
Keadaan alam sekitar seperti lebih mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Ranti, matahari terlihat tiba-tiba cahayanya terhalang oleh awan tipis yang tertiup oleh angin kecil, daun pisang terlihat menunduk penuh kebingungan, daun Ilalang mengeluarkan suara kemirisik seperti yang ikut bersedih, Begitu juga dengan suara burung burung yang berkicau seperti terdengar menangis melihat keadaan Ranti.
"Ya Allah, Ya Robbi, Engkaulah maha melihat, Engkaulah maha pengasih dan maha penyayang terhadap makhlukNya. semoga Engkau menolong hamba yang sedang bersedih hati, semoga Engkau mau menolong orang yang mengorbankan seluruh jiwa raganya demi membela hamba." begitulah gumam hati Ranti meminta pertolongan kepada sang Maha penolong, kalau dia bisa berteriak seperti manusia pada umumnya, dia ingin berteriak memanggil-manggil nama Eman untuk mengajaknya pergi bersama, tapi yang keluar hanya air mata, bibirnya rapat, nafasnya terasa sesak, karena mulutnya diikat dengan begitu kuat oleh tali.
Tidak kuat menahan apa yang sedang dia alami, Ranti pun memejamkan mata memeras airnya yang keluar melewati pipi membasahi jalan yang dia lalui. namun ketika dia memejamkan mata, wajah Eman semakin terlihat, ketika matanya dibuka wajah itu seolah menari-nari di kelopaknya, terbayang kembali ketika disiksa oleh Jana, suara yang menyebut Aduh, tolong, dan rintihan kesakitan, masih terngiang di telinga Ranti seperti sedang dibisikan.
Dari rasa sedih yang begitu dalam dan rasa jengkel yang meliputi kepala. Ranti mencoba menggoyangkan tubuhnya bergerak-gerak ke samping kiri dan samping kanan, berharap orang yang menggotong kewalahan.
"Aduh.....! Haduh, gil4, gil4. babinya ngamuk...!" ujar Jana yang terlihat menyeimbangkan tubuh yang terbawa oleh hentakan sang babi ngepet, hampir saja dia terjatuh. beruntung dengan Sigap merenggangkan kakinya untuk menyeimbangkan pikulan, tangannya terlihat memegang akar pohon mahoni yang kebetulan tumbuh di samping jalan.
"Berhenti dulu Jang....! Awas nanti kita terbanting, awas hati-hati...! awas jangan sampai kita jatuh," ingat Dadun yang merasa kaget, karena kalau jatuh semuanya akan celaka, babi akan terpental yang menggotong juga pasti akan sangat kesusahan.
"Kenapa Si babi ini nggak mau diam...?" gerutu Jana dengan kesal.
Mendengar orang yang mengumpat, Ranti semakin bernafsu sehingga dia pun terus menggerakkan tubuhnya, menggelinjang agar terlepas dari pikulan, menghabiskan sisa-sisa tenaga yang ada dalam dirinya. membuat wajah Dadun yang melihat jelas sang babi, wajahnya sangat pucat, dia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak terjatuh dan terpental. sama seperti Jana yang mengerahkan kekuatannya untuk memegang pikulan, sedangkan kakinya dibuka lebar agar seimbang.
Namun sayang walaupun kekuatan mereka sudah dikerahkan, tubuh Jana dan Dadun terlihat oleng, karena tidak kuat menahan babi yang sedang marah.
__ADS_1
Aduh....!
Blugh...! blugh....!
Dua orang itu terpental kemudian jatuh ke tanah.
Bruk!
Begitu juga dengan tubuh Ranti, dia pun terpental ke rumpun Pohon serai, membuatnya tidak terlalu sakit, karena rumpun serai sangat empuk, tidak terpentok ke tanah. sedangkan Jana dan Dadun terlihat mereka meringis menahan sakit, karena Jana terperosok menabrak tebing jalan, sedangkan Dadun kepalanya terbentur ke pohon mahoni.
"Haduh, haduh, halah, halah, dasar babi sial4n....! dasar babi....! dasar tidak punya otak....!" gerutu Dadun sambil mengusap kepalanya yang benjol sebesar telur, sedangkan Jana Dia mengusap wajahnya membuang tanah yang menempel, karena tadi dia mencium tanah lumayan membuat bibirnya terlihat jontor, matanya terus menatap tajam ke arah sang babi Mungkin dia merasa kesal.
