
"Haduh!"
Desis Mang sarpu yang menarik nafas dalam, karena berbicara dengan Jana Dia selalu merasa kalah, sehingga dia pun terdiam kembali mengingat-ingat kejadian yang sudah ia alami. dia pun kembali teringat dengan sang Kuncen yang bernama aki sobani yang tinggal di kaki gunung Karang. aki sobani pernah memberikan petuah terhadap dirinya, kalau dia memiliki kesusahan dia tinggal menyebut dan memanggil nama Prabu Uwul-Uwul maka Raja siluman babi itu pasti akan datang menolongnya. begitulah ingatan Mang Sarpu membuat raut wajahnya terlihat sumringah, Akhirnya dia pun mengambil keputusan.
"Begini Jang Jana!"
"Iya Bagaimana Mang?" tanya Jana yang terlihat tidak sabar.
"Mamang mau mencoba menolong kesusahan yang sedang Ujang hadapi."
"Haduh Mang, Terima kasih Mang, Terima kasih banyak sebelumnya." Ujar Jana yang terlihat dipenuhi kebahagiaan karena usahanya bisa membuahkan hasil.
"Tapi ada syaratnya?"
"Apa syaratnya Mang?"
"Babinya harus dibawa ke sini, nanti Mamang akan usahakan dan di ijabkan, Siapa tahu saja ada milik kita semua, tapi waktunya tidak sekemauan kita, waktunya harus tepat ketika keluar lembayung senja."
__ADS_1
"Oh begitu, Terus apa yang harus saya lakukan?"
"Sekarang Ujang pulang dulu ke rumah, kemudian bawa babinya ke sini. tapi Mamang berpesan jangan ada orang yang ikut, soalnya takut Nanti usaha kita gagal, karena kalau ada orang yang mengintip, usaha kita akan gagal. nah begitu aja Jang, tugas Ujang sekarang."
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak Mang. kalau begitu saya pamit dulu Mang, Saya mau mengambil babinya terlebih dahulu." Ujar Jana yang dipenuhi dengan kebahagiaan, karena permintaannya di sanggupi oleh Mang sarpu.
Dengan bergegas Jana pun turun dari rumah Mang sarpu, kemudian dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumahnya. sedangkan Mang sarpu terlihat terdiam melamun merasa berat, kalau harus dibicarakan karena dia takut usahanya tidak membuahkan hasil. tapi dia tidak banyak berbicara, dia hanya menatap Jana yang semakin lama semakin menjauh, hingga akhirnya Jana Pun Menghilang ditelan belokan terhalang oleh rumah tetangganya.
Setelah tamunya pulang, Mang Sarpu pun menundukkan kembali tubuhnya di kursi yang tadi dia tinggalkan. dia terdiam berpikir tanpa bergerak, mencerna apa yang disampaikan oleh Jana. sehingga dia pun mengingat kembali dengan sahabatnya yang bernama Mbah Abun orang kampung ciandam yang sudah bertahun-tahun tidak pernah berkunjung kembali ke rumahnya. tidak ada kabar, tidak ada berita seperti ditelan oleh bumi. mungkin begitulah kebiasaan sahabat yang sudah sukses, sehingga melupakan sahabat yang pernah menemaninya berjuang.
Tapi meski begitu Mang sarpu yang memiliki hati yang baik dan pemikiran yang terbuka, dia tidak ada dendam sedikitpun yang ada hanya rasa khawatir merasa takut kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. buktinya saja sampai ada kejadian sayembara.
Sedangkan Jana yang ditugaskan mengambil babinya oleh Mang Sarpu. Dia berjalan dengan tergesa-gesa dia tidak memperdulikan rasa capek karena dia ingin cepat sampai ke rumahnya, ingin segera menyetorkan babi ngepet kepada Mang sarpu, agar cepat diobati dibuka baju jimatnya.
Sesampainya di rumah, Jana dengan cepat dia pun menemui Dadun yang sedang duduk menunggu sang babi, di tangannya ada sebatang rokok di samping kanan kirinya ada orang yang sedang duduk empa orang, semuanya laki-laki Mereka terlihat sedang asik mengobrol membahas Jana yang sedang beruntung besar, karena bisa menangkap babi yang sedang di sayembarakan.
"Orang si paling beruntung sudah datang lagi. Bagaimana Jang?" tanya Dadun yang terlihat tidak sabar, dia ingin segera mendapat keputusan karena dia belum selesai mengambil rumput, bahkan dombanya terdengar berteriak-teriak meminta makan.
__ADS_1
"Begini Kang...! Akang jangan tanggung menolong saya, sekarang ayo kita Gotong kembali babi ngepet ini ke rumah Mang Sarpu," jawab Jana menjelaskan.
"Emang mau diapakan Jang?"
"Yah jangan banyak bertanya, intinya akang bantu saya. tapi saya mohon maaf sama bapak-bapak dan mamang mamang yang lain tidak boleh ikut. karena ini tidak boleh ada yang mengetahui, bahkan Kang Dadun setelah sampai ke sana, kang Dadun harus pulang kembali." ujar Jana memberi tahu kepada orang-orang yang berada di situ, dia memberikan petuah takut ada orang yang mengikuti, karena sudah bisa ditebak orang-orang itu pasti ingin mengetahui, cerita kelanjutan dari babi jadi-jadian yang baru saja ditangkap.
"Ya Nggak apa-apa Jang, Mamang nggak akan ikut karena Mamang mau melanjutkan pergi ke sawah, mau mengontrol pengairannya." jawab Salah Seorang warga sambil meregangkan tubuh, kemudian dia pun menepuk-nepuk celananya yang terlihat kotor, kemudian tanpa berbicara lagi dia pun pergi ke sawah.
"Ayo kalau begitu Jang, biar semuanya cepat selesai." Saran Dadun yang terlihat sudah tidak sabar.
Setelah Menyelesaikan permusyawarahan, akhirnya Jana dan Dadun mulai menggotong kembali babi yang belum diapa-apakan mau dibawa ke rumah Mang sarpu.
Orang-orang yang ada di halaman rumah Jana, baik anak kecil maupun orang tua, tidak ada orang yang berani menolak keinginan Jana. karena pemuda itu sudah mewanti-wanti agar tidak ada orang yang ikut, setelah mereka saling mengobrol dan bertanya dengan orang-orang yang lain, akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Jana dan Dadun mereka terus memikul pikulan yang terlihat sangat berat, ditambah tenaga mereka sudah terkuras karena sudah dari tadi mereka menggotong sang babi. sedangkan Ranti dalam bentuk babi ngepetnya, Dia terlihat terkulai lemas, badannya terasa sakit, sendi-sendi terasa copot karena dari tadi ikatan yang melingkar di tubuhnya tidak dilepaskan. ditambah tubuhnya itu digantung dan tidak diberi makan sedikitpun, sehingga membuat perutnya terasa melilit kepalanya terasa pening.
Tak lama diantaranya, kedua orang itu Akhirnya sampai ke halaman rumah Mang sarpu, dengan segera Mereka pun menghentikan langkah. Jana terlihat menarik nafas dalam kemudian dia pun berteriak sambil tetap memikul babi.
__ADS_1
"Mang....! mang....! dibawa ke mana Babinya?"
"Sebentar tunggu dulu, kita bereskan dulu tempatnya....!" jawab Mang Sarpu yang terlihat bangkit dari tempat duduknya menuju ke arah belakang.