
Suara jangkrik dan caricangkas terdengar saling bersahutan menghiasi malam, di suatu tempat yang berada di tengah hutan.
Eman dan Ranti yang sudah terbebas dari kepungan aki Makmun dan teman-temannya, mereka sudah tiba di salah satu tempat yang tidak banyak ditumbuhi oleh pepohonan besar dan Terdengar sangat sunyi. langit kala itu terlihat sangat cerah, di tempat itu sangat datar, rerumputan rumpun tidak terlalu tebal dan banyaknya rumput-rumput pendek yang menghiasi. sehingga memudahkan perjalanan tidak ada sedikitpun ketakutan terperosok masuk ke dalam tebing.
"Ada-ada saja cobaan itu, lagi enak tidur, tiba-tiba ada yang mengganggu. beruntung kita bisa selamat dan bisa memiliki senter," ujar Eman yang terlihat menerangi keadaan sekitar menggunakan senter yang ia bawa.
Sedangkan Ranti dia merasa geregetan, merasa kesal karena dia ingin berbicara mengobrol namun dia tidak bisa berucap, karena yang keluar hanya suara segrokan suara babi, Tak ada bedanya seperti babi yang berada di dalam hutan. segrokan yang membuat sebagian orang ketakutan, tapi bagi Eman dia tidak sedikitpun merasa kaget atau takut, Bahkan dia menyahuti segrokan itu seperti sedang berbicara dengan manusia.
"Sekarang ini Masih malam Neng, Kayaknya masih jauh ke waktu subuh, masih lama ke waktu siang. kalau ada tempat yang pantas untuk digunakan istirahat, kita tidur dulu karena akan sangat capek kalau terus berjalan." begitulah jawab Eman memberikan saran, tangannya menyeka keringat yang bercucuran memenuhi dahi, bajunya terlihat semakin banyak sobekan karena terkait oleh ranting-ranting pohon yang kering. bahkan ibu jari kakinya terasa mengenut sakit, karena tadi beberapa kali tersandung Tunggul pohon kecil, hampir jatuh tak mampu bangkit lagi, namun semangat dalam jiwanya yang terus menggebu, sehingga dia tidak memperdulikan rasa sakit yang dia derita.
Yang berjalan semakin lama semakin mengendurkan langkah kaki, Karena rasa capek yang sangat menyiksa, karena dari tadi juga kalau tidak takut terkejar oleh sang pemburu, mereka sudah ingin berhenti beristirahat.
Air embun mulai membasahi sekeliling mereka, bak air mata bidadari yang turun dari langit, seperti ikut merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Ranti, merasakan kesusahan yang sedang dirasakan oleh Eman yang sedang berjalan sambil terus ditimpa kesengsaraan.
__ADS_1
Bintang saling berkedip seperti orang yang sedang menjatuhkan cairan bening yang berada di kelopak mata, mungkin bintang itu merasa tidak tega melihat Ranti dan Eman yang berjuang, berjalan di tengah hutan dalam keadaan malam, baru selamat dari kejaran para pemburu. Padahal mereka tidak memiliki kesalahan dan dosa kepada warga Kampung ciaul.
suasana pun semakin terasa dingin, masuk menyeruak menuju sumsum Balung, membuat tubuh terasa lemah dan lemas ,seperti tidak memiliki kekuatan, hingga akhirnya Eman dan Ranti mereka sudah tidak kuat menahan rasa capek, ingin beristirahat di tempat yang lumayan nyaman.
"Eneng kayaknya di depan kita ada Saung, kita beristirahat di sana saja ya." ujar Eman sambil menunjuk Saung menggunakan senter yang masih terhalang oleh tanjakan sedikit.
Mereka berdua pun mempercepat langkah menuju ke Saung itu, menurut perhitungan Eman di Saung pasti akan aman, karena Saung itu adalah Saung kebun yang jauh ke perkampungan, tidak akan ada orang yang mengganggu.
