Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 4


__ADS_3

***


Cukup lama Hafsha menggantung Tirta. Ia tak kunjung memberikan jawaban pasca ditembak oleh lelaki pujaannya. Paras Tirta yang tampan, postur badan tinggi, hidung mancung, kulit putih, menjabat sebagai ketua osis. Soal kepandaian jangan diragukan. Lelaki dengan level ketampanan mendekati sempurna itu acap kali mendapat rangking kelas.


Tak heran jika Hafsha sangat mengagumi sosok Tirta. Sehingga membuatnya dilema. Di sisi lain ia sangat ingin konsisten menjalani proses hijrahnya yang baru mulai ia titi itu. Di sisi lain Hafsha sangat ingin menerima cinta sang pujaan. Namun, ia sadar betul itu melanggar norma agama. Terlebih jika sampai berpacaran. Itu sama saja mendekati zina, dan sangat dilarang dalam agama. Na'udzubillah.


Setelah meminta wejangan dari sang ustaz. Akhirnya Hafsha yakin dengan keputusannya. Ia menolak cinta Tirta. Jika memang keduanya ditakdirkan untuk berjodoh pasti kelak dipertemukan lagi dan dipersatukan dalam ikatan yang halal oleh Tuhan.


Tirta sangat kecewa dengan penolakan Hafsha. Terlihat dari sikapnya yang berubah dingin terhadap Hafsha. Sejak tragedi penolakan keduanya tak lagi saling sapa.


Hafsha tidak dendam, hanya saja ia berusaha menjaga diri dan pandangan terhadap lelaki non mahram. Namun, disalah artikan oleh Tirta. Sehingga sikap Hafsha itu dianggap sombong.


💕💕💕


Hafsha terkejut saat mendapati Chelsea ke sekolah berjalan kaki.


"Pak, berhenti!" titah Hafsha pada sopirnya. Sesuai titah Hafsha, sang sopir pun menghentikan mobilnya.


"Ada apa, Non?" tanya Pak sopir tak mengerti kenapa mendadak Hafsha minta berhenti padahal belum sampai di sekolah.


"Itu Pak, saya melihat teman saya sedang berjalan kaki. Sebentar ya, Pak. Saya samperin dulu teman saya."


"Iya Non, silakan!" Pak sopir mengangguk setuju.


Hafsha turun dan menghampiri Chelsea yang berjalan sambil menangis.


"Chelsea! Kamu kenapa?"


Chelsea menghentikan langkahnya lantas mengusap airmatanya dengan kasar. "Elo gak usah sok peduli sama gue, Sha!" pekik Chelsea. Kemudian berlari memasuki gang kecil meninggalkan Hafsha yang masih berdiri terbengong di tempat semula. Bingung.


"Chelsea kenapa ya? Gak biasanya dia kayak begitu, dan gak biasa juga dia ke sekolah jalan kaki lewat jalan pintas," gumam Hafsha keheranan.


"Non, ayo nanti kesiangan lho!" pekik Pak sopir sambil melongokkan kepalanya keluar jendela mobil. Menyadarkan Hafsha dari lamunan.


"Eh, iya Pak!" sahut Hafsha setengah memekik. Lantas berlari kecil ke arah mobilnya terparkir dan masuk.


Di dalam mobil, Hafsha terus kepikiran dengan Chelsea. Sampai-sampai ia tak sadar jika sudah sampai di depan gerbang sekolah.


Pak sopir sudah menghentikan mobilnya sedari tadi. Namun, Hafsha masih betah dengan lamunannya.


"Non, sudah smapai." Ini sudah yang kesekian kalinya Pak sopir memberitahu. Namun, Hafsha masih duduk terdiam.

__ADS_1


"Non!" Kali ini Pak sopir menaikkan volume suaranya sehingga sukses membuat Hafsha terlonjak, kaget.


"Pak Dadang!" pekik Hafsha sambil mengelus dadanya.


"Ma'af Non, habis dari tadi, Non melamun. Bapak kira, Non Hafsha kesambet." Sopir pribadi Hafsha yang bernama Dadang itu terkekeh. "Sekali lagi ma'af ya, Non!" imbuhnya. Merasa tak enak hati karena sudah membuat Hafsha terkejut.


"Iya, gak apa-apa Pak. Ya sudah, saya turun. Terima kasih ya, Pak."


"Iya Non. Bapak pulang dulu, ya!" Setelah mendapat anggukan dari Hafsha, Pak Dadang memutar mobilnya dan pulang.


Sementara Hafsha masih berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Menunggu Chelsea datang hendak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan teman sekelasnya itu.


Benar saja tak lama kemudian Chelsea datang. Terlihat celingukan dan mengendap-endap sepertinya ia takut ketahuan oleh temannya yang lain jika ia berjalan kaki ke sekolah.


