
Di tengah malam, Sakura mengendarai motor ninja hitam kesayangannya. Motor itulah yang selalu membawa keberuntungan baginya saat ia balapan. Rambut merah mudanya yang tertutupi black helm full face yang ia pakai dan menyisakan anak rambut yang terlihat dari kaca helm.
Emerlad Sakura melirik ke arah spion motornya dan ia menyunggingkan senyum smirk dibalik helm nya. Beberapa motor dibelakangnya tengah berusaha mengegas motor dengan kecepan penuh untuk melampaui Sakura, namun usaha itu sia-sia karena Sakura lah yang pastinya akan memenangkan lomba balapan ini.
Semua penonton balapan ilegal ini bersorak ramai karena mereka memang sudah menduga jika Sakura yang akan menjadi pemenangnya. Itu sudah pasti karena keahlian Sakura saat menaiki motor ninjanya melebihi Valentino Rossi.
Sakura mematikan mesin motornya kemudia melepas helm full face dari kepalanya. Surai merah muda panjangnya mulai tergerai hingga sampai ke punggung, menambah kesan nyentrik dan keren bagi para fans nya di sini.
Seorang gadis dan pemuda yang umurnya diatas 2 tahun dari Sakura berjalan menghampiri dirinya dan memberi selamat untuknya. Scarlette dan Zain namanya. Mereka adalah kakak kelas sekaligus teman dekat Sakura di kota Cambridge. Jika tidak ada mereka berdua mungkin Sakura sudah ada di peti mati sekarang karena mati kebosanan.
"Congrats! Kau memang hebat!" puji Scarlette sembari menjabat tangan Sakura kemudian menariknya ke dalam dekapannya.
"Ya, begitulah. Tidak ada yang bisa mengalahkanku disini," sahut Sakura sombong.
Sekarang Zain mulai memukul pundak Sakura hingga sang empu sedikit meringis. "Jangan terlalu sombong. Bisa saja kau akan mengalami karma setelah ini."
Sakura menaikkan alisnya lalu memutar bola matanua bosan. "Terserah kau saja." Gadis itu mulai memasang helm nya kembali di kepalanya dan menghidupkan motor. "Untuk uangnya, sudah kubagi rata. Kalian tinggal cek saja di rekening." Dan setelah itu Sakura melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju jalan raya.
••
__ADS_1
Sakura memarkirkan motornya di garasi mansion yang ukurannya super big. Setelah itu ia beranjak menuju ke kamarnya dengan santai karena di pemikirannya, kedua orang tuanya tengah bekerja dan akan pulang larut malam. Itulah yang Sakura simpulkan dari apa yang ia lihat.
Namun, pada saat Sakura membuka pintu mansion, dirinya dibuat terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya yang duduk di sofa panjang ruang tengah tengah menatap tajam mengintimidasi kearah dirinya. Sakura mulai bergidik ngeri sendiri karena suasana yang mulai tak bersahabat.
"Dari mana saja kau, Saki?" tanya Kizashi dengan nada mengintimidasi.
Lidah Sakura kelu. Seharusnya hal ini tidak terjadi, pikirnya. Kenyataan telah menampar Sakura hingga sadar di tepi pantai. Otak Sakura mulai berpikir untuk mencari alasan. Setidaknya hobinya tidak akan diketahui oleh ayah dan ibunya.
"Aku pergi ke pesta ulang tahun teman, Pa," sahut Sakura mencoba untuk sesantai mungkin.
"Benar ke pesta teman?" Salah satu alis Mebuki terangkat. "Atau balapan?"
Kizashi memijit pangkal hidungnya. "Kau ini sama saja dengan ibumu dulu."
"Aku tidak separah Saki, Anata!" bantah Mebuki.
Sakura dapat melihat ayahnya tengah menghela napas. Tiba-tiba firasat buruk melanda pikiran dan batinnya. Dan satu perintah ayahnya membuatnya mencebik kesal.
"Jangan sampai karma yang dikatakan Zain itu ada!" inner Sakura berteriak.
__ADS_1
"Papa sudah siapkan tiket pesawat untukmu ke Tokyo. Besok pagi kau berangkat. Papa sudah menyiapkan surat kepindahanmu ke Konoha International High School," utar Kizashi dengan nada setenang mungkin.
"Apa?! Aku dipindahkan ke Tokyo?" Kedua orang tuanya mengangguk. "Lalu, aku akan tinggal dimana, Pa?"
"Tentu saja bersama kakakmu, sayang." Mebuki tersenyum manis pada putrinya. "Sementara kami akan tinggal di sini."
Wow!
Hebat sekali. Sakura dipindahkan ke kampung halamannya dan tinggal bersama kakaknya. Ini adalah mimpi buruk. Ia membayangkan betapa ketatnya penjagaan di Jepang, sehingga pembalap jarang balapan di sepanjang jalanan.
Jujur, Sakura ingin menolak. Tapi ia juga tidak bisa menolak sang ayah. Bisa-bisa dirinya diasingkan ke empat lain yang lebih ekstrim, contohnya saja Singapura. Sakura tidak ingin hal itu terjadi.
"Ingat, Saki! Jangan berbuat macam-macam di sana karena bibimu, Tsunade akan mengawasimu." Sakura mengernyit, tidak mengerti ucapan yang dilontarkan oleh ayahnya. "Tsunade adalah kepala sekolah di sekolahmu nanti." Demi neptunus! Ini lebih buruk dari hukuman dari Mr. David di sekolahnya. Entah apa yang akan terjadi nanti saat dirinya berada di sana.
"Habislah aku. Ini menyebalkan! Shanaroo!"
Di kamarnya Sakura dengan tidak ikhlas mulai mengepak semua pakaian yang bisa dibilang sangat berandal di dalam koper merah mudanya. Meski Mebuki sudah menyiapkan pakaian di mansion lama keluarga Haruno, tetap saja Sakura akan membawa semua pakaiannya karena ia tidak pernah nyaman dengan pakaian yang diberi nama gaun atau sejenisnya.
Setelah selesai packing, Sakura merebahkan tubuhnya diatas ranjang untuk yang terakhir kalinya. Gadis pinky itu mengambil ponsel pintarnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Scarlette dan Zain. Anggap saja itu pesan selamat tinggal dari dirinya.
__ADS_1