Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 1


__ADS_3

Gara-gara mimpi mengerikan dan beberapa hari tidak bisa tidur sama sekali. Hafsha berpikir mungkin itu teguran dari Tuhan agar dia memperbaiki diri. Akhirnya terbesit dalam benaknya untuk berhijrah, dan sejak saat itu juga Hafsha langsung merealisasikannya.


🌸🌸🌸


Geger.


Semua mata menyelidik menatap Hafsha dari ujung kepala hingga kaki. Sebagian ada yang terbengong keheranan dan sebagian lagi kasak-kusuk berbisik. Ada pula yang mencebik. Geli.


Bagaimana tidak heboh? Seorang Hafsha yang biasanya berpenampilan modis dan seksi serta menor. Mendadak hari ini berpenampilan sederhana, serba panjang dan mengenakan hijab.


Terlebih anggota gengnya. Sangat syok dengan perubahan penampilan Hafsha yang secara tiba-tiba itu. Bagimana tidak? Sebelumnya Hafsha tidak ada bicara sama teman-temannya kalau dia akan berhijrah.


"Oh, emji, ji ... jiii!" pekik Tasya. Kemudian membungkam mulutnya sendiri yang mangap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pun dengan Ranty, Sela, Lena, semua bergeming menatap Hafsha dengan tatapan aneh.


Lena menarik lengan Hafsha kemudian memutar tubuh ketua gengnya itu. "Iyuuuuh, ini beneran elo, Sha?"


"Elo kerasukan setan apa sih, Sha? Kok aneh banget penampilan lo hari ini?" Sela nyengir merasa aneh dengan perubahan penampilan sahabatnya.


"Tau ..., gak banget deh, penampilan lo hari ini Sha," sahut Ranty.


"Parah, parah, parah. Sumpah penampilan elo hari ini kacau parah!"  Tasya memutari seraya mengamati tubuh Hafsha dari ujung kepala hingga kaki. Kemudian menggeleng kecewa.


"Sha, elo salah makan apa selama libur panjang kemarin? Elo masih waras 'kan?" Sela menempelkan punggung tangannya pada kening Hafsha.


Hafsha hanya tersenyum kecil. Kemudian berlalu masuk ke kelas meninggalkan ke empat sahabatnya yang masih berkerumun sambil berbisik di teras sekolah.


"Hafsha kenapa sih, kok jadi aneh gitu?" Lena menatap sahabatnya satu persatu. Sementara yang lain hanya menggeleng. Bingung.


"Ya sudah, kita masuk yuk!" ajak Ranty.


Sesampainya di dalam kelas Ranty kembali menginterogasi Hafsha. "Sha, lo kenapa mendadak merubah penampilan jadi kek gini sih?"


"Iya, jadi aneh tau gak, penampilan elo, Sha." Lena turut nimbrung.


"Kayak ibu-ibu mau pengajian," imbuh Tasya.


Sementara Sela hanya diam mengamati Hafsa dengan tatapan menyelidik. Keheranan.

__ADS_1


Hafsha menghela napas pajang lalu mengembuskannya perlahan. "Aku ...,"


"Whaaat?!" pekik Sela mengagetkan semua yang ada di dalam kelas.


Ranty yang duduk tepat di samping Sela, reflek memukul bahu Sela. "Lo gila ya, isi kuping gue ampe keluar semua tau gak?" Sambil memasukkan telunjuk ke lubang telinga.


"Yee, harusnya elo berterima kasih sama gue. Karena apa? Karena elo gak perlu susah-susah beli cotton bud. Ya, gak?" Sela mengarahkan pandangannya pada semua temannya.


"Auk ah," sahut Lena. Memutar bola mata, kesal.


"Terus lo ngapa tadi teriak-teriak? What whet ... what whet?" Tasya juga kesal.


"Gue jijay sama gaya bicara Hafsha. Bukan cuma penampilannya aja yang berubah. Tapi, cara ngomongnya juga. Geli gue dengernya. Biasanya pake elo gue. Tetiba dia bilang 'aku'  iyuuuuuh. Jijay!" cerocos Sela.


Belum sempat Hafsha menjelaskan tentang alasan perubahan penampilannya. Chelsea and the geng datang dan langsung tertawa terbahak setelah melihat penampilan Hafsha.


"Ini sekolahan kuy, bukan masjid. Elo mau sekolah apa mau pengajian," ejek Chelsea setelah puas tertawa.


"Temenmu kesambet setan penghuni pohon mana?" imbuh Leta seraya menoel bahu Tasya. Lantas ke-empatnya kembali terbahak.


"Sudah-sudah, nanti kuwalat lho, kalau terus-terusan meledek ibu hajah Hafsha yang terhormat," sambung Leoni. Lantas geng Chelsea pun keluar kelas setelah menaruh tasnya di atas meja masing-masing. Masih sambil menertawakan Hafsha.