"Ayo Jang kita Gotong kembali, biarkan kalau nanti ngamuk lagi kita potong saja kakinya pakai golok....!" ujar Dadun seolah mengancam, karena dia merasa kesal kepalanya menjadi benjol.
"Jangan kalau dipotong...! itu sangat bahaya karena nanti babinya rusak." Sanggah Jana yang terlihat tidak setuju, karena dia tidak mau calon kekasih hatinya cacat.
Akhirnya mereka pun mulai mengambil kembali pikulan babi lalu berjalan menyusuri jalan yang agak rata, agar memudahkan ketika mereka berjalan. setelah melewati Jalan Setapak akhirnya mereka pun masuk ke jalan besar, Jalan desa yang menuju kekampung Sukaraja, sehingga mereka pun bisa leluasa menggotong sang babi ngepet.
__ADS_1
Di perjalanan, mereka bertemu dengan warga yang hendak melaksanakan aktivitas sehari-harinya. ketika bertemu dengan kedua pemuda yang sedang menggotong babi, Mereka pun menghentikan niat ingin mengetahui dari mana kedua pemuda itu bisa mendapat seekor babi yang sangat besar, sehingga mereka pun mengikuti Jana dan Dadun. di perjalanan Mereka pun bertemu kembali dengan orang yang lain, Mereka pun sama merasa penasaran hingga mengikuti Dadun dan Jana, akhirnya berita kedua pemuda yang berhasil menangkap babi menyebar ke seluruh penjuru Kampung Sukaraja, tak bisa dibendung lagi para warga pun berbondong-bondong menuju ke rumah jana.
Orang-orang yang menonton sang babi ngepet, Mereka terlihat Terkesima dan penuh kekaguman karena merasa heran ketika melihat sang babi memakai anting. bahkan anak kecil yang terlihat bandel mengambil ranting kering kemudian digunakan untuk mencolok telinga sang babi, karena dia ingin melihat jelas anting yang dipakai oleh Ranti.
Beruntung Dadun melihat kejadian itu, sehingga dia pun Tidak segan untuk memarahi. "hey...! hey! bocah tengik! jangan dicolok-colok, dasar bandel....!" bentaknya sambil membulatkan mata, sehingga anak-anak yang bandel itu mundur seketika, karena merasa takut oleh Dadun.
Dari arah Lain terlihat ada orang tua yang menghampiri, kemudian dia bertanya kepada Jana sambil memuji Pemuda hebat itu. soalnya Jana sangat pintar bisa menangkap babi seorang diri, karena jangankan orang yang masih muda, orang yang sudah banyak pengalaman berburu, mereka tidak akan sanggup menangkap babi sendirian.
Jana mendapat pertanyaan seperti itu, dia tidak mau memberitahukan kejadian yang sebenarnya, karena ada kejahatannya yang tidak bisa dia bicarakan. sehingga ketika menjawab pertanyaan para warga dia tidak menjawab dengan sebenarnya, dia menjawab lebih ke berbohong, karena menurut pikirannya mau dipercaya atau tidak, buat Jana itu tidak ada keuntungan sama sekali.
"Menangkap babi itu sangat mudah, saya akan kasih tips-tipsnya untuk menangkap babi seperti ini. dengarkan Ibu, Bapak, adik-adik, om, tante, semuanya yang ada di sini....! hahaha."
"Bagaimana itu Jang?" tanya salah seorang warga.
"Saya yakin dari semua orang yang berkumpul di sini sudah tahu dengan namanya buah kecubung, dan kegunaan kecubung itu bisa memabukkan?:
"Yah benar, terus?"
__ADS_1
"Nah untuk menangkap babi juga seperti itu, kasih saja kucubung mentah jangan banyak-banyak cukup tiga biji maksimal lima biji. nanti babi itu akan merasakan pusing, mual dan ingin muntah, intinya babi itu akan mabok. setelah mabok seperti itu, sang babi akan terdiam karena merasa pusing sambil memijat-mijat kepalanya. Kalau sudah seperti itu sangat mudah, hanya tinggal mengikatnya, lalu bawa ke kampung untuk dijual." Jawab Jana dengan raut wajah datarnya, Tak sedikitpun terlihat sedang berbohong.