
"Eum, Kakak, sejak kapan di situ?" tanya Hafsha gerogi. Salah tingkah.
"Baru beberapa detik yang lalu."
"Oh, ada perlu apa, ya? Tumben gak ada angin, gak ada hujan, kok ...." Hafsha tak menyelesaikan kalimatnya. Karena seseorang yang ia panggil kakak itu menyela dengan kekehan.
"Memangnya harus ada angin sama hujan dulu baru boleh nyamperin kamu?"
Hafsha terkekeh seraya merapikan hijabnya. Salah tingkah. "Eum, bukan begitu ...."
"Terus bagaimana?"
"Ada perlu apa, Kak?"
"Enggak ada perlu apa-apa. Cuma pengen ngobrol sama kamu saja. Boleh kan?"
"Eum, boleh. Tapi ...." Ucapan Hafsha terjeda karena suara bell tanda masuk berbunyi.
"Sudah waktunya masuk kelas, Kak."
"Iya, ya sudah, ngobrolnya dilanjut nanti pas pulang sekolah. Kamu nanti gak buru-buru kan, pulangnya?"
"Kayaknya enggak, Kak. Memangnya ada apa, ya?"
"Nanti saja sepulang sekolah aku kasih tahu. Sekarang masuk dulu yuk!"
Hafsha mengangguk. "Iya Kak. Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Lantas keduanya berpisah. Hafsha masuk ke kelasnya, pun sebaliknya.
__ADS_1
Saat sampai di ambang pintu kelas, Hafsha dicegat oleh Chelsea and the geng.
"Loe ada hubungan apa sama Kak Tirta?" tanya Chelsea tanpa basa basi.
Hafsha menggeleng. "Enggak ada hubungan apa-apa kok."
"Jangan bohong! Tadi ngapain berduaan duduk di sana?" cecar Chelsea seraya menunjuk arah, tempat di mana tadi Hafsha dan Tirta duduk.
"Eh, ada apa ini? Bukannya masuk kelas, kok malah ngobrol di ambang pintu. Ayo masuk!" tutur sang guru dengan nada tegas.
Hafsha dan Chelsea beserta gengnya mengangguk. Kemudian masuk dan duduk sesuai titah sang guru.
*****
Sepulang sekolah Hafsha berdiri di depan gerbang menunggu mobil jemputan. Tak lama Chelsea and the geng pun datang bersama dengan Lena, Tasya, Ranty, dan Sela. Keempat sahabatnya itu melengos saat berpapasan dengan Hafsha seolah tak pernah kenal saja.
"Nunggu jemputan juga?" tanya Hafsha basa basi mencoba mencairkan suasana. Namun, hanya direspon dengan lirikan sinis dan cebikan dari keempat sahabatnya itu.
Kini semua menjadi dingin dan beku.
"Sha," Hafsha langsung menoleh ke arah sumber suara. Pun dengan Chelsea and the geng, dan saat tahu siapa pemilik suara itu. Raut wajah Chelsea berubah masam.
"Eh, Kak Tirta. Ada apa?"
"Lho, kok ada apa? Bukannya tadi kita sudah sepakat untuk ngobrol dulu sepulang sekolah."
Hafsha mengangguk pelan salah tingkah. Sementara Chelsea sangat kesal dengan pemandangan yang ia saksikan.
"Kak Tirta, denger-denger motornya mogok ya?" sahut Chelsea seraya melangkah mendekat dan langsung berdiri di tengah-tengah Hafhsa dan Tirta.
"Iya, tahu dari mana?" Dahi Tirta mengernyit samar.
__ADS_1
"Tahulah, apa sih, yang Chelsea gak tahu."
"Eum, gimana kalau kita pulang bareng saja, Kak. Naik mobil aku!" ajak Chelsea.
"Ma'af, aku masih ada perlu sama Hafsha. Jadi, kamu duluan saja!" Tak terima mendapat penolakan dari Tirta. Chelsea menatap Hafsha dengan tatapan penuh ancaman sebelum akhirnya pulang duluan karena mobil jemputannya sudah datang.
Kini tinggal Hafsha dan Tirta saja. Hafsha merasa resah ia tak nyaman harus berduaan dengan lelaki.
"Eum, Kak Tirta ada perlu apa? Sebaiknya cepat katakan dan pergi. Tidak etis Kak, jika kita berduaan di sini. Sementara situasi sekolah sudah mulai sepi."
"Baiklah Sha, jadi gini sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini. Tapi, keberanianku baru terkumpul sekarang." Tirta tampak salah tingkah, gerogi.
"Iya, ada apa Kak?"
"Sha, aku suka padamu. Maukah kamu jadi kekasihku?"
Deg.
Jantung Hafsha terasa bagai hendak terlontar keluar. Ini yang ia nantikan dan harapkan sejak lama. Tapi kini ia tahu hukum pacaran itu tak diperbolehkan dalam islam. Namun, ia juga sangat mencintai Tirta. Hatinya ingin sekali menerima cinta sang pujaan.
"Kalau kamu belum bisa memutuskan mau menerima atau tidak cintaku ini. Boleh dijawab kapan-kapan Sha. Tapi jangan kelamaan, ya!"
Belum sempat Hafsha menjawab jemputan untuk dirinya dan juga Tirta datang.
"Eum, ma'af Kak, jemputan saya sudah datang. Saya pulang dulu. Lain kali disambung lagi obrolannya."
"Iya, jemputanku juga sudah datang. Aku tunggu jawaban darimu secepatnya." Terlukis senyum di ujung bibir Tirta yang tipis. Manis. Senyum penuh harap.
Hafsha gelagapan, bingung. Ditolak sayang gak ditolak dosa. Ia kembali dilema, imannya goyah lagi. Pikiran buruk untuk kembali seperti dulu timbul lagi. Keinginan untuk melepas hijab demi bisa bersama Tirta terus menghantui.
Next
__ADS_1
⬇⬇⬇