
Benar saja, saat semua murid sudah masuk kelas dan duduk di tempat masing-masing. Seorang guru yang bernama Bu Astuti masuk bersamaan dengan seorang anak laki-laki berkacamata dengan postur badan tinggi kerempeng, kulitnya hitam manis, terdapat lesung pipit di kedua sisi pipinya saat tersenyum. Mirip seperti artis Afgan.
Bu Astuti mempersilakan murid baru itu untuk berdiri di depan kelas memperkenalkan diri kepada semua murid kelas dua SMA Nusa Bangsa. Murid baru dengan gaya kahsnya yang ramah mengangguk.
Lantas memperkenalkan diri sesuai titah sang guru. Remaja lelaki berkacamata itu tampak grogi. Terlihat dari ucapannya yang beberapa kali tergagap.
"Asalamu'alaikum, se-semuanya. Pe-perkenalkan nama s-saya, Hafiz," ucap murid baru itu yang ternyata memiliki nama Hafiz.
"Wa'alaikumssalam, hai, Hafiz," balas semua murid nyaris bersamaan.
"Saya pindahan dari sebuah desa terpencil yang ada di jawa timur sana. Saya bisa sekolah di sini karena bea siswa," jelas Hafiz kemudian. Sementara semua murid di dalam kelas bernuansa putih itu menanggapi penjelasan Hafiz dengan anggukan, paham. Ada pula yang kasak kusuk berbisik membicarakan tentang manisnya paras remaja berlesung pipit itu.
"Kalau dapat bea siswa berarti kamu anak pintar dong!" pekik salah satu siswa.
Mendengar celetukan salah satu siswanya itu. Bu Astuti turut menjelaskan siapa dan bagaimana sosok Hafiz, murid barunya itu. Bahwa Hafiz sosok yang baik dan berprestasi di sekolahnya terdahulu.
Setelah prosesi perkenalan dirasa cukup, Bu Astuti mempersilakan Hafiz untuk duduk. "Silakan duduk di sana, Fiz!" titah Bu Astuti seraya menunjuk arah bangku kosong yang terletak di sudut kelas.
Hafiz mengangguk lalu duduk di bangku tersebut. Kemudian mempersiapkan alat tulisnya, dan semua pun mengikuti mata pelajaran yang diajarkan oleh Bu Astuti dengan khidmad.
Setelah hampir dua jam berkutat di dalam kelas dengan pelajaran yang menguras pikiran dan energi. Kini tiba masanya untuk istirahat. Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Hafsha memutuskan pergi ke musala untuk melaksanakan salat duha.
Tak dinyana Hafiz sudah di sana, di dalam musala tengah melaksanakan salat duha.
"Masyaaallah," gumam Hafsha, kagum melihat kesalehan Hafiz.
Hafsha sungguh tak menyangka ternyata di era milenial ini di tengah-tengah desas desus kenakalan remaja yang perilakunya na'udzubillah semakin tak terkendali, masih ada Hafiz seorang remaja yang saleh.
Sepersekian detik Hafsha tertegun di ambang pintu musala seraya mengamati punggung Hafiz yang tengah khusuk dengan bacaan salatnya.
"Astaghfirullah hal'adzim, jaga mata Hafsha," desisnya. Seraya berusaha menyadarkan diri sendiri dari lamunan. Kemudian bergegas masuk ke musala, ke bilik wanita lantas melaksanakan salat duha.
Saat Hafsa tengah menengadahkan kedua telapak tanganya hendak melantunkan do'a terdengar suara Hafiz tengah mengaji. Merdu sekali.
"Masyaa Allah, dia juga pandai mengaji ternyata," desisnya. Sehingga urung melantunkan do'a, dan malah mendengarkan Hafiz mengaji dari balik tirai penyekat. Hafsha hanyut mendengar Hafiz membaca surah Ar-Rahman dengan begitu merdunya. Sampai-sampai Hafsha menitikkan air mata.
Apa lagi saat Hafiz sampai pada ayat ke tigabelas yang bunyinya.
(fa bi'ayyi aalaaa'i robbikumaa tukazzibaan.)
Artinya .... (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Air mata Hafsha semakin menderas mengingat begitu banyak nikmat Tuhan yang seharusnya ia syukuri tapi, justru Hafsha lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Hafsha merasa malu kepada Tuhan.
Hafsha menunduk sambil membungkam mulutnya agar isakkannya tak terdengar oleh Hafiz.
__ADS_1
Hingga tak terasa bacaan Hafiz sudah sampai di akhir ayat. Yakni ayat tujuh puluh delapan.
(tabaarokasmu robbika zil-jalaali wal-ikroom.)
Artinya .... (Maha Suci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.)
Setelah itu suara Hafiz tak terdengar lagi. Sementara Hafsha masih bergeming air matanya tak mau berhenti mengalir.
Kemudian Hafsha menghela napas pajang dan mengembuskannya perlahan. Setelah ketenangan dalam jiwanya kembali, Hafsha langsung bergegas masuk ke kelas.
Deg!
Ternyata Hafiz sudah di sana juga, sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku. Hafsha ragu hendak masuk ke kelas. Lagi-lagi ia tertegun di ambang pintu.
Tak lama kemudian Chelsea datang dan langsung menepuk bahu Hafsha. Sehingga Hafsha terlonjak kaget, sadar dari lamunannya.
