
***
Hari demi hari telah terlewati, Hafsha dan Tristan semakin dekat 'tak ubahnya seperti sahabat. Keduanya sering bertukar pikiran, saling membantu serta saling terbuka dalam segala hal. 'Tak ada sekat atau rahasia lagi di antara kedua kakak beradik itu.
Pun dengan Chelsea, gadis Kristiani itu selalu mengikuti ke mana pun Hafsha dan Tristan pergi. Ketiganya bagai serumpun yang 'tak dapat dipisahkan.
***
Saat Hafsha keluar dari area kampus, sebuah mobil sedan berwarna merah sudah terparkir di depan gerbang kampus. Siapa lagi kalau bukan Tristan. Ya, kakak angkat Hafsha itu selalu melakukan rutinitas itu setiap sang Adik kuliah atau kerja selalu diantar jemput olehnya.
Hafsha yang menyadari sang kakak mulai memberi perhatian lebih padanya, memilih berusaha menampik perlakuan Tristan itu dan menjodohkan sang kakak dengan Chelsea.
"Kakak anterin Chelsea aja. Aku masih ada keperluan lain soalnya," ucap Hafsha berbohong.
"Kamu yakin, Sha?" tanya Chelsea juga Tristan nyaris berbarengan, dan diangguki oleh Hafsha.
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti kalau sudah selesai urusannya telepon kakak ya. Biar kakak jemput," titah Tristan tangannya asyik memainkan kunci mobil.
"Eum, gak usah Kak, nanti aku pulangnya naik ojek online aja," balas Hafsha. Penolakan Hafsha membuat dahi Tristan berkerut samar. Merasa aneh dengan sikap sang adik yang belakangan ini seperti berusaha menghindarinya dan sering menolak perhatiannya.
"Oke, kalau itu maumu. Tapi kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya!" titah Tristan. Hafsha hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo, Chels! Silakan masuk!" titah Tristan pada Chelsea seraya membukakan pintu mobil dan mempersilakan Chelsea masuk.
"Terima kasih," balas Chelsea malu-malu. Ya, sejak awal berkenalan dengan Tristan, Chelsea langsung menaruh hati pada kakak angkat sahabatnya itu. Hafsha yang menyadari bahwa sahabatnya menyukai sang kakak, ia berusaha mendekatkan keduanya.
Meski sebenarnya berat karena Hafsha sendiri mulai jatuh hati pada sang kakak. Saat membiarkan Tristan dan Chelsea berduaan hati Hafsha panas terbakar api cemburu.
Sudah berusaha menepis rasa yang 'tak seharusnya ada, juga sudah berusaha menyadarkan diri bahwa sampai kapan pun Tristan hanya bisa menjadi kakak angkatnya tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari itu. Tapi masalah hati itu sulit dikendalikan.
***
"Kakak mau mengajakku ke mana?" tanya Hafsha, saat Tristan datang ke rumahnya, dan meminta agar Hafsha ikut dengannya.
"Sudahlah, nanti juga tahu," balas Tristan, seraya membukakan pintu mobil untuk Hafsha.
Dengan perasaan tidak karuan Hafsha masuk dan duduk di jok depan, samping sang kakak yang tengah mengemudi. Berkali-kali tatapan keduanya beradu seraya melempar senyum canggung.
"Kak, apa gak sebaiknya kita ajak Chelsea?" tanya Hafsha saat mobilnya melaju di jalan dekat rumah Chelsea.
__ADS_1
"Enggak, kakak hanya ingin jalan berdua denganmu sore ini."
Deg!
Mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Tristan, jantung Hafsha bertalu 'tak menentu.
Saat sampai di depan sebuah kafe yang bernuansa modern, Tristan menghentikan mobilnya. Lalu mengajak Hafsha turun, dan masuk ke ruangan VIP yang sudah didekorasi dengan nuansa romantis.
Hafsha tidak langsung duduk, matanya nanar mengamati sekitar. Bingung.
"Duduk Sha!" titah Tristan, dan Hafsha pun duduk.
Setelah keduanya duduk. Tristan memesan minuman dan makanan. Selang beberapa menit makanan yang dipesan pun sudah tersaji di meja. Lantas Tristan mempersilakan Hafsha menikmati menu yang tersaji.
"Mbak, tolong diberesi mejanya, ya!" titah Tristan pada salah seorang pelayan Kafe. Pelayan kafe pun datang, membereskan piring dan gelas kotor yang ada di meja. Sehingga menjadi bersih dan rapi seperti semula.
Hening, baik Tristan atau Hafsha 'tak ada yang memulai obrolan. Suasana mendadak berubah kaku.
"Sha, izinkan aku berbicara serius denganmu," ucap Tristan memecah keheningan. Membuat Hafsha tersentak dan menghentikan acara berbalas pesan dengan Chelsea.
"Iya, mau bicara soal apa, Kak?" tanya Hafsha, sambil berusaha menahan getaran yang mengguncang tubuhnya. Serta mengabaikan notif pesan masuk yang kemungkinan dari sahabatnya. Chelsea.
Tiba-tiba Tristan mengeluarkan kotak cincin warna merah dari saku jas denimnya, dan dibuka serta memperlihatkan isinya tepat di hadapan Hafsha. Sejurus dengan itu kata 'will You marry me' meluncur dari bibir Tristan.
