
Mendengar penjelasan Salamah, membuat pikiran Jana sedikit tergoyang, maklum dia masih muda, masih belum punya pendirian apalagi kalau mengingat keadaan dirinya yang masih bujang, belum menikah, belum memiliki istri. sekarang ada kesempatan yang sangat baik, tiba-tiba Jana dada bergejolak terpengaruh oleh pembicaraan Salamah yang sangat mudah masuk ke dalam jiwa muda Jana.
"Benar Bi, Kebetulan saya belum memiliki istri ditambah sangat susah mencari pekerjaan. Apa saya harus meringkus pemiliknya itu, terus babinya diikat. kemudian dibawa ke kampung, agar tidak lepas lagi. tapi bagaimana kalau tidak kembali ke wujud aslinya menjadi wanita yang sangat cantik, Saya pasti akan malu, masa iya saya harus menikahi seekor babi." ujar Jana yang mulai terpengaruh namun dia belum masih punya pendirian.
"Lah kenapa Ujang bodoh sekali, jadi laki-laki itu harus pintar, harus banyak akal, harus penuh dengan ide cemerlang. kalau Ujang sudah bisa mendapat sang babi, Ujang tinggal setorkan ke Mang sarpu kemudian ajak bermusyawarah agar dia mau mengobati babi itu, Supaya kembali ke wujud aslinya yang seorang manusia. pasti mang sarpu tidak akan menolak, dan dia pasti bisa menyembuhkan, asal Ujang harus bisa berbicaranya, harus mengetahui kelemahannya, pasti dia akan turut tumut sama Ujang...!" jawab Salamah yang tak kehabisan akal.
"Memang Apa kelemahan Mang Sarpu, Bi!"
"Lah, lah, benar memang Ujang itu bodoh, bahkan bodohnya dimakan oleh sendirian. masa Ujang tidak tahu kalau Mang sarpu melakukan pesugihan siluman babi ngepet, kalau malam dia suka berkeliaran mencari padi ke Saung Lesung atau seradak seruduk mencari cacing. nah, rahasia itu kamu tinggal bicarakan saja sama Mang sarpu, terus Ujang ancam kalau dia tidak mau menolong, maka Rahasianya akan disebarluaskan ke seluruh warga, pasti dia akan sangat ketakutan. silahkan kalau tidak percaya, coba saja sendiri!"
Mendengar keterangan dari Salamah, Jana pun terdiam berpikir, semakin lama dipikir semakin terpikir, semakin lama dirasa semakin terasa, semakin mengerti, apa yang disampaikan oleh Salamah. hingga akhirnya dia pun membulatkan pikiran, dia mau menangkap babi itu sendirian. sehingga ketakutan yang berada dalam dirinya hilang seketika, yang timbul adalah keberanian, dia ingin segera menangkap babi ngepet, babi jadi-jadian. Akhirnya dia pun berdiri kembali.
"Terima kasih atas semua saran yang diberikan Bibi! memang benar saya harus berani mengambil resiko, tolong Doakan saya agar babi itu menjadi milik saya, karena saya mau menangkapnya sekarang." ujar jana berpamitan.
__ADS_1
"Silakan Jang...! Bibi doakan yang terbaik buat kamu, tapi kalau Ujang berhasil, jangan sampai melupakan bibi."
"Siap, bisa diatur Bi. Saya tidak akan melupakan kebaikan seseorang. Ya sudah saya pergi dulu Bi!"
"Silakan, silahkan...! semoga kamu berhasil."
Jana tidak banyak berpikir, dia pun berlari Kembali menuju ke Saung kebun yang digunakan beristirahat oleh Eman dan Ranti. selama dia berlari otaknya terus berputar mencari cara bagaimana caranya agar dia bisa menangkap sang babi ngepet dengan aman.
Dengan perjuangan yang begitu gigih, akhirnya Jana sampai kembali ke Saung kebun, dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Dia berjalan mendekat ke arah Saung yang dipakai beristirahat, oleh Eman dan Ranti. nafasnya ditahan keringatnya terus bercucuran membasahi seluruh tubuh.
