
Jana terus berjalan menyusuri Jalan Setapak yang menuju Kampung Sukaraja. dia mau menemui sahabatnya yang bernama Dadun untuk dimintai pertolongan agar mau menggotong babi yang baru saja Ia tangkap.
Dasar hidup Jana lagi mujur, belum saja sampai ke kampung Sukaraja. di tepian sawah terlihat orang yang hendak ia temui sedang mencari rumput, kebetulan waktu itu Dadun Sebentar lagi menyelesaikan pekerjaannya, karena karung yang ia bawa sudah terisi penuh hanya tinggal menjejalnya agar lebih sesak, membuat Jana merasa sangat bahagia karena dia tidak harus susah-susah untuk pulang dulu ke kampung, Soalnya di tengah jalan sudah bertemu. dengan segera Jana pun mendekat ke arah sahabatnya.
"Sampurasun....!" sapa Jana sambil berteriak.
"Rampes.....!" jawab Dadun sambil melirik ke arah datangnya suara, setelah melihat orang yang menyapanya dia pun tersenyum. "eh ternyata kamu Jang, ada apa jang?" lanjut Dadun bertanya sambil menatap tetap menatap wajah sahabatnya yang terlihat sumringah.
"Menurut orang tua, kalau Rezeki itu tidak akan ke mana, tidak akan tertukar Kang. karena Rezeki itu dikejar lari di tunggu diam, tapi kalau sudah sampai waktunya Rezeki itu datang dengan sendirinya."
"Ada apa...?" tanya Dadun yang masih belum mengerti.
"Saya sedang ketiban Durian Runtuh Kang, duriannya sangat besar, wanginya semerbak ke mana-mana." jawab Jana sambil menggerak-gerakan tangannya membuat Dadun semakin mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya.
"Sebenarnya kamu itu ngomong apa?"
"Ngomong Indonesia, Kang."
"Iya tahu kamu tuh ngomong bahasa Indonesia, tapi apa maksudnya."
"Kang Dadun," Panggil Janna dengan wajah serius.
"Iya, dari tadi manggil-manggil, tapi penyampaianmu berbelit, Sehingga membuat kepala Akang pening"
"Sabar kang, sabar.....! Sebenarnya saya mendapat rezeki dari Ilahi, mendapat harta dari Allah subhanahu wa ta'ala. kehidupan saya sedang disinari oleh cahaya rembulan, sedang ada dalam perlindungan sang pencipta, tidak disangka tidak terduga kalau di saung saya ada seekor babi, kemudian babi itu di tangkap sampai dapat, sekarang saja masih Diikat Di Saung. tapi saya menemukan kesusahan Kang, Ketika saya Hendak membawa babi itu ke kampung. Soalnya kalau mau ditenteng sangat berat, kalau mau digendong takut menggigit, kalau dituntun takut diseruduk, kalau ditarik takut menggigit, kalau dimasukkan ke dalam kantong takut jatuh. Nah dari dasar itu makanya saya mencari Akang, yang maksudnya mau minta tolong bantuan tenaga."
"Maksudnya?" Tanya Dadun yang semakin tidak mengerti dengan orang yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Yah minta tolong untuk menggotong babi yang baru saja saya dapat, Bagaimana mengerti kang?"
"Ya, ngerti lah, coba dari tadi kamu bilang mau minta bantuan tenaga untuk menggotong babi, kan itu sangat simpel dan tidak membuang waktu. Oh iya, tapi kalau menurut Akang kalau hanya mendapat seekor babi Harusnya kamu tidak sebahagia itu, karena babi di hutan sangat banyak dan tidak ada istimewanya sama sekali, bahkan kalau dimakan pun jadi dosa."
"Halah...! masa Akang lupa?"
"Emang kenapa begitu?"
"Yang perlu Akang tahu, babi yang saya tangkap itu adalah babinya babi, babi ajaib, babi aneh, babi ngepet. nanti kalau Akang sudah melihat pasti akan Terkesima, babinya sangat istimewa Kang, telinganya memakai anting dan paham dengan ucapan manusia. kayaknya babi itu adalah babi yang sedang di sayembarakan."
"Yang bener kamu Jana....! kalau bicara jangan ngelantur."
"Lah, Akang!"
"Babi aneh yang memakai anting," ulang Dadun seolah tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh sahabatnya.
