AYO CERAI!

AYO CERAI!
Attractive Hananta


__ADS_3

Kelana Besari, tidak banyak hal menarik yang begitu menakjubkan dalam hidupnya. Perempuan 25 tahun yang biasa di panggil Nana itu adalah lulusan S1 jurusan Fisika murni di salah satu kampus daerahnya yang tidak begitu terkenal, tapi cukup diketahui orang-orang di negaranya. Bahasanya adalah papan tengah.


Nana memang diberi kelebihan dengan IQ yang lebih tinggi, makanya dia berani mengambil jurusan sains walau pada akhirnya dia menyesal karena sepintar apapun Nana tidak lepas dari sifat malasnya. Pada akhirnya ia menyelesaikan kuliahnya dengan tertatih.


Soal pekerjaan, Nana beruntung mempunyai cukup relasi sejak ia SMA, ia pernah bergabung dalam sebuah penerbitan saat SMA sebagai freelancer, dan saat kuliah perempuan itu iseng menulis novel di platform untuk menuangkan stress di kepalanya hingga ternyata Tuhan memang sayang padanya dan memberikan Nana rezeki untuk menjadi salah satu penulis flatfrom ternama.


Selain menulis, Nana bekerja di laboratorium kota. Dulu, Nana sempat ingin bekerja di laboratorium luar negeri, tapi Mama malah menangis, dan bilang Nana lebih baik di sini saja, menemani Mama dan Papa pada sisa waktu mereka yang tidak seberapa.


Nagara sudah pulang sore tadi, selesai makan Nagara mengobrol dengan orang tuanya di ruang tamu. Nana sempat ingin mendekam di kamar dan melanjutkan novelnya, tapi Nagara terlebih dahulu menarik perempuan itu berserta laptopnya untuk ikut duduk duduk di sofa, tepat di sampingnya.


Nana tidak tau kapan tepatnya, tapi ketika ia membuka mata dirinya sudah berbaring di kasur.


Tadi, Nana menulis sekitar 1000 kata, lagi belaian Nagara pada kepalanya malah membuatnya mengantuk dan tertidur. Nagara nampaknya suka sekali menyentuhnya, dan Papa Mama yang jelas-jelas duduk di hadapannya sama sekali tidak menghiraukan itu. Jadi, Nana diam saja, kalau Papa dan Mama tidak masalah, berarti Nagara tidak berbahaya.


Walau malu mengakuinya, Nana juga nyaman.


***


"Mama!!"


"Aku berangkat dulu, ada penelitian yang bermasalah di lab!"


Nana menuruni tangga dengan tergesa-gesa, barusan rekan kerjanya menelpon dengan panik, mengatakan bahwa alat di lab elektronika mengalami kerusakan dan hampir membuat orang-orang di sana terkurung dalam gedung dengan listrik yang bermasalah.


"Makan dulu, Na!!"


Nana berlari kecil di ruang makan di mana Mama sedang menghidangkan makanan, is mencomot sepotong sandwich dan mengigitnya dengan mulut, sedangkan tangannya sibuk mengangkat telpon dan membenahi penampilannya.


"Aku makan di jalan aja. Papa mana, Ma?" tanya Nana melirik sekitar ruangan, "Aku mau minta antar."


"Papa di rumahnya Nagara, bantuin bersihin semak-semak."


"Pagi-pagi udah ngetem aja di sana," cibir Nana.


Perempuan itu memakai sepatu putihnya dan berjalan keluar gerbang hanya untuk berbelok ke samping, pada gerbang Nagara yang telah terbuka dan menampilkan Papa dan Nagara yang gotong royong membersihkan semak-semak yang menempel di tembok.


"PAPA!! ANTER AKU DULU! ADA MASALAH DI LABORATORIUM!!"

__ADS_1


Satu hal, semenjak kecelakaan yang hampir menghanguskan sebagian ingatannya, Nana memiliki ketakutan tersendiri tentang kendaraan, jangan belajar untuk mengendarai, terkadang sudah di supiri perempuan itu masih enggan.


"Duh, Pap udah kotor, Na!" protes Papa dari atas tangga, sedangkan Nagara yang memegangi tangga Papa dari bawah memperhatikan Nana yang terlihat sangat berbeda dari kemarin.


Wah, Nana dengan mode serius dan style casualnya ternyata sangat cantik.


"Kamu minta anterin Nagara aja, deh!" Papa mengusulkan sambil turun dari tangga, "Tuh, anterin adekmu, Kak."


Sepertinya Papa serius dengan gagasannya tentang adik dan kakak kemarin.


