Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 8


__ADS_3

>>>>>>>>>>


"Kamu kenapa, Nak? Kayaknya lagi banyak pikiran, ya?" ucap wanita paruh baya yang duduk di samping Hafsha dengan nada lembut keibuan. Hafsha hanya mengulas senyum. Merasa canggung. Batinnya gemuruh. Pertanyaan demi pertanyaan timbul di dalam benaknya. Akan siapa sosok wanita asing yang sok kenal dan sok dekat dengannya itu.


"Oh, ya, nama saya Mareta. Panggil saja tante Reta!" ucap si wanita asing, sambil mengulurkan tangan seolah menjawab kebingungan Hafsha.


Hafsha pun mengangguk hormat lalu menjabat tangan Mareta, dan menyebutkan namanya juga. Senyum tulus, serta sorot mata teduh, dan sentuhan lembut Mareta mampu membuat Hafsha laksana terhipnotis. Sehingga gadis berjilbab itu langsung merasa nyaman curhat dengan Mareta, wanita yang baru saja dia temui untuk pertama kalinya.


Keduanya larut dalam obrolan hangat layaknya sahabat. Bercerita tentang banyak hal. Sampai obrolan kambali ke topik utama. Saat wanita paruh baya itu melihat  sorot mata Hafsha yang sendu seolah sedang memikul beban hidup yang berat. Mareta bertanya ada apa? Serta membujuk Hafsha agar mau berbagi cerita dengannya.


Lantas Hafsha pun akhirnya menceritakan semuanya perihal niatnya hendak menjual rumah juga kondisi ibunya.


"Lha, memamgnya di mana ayahmu?" tanya Mareta, penasaran.


"Ayah saya menghilang dalam tragedi kecelakaan kapal tenggelam, Tante," balas Hafsha. Wajahnya mendadak murung. Terlihat jelas begitu besar kerinduannya terhadap sosok sang ayah.


Mareta mengusap bahu Hafsha berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan. "Yang sabar ya, ma'af, tante sudah membuat kamu jadi ingat tragedi yang mungkin ingin kamu lupakan."


"Iya, gak apa-apa, Tan."


"Eum, omong-omong kamu ada foto rumahnya? Tante boleh lihat?" tanya Mareta memecah keheningan. Setelah sebelumnya keduanya saling diam.


"Oh, ada Tan, sebentar!" balas Hafsha, seraya merogoh ponsel yang ada di dalam tas slempang miniya. Lalu menunjukkan foto yang ada di galeri ponselnya, dan menjelaskan seluk-beluk rumahnya.


"Terus kalau rumahnya sudah terjual, nanti kamu sama Mamamu mau tinggal di mana?" tanya Mareta, seraya melirik gadis berjilbab yang duduk di samping kirinya itu.


Hafsha menghela napas pajang lalu mengembuskannya perlahan. "Entahlah Tan, mungkin aku bakal cari kontrakan kecil kalau uang penjualan rumah nanti ada sisa setelah buat bayar biaya pengobatannya Mama."


Mareta mengangguk-angguk. Keduanya kembali terdiam.


"Lantas bagimana reaksi Mama kamu nanti setelah tahu rumahnya dijual. Apa kamu yakin gak berdampak buruk buat kesehatannya?"


Hafsha termenung sejenak mendengar ucapan Mareta. "Aku gak kepikiran sampai sana, Tan." Mareta mengangguk-angguk lagi lalu keduanya kembali terdiam.


"Aku juga bingung banget Tan, kalau gak jual rumah terus dari mana dapat biaya untuk pengobatan Mama. Mana jumlahnya bukan hanya ratusan ribu, tapi puluhan juta. Tapi bener juga apa kata Tante, nanti bagaimana aku menjelaskan padanya, dan bagaimana kalau setelah  tahu rumahnya aku jual terus Mama malah anfal."


Lagi, Mareta mengusap bahu Hafsha menyalurkan kekuatan.


"Begini saja, nanti biaya rumah sakit Mamamu, biar tante yang bayar. Kamu mau ya, terima bantuan dari tante!" ucap Mareta, seraya menggenggam jemari Hafsha.


"Tapi Tan, kita kan baru kenal. Apa Tante yakin mau bantu? Lagipula Hafsha gak mau merepotkan Tante," balas Hafsha menolak.

__ADS_1


"Enggak repot kok. Pokoknya kamu harus mau menerima bantuan dari tante. Titik!" paksa Mareta.


"Ya sudah, jaminannya nanti rumah ya, Tan, kalau aku gak bisa balikin uang Tante," sahut Hafsha.


"Sudah, soal itu kita pikirkan nanti. Sekarang kita ke rumah sakit, yuk! Kita urus administrasinya supaya pengobatan Mamamu tetap berlanjut," ajak Mareta, seraya bangkit dari duduk.


Hafsha matanya berkaca-kaca dalam hatinya tak henti mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah mengirimkan malaikat tak bersayap untuknya.


"Terima kasih Tan, sebelumnya," ucap Hafsha dengan nada parau. Lalu memeluk Mareta dengan erat serta tak henti-henti mengucapkan terima kasih, dan kaca-kaca yang menggenang di pelupuk matanya pun luruh.


Mareta melepaskan rangkulannya lalu mengusap airmata Hafsha yang berderai dengan lembut penuh kasih. Mareta melakukan itu karena ia tak memiliki anak gadis. Sementara putra semata wayangnya sedang kuliah di luar negeri.


Setelah bertemu dengan Hafsha Mareta merasa yakin bahwa gadis yang ditemuinya anak baik. Tekadnya pun kuat ingin mengangkat Hafsha sebagai putrinya.


