Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 10 ENDING


__ADS_3

*** 


“Kamu kenapa Sha?”


Hafsha hanya menjawab dengan gelengan. Kaca-kaca menggenangi pelupuk matanya. Bibirnya bergetar sejurus kemudian ia terisak. Menangis histeris memanggil-manggil mamanya.


“Mama kamu kenapa, Sha?”


Amarah dan kekecewaan Chelsea menguar setelah melihat wajah Hafsha yang menyiratkan kesedihan mendalam. Gadis Nasrani itu lantas memeluk tubuh sahabatnya yang lemas kehilangan semua dayanya.


Tangis Hafsha sedikit mereda,  tatapan matanya kosong. Chelsea semakin khawatir dibuatnya. Didudukkannya Hafsha di atas kursi taman. Bahkan saat ponsel Hafsha berdering, diabaikannya.


“Sha, HP kamu bunyi tuh!” ujar Chelsea memberi tahu, tapi Hafsha masih terbengong. Duduk mematung menatap lurus ke depan. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


“Shaaa! Kamu kenapa? Mamamu kenapa?” tanya Chelsea dengan nada setengah memekik seraya mengguncang bahu Hafsha. Namun, Hafsha tetap pada posisi semula.


Chelsea yang panik akhirnya terpaksa mengangkat panggilan masuk di HP Hafsha. Ternyata dari Tristan, menanyakan Hafsha di mana? Chelsea lantas bertanya pada Tristan akan apa yang terjadi pada Mama Hafsha.


Gadis Nasrani itu memekik. Syok. Saat mendapat kabar bahwa Mamanya Hafsha telah berpulang. Meninggal.


Lantas meminta Tristan untuk datang ke taman, menjemput dirinya dan Hafsha.


*** 


Tristan berlari tergopoh ke tempat Chelsea dan Hafsha berada. Ia begitu khawatir saat diberi tahu oleh Chelsea akan keadaan Hafsha lewat telepon tadi.


“Bagaimana keadaan Hafsha?” tanya Tristan di sela napasnya yang memburu.


“Dari tadi dia bengong begitu. Sudah berkali-kali aku mencoba mengajaknya bicara tapi ....” Chelsea melanjutkan dengan gelengan, dan lanjut terisak juga.


“Sha, ini kakak.” Tristan mencoba memberitahukan kehadirannya seraya memegang bahu adiknya itu dengan lembut, tapi Hafsha tetap pada posisi semula.


“Mama jangan pergi tinggalin Hafsha, Ma. Hafsha nggak mau sendirian. Aku masih butuh Mama di samping Hafsha,” racaunya. Membuat Tristan dan Chelsea beradu pandang. Lantas keduanya kembali mencoba mengembalikan kesadaran Hafsha. Tapi tidak berhasil.


“Ya sudah, kita papah saja Hafsha ke mobil aku!” ajak Tristan, dan diangguki oleh Chelsea.


Lantas keduanya memapah Hafsha ke tempat mobil Tristan terparkir.


“Aku mau dibawa ke mana? Aku mau di sini saja sama Mama. Aku nggak mau pergi!” Lagi, Hafsha meracau sambil melirik Tristan dan Chelsea secara bergantian.


“Kita pulang ya, kita temuin Mama,” sahut Tristan, suaranya terdengar parau. Dia tak tega melihat kondisi adiknya yang down.


Bagi Hafsha ini adalah masa tersulit dalam hidupnya. Setelah sebelumnya kehilangan Papanya dan sampai kini belum diketahui keberadaannya. Sekarang, takdir merenggut Mamanya.


Lantas, akankah Hafsha mampu melewati masa sulit ini?


***

__ADS_1


Cukup lama Hafsha terpuruk. Berkabung akan kematian sang bunda. Butuh waktu hingga berbulan-bulan lamanya untuk kembali mengumpulkan kepingan asa yang semula hancur lebur. Hampir punah.


Kuliah dan kerjaannya terbengkalai selama ini Hafsha banyak mengurung diri di rumahnya.


