Bad Girl Insyaf

Bad Girl Insyaf
BAB 6


__ADS_3

Cobaan semakin berat, itulah yang dirasakan oleh Hafsha.


Dirinya sering disatukan dalam pengerjaan tugas kelompok di sekolahnya dengan cowok yang berusaha dijauhinya. Siapa lagi cowok itu kalau bukan Hafiz.


Akhir-akhir ini Hafsha sering salah tingkah dan jantungnya berdetak hebat saat berdekatan dengan Hafiz. Hafsha takut kalau sampai dirinya terbawa perasaan. Meski kini satu kelompok dengan lelaki yang mampu menggetarkan hatinya, gadis berjilbab itu berusaha bersikap biasa saja. Meski itu sangat sulit baginya.


***


"Kenapa, Sha?" tanya Hafiz saat mendapati Hafsha tengah membongkar pulpennya.


"Tintanya habis. Mau beli ke koperasi sekolah males, nanggung tinggal sedikit lagi padahal selesai mencatat tugasnya," jelas Hafsa sambil kembali merapikan pulpennya. Raut wajah Hafsha tampak sekali sedang kesal.


"Memangnya kamu gak bawa pulpen cadangan?" Lagi, Hafiz melontarkan pertanyaan, dan hanya dijawab dengan gelengan oleh Hafsha sambil mendengkus kesal.


"Ya sudah ini, pake punyaku saja," titah Hafiz seraya menyodorkan pulpen ke depan Hafsha.


"Terus, kamu gimana nyatetnya?" tanya Hafsha sambil meraih pulpen yang tergeletak di mejanya.


"Aku sudah selesai kok. Lagi pula aku bawa pulpen cadangan," ujar Hafiz sambil mengubek-ubek dalam tasnya mencari pulpen cadangannya.


"Oh, ya sudah, ini aku pake ya, kalau gitu," ucap Hafsha seraya mengacungkan pulpennya dan dijawab dengan anggukan oleh Hafiz.


***


Gosip tentang kedekatan Hafsha dan Hafiz tersebar hingga sampai ke telinga Tirta, kakak kelas yang juga menjabat sebagai ketua osis. Cowok yang pernah ditolak oleh Hafsha dengan alasan ingin menjauhi apa yang dilarang oleh Tuhan.


"Munafik!" ejek Tirta, saat berpapasan dengan Hafsha.


"Maksud Kakak apa bilang begitu ke saya?" Hafsha menghalangi langkah Tirta meminta kejelasan dari apa yang baru saja diucapkannya itu.


"Kamu yang munafik. Kemarin nolak aku dengan alasan pengen taat, pengen fokus hijrah, tapi nyatanya apa? Sekarang malah pacaran sama murid baru itu!" ketus Tirta.


"Pacaran? Kata siapa aku pacaran sama Hafiz? Kita gak pacaran.  Kita hanya mengerjakan tugas kelompok bersama. Hanya sebatas itu, gak lebih!" terang Hafsha.


"Heleh, bulsit!" Tirta mengibaskan tangannya tak percaya dengan penjelasan Hafsha. Kemudian pergi meninggalkan Hafsha begitu saja.


Setelah gosip kedekatannya dengan Hafiz semakin meluas. Hafsha menemui Hafiz keduanya sepakat untuk jaga jarak antara satu dengan yang lainnya. Jika sebelumnya mereka sering satu meja di kantin atau di perpustakaan, kini keduanya memilih berjauhan. Demi menghindari terjadinya fitnah.


"Kamu putus ya, sama Hafiz? Kok sekarang kek jauh-jauhan gitu?" celetuk salah satu siswi saat mendapati Hafsha tengah berdiri sendirian di depan gerbang sekolah menunggu mobil jemputan. Biasanya memang selalu ditemani oleh Hafiz, sekedar mengobrol.


Belum sempat Hafsha menjawab, mobil jemputannya sudah datang. "Eum, ma'af aku duluan ya, mobil jemputanku sudah datang," ucap Hafsha lalu meninggalkan teman sekelasnya itu setelah mengucap salam.


***


Sesampainya di rumah, Hafsha dikejutkan dengan kegaduhan yang terjadi di kamar orang tuanya.


