Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman

Babi Beranting Vol. 4 Kisah Ranti Dan Eman
bab 22. Mampir


__ADS_3

Pemuda yang hendak membersihkan kebunnya, dia terus berlari, sesekali Dia terlihat meloncati rumpun-rumpun dan tempat-tempat yang membahayakan, hingga akhirnya dia tiba di kebun singkong. dia terus berlari menerobos agar cepat sampai ke rumahnya, namun sebelum sampai ke rumah dia harus melewati dulu warung Bi Salamah, yang berada di pertigaan jalan, di atas Kampung Sukaraja.


Orang yang berlari terlihat jelas oleh orang yang sedang berada di warung, membuat Salamah membulatkan mata memfokuskan pandangan.


"Hei kamu siapa...., kok berlari seperti itu, ada apa...?" tanya Salamah sambil memperpanjang leher, matanya tidak berkedip menatap orang yang sedang berlari. semakin lama semakin mendekat ke warungnya, sehingga dia pun sampai ke depan warung terlihat napasnya memburu, wajahnya dipenuhi dengan keringat, membuatnya semakin penasaran Akhirnya dia pun bertanya kembali.


"Eh ternyata Jang Jana, Ada apa Jang kok berlarian seperti itu?" Tanyanya sambil keluar dari warung menatap penuh penasaran ke arah Jana.


Yang ditanya pun berhenti, ternyata itu adalah Jana yang tinggal di kampung Sukaraja, temannya Dadun, dulu pernah berjalan dengan Mbah Abun ketika hendak menonton pertunjukan adu Babi di kampung Situ. "hah, hah, hah, hah....!" Janna tidak menjawab, Dia hanya mengatur nafas yang terlihat ngos-ngosan.


"Nah, kenapa kamu kayaknya seperti dikejar setan?" tanya Salamah semakin penasaran.


"Ada yang aneh Bi, ada yang aneh Bi, ada yang aneh....!" jawab Jana yang masih belum bisa mengatur nafasnya sambil mengusap keringat yang ada di wajah.


"Aneh Bagaimana Jang?"


Jana yang awalnya mau pulang ke rumah, Akhirnya dia masuk ke dalam kanopi warung, kemudian duduk di bangku panjang, merasa capek dia ingin beristirahat terlebih dahulu. melihat orang yang ditanya seperti itu, Salamah tidak bertanya lagi, seperti yang mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh Jana.


Salamah pun masuk ke dalam warungnya. tak lama dia pun kembali sambil membawa air teh satu gelas. "takut Ujang kesambet, mendingan Ujang minum dulu...!" ujar Salamah sambil mendekatkan gelas minum kepada Jana.

__ADS_1


"Lah, Bibi kok berbicaranya seperti itu, saya tidak apa-apa bi, Saya hanya kaget sedikit, takut ada apa-apa." jawab Jana sambil meneguk air yang berada di dalam gelas.


Glek! glek! glek!


Jakun Jana terlihat naik turun seperti sangat kehausan, wajahnya pucat sedangkan Salamah dia pun duduk di sampingnya.


"Maaf Ujang, sebenarnya Ada apa ini, Kenapa harus sampai berlari seperti itu, Tadi Ujang bertemu apa ketika di kebun, Coba tolong kasih tahu Bibi?" tanya Salamah setelah melihat Jannah tidak terlalu capek.


"Haduh Bi, Saya mau laporan kepengurus kampung, Soalnya di kebun ada yang tidur berdua, tapi, tapi, tapi " jawab Jana sambil celingukan, matanya terlihat beringas seperti elang, wajahnya pucat membuat Salamah semakin merasa penasaran.


"Kalau ada apa-apa, Coba tolong cepat kasih tahu Bibi! Siapa tahu saja Bibi bisa membantu, Ayo kasih tahu Bibi....!"


"Ada orang tidur bareng bersama babi..., Ah yang bener Ujang?" tanya Salamah seolah tidak percaya.


"Lah, bener lah Bi....! kalau tidak percaya tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa, saya mau lapor sama Pak RT, takut ada kejadian yang tidak diinginkan, takut dimintai pertanggungjawaban." jawab Jana sambil bangkit dari tempat duduknya, dia mau melanjutkan perjalanan ke kampung Sukaraja yang berada di bawah warung Salamah.