"Kok malah amin. Aduh ampun Shaaa, Shaa!" Ranty menepuk jidatnya. Geram.


"Ya, aamiin semoga suatu saat aku bisa beneran jadi ibu hajah yang terhormat," jawab Hafsha dengan santai.


"Aduh udah deh, pokoknya kita gak mau tahu. Besok elo gak boleh pake pakaian model kek gini lagi." Sela memegang jilbab Hafsha sambil nyengir geli.


"Iya, gue setuju sama Sela. Penampilan elo itu malu-maluin tau gak?" Ranty sepakat, pun dengan Lena dan Tasya.


"Gaes, ini pakaian yang seharusnya kita kenakan sebagai seorang muslimah yang sudah akil balig. Hijab itu kewajiban bukan pilihan. Dan mulai sekarang aku ingin belajar taat pada setiap perintah Allah."


Ke-empat sahabat Hafsha menggeleng tak mengerti dengan penjelasannya.


"Sudah saatnya kita memperbaiki diri. Mulai sekarang ayo kita taubat!" sambung Hafsha seraya menyentuh bahu Ranty.


"Yaelah, lagak lo Sha. Kita masih muda. Santuy kali. Tobat mah, entar kalau udah tua," jawab Ranty dan diangguki oleh Sela, Lena dan Tasya.

__ADS_1


"Ya, gue setuju sama Ranty," sahut Tasya.


"Yakin, umur kita sampe tua?" tekan Hafsha seraya menatap ke empat sahabatnya satu persatu secara intens.


"Haaah!" Lena mengibaskan tangannya masa bodoh. "Pokoknya kalau besok elo masih berpenampilan kek gini gue ogah temenan sama lo lagi, Sha."


"Gue juga ogah. Malu-maluin tau gak, Sha." Ranty sepakat, pun dengan Tasya dan Sela.


"Pokoknya kita gak mau tahu, elo besok harus ganti penampilan kembali kek kemarin-kemarin. Jangan kek gini, geli gue lihatnya," pungkas Tasya. Lantas semua pergi meninggalkan Hafsha seorang diri di kelas.


Selang beberapa saat masuk tiga orang cowok teman sekelasnya untuk menaruh tas. Ketiganya melirik Hafsha sedemikian rupa.


"Kayaknya si Hafsha kesambet setan dari pulau tempatnya berlibur saat liburan panjang kemarin," bisik salah satu dari mereka. Namun terdengar jelas di telinga Hafsha. Ketiga cowok itu lanjut cekikikan. Tertawa geli melihat penampilan Hafsha.


🌸🌸🌸


"Ya ampun, Shaaa ..., udah dibilang jangan berpakaian seperti ini, masih juga dipake!" seru Lena. Ketika mendapati Hafsha masih mengenakan pakaian seperti hari kemarin.


"Auk, ihh." Sela nyengir geli. Lantas semua meninggalkan Hafsha seorang diri.


Saat Hafsha mendekat semua teman gengnya menghindar.


Jam istirahat kedua bertepatan dengan waktu salat zuhur.


"Ke kantin yuk!" ajak Lena diangguki oleh Ranty, Sela dan Tasya.


"Ini kan sudah waktunya zuhur. Sebaiknya kita salat zuhur dulu gaes. Yuk!" ajak Hafsha.


"Ck, kalo elo mau salat, sana salat. Jagan ngajak kita. Ribet banget sih, hidup elo Sha." Tasya bersungut sebal, pun dengan yang lain. Lantas meninggalkan Hafsha seorang diri lagi.


"Astaghfirullah hal'adzim, ampuni dosaku dan juga dosa teman-teman hamba, Ya Allah." Hafsha menunduk sedih. Lalu ke musala yang berada di samping sekolah untuk melaksanakan salat zuhur seorang diri.


Usai salat ia berdiam diri di dalam musala menunggu bel tanda masuk sambil menghafalkan surah pendek yang diajarkan oleh ustaznya. Serta mengaji dan menghafal huruf hijaiah dari aplikasi yang ada di dalam ponselnya.


Begitulah keseharian Hafsha sejak berhijrah ia lebih sering menghabiskan waktu istirahat sekolahnya untuk belajar mendalami agama dengan cara menonton kajian islami dari youtube. Serta membaca buku kisah islami di perpustakaan.


Semua teman gengnya mulai jengah dengan perubahan sikap Hafsha. Banyak juga yang berbisik mengolok Hafsha. Ia dituduh masuk aliran sesat dan lain sebagainya.

__ADS_1


Semua temannya menjauh berbagai tuduhan buruk dilontarkan padanya sehingga membuat iman Hafsha goyah.


B E R S A M B U N G


__ADS_2