Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 7


__ADS_3

_____


"Alhamdulillah!" ucap Hafsha setengah memekik kegirangan sambil menengadahkan kedua telapak tanganya lalu mengusapkan ke wajah. Gadis berparas cantik itu tak henti-henti mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas anugerah yang dilimpahkan padanya.


"Beneran, Mama sama Papa rujuk lagi?" tanya Hafsha memastikan. Takut jika pendengarannya salah. Hafsha menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Antusias menunggu jawaban dari Mama dan Papanya.


"Aaaaaak! Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah!" pekik Hafsha kegirangan, saat Mama dan Papanya mengangguk kompak pertanda bahwa benar mereka telah kembali rujuk.


Hafsha langsung memeluk Papanya kemudian berlari ke sofa seberang meja, ke tempat sang mama duduk dan memeluk wanita yang telah melahirkannya belasan tahun silam itu.


"Ma'afkan papa, karena sudah melakukan kebodohan terbesar selama ini," ucap Hendrawan sambil menunduk penuh penyesalan. Lelaki berbadan atletis itu malu karena sempat terpesona akan kecantikan paras serta kepalsuan cinta sang wanita penggoda.


Hafsha kembali ke sisi papanya lalu memeluk lelaki yang selama ini ia anggap sebagai super hero itu. "Sudahlah Pa, lupakan saja. Toh, semua sudah terlewati. Tak ada manusia yang sempurna, tapi setidaknya Papa menyadari kesalahan, dan yang terpenting Papa mau memperbaikinya itu sudah lebih dari cukup." Hendrawan membalas pelukan putri semata wayangnya lanjut mengecup pucuk kepala Hafsha, ritual yang sudah sejak lama terlupakan.


"Benar apa kata Hafsha, Pa. Tak ada gunanya mengeluhkan kesalahan yang sudah terlanjur kita perbuat. Lebih baik memperbaikinya, dan berusaha semaksimal mungkin agar kedepanya jangan sampai masuk ke dalam jurang yang sama," imbuh Hilma. Kemudian wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu bangkit dari duduk dan bergabung ke sofa yang diduduki oleh putrinya juga suaminya.


Mereka bertiga saling berpelukan. Kebahagiaan yang sempat menghilang kini telah kembali lagi menyelimuti keluarga kecil Hafsha.


*****


"Asalamu'alaikum, Sha?" sapa Hafiz, pada saat gadis berjilbab itu baru saja menapakkan kakinya hendak memasuki gerbang sekolah.


Hafsha sedikit terlonjak, kaget. Deg ... detak jantungnya menghebat tiba-tiba saat tahu siapa yang menyapanya. "Wa'alaikumssalam," jawabnya kemudian, sambil mengangguk. Tak lupa seulas senyum ramah ia persembahkan untuk lelaki yang kini sedang berdiri dengan gagah di hadapannya itu.


"Semringah banget, alhamdulillah, tampaknya kamu sedang berbahagia," tutur Hafiz.


"Alhamdulillah, kebahagiaan kembali berpihak padaku," sahut Hafsha.


"Syukurlah kalau begitu. Aku turut bahagia mendengarnya. Mari ke kelas!" ajak Hafis kemudian.


"Iya, silakan duluan!" balas Hafsha, seraya mengacungkan jempolnya tanda mempersilakan. Hafiz mengangguk lantas pergi ke kelas duluan.


Sementara Hafsha mencari keberadaan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Chelsea. Gadis berjilbab itu tak sabar ingin berbagi kebahagiaan juga dengan sahabatnya itu.


Setelah bertemu dengan Chelsea, Hafsha langsung menceritakan kondisi keluarganya yang kini sudah kembali membaik. Chelsea tak henti-henti memberi ucapan selamat. Gadis berambut lurus panjang sepinggang itu sangat antusias mendengarkan cerita Hafsha.


Saking asiknya mengobrol sampai tak sadar jika bel tanda masuk sekolah telah berbunyi.


"Eh, kalian gak masuk kelas?" tanya salah satu teman sekelas mereka.


"Emang sudah waktunya masuk, ya?" tanya balik Hafsha sama Chelsea nyaris berbarengan.


"Sudah, barusan bel berbunyi mengalun ke seantero sekolah, masa gak denger," sahut temannya yang lain.


Chelsea dan Hafsha saling tatap satu sama lain lanjut terkekeh, lantas bergegas masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran yang diajarkan wali kelasnya dengan khidmat.