"Chelsea, kamu kenapa? Kok ngendap-ngendap gitu?" tanya Hafsha yang tak sanggup lagi menahan rasa penasaran.


"Elo gak usah kepo!" ketus Chelsea.


"Gak usah ngurusin hidup orang lain! Urus saja dirimu sendiri!" imbuh Chelsea kemudian pergi masuk ke kelas.


Sikap Chelsea membuat dahi Hafsha berkerut samar. Ia merasa aneh.


Seorang Chelsea yang bisanya paling anti dengan jalan kaki tetiba hari ini pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Bukan hanya itu bahkan dandanannya juga tak seheboh biasanya. Hari ini tampak sederhana dan sangat lusuh serta matanya sembab seperti habis menangis semalaman.


***


Di kelas Chelsea dicecar oleh anggota gengnya.


"Chelsea, penampilan elo hari ini aneh banget. Elo ketularan Hafsha, ya?" tanya Leta, seraya menatap Chelsea penuh selidik. Pun dengan Leoni dan Mona. Keduanya mengamati tubuh Chelsea dari kepala hingga ujung kaki.


"Apaan sih, enggaklah. Gue cuma tadi bangunnya kesiangan. Jadi gak sempat make up," kilah Chelsea.


"Tapi, mata elo kenapa sembab gitu, kayak habis nangis semalaman?" cecar Mona sambil menatap mata Chelsea sedemikian rupa.


"Enggak, ini kemarin kelilipan makanya mataku bengkak." Lagi, Chelsea berdalih.


"Halah, ngaku aja kenapa sih," sahut Dina teman sekelasnya yang kebetulan tetangga Chelsea.


Chelsea terdiam menunduk. Malu.


Hafsha diam-diam menyimak obrolan Chelsea and the geng. Sambil pura-pura membaca buku, di bangkunya.

__ADS_1


"Ngaku apa, Din?" cecar Mona pada Dina.


"Keluarga Chelsea itu sekarang sudah bangkrut alias kere!" ejek Dina dengan suara lantang. Sudah sejak lama Dina ingin sekali membalaskan dendamnya atas perlakuan Chelsea sewaktu masih kaya yang selalu berbuat semena-mena terhadap dirinya dan keluarganya. Tentu saja Dina tak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah lama ia nanti ini.


Dina kemudian tersenyum penuh kemenangan. Sementara teman geng Chelsea kompak membungkam mulut masing-masing yang mangap tak percaya.


"Elo kalau ngomong yang bener, Din!" cecar teman sekelas Chelsea.


"Ini beritanya akurat bukan hoax. Fact, really," Dina mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Tanda bahwa ia serius dengan apa yang ia katakan.


Tak kuat dengan desas-desus teman sekelasnya yang mulai menggosipkan dirinya. Chelsea memilih pergi meninggalkan kelas.


Teman gengnya tak peduli dengan penderitaan yang dialami Chelsea. Bukannya menghibur malah ikut membuly dan malah menjauhinya. Karena takut tertular sial dan kere.


Chelsea kini dikeluarkan dari geng sanca karena dianggap sudah tak se-level lagi. Tersisih.


Seorang Chelsea yang dulu dikagumi dan disegani kini dibully sana sini.


Di saat Chelsea terpuruk hanya Hafsha yang masih peduli dengannya. Namun, Chelsea gengsi menerima kebaikan Hafsha. Ia terus saja menolak dan sok judes.


Tapi, Hafsha tak menyerah ia terus menunjukkan ketulusannya pada Chelsea. Hingga akhirnya keduanya bersahabat.


Hafsha tak peduli dengan status sosial, suku, atau agama yang dianut Chelsea. Ya, Hafsha tetap mau bersahabat dengan Chelsea. Meski kini Chelsea telah jatuh miskin dan beragama non muslim.


Chelsea menganut kepercayaan kristiani.


Hafsha tidak mengukur persahabatan dari segi materi dan kasta. Tak masalah jika tak se-agama yang penting saling menghargai kepercayaan satu sama lain.


Persahabatannya sempat ditentang oleh keluarga Chelsea. Orangtua Chelsea takut dan berpikir jika Hafsha itu ******* yang ingin merencanakan penghabisan terhadap keluarganya.


Lambat laun keluarga Chelsea mulai akrab, dan membiarkan Hafsha menjalin hubungan persahabatan dengan Chelsea.


Bahkan akhirnya keluarga Chelsea dan Hafsha juga dekat layaknya saudara.


Namun, tetap kedua keluarga menjaga batasan-batasan tertentu.


💕💕💕


Saat Hafsha dan Chelsea memasuki gerbang sekolah semua murid pada kasak kusuk membicarakan murid baru.


"Murid baru?" ucap Hafsha dan Chelsea nyaris bersamaan sambil saling tatap satu sama lain.

__ADS_1


⬇⬇⬇


__ADS_2