"Tap—" Nana melenguh ketika Papa benar-benar sekotor itu, lalu tatapannya beralih pada Nagara yang masih bersih tanpa cela.


"Ayo, Kak." Nana memilih mengikuti sandiwara ayahnya, "Anterin adek."


Nagara tercekat, ia senang Nana menyematkan julukan sebagai panggilannya, tapi Nagara tidak ikhlas sama sekali jika Nana benar-benar menganggapnya kakak.


"Ayo." pada akhirnya ia hanya mengeluarkan mobilnya dari garasi dan menelan mentah-mentah protesnya, ia masih menghormati Papa Nana.


"Kamu sekarang kerja di laboratorium?" tanya Nagara ketika mobil sudah melaju, mengikuti arahan yang ditunjukkan Nana, melirik Nana dengan ekor matanya, "jadi ilmuan?"


"Iya." Nana memvalidasi dengan singkat, "Belok kanan, ngebut, dong!"


"Don't call me, Kak." kali Nagara berani menolak, ekspresinya yang biasa bersahabat mendadak datar, "i'am not your brother."


"Iyaaaa, Nagaraaaa! Buruan ngebut, Nagara bukan Kakak!"


***


"Teressa bilang, indikasi terkuat karena rancang alat 2A di otak-atik sama anak magang tanpa pendamping bikin beberapa rangkaian salah dan bikin konsleting listrik."


Ketika tiba di sub laboratorium, di laboratorium elektronika Hananta menyambut Nana dengan raut cemas, pria dengan kulit tanned yang di idamkan banyak orang itu menyertai langkah Nana yang ingin memastikan rangkaian alat setelah memakai APD lengkap.


"Stop." Nana menghentikan langkahnya dan menoleh, "Tunggu di luar. Panggil Teressa aja."


"Tap—"


"Nan."

__ADS_1


"Oke, fine." Hananta menyetujui usulan itu dengan terpaksa, "Lo harus janji kalau lo bakal baik-baik aja."


"Hm."


***


Masalah selesai, Nana melepas sarung tangan khusus yang lebih tebal dari sarung tangan biasanya. Walau begitu, laboratorium terpaksa di liburkan sehari untuk pemeriksaan menyeluruh, dan Nana tau pasti ia akan sibuk seharian ini untuk mengontrol pemeriksaan itu.


"Teressa bilang kondisinya udah mendingan?" Hananta sigap menjejeri langkah Nana yang berjalan di lobi laboratorium, keduanya tampak serasi dengan outfit yang hampir sana.


Nana menggunakan bluose berwarna putih dan celana bahan coklat, sedangkan Hananta mengimbangi dengan kemeja coklat dan celana bahan berwarna khaki.


Padahal mereka tidak janjian sama sekali.


"Iya." Nana menyahut pendek, "Lo gak punya kerjaan ngekorin gue mulu? Lab elektronika bukan bagian lo kan?"


Hananta tertawa saja, "Gue bosen main sama virus mulu, kayanya mainan sama listrik jutaan volt lebih menarik."


"Kalau lo mau hal yang menarik, lo ledakin aja lah mikrobiologi itu, biar virusnya nyebar kaya di film."


"Gak perlu," Hananta terkekeh dengan mata mengerling ke arah Nana di balik kaca matanya, "ngamatin lo juga lebih menarik dari objek pengamatan manapun."


"Oh, ya? Sayangnya gue gak berminat jadi objek pengamatan lo."


Hananta berjalan lebih cepat lalu berdiri di depan Nana untuk menghentikan langkah Nana, "Masa iya?"


Nana memundurkan wajahnya yang hampir bersentuhan dengan wajah pria di hadapannyanya, pria berkulit eksotis di hadapannya ini adalah kategori aligator yang harus Nana waspadai.


"Minggir, ah." Nana hendak menepis wajah itu agar menjauh, sayangnya Hananta malah memegang tangannya dan menarik Nana lebih dekat, para peneliti lain yang kebetulan di sekitar mereka sudah menjadikan mereka bahan tontonan.


"Gak mau. Lo wangi, sih. Jadi gue pengen cium lo."


"Hananta!"


"Hm, kenapa, babe?" setelah dibentak, bukannya menciut, Hananta malah semakin mendekat hingga hidungnya menyentuh belakang telinga Nana lalu meniupnya.


"Mau di cium beneran?" bisiknya.

__ADS_1


Hanantra Maheswara, dijuluki pria paling menggoda di daratan kota. Bukan karena Hananta suka sembarangan menggoda wanita. Tapi, karena feromon pria itu nampak bisa menarik wanita manapun.


__ADS_2