"Sebentar dulu Ujang, Jangan tergesa-gesa dulu. nanti kamu bisa celaka, nanti kamu juga akan menyesal di kemudian hari. karena Penyesalan tidak akan datang duluan, paling cuma satu yang menyesal duluan ketika menuntun domba." tahan Salamah diselingi dengan bergurau sambil memegang tangan Jana.


"Maksudnya bagaimana Bi?" tanya Jana sambil melirik ke arah Salamah sambil duduk kembali.

__ADS_1


"Iya kalau menuntun domba, Bagaimana kalau di tubruk pantatnya, itu kan menyesalnya berjalan duluan."


"Lah Bibi kok ngebodor, Mending kalau lucu. ini dingin kayak es," ujar Jana yang terlihat mendengus.


"Sudah Jangan bahas itu! selain itu apalagi yang terlihat aneh?" tanya Salamah kembali ke pokok permasalahan.


"Saya melihat babi itu berbeda dengan babi yang lain, telinganya memakai anting, bulunya sangat lembut bahkan bulu matanya juga terlihat lentik, tidurnya tengkurap."


"Nah, nah, nah, apa nggak salah dengar, kalau babi itu memakai anting?"


"Benar Bi, Saya sangat yakin bahwa babi itu memakai anting. Kenapa Ibi seperti orang yang terlihat kaget?"


"Hei Jang Jana, Makanya jadi orang jangan tergesa-gesa, nanti bisa menyesal dan kecewa dan bisa celaka dengan tingkah laku sendiri. sekarang begini saja, Bibi mau bertanya. Tadi Ujang Mau melakukan apa pulang ke kampung?"


"Ah, Bibi terlalu banyak bertanya. iya saya mau pulang ke rumah."


"Begini Jang Jana, Bibi sudah mendengar berita, bahkan Ujang juga, Bibi yakin sudah mendengar juga, bahwa di kampung Ciandam ada orang yang mengadakan sayembara yang dibuat oleh Mbah Abun. beberapa tahun ke belakang Dia pernah bertamu ke rumah Mang sarpu. menurut keterangan yang bibi dapat, Mbah Abun memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik, tapi sekarang anak gadis Bah Abun sedang tidak ada di rumahnya, sudah lama pergi dari rumah. sehingga Mbah Abun membuat sayembara, Barang siapa yang bisa menemukan maka akan dinikahkan sama anaknya, ditambah harta benda yang tidak sedikit. menurut keterangan yang lain, bahwa anaknya Mbah Abun menjadi babi, jadi Bagong, jadi celeng, jadi babi jadi-jadian, yang sekarang sedang dicari oleh orang-orang. cirinya babi itu memiliki anting di telinganya. bahkan sempat ditemukan oleh Jang Galih orang Ciandam, namun tidak bisa dimiliki karena direbut kembali oleh yang punya. Nah, dari dasar itu Jang Jana kamu tidak boleh bodoh, siapa tahu saja itu rezeki Ujang. coba pikirkan...!" ujar Salamah sambil melengkapi pembicaraannya dengan pergerakan tangan memberitahu Jana tentang sayembara. sebenarnya Jana sudah tahu, soalnya berita sudah menyebar ke seluruh penjuru kampung, menjadi pembicaraan hangat di setiap warga.


"Holoh...! apa jangan-jangan benar Yah Bi, Kalau babi itu adalah babi anaknya Mbah Abun, tapi bagaimana caranya karena ada orang yang memiliki?"

__ADS_1


"Jangan bodoh kamu Jang. kamu harus kembali ke Saung, kalau mereka masih ada. babinya kamu ikat pakai tali bambu, sedangkan pemiliknya Ujang kalahkan kemudian ikat ke Saung. beres kan, Ujang tinggal membawa babi ke kampung Ciandam, untuk disetorkan sama Mbah Abun. Bagaimana mudah kan, untuk mendapatkan seorang putri yang sangat cantik dan harta yang tak terhingga. bodoh ih....!" ujar Salamah mengompori yang tidak benar, menyeru perbuatan yang tidak terpuji ke orang lain memotivasi untuk melakukan kejahatan.


__ADS_2