Hafsha langsung menaiki anak tangga dengan langkah setengah berlari ke lantai atas, mendekati kamar orang tuanya. Melihat apa yang terjadi dari sela pintu yang tak tertutup dengan rapat. Di dalam sana Mama dan Papanya tengah bertengkar hebat. Mengabsen nama salah seorang wanita dengan sebutan pelakor.


Hafsha yang tak tahu mesti berbuat apa memilih pergi ke kamarnya sendiri. Bahkan dari kamarnya terdengar jelas pertengkaran kedua orang tuanya. Air mata kesedihannya tak terbendung saat sang mama teriak meminta cerai.


"Oke, kalau itu maumu kita cerai! Lagi pula aku sudah muak dengan semua ini!" pekik Papa.


"Aku yang muak! Selama ini aku diam menghadapi kelakuanmu, Pah. Sudah cukup mama bersabar selama ini. Sekarang tidak lagi. Aku capek!" balas Mama nada suaranya lebih keras beberapa oktaf dari suara Papa.

__ADS_1


Hafsha ketakutan baru kali ini orang tuanya bertengkar begitu hebatnya. Sebelumnya hampir tidak pernah bahkan terkesan baik-baik saja dan harmonis. Saat terdengar suara barang dibanting Hafsha meringkuk di atas kasur sambil menutupi telinganya dengan bantal agar tak mendengar keributan yang terjadi di kamar mama papanya yang terletak di sebelah kamarnya hanya berselang satu ruangan yakni ruangan keluarga.


"Ya Allah, lindungi keluargaku." Hafsha melantunkan do'a di tengah isak tangisnya.


Tak lama kemudian kegaduhan di kamar orang tuanya tidak terdengar lagi. Senyap.


Hafsha yang penasaran memutuskan untuk memastikan keadaan di kamar Mama dan Papanya itu. Lantas bergegas bangkit dari ranjang dan melangkah perlahan agar tak terdengar langkahnya. Mindik-mindik kaya mau maling, mengintai ke dalam kamar orang tuanya. Di dalam sana hanya tinggal mamanya seorang diri sedang menangis tersedu-sedu.


Melihat pemandangan seperti itu hati Hafsha bagai disayat sembilu. Sakit. Pintu yang memang tak dikunci itu, Hafsha buka perlahan. Cukup lama gadis yang saat ini mengenakan jilbab warna hitam itu berdiri di ambang pintu. Namun, sang mama tak menyadari keberadaannya.


Pandangan mata Hafsha mengedar ke seluruh ruangan kamar bernuansa biru putih itu kemudian terhenti di lemari baju sang papa yang pintunya terbuka dan menampakkan isi dalam lemari. Kosong. Hanya sisa beberapa saja pakaian ayahnya itu pun yang mengecer di lantai.


Koper yang biasanya bertengger di atas lemari kini tak terlihat lagi.


Hafsha mendekat ke tempat sang mama yang tengah duduk di pinggir ranjang. Menangis.


"Ma," ucap Hafsha sambil mengusap bahu sang mama. Mamanya tak merespon masih terus menangis. Bahu wanita di hadapannya itu terguncang dengan begitu hebatnya. Tangis sang mama malah semakin jadi usai menatap ke arah Hafsha sekilas.


Kemudian Hafsha memeluk sang mama dengan erat. Bermaksud menyalurkan ketenangan. Cukup lama kedua wanita itu berpelukan sambil menangis. Sampai akhirnya tenang dengan sendirinya.


"Kamu sudah makan?" tanya Mama sambil membersihkan sisa air mata yang membasahi pipi mulusnya. Hafsha merespon dengan gelengan masih sambil menyandarkan kepalanya di sisi bahu sang mama. Sementara kedua tangannya melingkar di pinggang ramping wanita yang telah melahirkannya tujuh belas tahun silam itu.


Ya, wanita yang memiliki nama Hilma itu masih terlihat cantik dan seksi meski usianya sudah tidak muda lagi. Terlihat awet muda seperti artis Dona Harun. Sangat disayangkan jika papanya sampai tergoda oleh pesona wanita lain.


Hafsha juga heran dan penasaran akan seperti apa paras wanita yang mampu memalingkan wajah papanya dari kecantikan sang mama.


"Kok belum? Ayo makan!" ajak Mama yang berusaha menetralisir keadaan. Lagi, Hafsha menggeleng dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang bergelayut di benaknya, tapi Hafsha takut untuk melontarkannya. Takut jika sang mama kalut lagi. Akhirnya memilih mengurungkan niatnya untuk menginterogasi sang mama.


