Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman

Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman
Bab 27. Bualan Jana


__ADS_3

Mendengar pembicaraan Jana, warga-warga yang hadir pun semuanya tertawa, meski bodoran itu sangat tidak lucu tapi kalau mau menyanggah mereka kesusahan untuk membantahnya. karena Jana sudah memiliki bukti, dia sudah bisa menangkap babi hidup, sehat, bahkan tidak ada luka sedikitpun.


"Hebat, Hebat....! kamu Jang Jana bisa punya cara untuk menangkap sang babi sendirian, karena warga Kampung Ciaul kalau mau menangkap satu ekor babi, mereka menghabiskan waktu semalam, ditambah dengan perangkap, dan warga Sekampung. coba kasih tahu Abah untuk menangkap hewan yang lain?"


"Hewan apa itu Abah?" jawab Jana balik bertanya, matanya menatap ke arah orang yang berbicara.


"Cara menangkap monyet?"


"Oh itu sangat mudah sekali Abah."


"Caranya?"


"Abah tinggal membawa gamelan ke hutan sama nayaganya, kalau perlu dan dibutuhkan Sekalian bawa sindennya. Nah, setelah berada di hutan, jangan ragu dan jangan bimbang, tabuh alat seni Sunda itu, jangan sampai berhenti kalau bisa semalam suntuk." Jawab Jana sekenanya.


"Oh begitu, Terus bagaimana Jang?"


"Nah, nanti monyet-monyet itu akan berbondong-bondong untuk menonton pertunjukan, ketika mendengar musik monyet-monyet itu akan berjingkrak-jingkrak menari-nari layaknya manusia yang sedang menonton dangdutan."


"Terus?"


"Biarkan saja jangan diganggu, biarkan saja mereka bereuforia dengan kebahagiaannya, sampai mereka puas. Nah, Keesokan paginya sudah bisa dipastikan monyet-monyet itu akan mengantuk karena semalaman mereka bergadang. setelah mengantuk seperti itu, mereka akan lupa dengan keadaan sekitar, sehingga akan tidur di mana saja sama seperti kita ketika ngantuk."


"Ya benar."


"Nah, mereka pasti akan tertunduk sambil tertidur, Kalau sudah seperti itu sangat gampang, tinggal menangkap satu persatu terus dimasukkan ke dalam karung." jawab Jana yang tak sedikitpun merubah raut wajah seperti sudah mendalami tentang berbohong, hingga membuat para warga pun tertawa kembali.


"Bentar, bentar jang. Bagaimana kalau menangkap Harimau?" Tanya warga lain menyahuti


"Apalagi harimau, itu sangat mudah, bahkan mudah sekali Bapak...! tinggal menangkap kucing yang sedang ingin kawin, kemudian bawa ke hutan."

__ADS_1


"Kalau sudah begitu, bagaimana Jang?"


"Kalau sudah berada di hutan, cekik kucing itu menggunakan ketiak, kepalanya keluarkan sedikit agar bisa bersuara. nanti para harimau akan berkumpul, soalnya menurut satu keterangan, kucing itu adalah gurunya Harimau. artinya semua Harimau berguru kepada sang kucing. Nah, kalau sudah begitu Harimau yang sudah berdatangan, mereka tidak berani mengganggu terhadap kita, Paling juga mereka akan bersujud bersimpuh meminta ampunan."


"Kalau sudah begitu Terus bagaimana?"


"Ya gampang, tinggal kita ikat lehernya, kemudian dituntun untuk dibawa pulang ke rumah."


"Sebentar, sebentar, Saya masih kurang ngerti Jang Jana, Kenapa harimau itu bisa bersimpuh di hadapan kita?" tanya salah Seorang warga yang terlihat penasaran.


"Lah Kenapa bertanya seperti itu, Asal bapak tahu, harimau juga pasti memiliki otak memiliki pikiran. Kenapa mereka sampai menyembah sama kita, karena dalam hati Sang Harimau, mereka beranggapan, mereka tidak akan sanggup mengalahkan kita, karena gurunya saja sang kucing sudah kita cekik menggunakan ketiak. Nah dari dasar itu, maka harimau saya pastikan mereka tidak akan berani mengganggu, mereka akan bersujud bersimpuh di hadapan kita, yang terpenting kucingnya jangan dilepaskan."


Suasana di halaman rumah Jana kembali terdengar berisik dengan suara tawa, membuat Dadun merasa kesal, karena dia sangat tidak setuju Kalau Jana kebanyakan berbohong, karena itu sangat tidak berguna. dia merasa kasihan dengan babi, karena harus secepatnya ditempatkan di tempat yang semestinya, bukan digantung seperti itu.


