
Aduh....! dasar setan....!" Desis Eman tertahan, wajahnya terlihat meringis menahan sakit, tangannya terus menghapit leher Jana.
Namun sayang Eman yang bukan pekerja keras dan bukan ahli main silat, tenaganya tak sebanding dengan musuhnya. Apalagi ditambah dia baru bangun tidur, dan tidur malamnya tidak nyenyak, karena terganggu oleh buruan orang Ciaul, ditambah lagi dia pun belum pernah menemukan makanan yang sesuai dengan porsinya. sedangkan Jana adalah pemuda yang sehat walafiat, dia bekerja keras bahkan terlihat lengan dan dadanya dipenuhi oleh otot, tenaganya sedang keluar. sehingga lama-kelamaan tenaga Eman pun kalah, dibuntang banting oleh Jana, badan Eman terasa sakit Begitu juga dengan pantatnya, yang sudah dua kali terbentur tiang, kakinya Terinjak, kepalanya juga terbentur dengan palang Saung. hingga akhirnya cekikan yang berada di leher Jana dilepaskan. kemudian Eman Mengayunkan serangan menuju ke arah pelipisan Jana, Namun sayang Jana tidak kalah gesit, angin pukulan Eman dia bisa merasakan, sehingga dia pun membukukan tubuh, sehingga pukulan Eman hanya memakan angin berada tepat di atas kepalanya.
Jana dengan cepat mengambil tangan Eman yang berada di atas kepala, disimpan di pundak. kemudian tangan itu ditarik ke depan, sehingga tubuh Eman seperti yang dipanggul. tanpa membuang waktu tubuh Eman yang berada di pundak Jana Dia lemparkan ke arah depan.
Bugh....! walaaaa....!
Desis Eman tertahan, dia meringis menahan sakit sambil memegangi pinggang yang terasa patah. namun dia tidak memperdulikan hal itu, semangatnya masih berkobar memenuhi dada, karena dia ingin menyelamatkan sang babi yang sudah menyelamatkannya, sehingga dia berani mengorbankan apapun yang terpenting Ranti bisa selamat.
Tidak memperdulikan musuh yang terlihat kekar dan gagah, Eman pun mulai menerjang kembali, yang diserang lehernya sehingga kedua manusia itu terlihat bergulat kembali, tubuh mereka jatuh ke tanah, kemudian mereka saling cekik, saling pukul, saling Serang, saling banting, saling tindih, saling tonjok. sehingga tubuh Mereka terlihat penuh dengan tanah dan Abu pembakaran yang berada di dalam Saung. lama-kelamaan Mereka pun berpisah, lalu saling menatap seolah sedang mengukur kekuatan masing-masing.
"Kurang ajar kamu pengen mampus...!" bentak Jana sambil menerjang, amarahnya sudah memenuhi jiwa tidak mau bermain-main lagi, sehingga tangannya menerjang mencekik leher Eman, namun dengan segera Eman mendoyongkan tubuhnya ke belakang sambil melayangkan satu tendangan ke arah paha Jana.
__ADS_1
Aduh!
Desis Jana sambil melepaskan cekikan, tubuhnya ambruk menggunakan kedua dengkul. namun ketika dia hendak bangkit kembali angin pukulan Eman menuju ke arah dahi, Jana dengan cepat dia pun membungkukkan kepala tidak jadi bangkit, tapi sayang Eman sudah merubah arah serangan tangan yang memakan angin dia Arahkan ke arah bawah, sehingga mengenai pundak Jana.
Aduhh!
"Mampus kau setan....!" Bentak Eman yang berada di atas angin, sehingga kewaspadaannya menurun. dia mengangkat kaki setinggi-tingginya, ingin menginjak kepala Jana. namun tanpa Eman sadari, tangan Jana mengambil kaki sebelah kirinya, kemudian sambil bangkit sambil menarik kaki itu lalu dibantingkan ke tanah.
Walaa!
Babi ngepet yang sudah diikat, melihat orang yang membelanya disiksa seperti itu, dia pun semakin menggelinjang ingin segera melepaskan diri, ingin segera menolong Eman, suaranya Terus mendengkur dengan keras, seperti sedang sekarat. bahkan Saung pun terlihat bergoyang, namun dia tidak bisa berbuat lebih, karena ikatan yang diikatkan oleh Jana sangat kuat.