Kemudian memilih mengajak sang mama makan dan lanjut ngopi bersama di ruang tengah. Hafsha berusaha bersikap sok kuat di hadapan sang mama. Meski sebenarnya ia tengah dilanda ketakutan. Takut jika orang tuanya benar-benar akan bercerai dan keluarganya hancur.


"Ma," panggil Hafsha dan dijawab dengan gumaman oleh sang mama. "Mama mau ke mana? Jalan-jalan, shoping, atau mau nonton barangkali untuk menenangkan pikiran. Hafsha siap menemani Mama, ke mana pun," tawar Hafsha berusaha menghibur mamanya.


"Enggak, Sayang. Mama lagi gak pengen ke mana-mana. Mama cuma pengen istirahat di kamar saja," balas Mama seraya menggenggam jemari Hafsha.


"Ya sudah, kalau gitu Mama istirahat saja di kamar, tapi kalau butuh sesuatu panggil saja Hafsha ya, Ma!"


"Iya, Sayang," balas sang mama, lalu bergegas ke kamar meninggalkan Hafsha seorang diri di ruang tengah.


Menghela napas panjang kemudian Hafsha pun bergegas ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Hafsha menangis sejadi-jadinya. Bingung dan takut.


\=\=\=\=\=


Sudah lima hari papanya gak pulang ke rumah. Sementara sang mama masih sering berdiam diri di kamar dan menangis. Timbul niat Hafsha untuk mencari di mana keberadaan sang papa. Hafsha ingin berusaha mempersatukan kembali orang tuanya.


Diawali dengan menelepon semua teman papanya juga saudara-saudaranya menanyakan keberadaan sang papa barangkali menginap di salah satu rumah mereka. Namun, nihil. Tak satu pun yang mengetahui keberadaan papanya. Entah mereka berbohong,  entah jujur.


Hafsha menggeleng putus asa. Dibantingnya ponsel yang semula berada di genggaman tangannya ke atas kasur. "Papa jahat!" desis Hafsha. Bulir bening mulai mengalir dari pelupuk matanya, titik demi titik menderas membasahi pipinya.


Menunduk pilu, tangis Hafsha semakin jadi saat bayangan perceraian kedua orang tuanya terlintas di benaknya.


"Siapa sih, wanita yang tega merebut cinta Papa, yang seharusnya tercurah untukku dan Mama?" gumam Hafsha seraya meraih kembali ponsel yang semula tergeletak di atas kasur. Membuka pola sandinya dan mulai mengubek-ubek sosmed sang papa untuk mencari tahu, tapi semua akun papanya terkunci.


Lagi, Hafsha membanting ponselnya. Emosi menguasai jiwanya, ingin sekali berteriak sekuat tenaga meluapkan amarah yang membuncah dalam dada, tapi tak bisa. Hafsha hanya mampu tersedu sambil memeluk guling dengan erat.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Terlintas di benak Hafsha untuk mengakhiri hidup saat usahanya mencari keberadaan sang papa tak membuahkan hasil. Ditambah ejekan dan olokan dari teman-teman di sekolahnya juga para tetangga yang mengatakan bahwa papanya digondol pelakor.  Sakit sekali hati Hafsha mendengar cacian semua orang. Juga merasa malu tentunya.


Hafsha putus asa dan merasa sebagai anak yang tak berguna bagi kedua orang tuanya. Karena tak bisa berbuat apa-apa saat mama dan papanya dilanda masalah besar seperti sekarang.


"Enggak, aku gak boleh bunuh diri. Ini salah, gak seharusnya aku melakukan ini," gumam Hafsha seraya membanting botol yang berisi cairan pembersih lantai yang nyaris ditenggaknya. "Astaghfirullah hal'adzim, apa yang aku lakukan. Hampir saja aku melakukan hal bodoh yang hanya akan menambah beban kedua orang tuaku," imbuhnya.


Kemudian duduk memeluk lutut di dalam kamar mandi, menangis menyesali kebodohan yang hampir saja dia lakukan.


Berulang kali Hafsha mengucap istighfar. Hampir saja setan menang, untung Hafsha dapat menyadari kesalahannya di waktu yang tepat. Jika tidak, entah apa yang terjadi padanya.