"Hey, Jang....! Jang....! jangan ngebodor basi terus. masih ada yang lebih penting daripada berbicara ngelantur kemana-mana karena masih ada babi yang harus kita uruskan," ujar Dadun mengingatkan Jana yang sedang meladeni obrolan obrolan para warga, Dia sangat kesal karena kalau dibiarkan, maka sahabatnya itu akan lupa dengan tugasnya


"Oh iya, benar....! saya Hampir lupa, sebentar Akang jaga dulu babi itu, karena takut diganggu oleh bocah bandel, karena saya akan menemui Mang sarpu terlebih dahulu," jawab Jana memutuskan.


"Baik, baik, Kang....!"


Setelah membagi tugas, Janna pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke rumah Mang sarpu, mau menjalankan nasehat Bibi Salamah.


Tak lama di perjalanan, akhirnya Jannah pun sampai ke halaman rumah Mang Sarpu. dengan segera dia pun mengucapkan salam dengan intonasi suara yang sangat keras sedikit berteriak.


"Assalamualaikum.....!"


"Salam....!" jawab orang yang berada di dalam rumah kemudian terdengar suara langkah yang menapaki pelupuh papan, tak lama pintu pun terbuka, lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah berusia paruh baya, membuat Jana merasa bahagia. karena orang yang membukakan pintu adalah orang yang sedang ia cari.


"Maaf mang Sarpu, kalau saya mengganggu. Soalnya ada kepentingan yang tidak bisa ditunda,"

__ADS_1


"Ah, nggak mengganggu Jang, Ayo masuk ke dalam!" ajak tuan rumah."


Tanpa membuang waktu Jana pun masuk ke dalam ruang tamu, kemudian dia duduk di kursi menghadap tuan rumah yang sudah duduk duluan. sebelum melanjutkan pembicaraan mang Sarpu terlihat mengeluarkan rokok putih, Rokok yang jarang diisap oleh warga Kampung Sukaraja. karena kebanyakan warga kampung itu, kalau merokok mereka hanya menghisap tembakau yang terbungkus daun Aren. kemudian Mang sarpu pun mengambil satu batang, lalu membakarnya dengan korek, asapnya mengepul di atas kepala kemudian menghilang disapu oleh angin.


"Ada apa ini Jang?" tanya Mang sarpu matanya menatap lekat ke arah Jana.


"Begini Mang, saya ada kepentingan sama Mamang."


"Kepentingan apa?" tanya Mang Sarpu sambil mengerutkan dahi.


"Saya mau minta tolong sama Mamang dalam urusan sayembara, saya meminta kebesaran hati Mamang, semoga Mamang berbaik hati mau memberikan waktu buat saya. karena ini sangat penting dan hanya Mamang yang bisa menolong," ujar Jana yang terdengar berbelit.


"Sudah, sudah...! jangan terlalu panjang berbicara, jangan terlalu berbelit ketika menyampaikan sesuatu, karena Mamang sudah lumayan sepuh, jadi Mamang sangat sulit memahami pembicaraan yang berdiksi, bisa-bisa membuat kepala Mamang terasa pening dan mata Mamang terasa mengantuk. kalau mau berbicara langsung saja ke inti pokok permasalahannya!"


"Oh begitu, maaf kalau seperti itu mang Sarpu, hehehe."


"Yah dimaafkan, Ayo Terangkan Apa tujuan ujang,"


"Begini Mang Sarpu Saya memiliki seekor babi yang hendak dijadikan istri,"


"Oh, Jadi Ujang Mau nikah sama babi."


"Eh, bukan begitu. sebentar, sebentar. jadi saya memiliki seekor babi, seperti yang Mamang ketahui, Saya tidak akan mungkin menikah dengan seekor babi," jawab Jana menjelaskan, namun semakin berbelit.


"Iya benar, karena itu sangat tidak umum. masa iya, ada seorang manusia yang menikahi seekor babi, kayak tidak ada perempuan lain lagi.


"Nah begitu, ternyata Mamang sangat pintar memahami maksud dan tujuan saya."


"Iya, Terus bagaimana Jang?"

__ADS_1


"Terusnya begini Mang Sarpu, Saya tidak akan menikah dengan wanita yang lain, karena saya sudah berniat untuk menikahi si babi."


"Kenapa....?" tanya Mang sarpu sambil mengerutkan dahi, dia belum paham ke mana alur pembicaraan tamunya.


__ADS_2