Sesampainya ke tempat yang dituju mereka tidak memindai area sekitar, dengan cepat Eman menjatuhkan tubuh ke atas pelupuh, matanya dipejamkan seolah sedang menikmati rasa capek yang sudah tak terhingga, sedangkan Ranti pun dengan cepat naik ke atas lantai Saung, dia pun merebahkan tubuh. dari sudut matanya terlihat keluar cairan bening, hatinya merasa sedih karena mengingat nasib dirinya yang sangat menyedihkan.
Kedua makhluk berbeda jenis terdiam tidak ada pembicaraan sedikitpun, dikeloni oleh semilir angin yang masuk ke dalam Saung, dinyanyikan oleh suara jangkrik yang sama sekali tidak berhenti sedikitpun. dari arah jauh terdengar suara anjing yang menggonggong, tak terasa Eman pun mulai tertidur mengeluarkan dengkuran yang sangat keras, membuat Ranti mengikuti, Awalnya dia hanya memejamkan mata, namun lama kelamaan dia pun terlelap tidak ingat dengan keadaan sekitar.
Malam sudah menginjak ke waktu subuh, udara semakin terasa dingin dan semakin terasa sepi, waktunya terlelap untuk tidur, lama-kelamaan waktu itu pun terus berjalan, Bintang Timur terlihat semakin naik ke atas, tanda-tanda akan datang waktu siang.
__ADS_1
Dari arah perkampungan, terdengar suara ayam jago yang saling menyahuti dengan ayam-ayam yang lain, tak lama setelah itu terdengar suara bedug yang dipukul, disusul oleh suara yang adzan sangat merdu dihantarkan oleh angin subuh.
Waktu itu Ranti dan Eman tidak sedikitpun terganggu, karena mereka sangat terlelap dalam tidurnya. sedangkan dari arah Timur sudah terlihat menguning dipenuhi Sang pajar yang mengusir gelapnya malam , namun orang yang tidur tetap lelap betah Merantau di dalam alam impian.
Akhirnya waktu pun menunjukkan siang. sumirat cahaya mentari mulai keluar menerangi Buana Panca Tengah, disambut kicau burung dan orang-orang yang berhamburan keluar dari rumah mencari kehidupan.
Waktu itu, ada seorang manusia yang memikul cangkul menggunakan baju kampret hitam sudah dekil, celana sontog yang warnanya sudah memudar, memakainya cetok yang terbuat dari bambu, di tangan kirinya terlihat ada parang yang baru diasah.
Pemuda itu Melangkah dengan pasti hendak menuju ke kebun, mau membabat Rumput yang tumbuh liar. ketika ada pertigaan dia pun berbelok ke sebelah kiri, hingga akhirnya dia sampai ke Jalan terobosan, dia pun memanjat tebing hingga dia pun tiba di saung yang di gunakan beristirahat oleh Eman dan Ranti.
Sebelum pemuda itu masuk, matanya memindai ke area sekitar seperti sedang mencari sesuatu, setelah memastikan keadaan sekitar dia pun menundukkan kepalanya lalu masuk ke dalam Saung, topi yang dikenakan ia simpan di luar.
Walaaaa!!
__ADS_1
Pemuda itu terperanga terkejut, kaget yang tidak ada bandingnya. tak terasa kakinya pun mundur kembali, matanya terus menatap ke arah pelupuh Saung, di tempat itu ada dua makhluk yang berbeda jenis, mereka sedang tertidur dengan lelap. yang satu berwujud manusia, yang tidak lain itu adalah Eman, sedangkan yang satunya lagi adalah Ranti yang berwujud babi ngepet.
"Masya Allah, ini tuh apa sebenarnya, jangan-jangan ada siluman ke saungku....?" begitulah gumam hati pemuda itu, tidak memindai keadaan sekitar lagi, kemudian dia pun membalikkan tubuh, lalu berlari terbirit-birit kembali ke kampungnya, bahkan sampai kehilangan kesadaran.