"Diam kamu babi....! dasar Bagong....!" bentak Jana sambil mengambil kayu bakar sebesar kepalan tangan sisa pembakaran. tanpa berpikir panjang dia pun Mengayunkan kayu itu mengarah ke arah wajah musuhnya, sehingga membuat Eman tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya masih terasa sakit, Dia hanya bisa membalikkan wajah, sehingga pukulan itu tepat mengenai punduknya.
__ADS_1
Bugh!
Eman langsung tidak sadarkan diri, tidak ingat keadaan sekitar, tubuhnya ambruk seketika, di dekat tungku pembakaran. rambutnya penuh dengan Abu kepalanya sangat kotor dan dipenuhi dengan luka lebam, apalagi badannya yang sejak awal sudah kotor dan dekil.
Melihat Eman yang tidak bangkit lagi, hati Ranti pun terasa lemas, air matanya keluar dengan cepat dia pun memejamkan mata ingin menahan cairan itu, dan tidak mau melihat Eman yang sudah pingsan. Dia hanya bisa mengumpat di dalam hati. "Kenapa kamu sangat kejam manusia, sampai tega menyiksa kekasih hatiku. Awas kamu suatu saat aku akan membuat perhitungan dengan kamu, hutang garam bayar garam, hutang darah bayar darah, hutang sakit bayar perih." begitulah gumam Ranti sambil berlinang air mata, Mungkin dia sangat marah sama Jana karena sudah menyiksa dan menghajar Eman. waktu itu Ranti tidak bisa berbuat banyak, karena dia sudah diikat, hanya air mata yang bebas bergerak menemani sedihnya.
Sedangkan Janna Dia terlihat mengatur nafas yang memburu, karena dia sangat capek disertai dengan rasa kaget dan rasa bahagia, soalnya dia sudah bisa mengalahkan musuhnya. dia tidak memperdulikan rasa capek itu kemudian dia pun mengambil tali lalu mengikat tangan Eman, kemudian digusur ke luar Saung diikat di pohon nangka. setelah di rasa Eman tidak akan bisa kabur dia pun meninggalkannya kembali masuk ke dalam Saung.
"Hahaha dasar milik tidak akan tertukar, rezeki tidak akan salah datang. sekarang sudah waktunya cita-citaku akan terlaksana menikah dengan Ranti yang sangat cantik dan manis sepi dari tanding. Selamat datang Geulis babi, Salam perkenalan dari Engkang, kita akan bersama-sama menemui Sang Bapak di Ciandam. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke Sukaraja bertemu dengan calon mertua kamu, hahaha....!"
Jana berbicara ngelantur, seperti orang yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. dia tertawa sendirian tangannya menirukan orang yang sedang menari, bahkan kepalanya pun ikut bergoyang, matanya terus menatap ke arah Ranti yang sedang terikat oleh tali.
Dengan perlahan Jana mendekat ke arah sang babi ngepet, mau membuka pengikatnya. namun dia keburu sadar kalau dia tidak akan mampu membawa babi sendirian, karena dia yakin babi itu akan mengamuk, sehingga dia pun menghentikan niat itu. Jana berpikir mencari cara agar bisa membawa sang babi dengan selamat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau sudah begini, apa harus dituntun seperti membawa domba? tapi kalau dituntun nanti dia akan menyerudukku dari belakang. benar, aku harus meminta pertolongan orang lain, Soalnya kalau membawa babi itu harus digotong, bukan dituntun." begitulah gumam pikiran Jana sambil menambah ikatan sang babi, agar lebih meyakinkan bahwa babi itu tidak akan bisa Kabur.
"Hei Nyai cantik, kamu tidak boleh banyak bergerak. Awas kamu jangan pergi ke mana-mana! kamu harus menunggu Engkang di sini, soalnya Engkang mau meminta pertolongan dulu sama orang lain, untuk membantu menggotong Nyai. Soalnya kalau menggendong Akang agak risih, karena kamu masih seekor babi, hehehe." ujar Jana sambil mengacung-ngacukan telunjuk seperti sedang berbicara atau mengancam kepada manusia. kemudian dia pun keluar dari Saung berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kampung Sukaraja, dengan membawa hati yang sangat bahagia, karena sudah bisa menangkap babi yang sedang di sayembarakan.