Di ujung keputusasaan Hafsha baru teringat pada sang Ustaz. Akhirnya Hafsha memutuskan menemui gurunya itu untuk meminta wejangan.


Sang ustaz memberi nasehat banyak terhadap Hafsha sehingga gadis yang memutuskan untuk meniti jalan hijrah itu kembali kuat.


\=\=\=\=\=


Berkat kesabaran dan do'a yang tak henti Hafsha lantunkan usahanya berbuah keberhasilan. Hafsha berhasil bertemu dengan papanya dan meminta agar kembali ke rumah bersatu lagi dengan mamanya. Namun, papanya menolak.


"Papa mohon mengertilah, Sha. Hubungan Papa dan Mama ini sudah tak bisa lagi dilanjutkan," ucap papa Hafsha. Lelaki berbadan atletis itu berusaha memberi pengertian pada putri semata wayangnya.


Tak heran jika para wanita di luaran sana masih banyak yang tertarik dengan papanya. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tapi masih terlihat tampan dan berkarisma. Ditambah lagi pria yang memiliki nama Hendrawan itu selalu memperhatikan penampilannya. Selalu terlihat fashionable setiap harinya. Keren.


Makanya tak heran jika Hafshanya juga cantik, dia terlahir dari pasangan yang serasi.


Sangat disayangkan jika keluarganya harus tercerai berai karena hadirnya orang ketiga.


"Pa, setidaknya sekali saja beri kesempatan untukku, putrimu ini merasakan kebersamaan dan kehangatan keluarga yang utuh dan harmonis seperti tahun kemarin." Sekali lagi, Hafsha berusaha membujuk papanya agar mau berbicara dari hati ke hati dengan dirinya juga mamanya.


Meski tak mudah menasehati orang yang tengah diserang virus asmara dengan wanita lain, tapi Hafsha pantang menyerah. Tidak hanya sekali, bahkan sampai berkali-kali Hafsha memohon pada papanya juga mamanya agar saling mengendalikan ego masing-masing.


\=\=\=\=\=


Hari terus berganti, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Hendrawan dan Hilma bakal baikan. Meski sudah dirundingkan secara kekeluargaan dan juga sudah meminta sang ustaz untuk mendamaikan, tapi belum menemukan titik terang.


Padahal sang ustaz sudah menjelaskan  apa saja dampak dari perceraian. "Perceraian itu perkara halal yang paling dibenci oleh Allah," tutur Ustaz, mencoba menasehati Hendrawan dan Hilma di depan Hafsha dan juga keluarga lainnya.


Namun, Hendrawan bersikukuh akan menjadikan wanita yang sekarang tengah digandrunginya itu sebagai istri kedua. Bahkan secara blak-blakan meminta izin kepada Hilma juga Hafsha dan anggota keluarga lainnya untuk menikah lagi.


Sementara Hilma tak mau jika dirinya dimadu, ia yakin bahwa tak kan sanggup jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Hilma memilih diceraikan ketimbang harus dimadu.


Hafsha akhirnya memilih pasrah menghadapi keegoisan kedua orang tuanya. Mencoba tawakal meski berat. Hafsha yakin apapun yang terjadi nantinya, itu semua terjadi atas kehendak Allah dan sudah pasti yang terbaik untuk semuanya.


\=\=\=\=\=


"Papa!" pekik Hafsha saat sepulang dari sekolah dan mendapati papanya tengah duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


Gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan jilbab warna putih itu langsung berlari menghambur ke pelukan sang papa. Rindu, katanya. Karena sudah lama tak bersua.


Di ruang tamu bernuansa putih itu terdapat sang mama juga di sana, sedang duduk di sofa seberang meja yang terbuat dari kaca. Hilma duduk mengamati kemesraan antara papa dan putrinya. Seulas  senyum terlukis di ujung bibirnya yang merona karena polesan lipstik warna nude.


Dahi Hafsha berkerut samar saat mendapati papa dan mamanya saling curi pandang kemudian sama-sama tersenyum tipis. Hilma dan Hendrawan kemudian  menatap Hafsha secara bersamaan sambil mengedikkan alis ke hadapan putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


Tingkah aneh kedua orang tuanya itu membuat Hafsha jadi bingung dan bertanya-tanya dalam hati akan apa yang sebenarnya terjadi pada mama juga papanya.


__ADS_2