*****


Hari berlalu berganti minggu dan bulan, kehidupan keluarga Hafsha berjalan baik. Sampai pada suatu sore saat Hafsha baru pulang dari sekolah, mendapati Hilma, sang mama, sedang menangis tersedu-sedu  di ruang tamu.


Hafsha pun mempercepat langkahnya mendekat ke tempat sang mama duduk lalu memegang kedua sisi bahu Hilma.


"Mama kenapa?" tanya Hafsha, kebingungan.


"Papa kamu, Sha ... Papa kamu," ucap Hilma di sela isak tangisnya.


>>>>>>>>>>


"Pap-papa kenapa, Ma?" tanya Hafsha, ia ikut panik saat melihat Mamanya panik.


"Kapal yang ditumpangi Papa kamu tenggelam, dan sampai sekarang para korban belum ditemukan," jelas Hilma di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Apa?" lirih Hafsha, seraya membungkam mulutnya yang mangap, syok.


Hafsha langsung terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir deras. Hilma turut duduk di lantai lalu keduanya berpelukan, masih sambil tersedu.


Air mata Hafsha semakin menderas saat teringat detik-detik sang papa pamitan hendak pergi untuk meninjau proyeknya yang ada di luar kota. Ia tak menyangka jika hari kemarin adalah saat terakhir kebersamaannya dengan sang papa.


Tiba-tiba Hilma pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


Hafsha semakin syok saat Mamanya divonis terkena serangan jantung. Beberapa hari Hilma tak sadarkan diri, koma.


Demi kesembuhan sang mama, Hafsha rela membayar berapa pun untuk biaya pengobatan selama di rumah sakit elit itu. Sampai harus menguras tabungan.


Setelah beberapa minggu dirawat akhirnya Hilma sembuh, dan sudah diperbolehkan pulang. Namun, karena depresi memikirkan suaminya yang menghilang tanpa jejak ia kembali harus dilarikan ke rumah sakit. Penyakit Hilma sudah komplikasi. Mau tak mau Hafsha harus memakai uang kantor sang papa.


Karena kondisi Hilma yang sebentar-sebentar harus dilarikan ke rumah sakit, dan butuh biaya yang tidak sedikit. Akhirnya Hafsha menutup perusahaan sang papa yang sudah bangkrut itu.


Hafsha bahkan terpaksa memecat semua pembantu serta menjual barang-barang berharga miliknya juga milik Mama dan peninggalan Papanya.


Hafsha hanya menyisakan seorang pembantu. Mbok Nah, namanya. Wanita paruh baya bertubuh gempal itu sudah puluhan tahun bekerja di rumahnya, sejak zaman Nenek dan Kakek Hafsha masih hidup.


Itulah kenapa Mbok Nah memilih bertahan meski mengetahui majikannya sudah bangkrut, dia rela tak digaji sama sekali.


"Izinkan saya tetap bekerja di sini merawat Nyonya. Ndak digaji juga ndak apa-apa. Saya ikhlas, Non," ucap Mbok Nah. Hafsha langsung memeluk pembantu yang sudah ia anggap keluarga itu. Hafsha menangis terharu melihat kesetiaan dan ketulusan Mbok Nah.


********


Sepulang sekolah Hafsha bekerja menjadi pelayan di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari rumahnya. Sementara sang mama di rumah dijaga oleh Mbok Nah.


Ya, Hafsha kini menjadi tulang punggung keluarga. Hasil kerjanya yang tak seberapa itu untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Terkadang masih harus berhutang sana sini. Mbok Nah turut membantu mencari uang, menjual gorengan dengan cara dititipkan ke warung-warung yang ada di dekat rumah. Serta membuka laundry kecil-kecilan di rumah Hafsha.


Saat laundry-annya mendapat banyak pelanggan, Hafsha membantu Mbok Nah. Pagi sebelum berangkat sekolah ia mencuci dan menjemur pakaian, sepulang sekolah sambil berangkat kerja sekalian mengantar laundryan ke rumah-rumah pelanggan.


Meski harus bekerja sekeras itu, Hafsha tak pernah sekali pun mengeluh. Ia selalu terlihat semringah di depan semua orang. Bersikap seolah dia kuat dan baik-baik saja meski di saat sendirian Hafsha sering menangis.


