AYO CERAI!

AYO CERAI!
Pertengkaran


__ADS_3

Laki-laki dengan kaus putih yang lengannya telah kusut itu mengangkat wajahnya perlahan-lahan, tatapan matanya sama sekali tidak putus dari netra indah wanita yang terbaring di bawahnya. Tangannya yang tadi berada di sisi tubuh si wanita perlahan naik dan mengelus pelipis lawan jenisnya yang masih membeku.


Nagara tersenyum kemudian.


"Udah bangun, hm?" dia bergumam pelan di akhir kalimatnya, Nagara terkekeh ketika Nana tidak kunjung memberikan tanggapan, perempuan itu syok sekali nampaknya. Maka, tanpa aba-aba tubuhnya merendah hingga kepalanya berada di samping leher Nana, Nagara memeluk perempuan itu dengan erat.


Nana merasakan Kembali stimulan pada syaraf otaknya ketika dada Nagara yang jauh lebih bidang darinya itu menimpang tubuhnya hingga napasnya hampir sesak, tangannya yang tadinya meremas bisep Nagara pun sudah tanpa Nana sadari berada di sisi tubuhnya sendiri dengan begitu tidak berdaya.


"Egh, engap ...."


Tangannya bergerak menuju pinggang Nagara yang bisa digapainya, Nana mengeluh.


Alih-alih melepaskan, tangan Nagara malah melingkari tubuh Nana hingga punggung, lalu memutar posisi mereka, menyingkirkan selimut begitu saja.


"Enggak engap lagi, 'kan?" 


Kini Nana dengan lingerie merah selutut dan seutas tali kecil yang menggantung indah di kedua bahunya berada di atas Nagara, kepalanya tepat berada di dada Nagara. Nana rasanya dirinya gila, sebagaimana orang waras, sebenarnya dirinya hanya tinggal menyingkir, tapi perempuan itu malah menelusup, menempel sebelah pipinya ke dada Nagara hingga mata menatap dinding alih-alih mata Nagara yang terus berfokus padanya tanpa cela.


"Kamu tau kenapa kamar selalu ada pintunya, Na?" Nagara berkata lagi, sebelah tangan pria itu melingkari punggung Nana dan sebelah lagi mengelus rambut Nana yang lumayan berantakan, matanya menerawang ke langit-langit.


Disambut kesunyian, pria itu meremas punggung Nana tidak terlalu keras lalu berujar dengan pelan, "Jawab, sayang."


"Nagara ...." Nana hanya melirih, lidahnya terasa kelu, ketika tangan Nagara turun ke pinggulnya untuk memberikan remasan ringan akibat suara lirihannya, suara memalukan keluar begitu saja dari mulutnya.


Perempuan itu mendesah.


"Bangun," geram Nagara, pria itu membantu Nana untuk beranjak dari atas tubuhnya lalu mendudukkan di wanita di atas ranjangnya dengan hati-hati, akhirnya Nagara memutuskan berdiri untuk menjaga kewarasannya sendiri.

__ADS_1


"Kunci, Kelana. Kunci pintunya lain kali, aku aku gak bisa janji buat lebih mikirin kamu dibandingkan diriku sendiri lagi." setelah berujar begitu Nagara meninggalkan kamar dengan nuansa putih itu tanpa kata.


***


Seusai mandi, Nana memilih duduk di atas ranjangnya lagi, perempuan itu lagi-lagi mengingat tuntutan kejadian tadi siang, saat Nagara dan dirinya melebihi batas yang seharusnya.


Nagara memang sudah bilang laki-laki itu menyukainya, tapi memangnya laki-laki itu pantas menyentuhnya tanpa ikatan yang menjamin hubungan keduanya. Nana menyesal karena dirinya baru berpikir jernih begini ketika kepala telah diguyur air.


Mengapa ia tidak menampar Nagara saat laki-laki itu pertama kali menyentuh bibirnya?


Pad akhirnya Nana memukul dirinya sendiri, merutuki betapa bodohnya kelakuannya tadi.


Di mana semua prinsipnya yang selalu ia pegang teguh selama ini untuk tidak tunduk dalam kuasa laki-laki?


'Bodoh! Bodoh kamu Kelana!'


Perempuan itu terus mengutuk dirinya sendiri di dalam sunyi. Puas menarik-narik rambutnya hingga sakit, Nana memilih menghampiri lemari, meraih sebuah dress selutut dari sana.


