Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman

Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman
Tamat


__ADS_3

"Eh Dasar aki-aki, bukannya dari tadi tempatnya dirapikan malah ngelamun di ruang tamu. masa iya kita harus menunggu sambil menggotong seperti ini, kan capek." gerutu Jana yang terlihat kesal karena Mang Sarpu belum menyiapkan tempat penyimpanan untuk babinya.


"Sabar Jang Jana, Siapa tahu saja tidak lama," ujar Dadun menenangkan hatinya.


Tak lama diantaranya, Mang Sarpu keluar dari rumah menghampiri sang babi ngepet yang masih ada di pikulan. bukan cepat-cepat menguruskan atau memberikan arahan, dia hanya menatap melongok hatinya dipenuhi dengan keheranan karena melihat babi yang memiliki anting. khayalannya kembali teringat ke bah Abun yang menjadi sahabatnya.


"Lah kenapa Mamang malah cengok, buruan berat nih...!" ujar Jana mengagetkan.


"Oh iya...! ayo bawa ke rumah, Tapi lewat pintu Dapur, Kita simpan di kamar," jawab Mang Sarpu sambil berjalan duluan menuju ke arah dapur, diikuti oleh Dadun yang sedang menggotong sang babi.


Mereka pun masuk ke dalam dapur, istrinya Mang sarpu yang bernama Marni sedang menumbuk wijen di keblek, Lesung yang terbuat dari batu namun diameternya lebih kecil. matanya terlihat melongok dipenuhi dengan keheranan karena melihat babi yang dibawa ke dalam rumah, namun dia tidak berbicara, tidak pula menanyakan, hanya matanya saja yang membulat sempurna tangannya tetap memegang alu, wajahnya pun pucat pasi.


"Mau disimpan di kamar mana mang sarpu?" tanya Jana sambil melirik.


"Nah, nah, di kamar belakang saja, karena di kamar ini sangat aman karena tidak memakai jendela, jadi tidak akan ada orang yang mengintip dan sangat aman untuk menyimpan babi," jawab Mang sarpu sambil menunjuk kamar belakang yang pintunya sudah terbuka, di dalamnya terlihat gelap karena tidak memakai jendela. Sedangkan Marni istrinya Mang sarpu ketika dia mendengar ucapan suaminya dia pun menyanggah.


"Kang Sarpu, apa Akang sedang ngelindur atau sedang apa. coba bangun dari tidurnya! apa iya mau menyimpan babi di dalam kamar padi, Bagaimana kalau padinya nanti di injak-injak oleh babi, saya sangat tidak setuju, karena itu sangat menjijikan," jelas Marni sambil tetap menatap ke arah suaminya.


"Sudah tenang kamu jangan banyak berbicara, karena akang juga punya otak," jawab Mang sarpu sambil menepuk dahinya, matanya terlihat bercahaya melirik ke arah sang istri, membuat Marni menundukkan pandangan, merasa takut dengan tatapan suami yang penuh amarah.


Duk! duk! duk!

__ADS_1


Suara tumbukan alu yang sedang menumbuk wijen kembali terdengar, Marni melanjutkan kembali pekerjaannya namun hatinya yang sedang dipenuhi dengan amarah karena suaminya membawa seekor babi ke rumah. sehingga ketika menumbuk tidak menggunakan perhitungan, membuat alunya tidak tepat mengenai lobang, alu itu malah mengenai pinggirnya sehingga terpeleset kemudian membentur ke tulang kering kaki Marni.


Aduh! alah! aduh!


Marni terlihat meringis, kemudian dia pun menjatuhkan tubuh ke tanah, alunya dia lepaskan begitu saja, sehingga Alu itu jatuh menimpa seeng yang disimpan di atas tungku, airnya tumpah masuk ke dalam lubang Keblak. membuat tumpukan wijen itu tidak bisa ditolong lagi karena basah terendam oleh air, bahkan Marni sendiri tersiram sampai basah kuyup.


Melihat kejadian seperti itu mang sarpu pun terlihat kaget ia membagi mata ke arah istrinya dan ke arah babi yang sudah dibawa ke kamar, hingga akhirnya dia sangat gugup. dengan cepat Mang sarpu turun ke dekat tungku lalu mengambil alu yang tadi dilemparkan oleh istrinya.


"Ya ampun Kang sarpu, Apa kamu sudah gil4 atau bagaimana, Coba tolong istrimu bukan malah menolong Alu. dasar suami tamilung.....!" gerutu Marni yang terlihat meringis dipenuhi dengan kekesalan.


"Lupa, lupa....! Kenapa Akang bisa lupa, mungkin gugup." jawab Mang sarpu sambil mengambil pinggang seeng kemudian disimpan kembali ke atas tungkunya, sehingga membuat kedua tangannya terlihat hitam gosong oleh bekas pembakaran.


