
[Lebih baik dihina dalam ketaatan daripada dipuji dalam kemaksiatan.] #BAZ
❇🍁❇
Sempat berpikir untuk melepas jilbab dan kembali seperti dulu saat Hafsha merasa kesepian. Semua teman gengnya pergi menjauh dan kini malah bergabung dengan geng Chelsea karena merasa muak terus dan terus diajak oleh Hafsha untuk bertaubat.
Orangtua Hafsha sibuk, semua teman-teman menjauhinya, pun dengan para tetangga. Saat melihat perubahan Hafsha yang begitu cepatnya sebagian ada yang takut. Namun, sebagian ada yang turut bahagia dengan berubahnya sikap serta penampilan Hafsha.
Hafsha mondar mandir di balik pintu kamar saat hendak berangkat ke sekolah. "Duh, gimana ya, apa aku lepas hijab saja? Rasanya kok berat banget ya, sepi. Dijauhi semua teman-teman. Belum lagi saat mendengar hujatan mereka yang semakin tak terkendali," gumamnya. Saat pikiran buruk itu kembali menghantuinya.
"Enggak. Aku gak boleh kalah sama bisikan setan ini. Hafsha, kamu harus kuat!" Ia mencoba menguatkan diri sendiri seraya memejamkan mata dan memegang dada. Berharap kebimbangan yang mengguncang keimanannya sirna. Namun, tidak ia malah semakin bingung. Terus bermonolog sendiri di balik pintu kamar.
"Lepas jilbab aja kali ya? Eum, jangan Hafsha! Tapi ...."
Di tengah kebingungan Hafsha memutuskan untuk minta wejangan pada ustaznya. Lantas ia mengirim pesan via WhatsApp meminta saran bagaimana caranya agar hatinya kembali tenteram.
[Asalamu'alaikum, Ustaz? Afwan mengganggu pagi-pagi begini. Hafsha kembali dilanda kegalauan. Keinginan untuk melepas hijab kembali menghantui. Apa yang harus Hafsha lakukan, Ustaz?]
Hafsha antusias menunggu balasan pesan dari Ustaz. Setelah dua centang yang semula berwarna abu-abu berubah warna menjadi biru, dan terdapat notif bahwa sang ustaz sedang mengetik.
Benar saja tak lama kemudian pesan dari ustaz masuk dan langsung dibaca oleh Hafsha.
[Wa'alaikumsalam. Tidak mengganggu kok. Kebetulan ini lagi santai. Kalau saran saya, jangan sampai lepas hijab. Kamu harus kuat dan berusaha menepis pikiran buruk itu.]
Hafsha masih belum tenang hatinya. Lagi, ia mencurahkan uneg-uneg yang masih mengganjal di hati.
[Tapi Ustaz, sejak saya mengenakan hijab semua sahabat dan teman-teman saya, menjauhi saya. Saya ndak sanggup, Ustaz. Saya merasa sendirian.]
__ADS_1
[Salah satu bentuk cinta Allah kepada kita adalah menjauhkan kita dari orang-orang yang tidak baik untuk kita. Meskipun kita sangat mencintainya.]
Usai membaca balasan dari sang ustaz hati Hafsha mulai sedikit tenang.
[Bahagia itu soal jiwa. Bukan semata-mata bersama. Jika kamu merasa sepi, merasa sendiri. Ingatlah bahwa ada Allah yang selalu ada untukmu.]
Hafsha mengangguk paham. Kini hatinya yang semula goyah kembali tenteram dan keyakinannya untuk meniti jalan hijrah kembali menguat.
[Alhamdulillah. Sekarang hati saya sudah jauh lebih tenteram. Terima kasih Ustaz, atas waktu dan nasehatnya. Wasalamu'alaikum.]
[Sama-sama. Wa'alaikumussalam.]
Lantas Hafsha berangkat ke sekolah dengan wajah sumringah dan hati mantap.
❇❇❇
"Sha, ini undangan buat elo. Datang, ya!" pinta Lena, seraya menyodorkan sebuah undangan.
"Undangan apa ini, Len?"
"Itu undangan perayaan ulang tahun gue. Jangan sampe gak dateng, ya!" Penuh harap Hafsha bisa datang ke acara pesta ulang tahunnya. Dengan itu Lena berharap hubungan persahabatan yang ia rajut sejak SMP bisa kembali terjalin.
"Eum, Insyaa Allah, Len. Aku ndak bisa janji dan kemungkinan aku ndak bisa datang."
"Ah, elo emang udah gak asik lagi, Sha." Lena meninggalkan Hafsha sambil bersungut sebal. Kecewa.
"Ma'afkan aku teman, kalau aku tak seasik dulu," gumamnya.Hafsha menunduk sedih mengamati undangan ulang tahu yang ada di tangannya.
__ADS_1
Duduk di kursi panjang yang terletak di teras sekolah. Hatinya kembali goyah saat teringat Keseruannya bersama teman-temannya ketika menghadiri perayaan ulang tahun Sela tahun kemarin. Sebelum ia berhijrah. Di sana ia party sampai pagi, ketawa-ketiwi bersama. Kenangan indah itu menari-nari di ingatannya.
Sehingga timbul pikiran untuk kembali melakukan hal itu bersama teman-temannya.
"Tidak. Aku gak boleh datang ke acara kayak begitu. Acara seperti itu kan banyak mudaratnya. Lagipula tambahnya umur itu sejatinya bukan untuk dirayakan melainkan harus banyak merenung dan introspeksi diri. Bertambahnya umur itu artinya semakin mendekatkan kita dengan ajal, bukan?" Hafsha bergumam seraya menatap lurus ke depan.
Kemudian ia terbengong. Dilema. Di sisi lain ia berusaha untuk mendidik dirinya sendiri untuk taat terhadap perintah Allah. Menjauhi apa yang sekiranya tidak bermanfaat baginya. Di sisi lain jiwanya berontak ingin kembali seperti dulu. Ia rindu kebersamaan saat bersama teman gengnya.
Hijrah itu mudah yang sulit dan berat itu istiqomahnya.
Istiqomah berarti kukuh dalam aqidah konsisten dalam beribadah.
Berat.
Iman seseorang bagaikan permainan jungkat jungkit. Kadang naik, kadang turun.
Seberat apapun itu kita harus berusaha mempertahankannya. Sulit. Memang. Tapi, kita harus bisa. Bismillah.
Hafsha menghela napas pajang berharap sesuatu yang mengganjal dalam dada terlontar keluar, dan ia kembali tenteram. Ber-istighfar dalam hati menjadi pilihan untuknya menenteramkan diri.
"Hei, jangan melamun! Nanti kesambet lho!"
Hafsha menoleh ke arah sumber suara. Ia mangap tak percaya saat melihat siapa yang kini duduk di sampingnya. Hatinya bertalu tak menentu.
Next
⬇⬇⬇
__ADS_1