
Seusai jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan Gaara, Sakura mengucapkan selamat tinggal kepada sepupu pandanya itu karena Gaara harus segera pulang ke Osaka, jika tidak mungkin Yashamaru dan Biki akan khawatir dan uring-uringan mencari Gaara.
Sakura melajukan motornya dan sampailah dirinya di mansion tempat dirinya tinggal. Saat dirinya masuk, Sasori menyambut Sakura dengan tatapan tajam mengintimidasi seolah seekor singa ingin menerkam mangsanya sekarang juga, namun Sakura tak dibuat gentar karena ia sudah memiliki sesuatu yang bisa membuat Sasori sedikit patuh padanya.
"Temari bilang kau ke sirkuit balapan milik Gaara dan kau balapan bersamanya menggunakan motor kesayanganku. Bukankan sudah aku larang? Tapi kenapa masih dilanggar juga!" tegur Sasori frustasi.
Sakura mengedikkan bahunya acuh kemudian duduk di sofa yang ada dihadapan Sasori. "Harusnya kau tau jika kami berdua ini adalah couple berandalan."
Ctak!
Sakura menatap Sasori horror, ini sudah keempat kalinya dirinya dijitak dan sepertinya Sakura menjadi penerima jitakan disini. Jidat lebar Sakura memanas dan dapat dilihat banyak perempatan siku-siku di sana. Sakura sekarang sudah mulai geram namun ia berusaha untuk menahan amarahnya karena ia memiliki senjata khusus untuk kakak tercinta.
"Beruntung Temari memberitahuku. Dan bagaimana Gaara bisa kabur dari pengawasan Yashamaru dan Biki?"
Mata emerlad Sakura memutar bosan. "Dia pintar dalam hal kabur, tidak seperti dirimu yang selalu pasrah saat kena amuk Papa dan Mama." Sakura melirik Sasori yang tengah menahan emosinya dan itu membuat Sakura sedikit terkikik geli.
"Tenang saja, Kak. Gaara sedang dalam perjalanan menuju ke Osaka."
"Sekarang dimana kunci motorku?" pinta Sasori sembari mengulurkan tangannya.
Sakura menyeringai nakal. Dirinya baru saja akan menyerahkan kunci motor Sasori namun Sakura kembali menarik tangannya.
Sasori berdecak kesal. "Jangan menggodaku, Saki. Cepat kembalikan!"
__ADS_1
"Kenapa buru-buru sekali? Aku hanya meminjamnya tidak memghancurkannya," kata Sakura sembari memainkan kunci motor mewah Sasori di tangan kirinya.
"Saki, kembalikan! Jika tidak, maka-"
"Kau akan mengadukannya pada Papa dan Mama?" potong Sakura yang masih menyeringai nakal dan itu membuat Sasori memiliki firasat yang kurang enak disini.
"Silakan saja adukan pada Papa dan Mama, tapi sebagai gantinya motormu ini akan kuhancurkan di penghancur mesin," ancam Sakura membuat wajah Sasori pucat pasi.
"Jangan, Saki. Kau tau kan motor itu hanya ada satu di dunia dan aku sangat beruntung karena memilikinya. Jangan menghancurkannya," rengek Sasori membuat Sakura tersenyum kemenangan.
Sakura memasukkan kunci motor kesayangan kakaknya itu ke dalam saku celana black jeans yang ia pakai saat ini. Atensinya kembali ke depan menghadap kakaknya.
"Jika kau tidak ingin aku menghancurkan motormu, maka kau harus memenuhi tiga syaratku, bagaimana?" tawar Sakura dengan nada angkuhnya.
Sasori mengerucut sebal. Inilah yang tidak ia sukai dari adik cantik nan menyebalkan, selalu saja mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Sakura dan Gaara memang tidak ada bedanya, selalu saja membuat orang susah kepalang dengan tingkah mereka. Untung saja mereka dipisah, jika tidak hancur kota Tokyo ini dalam hitungan hari.
Sasori tersentak kemudian menatap Sakura dengan senyuman paksa di wajahnya. "Tidak, Saki. Aku setuju dengan tawaranmu. Katakan apa maumu."
Sakura menyeringai kemenangan, akhirnya dirinya bisa mengendalikan Sasori seperti boneka. Di dalam hatinya Sakura tertawa jahat sembari mengucapkan kata 'maaf' beberapa kali untuk kakak berwajah bayinya itu.
Sementara itu Sasori beberapa kali mengutuk Sakura di dalam hatinya. Sasori memang harus selalu waspada dan memiliki senjata khusus yang ampuh untuk mengalahkan Sakura dalam debat Presiden ini. Sasori memang kalah tapi lihat saja nanti pasti Sasori akan membalas Sakura, pikirnya.
"Pertama, aku ingin bermain seperti dulu saat di Cambridge, tanpa larangan." Sasori membulatkan matanya sembari membayangkan dirinya diseret oleh kedua orang tuanya untuk dihajar habis-habisan. "Dan Kakak tidak boleh mengadukannya pada Papa dan Mama."
__ADS_1
"Saki, kau sudah menyusahkanku kenapa kau menambah beban yang kupingkul sendirian?" tanya Sasori khawatir.
"Kedua, setiap seminggu sekali, Gaara harus mampir ke Tokyo." Sasori menganga dengan permintaan kedua Sakura. "Dan soal Paman Yashamaru dan Biki-sensei, Saso-nii yang akan mengurusnya."
Sakura berdeham. "Dan hanya itu."
Sasori mengernyitkan dahinya. "Tadi kau bilang akan meminta tiga permintaan." Sakura mengangguk mengiyakan. "Lalu, apa permintaan ketigamu?"
Sakura menyeringai nakal kembali. "Kakakku sayang, permintaan ketiga itu akan kusimpan untuk sementara. Jika aku butuh maka akan kusampaikan, ok?" Ia mengedikan sebelah matanya.
"Oh, iya. Kedua permintaanku ini berlaku sampai dua minggu, ok?"
Sasori menelan ludahnya kasar. Rasanya ia ingin mati sekarang. Ia berharap semoga datang keajaiban dari Tuhan agar bisa menyelamatkannya dari makhluk merah muda keras kepala yang notabenenya adalah adik kandung kesayangannya sendiri.
••
"Apa?!" teriak Temari dan Ino tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar, sementara Sakura hanya diam sembari meminum jus strawberry kesukaannya.
"Kurasa kau sudah gila sampai mempermainkan kakakmu sendiri," komentar Tenten.
Sakura memutar bola matanya bosan. "Oh, ayolah. Ini hanya mengambil kesempatan bukan mempermainkan."
Shikamaru menguap kemudian tidur bersender di bahu Temari yang dianggapnya nyaman. "Ya, kuakui kau memang cerdik, Nona."
__ADS_1
"Dan licik!" lanjut Sasuke sembari menyeringai.
Sasuke dan Sakura bertatapan selama beberapa detik kemudian tatapan mereka terputus karena Sakura yang beralih pada jusnya. Sasuke tentu saja kesal karena diabaikan. Apa berharganya sebuah jus dengan seorang Uchiha? Dasar gadis aneh, pikirnya.