"Astaghfirullah hal'adzim, ngagetin aja kamu Chels," ucap Hafsha setengah berbisik. Sehingga mengundang kerutan samar di dahi Chelsea. Gadis berperawakan tinggi semampai dengan kulit putih bersih, hidung mancung, bibir merona, rambut lurus panjang sepinggang itu keheranan melihat tingkah aneh Hafsha.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Chelsea, netranya mengikuti ke mana arah mata Hafsha melihat.
"Oh, itu to, yang menarik perhatianmu. Hmmm," goda Chelsea sambil menyikut lengan Hafsha.
"Apaan sih," kilah Hafsha seraya membenarkan jilbabnya, grogi.
"Apaan sih, ciya ciye, kham khem, gak jelas banget," omel Hafsha dengan nada berbisik.
"Kamu suka ya, sama Hafiz?" tanya Chelsea dengan nada berbisik.
Hafsha memutar bola mata jengah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu duduk di bangkunya disusul oleh Chelsea.
Mendengar ada yang datang, Hafiz menaruh bukunya di atas meja lantas melihat ke arah Hafsha dan Chelsea sambil menyunggingkan senyum ramah. Hafsha juga tersenyum ke arah Hafiz sambil mengangguk pelan. Sementara Chelsea hanya diam mengamati tingkah sahabatnya dengan murid baru itu yang terlihat saling dilanda rasa grogi.
"Kenapa dengan mereka?" gumam Chelsea. Kemudian duduk di bangku samping Hafsha lalu bermain ponsel sambil menunggu bell tanda masuk berbunyi.
Sementara Hafsha hanya duduk terdiam. Sambil sesekali melirik ke layar ponsel milik Chelsea yang tengah menonton drama Korea.
***
Seperti biasa setelah jam sekolah selesai, Hafsha selalu berdiri di depan gerbang sekolah menunggu mobil jemputan. Pun dengan Chelsea.
"Itu mobil jemputan aku sudah datang. Aku duluan ya, Sha," ucap Chelsea. Lalu pergi masuk ke mobilnya setelah memeluk dan cipika cipiki dengan Hafsha.
"Iya. Hati-hati Chels," sahut Hafsha seraya melambai ke arah mobil Chelsea yang sudah mulai melaju meninggalkan dirinya.
"Hufh, Pak Dadang mana sih, kok belum datang juga," gumam Hafsha seraya celingukan.
__ADS_1
"Asalamu'alaikum," ucap seseorang dari arah belakang Hafsha berdiri.
Hafsha menoleh ke belakang, melihat siapa pemilik suara. Ternyata dia si murid baru, Hafiz.
"Wa'alaikumsalam," balas Hafsha dengan nada lirih hampir tak terdengar di telinga Hafiz.
Senyum Hafiz yang menampakkan lesung pipit di kedua sisi pipinya membuat Hafsha tertegun.
"Manis," desis Hafsha tanpa sadar.
"Ma-manis, apanya yang manis?" tanya Hafiz tak mengerti. Sehingga keningnya mengkerut samar.
"Astaghfirullah hal'adzim, jaga mata, jaga hati, Sha," gumam Hafsha seraya menundukkan pandangannya.
"Ma'af," ucap Hafsha kemudian.
Hafiz hanya mengangguk pelan dalam hatinya masih bertanya-tanya akan keanehan sikap gadis yang kecantikannya mendekati sempurna yang sedang berdiri di depannya itu.
"Oh, ya, kamu pasti sudah tahu namaku kan. Tapi aku belum tahu siapa namamu. Boleh saya tahu namamu?" tanya Hafiz seraya menangkupkan tangannya di hadapan Hafsha.
"Eum, nama saya Hafsha,"
"Hafsha, nama yang bagus," puji Hafiz.
"Terima kasih," balas Hafsha. Masih sambil menunduk.
Tak lama kemudian banyak teman sekelas Hafsha dan Hafiz terutama para ceweknya yang mendekat ke arah mereka berdiri. Para siswi itu berusaha menarik perhatian Hafiz. Ada yang menawari tumpangan, ada yang mengajak makan siang, ada pula yang menawari Hafiz, untuk bertandang ke rumah salah satu siswi.
"Terima kasih untuk semua tawarannya," balas Hafiz seraya menangkupkan tangannya di hadapan para cewek yang mengerumuni dirinya.
"Saya duluan. Mobil jemputan saya sudah datang," pamit Hafsha seraya melambaikan tangan pada Hafiz. Namun, tampaknya Hafiz tak mendengar. Suara Hafsha tersamarkan oleh suara cewek yang riuh memperkenalkan diri serta berebut menarik perhatian Hafiz.
Hafsha tersenyum geli melihat bagaimana para cewek itu mengerumuni Hafiz. Hafsha cekikikan di samping mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan gerbang sekolah.
"Ma'af, jangan sentuh saya, kita bukan mahram," ucap Hafiz saat ada yang hendak menarik lengannya. Kemudian berlalu menjauh dari kerumunan para gadis sebayanya itu. Hafiz terlahir di dalam keluarga yang paham agama. Makanya tak heran jika dia sedikit banyak memahami batasan dan adab dalam bergaul dengan lawan jenisnya, akhwat.
Hafsha tersenyum kagum mendengar ucapan Hafiz itu. "Masyaa Allah," ucapnya, lalu masuk ke dalam mobil, dan meminta Pak Dadang untuk melajukan mobilnya.
N
E
X
T
__ADS_1