
'Kak, enggak ada niatan ganti gendre cerita?'
'Horor emang udah melekat banget sama Kak Nana, tapi kalau Kak Nana ganti gendre dunia pernovelan bakal gempar gak, ya?'
'Penggambaran adegan novel horror aja ngefeel banget, apalagi kalau author tiba-tiba ganti gendre ke Roman'
'Iya juga, ya. Mbak Nana ini kalau dihitung udah hampir 10 tahun jadi penulis, dengan lebih dari 20 buku, semuanya horror. Masa gue baru sadar? Saking asiknya semua cerita beliau ini.'
'KAMI SEMUA BUTUH AUTHOR NANA X ROMANCE STORY! AUTHOR PLEASE HEAR ME!'
Nana mendengus, perempuan yang baru saja mandi itu melemparkan handphonenya ke kasur, menghampiri meja rias yang memancarkan cahaya remang, soalnya lampu kamarnya sengaja Nana padamkan semua. Usai pernyataan 'Cinta' dari Nagara yang membuatnya pening, Nana hanya berharap untuk tidur nyenyak secepat mungkin, melupakan semuanya.
"Romance apaan," omelnya seraya mencebik kesal, "gendre hidup gue aja gak pernah romance, gimana mau nulisnya."
Setelah duduk di hadapan cermin, tangannya dengan lihai memilih skin care khusus untuk malam hari. Nana sadar sesadar-sadarnya bahwa ia bukan lagi remaja, dan kulitnya harus dirawat serajin mungkin agar tidak tua lebih dahulu dari umurnya.
"Apa coba maksud si cowo aneh itu?" tangannya boleh saja mengoles krim malam, tapi mulutnya masih mengomel sebal, "Dasar Nagara, sialan! Lo harus tanggungjawab, keluar dari pikiran gue!!! Gue mau tidur!!"
Walau kesal, malam itu Nana merelakan satu jam lagi waktu tidurnya untuk melanjutkan novelnya yang masih terjeda, pembacanya bisa menerornya tanpa ampun jika ia tidak memperbaharui ceritanya setiap hari, setidaknya untuk seribu kata saja.
Naasnya, Nana berulang kali memukul kepalanya untuk konsentrasi memikirkan setan mana lagi yang harus ia munculnya di novelnya. Bukannya memikirkan setan berwujud setan macam Nagara.
***
Siang itu, Nagara sudah wangi dengan rambut lembab, bau shampo dan parfum menguar dari tubuhnya seolah berlomba-lomba, sambil menenteng kunci mobil, laki-laki itu menyelonong begitu saja memasuki rumah Nana yang terlihat senggang, sepi sekali.
Tubuhnya yang kekar terlihat sempurna dalam balutan kaus putih dan celana selutut, ia punya tubuh yang di inginkan setiap orang. Proposional.
Ia tahu, orang tua Nana sudah pergi sejak pagi, mereka harus menginap seminggu di kota sebelah karena sepupu Nana yang kesekian sedang melangsungkan pesta pernikahan.
__ADS_1
Nagara mengetahui itu tadi dalam saat makan malam bersama keduanya, ia juga masih teringat bagaimana orang tua Nana bersahutan mengatakan bahwa mereka berharap Nana tidak betulan dengan perkataannya tentang tidak ingin menikah. Jika iya, Papa Nana seriusan bingung mau menghadapi keluarga besarnya dengan muka bagaimana, sekarang saja Nana memegang penghargaan sebagai lajang paling tua dalam sejarah keluarga Papa maupun Mama Nana.
Nagara tertawa saja saat itu, ia tahu Nana tidak akan melajang seumur hidup. Karena Nana seharusnya seumur hidup bersamanya bukan seorang diri.
Nagara yakin soal hal itu.
"Kelana ..." pria itu bersenandung memanggil pujaan hatinya, menyisir ruangan demi ruangan tapi tidak menemukan sosok yang ia inginkan. Lalu, dengan santai langkahnya menaiki tangga dan menghampiri kamar Nana.
"Nana."
Tok!
Tok!
Tok!
Ia mengetuk pintunya berulang kali, tapi tidak kunjung mendapat respon. Mencoba keberuntungan, pria itu memutar handle pintu. Dan, gotcha! Pintunya tidak terkunci.
Bahkan cahaya matahari enggan menerpa wajah Nana yang begitu damai, memilih mengarahkan gelombangnya ke lantai, membiarkan tidur Nan tidak terganggu hingga kini hampir tengah hari.
