
"Dia anak Tante Diana yang dulu tinggal di samping, Na. Kamu keterlaluan kalau ga ingat dia sama sekali, dulu kamu sebegitu ketergantungan sama dia." dari arah taman belakang Papa muncul di ekori Mama di belakangnya, Nana spontan menarik tangannya dari genggaman Nagara.
"Tante Diana siapa?" Nana masih semakin tidak mengerti, tiba-tiba saja perempuan 25 tahun itu merasa kepalanya berdenging hebat.
"Dia sahabat Mama kamu, tinggal di rumah samping bahkan sebelum kamu lahir. Mereka pindah waktu kamu umur 10 tahun."
Mama dan Papa telah bergabung duduk di meja makan bersama Nagara yang kelihatan kikuk karena reaksi Nana yang aneh menurutnya, ketika mendengar penjelasan Mama itu tiba-tiba hati Nana malah mencelos, tangannya naik menekan pelipisnya yang nyeri bukan main.
Bukannya mendapatkan potongan ingatan, usahanya untuk mengingat seseorang dengan nama Diana malah menyakiti kepalanya.
"Mama sama Papa yang keterlaluan sampe lupa kalau aku pernah amnesia."
***
Dengan seragam biru-putih yang kusut, remaja tanggung dengan name tag Kelana Besari itu menyusuri jalanan dengan sesekali menendang kerikil yang berserakan. Sesaat remaja itu membatin, jalanan ini rusak, sama seperti keluarganya.
Tapi pagi Papa dan Mama bertengkar-lagi. Papa bilang Mama seharusnya bisa menjadi wanita karir dan membantu perekonomian rumah yang memang sedang buruk-buruknya, sedangkan Mama yang di maki-maki sedemikian rupa hanya bisa berteriak melawan dengan kata tidak lebih banyak dari isakannya.
Kelana masih remaja 13 tahun, tapi sejak ia tahu apa itu pernikahan dan bagaimana kata pernikahan mengikat Mama dan Papa, Kelana berjanji sampai mati bahwa dia tidak akan pernah menikah.
SMP Kebangsaan sudah ada di depan matanya, remaja tanggung itu hanya harus menyebrang jalan besar untuk sampai di gerbang sekolah. Sebelum melangkahkan kakinya, Kelana berusaha mengusir bayang-bayang pertengkaran Mama dan Papa.
Saat itu, sekali lagi hatinya mencelos, andaikan anak lelaki yang lebih tua lima tahun darinya itu masih tinggal di samping rumahnya, Kelana tidak perlu repot berjalan kaki dan meratapi hidupnya seperti orang tolol.
Sekali lagi remaja itu menggelengkan kepalanya untuk mengusir isi kepalanya yang malah bertambah rumit.
Pagi itu, matahari hangat sekali. Setidaknya hal itu membuat perasaan Kelana membaik seiring langit yang membiru. Ia memaksakan senyum lalu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keselamatannya ketika menyebrang.
__ADS_1
Namun, truk yang masih berada di sudut lain belum tertangkap mata Kelana, remaja itu baru mengambil lima langkah menuju muka jalan, tepat ketika truk bermuatan pasir menyenggol tubuhnya hingga terpelanting dengan kecepatan tak wajar.
Setelahnya segala hal menjadi gelap.
***
"Aku baru ingat kejadian itu beberapa tahun lalu." Nana menamatkan ceritanya pada Nagara, keduanya kini duduk di gazebo yang menghadap taman belakang, Papa dan Mama bilang bahwa Nagara dan Kelana butuh bicara, dan kali ini Nana manut saja, toh dia juga penasaran tentang Nagara.
"Astaga, Na ...."
Nagara hampir merasakan bulir air jatuh dari matanya, pria itu mendekatkan tubuhnya pada Nana lalu merengkuh tubuh Nana yang jauh lebih kecil dari tubuhnya sendiri tanpa aba-aba, "Maaf, aku enggak ada buat kamu saat itu."
"Jadi, lo anak laki-laki yang waktu itu gue pikirin?" Nana menembak saja, tapi Nagara mengangguk cepat, pria itu semakin erat merengkuh tubuhnya, tapi tidak sampai membuatnya sesak, malah Nana merasa nyaman, dan enggan untuk melepaskan, makanya ia pasrah saja.
Seperti love language Nagara itu Phisycal touch.
