
Drtt!
Drtt!
Ponsel di tasnya bergetar, Nana mengabaikan berkali-kali. Sekarang ia sedang berada di rumah sakit, tentu saja dengan Hananta yang yang sedang berjuang dalam ambang batas hidup dan mati. Sudah 7 jam lamanya pria itu berada di dalam ruang operasi yang terus menyala, Nana tidak bisa berpikir jernih sebelum ada kepastian dari dalam sana.
"Na, hp lo. Ada yang telpon," tegur Mark yang menemani Nana di kursi tunggu, kakak laki-laki dari Hananta itu mengendikkan bahu pada tas Nana yang bergetar, tidak ada nada dering, tapi kesunyian pagi hari itu membuat suara getaran hp itu seperti getar gempa.
"Angkat, Kelana. Siapa tau penting."
Nana merogoh tas selempangnya dengan setengah hati, ketika tangannya bergerak menekan ikon hijau untuk mengangkat telpon, waktu tunggu dari telpon itu habis, sambungannya terlanjur terputus. Nana membaca nama Mama lah yang tertera di sana, ketika Nana kembali ke deret aplikasi perpesanannya itu, Nana melihat tanda mengetik di bawah kontak Mama yang sengaja Nana pin.
'Nana, Mama pulang minggu depan. Papa ngajak liburan sekalian.'
Perempuan itu mengerenyitkan dahi, mengingat-ingat sesuatu yang mungkin terlewat. Apa maksud dari pulang Minggu depan? Memangnya Mama dan Papa pergi ke mana?
Nana baru saja ingin membalas pesan Mama dengan pertanyaan, tapi rentetan notifikasi pesan dan telpon dari nomor tidak tersimpan lebih dahulu memenuhi layar ponselnya.
'Nana, ini Nagara'
Pesan pertama itu di kirimkan dua hari yang lalu, tapi Nana sama sekali belum membukanya. Mengacuhkan itu Nana membaca rentetan chat selanjutnya yang mungkin jumlahnya lebih dari 100, inti dari chat itu hanya menanyakan mengapa Nana tidak pulang, permintaan maaf dan di mana Nana sekarang, tapi Nagara menanyakan berulang kali diselingi telpon beberapa kali.
Tangannya yang masih gemetar itu bergerak untuk mengetikkan huruf demi huruf, tapi baru saja kata pertama untuk membalas pesan Nagara, suara dentingan dan lampu ruang operasi lebih dahulu merebut semua atensi Nana. Perempuan itu memasukkan handphonenya ke dalam tas secepat mungkin, lalu bersamaan dengan Mark yang berjalan menuju pintu, Nana berjalan mengekori, ada banyak praduga yang memenuhi benaknya tentang Hananta.
__ADS_1
Dari semua itu demi Tuhan, Nana hanya ingin Hananta baik-baik saja.
"Bagaimana dokter? Adik saya baik-baik saja 'kan?"
"Maaf," kata si dokter perempuan sambil menunduk, "Arsenik, adik anda keracunan arsenik."
Mark, satu-satunya saudara kandung Hananta itu hampir rubuh kalau-kalau saja tangannya tidak bertumpu pada tembok. Mark tidak menggeluti bidang sains seperti adiknya, tapi kata racun dan bagaimana ekspresi dokter itu mengatakannya bahkan setelah tujuh jam operasi orang yang tidak mengerti tentang molekul senyawa sepertinya pun tau itu hal yang sangat berbahaya.
"Yang lebih buruk, ada jenis logam lain yang tercampur bersama arsenik yang telah tersebar dalam tubuh adik anda. Kami masih menunggu hasil tes laboratorium, karena jenis logam ini jarang sekali kami temukan." sang dokter semakin layu ketika mata Mark memerah, tubuh pria itu benar-benar lemah sekarang. Hananta mungkin adik yang setiap hari bisa membuat Mark darah tinggi, tapi demi apapun Hananta adalah keluarga Mark satu-satunya.
"Timbal, tembaga dan merkuri." Nana mengeluarkan suaranya susah payah, tenggorokannya rasanya berduri, wanita itu mengepalkan tangannya menguatkan dirinya sendiri, "Konsentrasi logamnya lebih dari 50 persen, sedangkan arsenik memang mendominasi 70 persen. Empat logam tersebut tercampur dalam bilah aluminium."
"A-apa ..."