"Ampun Kang Sarpu, tolong istrimu Kang Sarpu! betis Marni terasa patah."


"Ada apa lagi kok pipi saya gatal banget Kang?" tanya Marni sambil mendekatkan wajah ke arah suaminya.


Tanpa Berpikir panjang Mang sarpu pun mengusap wajah istrinya. "bukan yang itu, tapi yang sebelahnya lagi." pinta Marni sehingga Mang sarpu pun mengusap kembali pipi sebelah kanan istrinya.


Mang sarpu tidak sadar kalau tangannya tadi dipakai untuk memindahkan seeng yang menghitam, sehingga membuat wajah Marni dipenuhi dengan gosong pembakaran dari seeng. setelah pipi istrinya tidak terasa gatal, mang Sarpu pun membantu Marni agar bisa duduk di pelupuh papan.


Istrinya terus meringis menahan sakit, dengan Sigap mang sarpu pun mengecek tulang kering yang terkena alu, setelah diperhatikan ternyata tidak ada yang mengkhawatirkan, mungkin Marni hanya kaget karena tadi dia sedang melamun.

__ADS_1


Setelah menolong istrinya Mang Sarpu naik kembali ke atas pelupuh, kemudian masuk ke kamar ingin menempatkan babi yang dibawa oleh Jana.


Sesampainya di dalam kamar, terlihat babi itu masih di Gotong karena Jana dan Dadun merasa bingung mereka harus berbuat apa.


"Turunkan saja...!" pinta Mang sarpu memberi komando.


"Turunkan bagaimana, nanti bagaimana kalau babi ini kabur?"


"Ujang harus percaya sama Mamang, soalnya babi ini tidak akan bisa melarikan diri, karena kakinya pasti akan kram, babi ini tidak akan bisa berjalan. dan Selain itu Mamang punya jampinya, jadi Ujang-Ujang harus percaya sama Mamang, babi ini pasti akan kembali lagi ke wujud asalnya, kembali ke bentuk manusia, tapi syaratnya tidak boleh ada yang mengintip, karena kalau ada yang mengintip pasti akan gagal." begitulah petuah Mang sarpu pembicaranya terlihat tegas dan serius.


Pembicaraan Mang sarpu terdengar jelas oleh Ranti, membuat hati babi ngepet itu merasa lega, karena sudah sejak lama dia ingin membuka baju jimat yang ia pakai, sekarang sudah ada orang yang siap dan sanggup membantunya, membuatnya menemukan Harapan Baru, untuk bebas dari semua Belenggu yang sedang ia alami.


"Ya sudah kang ayo turunkan, kita buka talinya...!" ujar jana memberi komando, dengan perlahan Mereka pun mulai menurunkan pikulan sehingga kaki sang babi bisa menapaki pelupuh. dengan sigap mangsarpu mengambil golok lalu memotong tali bambu yang mengikat babi, bahkan Dadun pun terlihat membantu, tapi hatinya merasa khawatir takut babinya mengamuk seperti tadiĀ  di jalan pulang, kemudian kabur melarikan diri.


Sangkaan kedua pemuda itu terbantahkan, Karena setelah talinya terlepas, babi itu terlihat terdiam tanpa melakukan apa-apa, seperti sudah sangat pasrah. karena babi itu sangat mengerti bahwa dia akan segera ditolong, pasti babi itu akan nurut. tubuh babi itu terlihat ambruk seperti apa yang dibicarakan oleh Mang sarpu, kakinya terasa lemas, tubuhnya terasa Ringsek tidak memiliki tenaga.


"Lihat Percaya nggak apa yang dibicarakan oleh Mamang?" tanya mang sarpu sambil menunjuk ke arah babi.


Jana dan Dadun mereka tidak menjawab, mereka hanya mengangguk-anggukan kepala menandakan bahwa mereka sangat percaya dengan apa yang disampaikan oleh Mang Sarpu


"Iya mang, saya percaya. terima kasih kalau seperti itu, tapi saya mohon dengan sangat, tolong sembuhkan babi ini. karena saya tidak mungkin kalau harus menikah dengan seekor babi, Saya ingin menikah dengan manusia yang bernama Ranti, silakan kerjakan kerahkan semua ilmu Mamang jangan sampai terganggu dan harus berhasil. satu lagi, Mamang tidak usah ragu atau bimbang masalah timbal balik saya sudah pikirkan," ujar Jana yang masih bersemangat pembicaraannya tegas dan meyakinkan.

__ADS_1


TAMAT


Lanjut Vol. 5 Sayembara Ranti


__ADS_2