"Waktu itu aku pindah karena Mama berusaha cari kerjaan sekaligus tempat baru setelah kematian Papa." Nagara membelai rambut Nana uang terurai dengan mata terpejam, "Waktu itu kamu tantrum karena gak mau pisah, aku juga kira bakal pindah sementara, soalnya Mama gak kasih tau kalau ternyata aku sama Mama bakal menetap di Singapura."
"Maaf juga ... maaf karena gue gak ingat Lo sama sekali, Nagara."
Beberapa saat lalu, Nagara bertanya apakah tidak ada hal yang familiar tentangnya dalam hidup Nana, saat itu Nana tidak merasakan apa-apa. Tapi saat hangat tubuh Nagara melingkupi tubuhnya, saat itu Nana merasa bahwa hangat itulah yang terasa familiar, tidak untuknya, tapi tubuhnya tau itu hal yang pernah ada dalam hidupnya bertahun-tahun yang lalu.
Seumur hidup Nana tidak pernah memeluk laki-laki, bahkan ayahnya sendiri. Dadanya berdebar, tapi terasa nyaman, baru satu hari, hanya dalam satu hari Nagara membuat banyak reaksi abnormal dari tubuh Kelana.
Perlahan kedua tangannya yang tadinya mengepal di sisi tubuhnya masing-masing naik hingga menyentuh punggung Nagara, Nana mengelus punggung yang dua kali lebih luas dari punggung itu pelan, ragu-ragu.
"Kamu emang selalu nyaman, Na. Dari dulu. Selalu pas dalam pelukanku." Nagara berbisik, pria itu tersenyum tipis lalu mengeratkan pelukannya lagi, mengecupi kepala Kelana sesekali. Gila, rasanya Nagara selalu kecanduan terhadap rasa tubuh Nana yang begitu mungil dalam dekapnya.
__ADS_1
"NANA!! NAGARA!! UDAH BELUM NGOMONGNYA!! SUP AYAMNYA UDAH MULAI DINGIN!!"
Nagara melepaskan tangannya dari tubuh Nana dan terkekeh kecil mendengar teriakan Mama Mentari yang membahana, "Ayo masuk."
Sial, mengapa Nana tidak rela kehilangan rasa hangat itu? Ini pertama kalinya ia berpelukan intens dengan lawan jenisnya. Mengapa rasanya Nana merasa ketagihan?
"I-iya." sial! Kenapa pula ia harus tergagap?
"Gimana?" dari dalam Papa menyambut Nana dengan tatapan meledek, "Kamu getok berapa kali kepala anak itu, Nagara? Gak usah takut dia kesakitan, kepalanya Kelana itu lebih keras dari batu."
"Papa!" Kelana yang mengekor di belakang Nagara merasa tidak terima.
Nagara tersenyum saja, lalu menarik satu kursi untuk di duduki Nana, baru kemudian menarik kursinya sendiri.
"Jangan dong, om. Kalau aku getok kepalanya nanti dia tambah lemot, yang normal ini gini aja lemotnya ngajak ribut." Nagara menyambung, matanya mengerling tengil pada Nana yang wajahnya memerah, menahan mau dan marah karena diledeki habis-habisan.
"Ih, aku gak lemot, ya!" Nana menimpali dengan tutur yang lebih harus, alih-alih menggunakan 'gue' perempuan itu menggunakan kata 'aku'. Andaikan Nana tau hal sekecil itu menimbulkan gempa dahsyat di debar jantung Nagara.
"Iya, deh. Kalau di lawan nanti kamu malah usir aku."
"Tuh, liat kan, Pa?" Mama yang sedang mendistribusikan nasi pada masing-masing piring orang di sana menyahut senang, "Mereka kaya adik kakak 'kan? Dulu kan kita lebih dulu nikah dari pada Diana, tapi Diana duluan punya anak. Aku waktu itu janji kalau anaknya Diana itu aku anggap anak pertama aku."
Papa tergelak mendengar itu, "Iya, Ma. Kelana abis itu panggil Nagara kakak, ya? Kamu kan selalu pengen punya saudara, tuh Mama kasih kamu kakak."
"Apa sih, Pa?" Nana tidak terima, "Aku ga mau kakak jadian-jadian kaya dia!"
"Tuh, liat sendiri 'kan?" Papa memamerkan kelakuan Nana pada Nagara yang terdiam kikuk, "laki-laki mana yang mau sama perempuan kaya dia? Keras kepala, suka ngelawan, gak mau di atur, emosian lagi."
__ADS_1
"Kamu ada temen yang mau dan bisa jinakin perempuan model anakku ini gak, Nagara?"
'kenapa harus tanya temenku sih, om?'