Kali ini dokter itu menutup mulutnya, dibalik masker medisnya yang masih terpasang, dokter dengan seragam operasi itu ternganga, "Bagaimana mungkin ...."
"Tolong lakukan detoksifikasi semaksimal mungkin, saya akan membawakan solusi secepat mungkin," pinta Nana bertekad dalam rasa takutnya yang menguar hebat.
"Maafkan aku, Kak Mark. Ini semua gara-gara aku. Aku gak akan keluar dari laboratorium sebelum aku dapat solusi buat bawa kembali Hananta ke pelukan Kakak."
***
Pagi itu agaknya mentari ikut mendung, melihatnya Nana merasa dirundung, seolah-olah bumipun ikut tertawa akan kebodohannya yang tak terbendung. Ia mengocehi supir taksi yang membawanya dari rumah sakit ke laboratorium sampai si supir pusing sendiri.
__ADS_1
Hanya ada teknisi laboratorium yang terlihat mondar-mandir saat Nana sampai di depan gerbang bangunan putih nan megah itu, ada banyak kaca di mana-mana. Perempuan itu turun dengan terburu-buru, dress-nya yang berlumur darah itu masih membalut tubuh. Nana menginjakkan kakinya marah ke tanah berulang kali ketika tidak menemukan kartu akses yang harusnya bersemayam di tasnya.
Hap!
"Akh!" Nana menjerit, perempuan itu terkejut setengah mati, dari arah barat sosok laki-laki mencekal tangannya begitu saja dan membawa dirinya entah ke mana sebelum dirinya sempat menganalisa situasi. Lidahnya bahkan masih terlalu kelu bahkan untuk berteriak sekali lagi.
"Masuk."
"Lo apa-apaan?!"
"Kamu yang apa-apaan." sosok itu Nagara, pria itu menggeret Nana ke dalam mobilnya. Setelah Nana berhasil ia dorong ke kursi menumpang, Nagara menyusul dengan cepat lalu mengunci akses pintu, mata pria itu terlihat tajam, tatapan yang baru Nana lihat kali ini.
Tanpa Nana sadari tatapan itu sedikit membuat hatinya mencelos, ada rasa nyeri di dadanya.
"Enggak bisa dihubungi. Enggak pulang semalaman, dan apa ini, "Nagara memindai Nana dari wajah hingga kaki perempuan itu, "Berantakan, darah. Kamu abis lari dari hutan belantara yang penuh hewan buas, Kelana?"
"Buka," perintah Nana dengan rahang mengeras, sumpah demi apa Nana sedang tidak ingin mendengarkan apapun, Hananta bisa kehilangan nyawa kapan saja, ia bisa menjadi penyebab Mark menjadi sebatang kara kapan saja. Nagara bisa mengomelinya seharian, tapi tidak sekarang.
"Kamu enggak dengar aku, Na?" Nagara meraih tangan Nana yang rusuh ingin menekan tombol kendali yang berada di deretan dekat kemudi, mata pria itu masih sama tajamnya.
"Sialan, Nagara! Buka atau lo bakal liat gue jadi pembunuh temen gue sendiri!" Nana membentak Nagara dengan sisa kekuatannya, alhasil setelahnya perempuan itu lemas bukan main. Selanjutnya Nana menggenggam tangan Nagara yang tadi berusaha mencekal lengannya, "Tolongin gue sekali ini aja. Abis ini lo bebas omelin gue seharian, Nagara. Tapi tolong jangan sekarang. Hananta sekarat sekarang gara-gara gue, gue harus tanggungjawab."
Nana terisak, Nana menangis. Nana memohon padanya sambil menangis untuk situasi darurat dari sebuah nama seorang pria. Bagaimanapun harusnya Nagara sekarang tidak egois, Nana memang sedang berada dalam waktu yang krusial.
__ADS_1
"Maaf, aku cuma khawatir." Nagara meraih kepala di dara untuk ia dekap, ia menghela napas di atas rambut sang wanita untuk menetralkan rasa panas dalam kepalanya, "Setelah ini aku enggak akan biarin kamu ada dalam situasi di mana kamu enggak bisa memilih aku sebagai prioritas kamu, Kelana."
"Setelah ini, enggak akan aku biarin kali terjebak dalam situasi sulit sampai kamu nangis begini, Na. Setelah ini kamu cukup prioritas aku!"