Setelah sampai dia pun memegang tiang Saung, matanya mengintip ke dalam. terlihat dua makhluk berbeda jenis, mereka masih terlelap dalam tidurnya membuat Jana merasa bahagia, karena harapan untuk berhasil sudah di depan mata. tadinya dia sudah takut kalau babi itu sudah terbangun, kemudian pergi dari saungnya.
"Beruntung...! hidupku memang sangat beruntung, memang kalau sudah rezeki tidak akan lari ke mana. Kayaknya impianku memiliki istri yang sangat cantik akan terlaksana, karena menurut keterangan sebagian orang anak Mbah Abun memang sangat cantik. tapi yang mana dulu yang harus aku selesaikan, babinya dulu atau manusianya dulu, kalau babi dulu takut nanti pemiliknya keburu bangun sehingga dia menyerangku dari belakang. kalau manusia terlebih dahulu, Bagaimana kalau babinya keburu kabur. bingung, bingung aku memikirnya. apa langsung dua-duanya..?" Gumam Hati Jana sambil membetulkan tali bambu untuk dijadikan pengikatnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia memutuskan, dia mau menangkap babi terlebih dahulu. Soalnya kalau babi itu terbangun kemudian kabur itu akan susah lagi mencarinya, berbeda kalau manusianya yang kabur itu akan sangat menguntungkan.
Setelah berpikir berulang kali menimbang baik buruk pekerjaan yang akan dia kerjakan. akhirnya Jana pun masuk ke dalam Saung dipenuhi dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, sehingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Setelah sampai di dalam Saung, dengan cepat jana pun mengalungkan tali yang terbuat dari bambu, membekam mulut babi kemudian dia menariknya dengan kuat, sehingga babi itu terperanjat kaget, lalu bangun dari tidurnya. namun dia tidak bisa bersuara karena mulutnya sudah diikat, bahkan tidak sampai di situ, jana terus mengikatkan tali itu ke arah kaki depan dan kaki belakang, Lalu mengikatnya ke tiang Saung.
Babi ngepet itu terus bergerak-gerak, menggelinjang-gelinjang ingin melepaskan diri. namun Jana terlihat sangat sigap, dia pun mengambil tali kembali untuk menguatkan ikatan yang sudah ada, kemudian dia pun mengikatkannya lagi ke tiang biar lebih kuat. namun ketika dia bekerja Eman bangun dari tidurnya, Dia terlihat terkejut karena ada orang yang bergerak-gerak seperti ingin melepaskan diri, matanya terlihat memerah berkedip-kedip karena merasa silau, mungkin roh halusnya belum kumpul, masih tertinggal di alam impian.
Tapi ketika melihat babi yang sedang diikat dengan dipaksa, amarah Eman pun seketika bangkit, tanpa berbicara dia pun menerjang dari arah belakang langsung menghapit leher orang yang jahat itu, membuat mata Jana terlihat membulat, karena nafasnya terasa sesak dan tertahan. lehernya pun terasa sakit, namun dia tidak pasrah begitu saja, kakinya dipijakkan ke tiang kemudian dia mendorong eman ke belakang, namun Eman dengan kuat menahan sehingga adu kekuatan pun tak terhindarkan.
Merasa perlawanannya tidak membuahkan hasil, Jana pun dengan cepat menjatuhkan tubuh, hingga kedua tubuh pemuda itu terjatuh, bahkan Eman tubuhnya sampai terpelanting ke bawah, namun dia tidak melepaskan kuncian di leher Janna, Bahkan dia semakin menguatkan cekikan itu.
Jana bergerak-gerak dan menggelinjang-gelinjang ingin lepas dari himpitan tangan Eman. tangan terlihat digerak-gerakan, begitu juga dengan kakinya, hingga akhirnya ada salah satu serangan yang mengenai, sikut Jana terkena tepat tulang belikat Eman.
__ADS_1