Kini Hafsha mampu bangkit dengan hadirnya seorang pria yang mampu meluluhkan hatinya. Seseorang yang mampu membuat Hafsha merasa nyaman dan merasa aman saat berada di dekatnya.


Gadis berjilbab itu merasa beruntung, ia merasa Tuhan telah menurunkan malaikat tak bersayap untuknya. Hadir di saat yang tepat. Dan kini Hafsha pun telah memantapkan hati untuk menerima pinangan dari lelaki tersebut.


Namanya Romi. Lelaki ini telah berhasil mengembalikan senyum yang selama ini hilang dari wajah ayu Hafsha.


Hafsha berharap setelah menikah dengan Romi maka ia dapat membunuh rasa cintanya yang kian hari semakin subur untuk kakak angkatnya, Tristan. Ia juga berharap dengan begini cinta Tristan untuknya akan berpindah ke hati Chelsea. Hafsha sangat berharap kelak Tristan dan Chelsea bisa menjadi pasangan suami istri.


***


Meski sebenarnya berat bagi Tristan untuk menyaksikan pernikahan sang adik yang sangat ia cintai. Namun, Tristan berusaha untuk tetap terlihat bahagia, dan sangat antusias mempersiapkan segala keperluan pernikahan Hafsha.


Hari yang ditetapkan pun telah tiba. Hafsha merasa sangat gerogi juga bahagia, tapi rasa sedih lebih mendominasi karena di hari bahagianya ini tidak di saksikan oleh kedua orang tuanya.


Hafsha melaksanakan ijab kabul di kediamannya yang didekorasi sedemikian rupa dengan nuansa pink dan putih. Sangat sederhana tidak mewah apa lagi megah. Hanya sanak famili dan sahabat dekat saja yang diundangnya untuk menjadi saksi hari bahagianya. Hari di mana Hafsha akan melepas status lajangnya.


Prosesi ijab kabul telah dimulai. Romi sudah menjabat tangan penghulu dengan erat, dan siap mengucap ijab.


“Saya terima –“


“TUNGGU!” pekik seseorang dari arah ambang pintu rumah Hafsa. Membuat ucapan Romi terjeda, dan semua pun menoleh ke arah sumber suara.


Dahi Hafsha pun berkerut, bingung. Dalam hatinya bertanya-tanya akan siapa sebenarnya sosok wanita yang berdiri di sana.


Tristan langsung berdiri dan mendekati wanita itu. Menanyakan ia siapa, dan ada tujuan apa datang ke rumah Hafsha.


“APA?! Pekik Hafsha. Syok setelah mendengar pengakuan dari wanita itu. Lalu ambruk tak sadarkan diri.  Pingsan.


*** 


Setelah berhasil bangkit dari keterpurukan pasca meninggalnya sang mama. Kini Hafsha kembali terpuruk pasca gagalnya pernikahannya dengan Romi yang ternyata sudah beristri dan sebentar lagi memiliki 2 anak.


Hafsha sangat malu, ia diolok-olok tetangga sebagai pelakor. Padahal ia sama sekali tidak mengetahui kalau Romi punya istri. Sejak pertama berkenalan Romi mengaku sebagai single. Dan bodohnya ia percaya begitu saja tanpa mencari tahu yang sebenarnya.


Seperti sebelumnya Tristan dan Chelsea selalu ada setiap saat untuk menyemangatinya agar bangkit dari keterpurukan.


Namun, Hafsha tetap butuh waktu untuk bangkit. Hingga berbulan-bulan lamanya.


Sampai pada akhirnya Hafsha memutuskan untuk menyibukkan diri. Namun, saat  kembali ke tempat kerjanya, ia dipecat karena sudah sangat lama tidak masuk. Hafsha dianggap tidak profesional dalam bekerja.


Dengan langkah lesu Hafsha keluar dari kantor lalu pulang.


“Gimana tadi kerjanya? Lancar?” tanya Chelsea. Ya, semenjak mama Hafsha meninggal Chelsea sering menginap di rumah Hafsha.