Nana tidak mengenakan lingerie berdesain ekstrim, baik berjaring-jaring maupun berenda. Itu hanya kain satin yang mencetak tubuh Nana dengan lembut, Nagara buru-buru menarik selimut itu hingga leher Nana ketika tanpa sadar matanya melihat tubuh Nana yang tidak seharusnya, perempuan itu tidak memakai bra!
Sial sekali.
"Na, bangun."
"Kelana Besari, ini udah siang." Nagara bersimpuh di lantai agar tinggi sejajar dengan Nana yang terbarik di lantai. Tangannya menyingkirkan anak rambut Nana yang menjuntai di sekeliling wajah si dara, demi apapun, Nana cantik sekali.
Harus berapa kali Nagara memuji 'wanitanya' itu?
__ADS_1
Nagara mendekati wajahnya Nana lalu mengecup dahi Nana hingga perempuan itu melenguh tanpa sadar, terganggu.
"Bangun, sayang."
"Em ..." perempuannya hanya bergumam lalu menarik tangan Nagara untuk ia peluk di bawah dagunya. Nagara berani menjamin jika Nana tau kelakuan saat ini, perempuan itu akan mengumpati dirinya sendiri.
Alhasil Nagara terkunci dengan jarak sedekat itu dengan Nana, naluri laki-laki membawa mata pria itu mata bibir Nana yang merekah, bibir Nana sedikit tebal, dan Nagara berani taruhan jika belum ada siapapun yang mencoba bibir itu.
Kira-kira bagaimana rasanya? Harusnya Nagara menjadi yang pertama sekarang?
Gila, Nagara merasa ia mulai tidak waras. Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mengembalikan kewarasannya, walau tidak berguna ketika Nana tanpa sadar menarik tangan Nagara lebih dekat padanya hingga wajah Nagara jatuh di atas wajahnya sendiri. Nagara bisa merasakan bibirnya menyentuh ujung hidup Nana yang mancung.
Nagara memejamkan matanya sejenak sebelum dengan tergesa naik ke ranjang dan menindih Nana yang berbaring terlentang, menarik tangannya yang berada di leher perempuan itu untuk mengungkung perempuannya dari dua sisi.
"Kamu harusnya kunci pintunya, sayang."
Setelahnya tubuhnya merendah hingga bersentuhan dengan selimut yang menggulung Nana. Ia dapat merasakan napas hangat Nana yang teratur di depan bibirnya sendiri. Satu centi lagi, dan Nagara bisa menjawab tebakannya sendiri tentang bagaimana rasa bibir itu.
Nagara memejamkan matanya sendiri, tubuhnya terasa tersengat listrik, bulu kuduknya berdiri ketika permukaan bibirnya bergesekan dengan permukaan bibir Nana. Gila, rasanya ia merinding. Jujur saja, ini juga kali pertama bibir Nagara menyentuh bibir wanita.
Rasa geli membuat kepala Nagara rasanya pening, napasnya memberat. Bibirnya menekan bibir Nana hingga ia dapat merasakan bibir Nana yang suhunya lebih hangat dari bibirnya sendiri.
Nagara diam saja ketika merasakan kelopak mata Nana bergerak, mereka membuka mata masing-masing dan saling menatap dengan bibir bersentuhan. Nagara memaku pandangan Nana untuk tetap terbuka untuknya. Lalu, pria itu mengecup bibir si perempuan.
Rasanya manis, ia mengecup bibir Nana berulang kali, hingga merasakan seluruh bibir Nana dari ujung ke ujungnya lagi.
Nana mengeluarkan tangannya dari dalam selimut untuk meremas bisep Nagara yang tidak tertutupi kaus sepenuhnya. Pria itu tidak lagi mengecupi bibir bawahnya, tapi mengulumnya seperti permen. Hingga tanpa sadar, bibir keduanya yang sebelumnya sama-sama kering menjadi basah.
Nana merasa sesuatu hal sedang mengaduk perut bawahnya dengan rasa yang menyenangkan. Perutnya berdenyut, dan jantung Nana tanpa sadar mengikuti irama jantung Nagara yang berdebar keras.
__ADS_1
Sumpah demi apa, Nagara kecanduan lagi. Selain memeluk Nana, Nagara juga kecanduan dengan bibirnya. Ciuman itu tidak terburu-buru. Nagara seolah menikmati dessert manis sedikit-sedikit agar dessert itu bisa ia makan dalam waktu yang lama. Begitu juga ia ketika mengulum bibir Nana yang kaku.
Jika benar rasa kecewa membuat Nana enggan menghidupkan api cinta di hatinya menjadi lebih besar, maka Nagara akan menjadi bensin untuk membuat api itu membara dalam hitungan detik.