******


Sejak hari itu Hafsha diangkat anak oleh Mareta dan suaminya yang bernama Joseph. Atau yang biasa Hafsha panggil sebagai Ayah Jo dan Mareta sebagai Bunda Reta.


Meski rumah Hafsha sudah dibeli oleh Mareta dan Joseph, tapi sepasang suami istri itu tetap membiarkan Hafsha dan juga Mamanya serta Mbok Nah tinggal di sana. Bahkan rumah itu sudah dihibahkan pada putri angkatnya.


Terbukti dari sertifikat rumah yang semula atas nama ayah kandung Hafsha dan beralih kepemilikan menjadi atas nama Joseph, kini dirubah menjadi atas nama Hafsha seutuhnya.


Namun, selama Hafsha diangkat menjadi anak dari pasangan Mareta dan Joseph, ia belum sekalipun bertemu dengan kakak angkatnya yang bernama Tristan yang masih kuliah di luar negeri sana.


Pernah dulu kakak angkatnya itu pulang ke Indonesia, tapi bertepatan saat Hafsha sedang ada study tour ke luar kota. Belum  sempat bertemu, Tristan sudah kembali ke luar negeri.


Sekarang Hafsha sudah lulus SMA, dan sudah masuk kuliah di salah satu universitas top di kotanya.


*****


Triiing!


Ponsel Hafsha berdering saat dirinya tengah melangkah di koridor kampus hendak pulang usai mengikuti kelas. Lantas diangkatnya panggilan dari Mareta yang memberitahukan bahwa hari ini Tristan akan pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studynya di luar negeri sana.


Hafsha pun girang bukan kepalang, karena akan segera bertemu secara langsung dengan kakak angkatnya. Selama ini dirinya dan Tristan hanya berkomunikasi via telepon dan video call saja.


"Alhamdulillah," ucap Hafsha, girang. Tak sabar ingin bersua dengan sang kakak.


"Kamu kenapa, Sha? Kayaknya girang banget," tanya Chelsea yang baru saja menyejajarkan langkahnya di samping Hafsha.


"Eh, Chels, kamu juga sudah mau pulang?" tanya balik Hafsha. Karena meski satu universitas kedua sahabat itu mengambil jurusan yang berbeda.

__ADS_1


"Iya. Yaelah, ditanya malah balik nanya," sahut Chelsea. Hafsha terkekeh lalu minta ma'af dan menjelaskan bahwa kakak angkatnya hari ini akan pulang dari luar negeri.


"Wah, asik dong. Jangan lupa bagi oleh-olehnya!" pinta Chelsea.


"Ya kalo bawa oleh-oleh," sahut Hafsha. Gak yakin kakak angkatnya bakal bawa oleh-oleh.


"Ya masa dari luar negeri bertahun-tahun pulangnya gak bawa oleh-oleh. Pasti bawalah walau mungkin hanya sekedar gantungan kunci sebagai cendera mata."


"Iya, deh, nanti aku bagi oleh-olehnya. Sekalian nanti kamu tak kenalin sama Kak Tristan."


"Bener ya! Comblangin sekalian siapa tahu jodohku," ujar Chelsea. Penuh harap.


Hafsha hanya menggeleng sambil terkekeh. Lalu keduanya mengucapkan salam perpisahan, dan pulang ke rumah masing-masing.


\=\=\=\=\=


Hari telah sore, Hafsha bersiap untuk memenuhi undangan makan malam di rumah orang tua angkatnya. Sekalian menyambut kedatangan sang kakak.


Namun, saat Hafsha sampai di rumah orang tua angkatnya ternyata sang kakak sudah tiba di rumah sejam sebelum kedatangannya.


"Yah, berarti aku telat dong, Bun, nyambut Kak Tristannya?" rengek Hafsha. Merasa bersalah.


"Gak apa-apa," balas Mareta dengan nada lembut.


"Oh, ya, terus sekarang Kakak di mana?" tanya Hafsha tak sabar ingin berjumpa dengan Tristan.


"Masih mandi. Tunggu saja paling sebentar lagi keluar orangnya," sahut Joseph, lantas pamitan untuk ke ruang kerjanya karena ada berkas yang harus dikirim via email. Hafsha mengangguk. Lalu  duduk di sofa ruang tamu seraya membaca majalah. Menunggu sang kakak menyelesaikan ritual mandinya.


Mareta yang semula menemani Hafsha duduk di sofa ruang tamu pun pamit mandi. Kini Hafsha duduk seorang diri di sana.


Tak lama terdengar langkah kaki seseorang menuruni anak tangga. Hafsha pun menoleh ke arah sumber suara.


Ternyata itu suara langkah kaki kakak angkatnya, Tristan.


Gadis berjilbab itu kemudian menaruh majalah yang semula dibacanya di atas meja. Lalu berdiri menunggu sang kakak mendekat.


Hafsha mendadak gerogi, jantungnya berdegub kencang dan semakin salah tingkah saat Tristan semakin mendekat ke arahnya. Kakak angkatnya terlihat tampan di mata Hafsha meski hanya mengenakan pakaian kasual, kaos oblong warna putih serta celana pendek warna hitam sebatas atas lutut.


Hafsha bergeming dalam waktu yang cukup lama. Pun dengan Tristan. Lelaki dengan postur tubuh tinggi, berambut cepak, kulit putih, memiliki hidung mancung serta sorot matanya yang teduh menenangkan itu menghentikan langkahnya. Lalu berdiri mematung beradu pandang dengan Hafsha dalam jarak beberapa meter.


Tampaknya keduanya sama-sama saling mengagumi dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2