__ADS_1


Hafsha menghela napas pajang. “Aku dipecat,” ucapnya kemudian dengan nada lesu.


“Ya sudah, nggak usah sedih. Besok cari kerjaan di tempat lain saja.”


Hafsha hanya diam sambil memainkan ujung jilbabnya.


“Kenapa ya, sejak aku memutuskan untuk hijrah ... kok kayaknya cobaan hidupku setiap harinya semakin banyak dan semakin berat, Chels.”


“Eh, enggak boleh mengeluh. Kamu sendiri yang bilang, kalau itu semua ujian dari Tuhan. Bukti bahwa kamu itu spesial di mata Tuhan. Ya kan?” Hafsha mengangguki ucapan Chelsea.


“Kamu harus kuat Sha, jangan bersedih. Tuhan selalu ada untukmu, juga aku dan Tristan. Kamu nggak sendirian. So senyum dong! Jangan melow terus.” Lantas keduanya terkekeh.


“Terima kasih ya, Chels, sudah selalu ada untukku.” Lantas keduanya berpelukan.


*** 


Hari berganti minggu dan bulan Hafsha kini sudah kembali ceria. Dan kini sudah mendapat pekerjaan baru.


“Ada apa ini? Ramai sekali?” tanya Hafsha pada salah satu teman kerjanya saat ia baru datang, dan suasana tempatnya kerja sangat ramai.


“Ada bos baru, dan orangnya ganteng banget,” jawab salah satu teman kerjanya. Membuat dahi Hafsha berkerut. Bingung. Dan bertanya-tanya dalam hati seganteng apa bos baru itu sehingga membuat semua pegawai heboh. Terutama pegawai wanita.


*** 


“Sha, tolong ya, antar kopi ini ke ruangan bos. Aku nggak sanggup. Gerogi,” ucap salah satu pelayan resto tempat Hafsha bekerja. Ya, selama ini Hafsha bekerja sebagai pelayan restoran, dan dia selalu diperlakukan semena-mena oleh sesama pelayan lainnya. Karena Hafsha selalu nurut dan nggak pernah membantah saat disuruh-suruh bak babu. Padahal status mereka sama.


“Iya, baik Mbak.” Lantas Hafsha pun pergi ke ruang sang bos baru. Setelah mengetuk pintu, dan dia dipersilakan masuk. Hafsha pun masuk. Sambil terus menunduk menjaga pandangan. Memutuskan untuk pergi setelah kopi ditaruh di atas meja. Tanpa melihat ke arah sang bos.


“Terima kasih,” ucap sang bos, sehingga membuat langkah Hafsha terhenti. Suara sang bos terdengar tidak asing di telinganya.


Perlahan Hafsha membalikkan badan menghadap ke arah sang bos berada, dan tatapan keduanya pun beradu.


“Hafsha,”


“Hafiz,” ucap keduanya nyaris bersamaan.


Dua insan yang saling mencintai dalam diam saat masa SMA itu kini dipertemukan kembali. Setelah berpisah bertahun-tahun lamanya. Pasca kelulusan SMA dulu, Hafiz memutuskan untuk  pindah ke kota lain ikut orang tuanya. Dan kini Hafiz memutuskan untuk kembali ke kota tempat bidadarinya berada. Tentunya dengan harapan ia dipertemukan masih dalam status yang sama dengan dirinya. Single. Dan ternyata do’anya terkabul.


Rasa yang dulu sempat ditepis mati-matian karena alasan mereka masih terlalu dini untuk mengenal cinta.  Akhirnya keduanya memutuskan untuk mengikat janji suci. Menyempurnakan separuh agama dengan menikah.


***


Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.


Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan.


Hal terpenting dalam hidup adalah perubahan diri menjadi lebih baik. Doa yang baik adalah doa yang menjadikan seseorang lebih baik dalam hidupnya.

__ADS_1


\=T A M A T\=


__ADS_2