********


Mbok Nah mengabarkan bahwa sang mama kondisinya memburuk dan harus kembali dilarikan ke rumah sakit. Hafsha dengan terpaksa harus meminta izin pulang lebih awal kepada bosnya untuk yang kesekian kalinya.


Akhirnya diizinkan untuk pulang lebih awal setelah sebelumnya Hafsha mendapat omelan dari sang bos. Sebenarnya Hafsha merasa malu dan tak enak hati sebentar-sebentar harus izin cuti atau pulang lebih awal, tapi mau bagaimana lagi keadaan memaksa Hafsha melakukan itu.


***********


Hafsha berlari di koridor rumah sakit mencari keberadaan sang mama dirawat. Saat mendapati Mbok Nah sedang berdiri di depan ruang ICU, Hafsha langsung mendekat.


"Mbok, gimana kondisi Mama?" tanya Hafsha di sela napasnya yang memburu. Ngos-ngosan usai berlarian dalam kepanikan tadi.


"Tenang Non, duduk dulu!" ucap Mbok Nah, seraya menepuk ruang kosong di bangku persegi panjang tempatnya duduk. Hafsha pun duduk bersisian dengan Mbok Nah.


"Insya Allah, Mama akan baik-baik saja. Sekarang sedang ditangani oleh dokter," jelas Mbok Nah. Hafsha mengangguk paham. Berusaha kuat, tapi matanya berkaca-kaca. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan mendalam.


"Aku takut, Mbok ... takut kalau Mama juga pergi meninggalkan aku kayak Papa," ucap Hafsha, suaranya terdengar berat dan parau. Sepersekian detik kemudian bulir bening meluncur di pipinya.


"Ssssh! Jangan bicara begitu, Non. Insya Allah, Mama sembuh seperti sediakala," balas Mbok Nah, seraya memegang kedua sisi bahu Hafsha berusaha menguatkan. Meski Mbok Nah sendiri sebenarnya merasakan ketakutan yang sama.


"Sabar ya, Non." Lagi, Mbok Nah berusaha menguatkan, seraya mengusap pucuk kepala Hafsha yang kini bersandar di bahu sisi kanannya.


Akhirnya dokter keluar dari ruang ICU setelah cukup lama di dalam. Hafsha buru-buru berdiri dan langsung memberondong sang dokter dengan beberapa pertanyaan.


"Dok, bagaimana kondisi Mama saya? Apa dia baik-baik saja? Sudah siuman 'kan, Dok? Gak ada yang mengkhawatirkan 'kan?" cerocos Hafsha. Dokter pun diam mematung karena setiap hendak menjawab pertanyaan satunya, Hafsha langsung melontarkan pertanyaan berikutnya.


"Sabar, Non!" bisik Mbok Nah, berusaha menenangkan Hafsha yang kalut.

__ADS_1


"I-iya, Mbok. Ma'af Dok, saya khawatir terjadi sesuatu sama Mama," ucap Hafsha, lalu menunduk sedih.


Dokter langsung memegang bahu Hafsha menyalurkan ketenangan. "Tenang, kondisi Mama kamu detak jantungnya sudah mulai normal, tapi masih belum sadarkan diri," jelas Dokter kemudian.


Hafsha yang semula menunduk lalu mendongak, menatap wajah sang dokter. Lantas tatapan keduanya pun beradu. "Mama koma lagi, Dok?" tanyanya dengan nada suara berat dan parau. Dokter mengangguk membenarkan. Sontak membuat Hafsha syok. Tubuh langsingnya limbung hampir terjatuh ke lantai, untung Mbok Nah cekatan menangkap dan memapah tubuh gadis berhijab itu.


Bagaimana Hafsha tidak syok, ini yang kesekian kalinya sang mama kritis. Lagi-lagi harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang tidak tentu bisa beberapa hari, minggu atau bahkan bulan. Sementara soal keuangan Hafsha sudah tidak punya tabungan sama sekali.


Mau minta kasbon pada sang bos tempatnya bekerja, Hafsha malu. Kasbonnya bulan kemarin saja belum lunas. Hafsha benar-benar bingung gak tahu harus berbuat apa?


Harta satu-satunya yang berharga hanya tinggal rumah yang kini ia tinggali. Terlintas di benaknya untuk menjual rumah satu-satunya peninggalan sang papa itu. Tapi, Hafsha bingung mau tinggal di mana nantinya jika rumah dijual.


"Apa perlu kamu saya periksa?" tanya Dokter saat melihat tubuh Hafsha mendadak lemas.