Logika dan hatinya perang hebat. Batinnya ingin sekali menerima pinangan dari Tristan. Namun, logikanya berusaha menyadarkan bahwa dirinya dan Tristan tak mungkin bersatu karena perbedaan agama yang dianutnya.
Chelsea yang kebetulan ada di kafe yang sama usai mengadakan acara dengan keluarganya, memergoki adegan romantis yang dilakukan oleh Tristan. Bahkan ia juga mendengar dengan jelas ucapan yang dilontarkan oleh Tristan kepada Hafsha.
Lutut Chelsea melemas seketika. Mundur beberapa langkah dan ....
Bruuuk!
Praaang!
Chelsea menabrak seorang pelayan kafe, dan pesanan pelanggan yang dibawa sang pelayan pun jatuh berserakan ke lantai.
“Bagaimana sih, Mbak. Kalau jalan lihat-lihat dong!” tegur si pelayan sambil mengamati bawaannya yang sudah menghambur di lantai.
“Maaf-maaf Mas, saya gak sengaja!” ucap Chelsea seraya menangkupkan tangannya di hadapan pelayan.
__ADS_1
Kegaduhan yang terjadi menarik perhatian Hafsha juga Tristan. Hafsha yang 'tak kuasa menahan rasa penasarannya mendekat memastikan apa yang terjadi.
“Chelsea!” seru Hafsha saat mengetahui ternyata wanita yang berdiri di hadapannya adalah sahabatnya.
Chelsea yang semula berdiri membelakangi Hafsha, berbalik dan kini kedua sahabat beda agama itu saling berhadapan.
Dahi Hafsha berkerut saat menyadari sorot mata Chelsea menyiratkan kekecewaan dan kemarahan. Tanpa mengucap sepatah kata, Chelsea lantas pergi meninggalkan Hafsha yang masih mematung di tempat. Bingung.
“Chelsea kenapa ya?” gumam Hafsha sambil mengamati punggung Chelsea yang semakin menjauh dari jangkauan.
“Ya ampun, apa tadi dia ....” Hafsha bergegas mengambil tas slempang miliknya yang tersampir di kursi kafe. Lantas bergegas menyusul Chelsea. Mengabaikan panggilan dan pertanyaan dari Tristan.
“Chels! Tunggu!” pekik Hafsha saat mendapati sahabatnya hendak menaiki taksi. Namun, Chelsea 'tak menggubris, ia hanya menoleh sekilas lalu masuk ke dalam taksi dan pergi.
Hafsha menyetop motor yang dia yakini tukang ojek, dan langsung naik sambil menyahut helm yang tergantung di stang.
“Pak, tolong kejar taksi itu!” perintah Hafsha seraya menunjuk taksi yang sudah melaju puluhan meter di depan.
“Tapi saya ....”
“Sudahlah Pak, gak usah tapi-tapian! Buruan kejar, nanti saya kasih tips lebih deh!” sela Hafsha, dan pemotor pun hanya bisa mengangguk pasrah lalu mengikuti perintah Hafsha. Mengabaikan teriakan serta meninggalkan istrinya yang sedang belanja di mini market samping kafe.
Setelah sempat kehilangan jejak taksi yang ditumpangi Chelsea. Akhirnya Hafsha menemukan taksinya sedang parkir di pinggir jalan. Lantas meminta agar pemotor menghentikan lajunya. Tak lupa Hafsha mengucapkan terima kasih sambil memberikan uang sebesar dua ratus ribu kepada si pemotor. Lalu bergegas mendekati taksi yang diyakini sama dengan yang ditumpangi oleh Chelsea tadi.
Hafsha segera bergegas ke taman setelah mendapat keterangan dari sopir taksi bahwa sahabatnya usai turun dari taksi langsung berlari ke arah taman kota yang letaknya tak jauh dari taksi itu terparkir.
Hafsha mengelilingi taman sambil menoleh ke sana sini mencari keberadaan sahabatnya.
Dari kejauhan tampak gadis dengan postur tubuh mirip dengan Chelsea, Hafsha lantas bergegas mendekati.
“Chels!” panggil Hafsha, seraya mencekal lengan sahabatnya itu agar tak lari.
“Aku yakin tadi kamu dengar semuanya 'kan? Aku bisa jelasin kok,” ucap Hafsha masih sambil memegangi lengan Chelsea kuat-kuat.
“Gak ada lagi yang perlu dijelaskan, Sha. Aku kecewa sama kamu Sha. Kamu sendiri yang jodohin aku sama Tristan, tapi kamu juga yang ....” Chelsea tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terisak. Menangis.
“Chels, aku ....” Belum sempat Hafsha menyelesaikan ucapannya. Ponselnya berdering notifikasi panggilan masuk.
“Sebentar Chels,” sambung Hafsha. Lantas merogoh ponsel yang ada di dalam tas slempangnya. Ternyata panggilan dari Mbok Nah. Segera diangkatnya karena jika Mbok Nah yang telepon pasti kabar penting menyangkut soal Mamanya.
__ADS_1
Benar seperti yang diduga Hafsha. Mbok Nah mengabarkan kondisi Mamanya.
“APA?!” pekik Hafsha. Tubuhnya limbung, lemas, hampir terjatuh ke tanah.