"Iya benar, Makanya ayo kita lihat, Nanti babi itu keburu kabur. pokoknya sebentar lagi saya akan menjadi menantunya Bah Abun orang Ciandam, hahaha, Yakinlah, yakin."
"Ayo jangan lama-lama kang,"
"Sebentar dulu, kan Akang belum selesai mencari rumputnya."
"Mencari rumput tunda saja Kang! karena masih banyak waktu. dengerin Kang Dadun, pokoknya kalau saya sudah punya milik Akang akan ikut senang. bukannya Akang pengen punya kerbau, nanti saya akan belikan yang besar."
"Yang benar kamu Jana?"
"Kapan Saya berbohong Kang?"
__ADS_1
"Benar, benar, Percaya lah....!"
"Ya sudah, ayo....!"
Setelah menyelesaikan perjanjian, akhirnya Jana dan Dadun tergesa-gesa menuju ke arah Saung mau membawa babi ke kampung Sukaraja.
Tak lama diantaranya, kedua sahabat itu sudah sampai ke Saung sudah sampai ke tempat yang mereka tuju. terlihatlah seekor babi yang masih belum bisa bergerak karena diikat oleh banyak tali yang sangat kuat, membuat Hati Jana merasa bahagia karena apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. sedangkan Dadun Ia hanya menatap melongo sambil menggeleng-gelengkan kepala, mulutnya terdengar mengeluarkan suara desis penuh kekaguman, yang paling pertama dia lihat adalah telinga sang babi. Setelah diperhatikan benar saja babi itu memiliki anting.
Sedangkan Ranti dalam wujud babi hutannya, dia menangis di dalam hati, air matanya terus mengembun bahkan ada yang sampai jatuh ke pelupuh Saung, badannya terasa sakit, hatinya terasa perih, bak sudah jatuh tertimpa tangga.
"Aduh.....! ternyata kamu hebat Jang sampai bisa menangkap babi seaneh ini. Oh iya, bagaimana kejadian sebenarnya sampai-sampai babi ini ada di saung kamu?" ujar Dadun tanpa melepaskan pandangan dari arah babi.
"Nanti, nanti saja Saya akan ceritakan, Bagaimana saya bisa menangkap Si babi ini. sekarang kita pikirkan bagaimana caranya membawa babi ini ke kampung kita," jawab Jana yang terlihat tidak sabar.
"Kenapa susah-susah amat, tuh ada tiang Saung kita bongkar satu," jawab Dadun memberi saran.
"Terus?"
"Kita jadikan tiang itu sebagai pikulan, nanti kita Gotong babi ini."
"Haduh, jangan kang, nanti bapak bisa marah kalau tiang Saung dibongkar. tuh ada bambu haur sisa membuat pagar, sebentar saya akan ambil dulu."
"Ya sudah, sana ambil....!" seru Dadun.
Jana tidak memperdulikan rasa capek, dia berjalan dengan penuh semangat mau mengambil bambu haur yang disandarkan ke pohon kopi, kemudian Dia merapikan bambu itu agar bisa digunakan untuk menggotong. setelah selesai dirapaihkan bambu itu dijadikan pikulan.
Ranti dalam wujud babi ngepet, kakinya diikat, di punggungnya ditempelkan bambu kemudian diikat dengan kencang melingkar ke seluruh tubuh, Begitu juga dengan mulutnya Yang Diikat, karena mungkin Jana takut kalau babi ngepet itu menggigit.
__ADS_1
Setelah ikatannya kuat dan dirasa aman, akhirnya babi ngepet itu digotong oleh dua orang, yang paling depan adalah Jana sedangkan Dadun di belakang. mereka berdua terus berjalan menuju ke kampung Sukaraja dengan membawa hati yang sangat bahagia.
Berbeda dengan makhluk yang berada di dalam gotongan, hatinya terus menangis, batinnya terus mengumpat menyebut-nyebut nama sang pencipta. agar dia bisa ada dalam lindunganNya, karena sebenarnya dia tidak ingin berpisah dengan Eman, apalagi ketika tadi dia melihat Eman disiksa sampai pingsan, membuat air mata Ranti terus keluar tidak tertahan sama sekali, mungkin kalau dia bisa, dia ingin menangis sejadi-jadinya sampai uring-uringan, mengeluarkan rasa sedih yang memenuhi dadanya.