Hafsha menggeleng memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja. "Enggak usah Dok, saya baik-baik saja kok."


"Non yakin?" tekan Mbok Nah, memastikan.


"Iya, Mbok. Aku gak apa-apa," jelas Hafsha seraya menggenggam jemari keriput Mbok Nah.


"Baiklah kalau begitu saya permisi ya," ucap Dokter. Lantas dokter pun pergi setelah mendapat anggukan setuju dari Hafsha juga Mbok Nah.


"Ayo duduk, Non!" ajak Mbok Nah. Lantas keduanya kembali duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang ICU. 


"Mbok, aku mau lihat kondisi Mama," ucap Hafsha sambil bangkit dari duduk.


"Non, kan dokter belum memperbolehkan pasien dilihat," tutur Mbok Nah, mengingatkan.


"Aku hanya akan melihat kondisi Mama dari kaca itu," balas Hafsha sambil menunjuk kaca yang ada di daun pintu ruang ICU.


Hafsha belum diizinkan masuk ke ruang ICU untuk melihat secara langsung kondisi sang mama. Ia hanya bisa melihat mamanya yang terbaring koma dengan berbagai macam alat terpasang hampir di seluruh tubuh dari balik kaca yang terdapat di pintu kamar tersebut.


***********


Sudah satu minggu sang mama dirawat di rumah sakit, tapi belum ada kemajuan. Masih koma. Sementara Hafsha terus ditagih perihal administrasi. Di ujung kebingungan Hafsha berunding dengan Mbok Nah,  bahwa dia akan menjual rumah yang kini ditempatinya.


"Apa Non yakin dengan keputusan yang akan Non ambil ini?" tanya Mbok Nah, memastikan.


Hafsha menghela napas panjang lalu menunduk bingung. Matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian menoleh dan menatap wajah keriput wanita paruh baya yang selama ini setia mendampingi keluarganya dalam kondisi apa pun. Lantas mengangguk yakin. "Iya, Mbok. Aku yakin dengan keputusanku. Lagian kalau bukan menjual rumah itu dari mana kita bisa dapat uang sebanyak itu untuk biaya pengobatan Mama," ucap Hafsha dengan nada parau. Sepersekian detik kemudian air matanya mengalir deras membanjiri pipi.


"Sabar ya, Non!" ucap Mbok Nah. Kemudian memeluk Hafsha sambil mengusap pucuk kepala gadis berjilbab itu yang sudah ia anggap layaknya anak sendiri. Pun dengan Hafsha ia sudah menganggap Mbok Nah layaknya orang tua kandung kedua setelah mamanya.


Mau tak mau Mbok Nah pun setuju jika Hafsha menjual rumahnya. Mau bagaimana lagi tak ada jalan lain. Hanya itu jalan satu-satunya agar segera mendapat uang untuk biaya pengobatan Hilma.


Jika administrasi tidak segera dilunasi, pengobatan Hilma terancam dihentikan.


***********


Sudah hari ketiga Hafsha mencari orang yang mau membeli rumahnya yang bertingkat serta berukuran lumayan besar dengan gaya modern bernuansa abu-abu putih itu.


Rumahnya masih terlihat mewah dari luar. Kesan megah diperkuat dengan adanya pintu gerbang  hitam yang menjulang tinggi dengan ornamen bunga-bunga berwarna gold. Meski isi di dalam rumah itu sudah ludes terjual untuk biaya pengobatan sang mama. Sehingga terkesan kosong dan lega.


"Duh, cari pembeli ke mana lagi, ya?" gumam Hafsha. Dia sudah berkeliling ke sana kemari, tapi belum mendapat pembeli yang cocok. Semua menawar dengan harga yang rendah.


Hafsha istirahat, duduk di kursi yang tersedia di teras mini market lalu menenggak minuman dingin yang baru saja ia beli. Menutup botol minuman, mengembuskan napas beratnya. Mengusap peluh yang membasahi kening.


Lantas menunduk sambil memejamkan mata merapal do'a. Memohon pada Sang Esa agar diturunkan malaikat penolong.


Puk!


Sebuah tepukan mendarat tepat di bahu kanan Hafsha.

__ADS_1


Lantas Hafsha pun menoleh, memastikan siapa pemilik tangan lembut itu. Keningnya berkerut samar saat beradu pandang dengan orang asing yang entah sejak kapan duduk di sampingnya.


__ADS_2