
Bruk!
Tubuh Sakura terhuyung kebelakang. Rasanya berat karena tubuhnya sedikit menopang berat badan Ino yang memang sangat berat seperti ****, sementara berat badannya hanya 37 kg dan itu sudah termasuk ideal tidak seperti Ino yang mempunyai berat badan 41 kg.
"Jidat! Aku merindukanmu! Sangat!" pekik Ino girang, namun ia tidak tau jika suara merdu membahananya baru saja hampir merusak gendang telinga milik Sakura karena Ino berteriak tepat di sebelah telinganya.
Sakura mendorong Ino menjauh. "Aku baru saja kembali dan kau sudah membuat telingaku sakit!" Ino hanya menanggapinya dengan cengiran lebar.
"Maafkan aku, Jidat. Aku hanya merindukanmu, itu saja," kata Ino.
"Tapi apa kau tidak tau jika aku hanya merindukan Panda ku, hm?" goda Sakura dan berhasil mendapat satu jitakan di jidat lebarnya seperti landasan pesawat. "Hei! Jangan sembarangan menjitak orang! Aku hanya bercanda."
"Huh! Bercandamu tidak lucu!" sungut Ino.
"Dan aku sama sekali tidak pernah berkata jika itu lucu, ****." Sakura mengelus lembut jidatnya. Untung saja jidatnya ini tidak memerah, membengkak atau terluka, bisa-bisa dirinya dipermalukan karena jidatnya lah aset pentingnya di fisik luar.
"Jidat! Kau mau kemana?" tanya Ino berteriak saat Sakura berjalan menjauh dari dirinya.
"Kantor kepala sekolah!" sahut Sakura sembari melambaikan tangannya.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Jidat!" teriak Ino lagi kemudian aquamarine nya sudah tidak dapat melihat sahabat merah mudanya karena Sakura sudah masuk ke sekolah.
__ADS_1
Ino merasakan ada yang menepuk bahunya dan ternyata dia adalah Sai, kekasihnya. Ia tersenyum kemudian memandang aneh teman-temannya yang seperti ingin menagih penjelasan.
"Dan kau berhutang penjelasan pada kami, Ino!" kata Tenten penuh dengan penekanan.
Ino sekarang mulai gugup. Ia tidak ingin kembali merasakan pukulan Tenten, secara gadis cepol itu adalah seorang yang mahir dalam bela diri, berbeda dengan dirinya yang hanya mahir dalam shopping.
"H-hei, tidak hanya aku, tapi Temari juga. Dia juga mengenal Sakura," bela Ino dan setelah itu mendapat tatapan tajam dari Temari. Ia meneguk ludahnya kasar.
"Um, jadi Temari-chan mengenalnya?" Temari mengangguk mengiyakan pertanyaan Hinata. Ia berusaha terlihat tenang walau semua menatapnya dengan tatapan bertanya.
Temari menghembuskan napasnya pelan. "Dia itu sepupuku."
Brak!
Sakura membuka pintu ruang kepala sekolah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan itu sudah menjadi hobinya untuk mengagetkan para gurunya saat di Cambridge. Ia melihat bibinya, Tsunade duduk di kursi kepala sekolah dengan tatapan tajam mengintimidasi pada Sakura.
Sakura mengumpat dalam hatinya tentang hal ini. Sepatutnya ia tidak dipindahkan kemari hanya karena ucapan Zain yang mengatakan dirinya akan terkena karma. Ucapan adalah doa, banyak orang yang bilang begitu dan beginilah jadinya.
"Bisakah kau sedikit sopan, Sakura?" Tsunade menatap Sakura jengkel. Tentu saja Tsunade tau perihal keponakannya itu hingga sampai diasingkan ke tempat lahirnya. Tsunade sendiri sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena sifat badgirl adiknya menurun kepada keponakannya. Ini akan sulit, pikirnya.
"Dan apa yang kau pakai itu? Kau ingin bersekolah atau ingin bermain di club?" tanya Tsunade dengan tatapan tak percaya dengan apa yang dipakai oleh Sakura saat ini. Seragam sekolah yang terlihat acak-acakan juga rambut Sakura yang dikuncir kuda.
__ADS_1
"Ah, saran yang bagus." Sakura memejamkan matanya menimang-nimang. "Daripada aku sekolah lebih baik aku ke club saja, itu lebih menyenangkan."
Tsunade menajamkan matanya. "Diam kau atau kuadukan kau pada orang tuamu!" Dan ancaman itu berhasil, Sakura diam tanpa diancam untuk yang kedua kalinya. "Hah, sepertinya ini berhasil."
Di dalam hatinya, Sakura terus meronta-ronta ingin mencabik dan memaki bibinya itu habis-habisan. Ini sangat menyiksa, ia ingin kembali ke Cambridge agar bisa bermain bersama Zain dan Scarlette. Mereka lebih menyenangkan dibandingkan satu bibi menyebalkan yang sangat mirip dengan kakeknya, Hashirama.
"Baiklah, bisa kau katakan dimana kelasku?" tanya Sakura dengan nada sesopan mungkin.
Tsunade menyeringai kemenangan. "Kau masuk ke kelas 12 A. Pergilah!" Sakura mengangguk patuh kemudian pamit dengan sopannya.
Setelah keluar dari ruangan Tsunade, Sakura terus mengeluarkan kata makian untuk bibinya itu. Sesampainya di kelasnya, Sakura langsung membuka pintu kelas dengan kasar dan penghuni kelas mulai terkejut dengan kehadiran murid yang tidak mereka kenal.
Di saat itu juga, Kakashi meletakkan buku Icha-Icha Tactics, karya dari Jiraiya yang notabenenya adalah kekasih Tsunade.
"Anak-anak, kita kedatangan murid baru hari ini. Silakan perkenalkan dirimu."
"Haruno Sakura. Salam kenal!" Ia memperkenalkan dirinya secara blak-blakan dan menekankan setiap kaliamatnya walau itu terkesan sopan bagi Kakashi. "Menyebalkan! Lebih baik aku diajar oleh Mr. David dibanding dengan guru jadi-jadian ini." Sakura melirik Kakashi sekilas.
"Baiklah, Haruno. Kau duduk bersama Uchiha Sasuke. Sasuke, angkat tanganmu!"
Sasuke mengangkat tangannya sembari menyeringai kecil, sedangkan Sakura mulai was-was pada tatapan menyeringai yang diberikan padanya.
__ADS_1