Yah, sekalian untuk menghadiri acara temannya nanti sore, Nana berpikir untuk memakainya saja hari ini. Dress berwarna putih tulang yang menawan, warnanya cocok untuk musim panas bercampur angin sekarang ini, segar.


Selesai dengan dress selutut itu, ia beranjak ke meja rias, memakai berbagai skincare rutinnya beserta seperangkat alat make up yang menjadi senjata perang kaum hawa.


Tanpa Nana sadari, jarum jam di dinding sudah berputar dua kali, perempuan itu mengoleskan pewarna bibir sewarna buah persik, merasa puas dengan dandanannya, Nana meraih Sling bag berwarna coklat. Lalu perempuan dengan rambut diikat kuda itu turun ke bawah, sebelum berangkat ia butuh makan, atau akan sangat memalukan jika perutnya berbunyi di tengah acara pesta.


"Argh!"


Di tengah undakan tangga perempuan itu terperanjat hingga sneaker coklat yang ia pakai tergelincir, ia hampir saja jatuh terguling jika tidak memegang pegangan tangga dengan kuat.

__ADS_1


"Kok lo masih di sini?!"


Si pria yang duduk di sofa ruang tamunya itu hanya tersenyum tipis, menatapnya tanpa jeda.


"Dua jam, " katanya pelan, menatap Nana lembut, tapi ada sorot tajam di sana, "Kamu lupa kalau kita aja janji tadi siang? Ini udah jam dua sore."


"Janji?" Nana tergangap, "Salah lo! Lo yang berlaku gak senonoh sama gue, ya! Makanya gue lupa!"


Nagara bangkit dari duduknya lalu menaiki undakan tangga itu perlahan-lahan, matanya sama sekali tidak beralih dari mata Nana yang menatapnya berapi-api bercampur malu, "Gak senonoh?"


"Iya! Itu bentuk pelecehan!" Nana mundur dengan cara menaiki tangga di belakangnya walau terseok-seok, "Lo lakuin tanpa izin gue! Gue bisa aduin lo ke Papa!"


"Aduin." Nagara menarik tangan perempuan itu agar tidak menjauh darinya, walau tentu saja Nana memberontak, "Om pasti minta aku nikahin kamu. Kalau dengan itu aku bisa nikahin kamu, aduin aja."


"Nagara! Lo udah gak waras?! Lepasin!"


"Diem, Na. Atau kamu bisa jatuh," ujar Nana memperingati, tangannya ingin bergerak merangkul bahu Nana untuk bersama, tapi perempuan itu mendorongnya sekuat tenaga sampai Nana sendiri jatuh terduduk di atas tangga, Nagara hampir berteriak karena kaget.


"Jangan sentuh. Jangan sentuh gue." kali ini Nana memasang ultimatum, ia mendongak menatap Nagara yang berdiri di depannya penuh peringatan, "Jangan sentuh gue baj*ngan! Gue udah biarin lo beberapa hari ini, tapi kenapa lo nambah lancang?!"


Nagara terkejut mendengar itu, pria itu sampai termundur dari posisinya karena begitu tidak percaya dengan yang Nana katakan sekarang, "Na ...."


"L-lo pikir ..." perempuan dihadapannya itu makin tergagap, Nagara bisa menemukan sorot ketakutan di mata perempuan yang dicintainya itu, "lo pikir dengan Lo bilang suka sama gue, gue mau disentuh-sentuh gitu aja?!"


"Gue bukan jal*ng, si*lan!"


"KELANA!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata tidak pantas itu keluar dari mulut Nana, Nagara refleks membentak, seumur-umur tidak pernah sekalipun Nagara memandang Nana sebagai wanita rendahan.


"Aku pergi." Nagara memutuskan menjauh sebelum perdebatan mereka makin keruh, "Kamu lagi emosi, Na. Tenangin diri kamu. Aku sama sekali enggak memandang kamu sebagai wanita murahan. Asal kamu tau, kalau enggak sama, Kelana. Kalau enggak sama kamu, satu-satunya perempuan yang aku inginkan, aku ga akan pernah menyentuh perempuan. Kalau enggak sama kamu, perempuan yang paling mau aku jaga, aku enggak akan pernah menikah, Kelana. Ingat itu."


__ADS_2