh.


"Coba sini."


Nana melepaskan ikat rambut yang mengumpulkan rambutnya menjadi satu. Ikat rambut berwarna silver itu ia tarik hingga batas elastisitasnya, sampai ikat rambut yang serupa karet itu menjadi keras, tipis dan mengkilat.


Setelah ikat rambut itu menjadi lurus, perempuan itu menodongkannya ke depan, para pria itu spontan mundur, perempuan di depan mereka ini tidak sepertinya domba yang bisa di makan serigala.


"Coba sini." Nana menantang, "kebetulan gue baru bikin senjata baru, di ujung bahan metal ini ada logam berat yang belum pernah di uji coba buat dit*suk ke manusia. Kalian mau coba?"


"Kelana Besari!"

__ADS_1


Dari arah belakang Hananta berteriak, laki-laki dengan kemeja putih itu bergegas menghampiri Kelana.


"Cukup, Na. Atau lisensi lo bisa dicabut!" Hananta memengang lengan Nana agar perempuan itu tidak melakukan pergerakan lagi, matanya menatap tajam segerombolan laki-laki itu, "Pergi kalian semua, atau bukan logam berat cewek ini yang ngebunuh kalian, tapi virus buatan gue!"


"Gue gak butuh bantuan lo, sialan!" Nana menepis cengkraman Hananta, sampai tanpa Nana sadari ujung benda tajam itu menusuk lengan Hananta. Yang tertusuk, menahan rasa sakitnya sebisanya mungkin, "Lepasin, gue! Ga ada bajingan yang pantas hidup di dunia ini!"


Melihat darah menetes ke gaun putih Nana yang ada di bawah lengan Hananta, para pria itu bergegas melarikan diri, atau mereka benar-benar akan m*ti.


"Kelana! Lo gak denger kata-kata gue?" Hananta meraih benda tajam itu dan melemparkannya ke sembarang arah, tidak peduli telapak tangannya yang langsung berdarah-darah, "Kelana yang gue kenal gak pernah kalah sama rasa marah."


Baru akhirnya Kelana berhenti meronta, dadanya masih kembang kempis dengan cepat, ia menunduk untuk menetralkan napasnya, tapi yang ia dapati adalah kalian dress di bagian pahanya memerah, ada cairan yang terus menetas, dan itu berasal dari tangan Hananta.


"Hananta! Itu logam berat! Lo apa-apaan! Lo bisa mati!"


"Itu tanggungjawab lo berarti." Hananta tersenyum miring, "Kalau berada di ambang kematian bisa bikin gue jadi pusat pikirkan lo, gue sama sekali gak keberatan, Kelana."


Pria itu menempelkan handphonenya tanpa memutus kontak mata sama sekali, "Halo, Mark. Jemput gue di luar, Nana sama Teressa hampir diangkut. Gue mau nganterin tapi kayanya enggak bisa, Nana barusan ngasih gue ramuan cinta, rasanya gue terbang ke awang-awang, bentar lagi gue bakal pingsan."


"Hananta!" Kelana berteriak ketika handphone itu jatuh begitu saja dan Hananta terbaring di atas atas tanah, pria itu masih sempat mengerling padanya.


"Uhuk-uhuk!"


Hananta terbatuk, dan cairan serupa yang keluar dari lengannya keluar juga dari mulutnya, racun dari logam itu pasti sudah menyebar.


"Harusnya lo lebih hati-hati, Kelana. Senjata enggak pernah punya tuan," lirih Hananta sambil menekan dadanya yang sesak.


Kelana spontan berteriak ketika teman sesama ilmuannya itu menutup matanya.

__ADS_1


"HANANTA!!"


__ADS_2