
Melihat kesungguhan gadis sma itu, mau tak mau siCepak Leo percaya juga. Raut mukanya yang tadi penuh dengan kemarahan dan emosi kini terlihat sedikit menurun. Bagaimanapun juga, ia tak ingin disebut pemimpin yang arogan. Artinya, pemimpin yang tak bisa menilai benar atau salah.
"Hm.. baiklah! Anggap saja teman ku yang salah. Namun musti diingat, dua bulan lagi kita akan bertemu di atas ring oktagon. Dan kalian berdua akan merasakan betapa kerasnya pukulan ku ini..."
"Hm, baiklah. Akan aku tunggu di kejuaraan mma..." Jawab Jake dengan tenang dan tegas.
"Kalau begitu. Teman-teman ayo kita pergi..."
Sahut Leo serta merta mengajak teman-temanya untuk pergi. Karena pimpinannya mengajak pergi, meskipun masih penasaran akhirnya mereka samua pergi mengikuti perintah sang pimpinan.
Maka tak lama terdengar suara bising knalpot motor hingar- bingar, seterusnya geng pelajar itu pun berlalu meninggalkan Arya dan rekan-rekanya.
Setelah situasi mereda dan keadaan mulai membaik terdengar Jake bertanya.
"Apa kalian bertiga baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa..." jawab Arya, "Beruntung kau datang tepat pada waktunya. Jika tidak... Entahlah, apa yang akan terjadi. Maaf ya..." Arya merendah.
"Hey jangan bilang begitu, justru aku yang seharusnya minta maaf. Sebab karena perbuatan kita berdua, kalian bertiga hampir celaka..." Sahut Jake sambil tersenyum.
"Brow, jake. Aku tak menyangka kau terlibat keributan dengan gang pelajar itu. Beruntung mereka mau sadar dan mau pergi..." Terdengar Baim ikut bicara, setelah tadi mengalami shock akibat dikepung geng motor.
"Yup begitulah, mungkin mereka masih memandang ayah Bernie juga..."
"Yaya... Tapi apa benar diantara mereka ada yang mengganggu Afril?" Baim penasaran, sambil melirik afril pacarnya Berni.
"Sebetulnya, jika kak Berni sedikit sabar mungkin keributan bisa dihindari..." jawab Afril lembut.
"Sudahlah, aku malas membahas kejadian kemarin. Sekarang mari kita pulang..." jawab Berni sedikit ketus, membuat Jake tersenyum sebaliknya Avril memalingkan muka.
"Baik..." jawab Jake, "Oh iya, kalian bertiga mau kemana sekarang?"
"Tentu saja, aku mau pulang..."
"Bagaimana kalau kalian bertiga aku antar?"
"Aku mau dong..." seru Baim bersemangat, "Kapan lagi kita naik mobil sport bagus. Arya bagaimana, apa kau mau ikut?"
"Tidak terimakasih, lagian rumah ku berbeda arah dengan kalian..."
"No problem, jika kau mau biar ku antar sekalian bagaimana?" melihat ketulusan Jake akhirnya Aryapun turut.
"Mm.. Kalau begitu, baiklah. Aku ikut..."
"Ok. let's go brother..."
Seru Baim kegirangan, dan akhirnya mereka semua naik mobilnya Jake. Hanya Bernie yang terlihat kusut, karena memang selama ini selalu memandang rendah akan Arya.
Tak lama sebuah mobil sport merah melaju cukup kencang diantara kendaraan lainya yang berlalu lalang. Suaranya menderu merdu, beberapa kali Baim bersorak kegirangan.***
Setibanya di apartemen, Arya langsung bergegas pergi ke kamar mandi, lalu melepas pakaian serta Baju Zirahnya.
__ADS_1
Setelah beres mandi dan berpakaian rapi lalu menghampiri kedua sepupunya yang sedang asyik menonton tv acara kesayangan nya. Semenjak Arya bisa berjalan, bully an dan cacian sudah mulai berkurang. Apalagi setelah tahu bahwa Arya lah yang telah menolong mereka keluar dari penjara.
"Kau sudah makan, kak?" tanya Dinda.
"Sudah tadi di rumah teman. Oh ya. Kemana paman dan bibi?"
"Ia sedang berbelanja..."
"Baiklah..."
Arya lalu ikut nongkrong bersama kedua sepupunya menonton televisi, meski pun ia tidak terlalu suka namun demi kehangatan keluarga ia selalu meluangkan waktu ikutan berkumpul walaupun biasanya berakhir dengan caci maki.
"Bagai mana keadaan kaki mu sekarang?" giliran Bayu bertanya.
"Makin hari makin membaik, bahkan kata Dokter Rendy aku sudah tak perlu lagi berobat kepadanya..."
"Oh baguslah kalau begitu..."
"Kudengar kau mulai mengikuti kegiatan seni bela diri Muang thay, benarkah..." Dinda menimpali.
Arya hanya mengangguk, sambil tersenyum.
"Ow.. baguslah kalau begitu. Ternyata kau ada kemauan juga..."
"Sebenarnya sudah sejak dari dulu aku ingin mengikuti kegiatan tersebut, namun tahulah kondisi saya saat itu. Sekarang kaki ku sudah sembuh maka semua kegiatan yang selalu ku idamkan akan aku ikuti..."
"Mm.. Baiklah, namun kau harus berhati-hati. Ingat kakimu baru sembuh, jadi jangan terlalu memaksakan..." Arya tersenyum sambil menganggu kan kepalanya.
Terlihat di televisi, sedang menayangkan tentang terbantainya sebuah pasukan yang mati dengan tubuh yang penuh dengan luka tembak.
Terlihat seorang polisi sedang diwawancarai oleh seorang perempuan cantik yang bukan lain reporter tv. Terdengar sang reporter berbicara, sambil mendekatkan mikrofon ke sang polisi.
--'Jadi pasukan siapa yang sebenarnya terbunuh itu pak? Dan siapa kira-kira yang melakukannya?"--
--'Hingga saat ini, pihak kami masih menyelidikinya, namun yang jelas mereka bukanlah pasukan khusus kami..."
"Lalu siapakah kira-kiranya pelakunya, pak?"
--'Itu masih sedang kami selidiki, yang jelas pembunuhnya sangat kejam dan berbahaya. Tapi kami janji akan menangkap si pelaku sesegera mungkin...'--
__'Menilik atribut yang dipakai oleh para korban, sepertinya dari pasukan Obor merah. Apa betul begitu?'__
__'Ya meskipun begitu, kami akan terus menyelidikinya. ditunggu saja hasil rekan-rekan dilapangan...'__
--'Ok. Kalau begitu, terimakasih pak atas informasinya...'__
--'Ok. Sama-sama...'--
SiReporter terlihat mendekati, seorang warga yang berada diarea kejadian.. Sementara para petugas kepolisian sibuk mengamankan tkp dan menyelidiki terus tentang kejadian tersebut.
Disi lain sisi terlihat beberapa petugas, sibuk mengantongi mayat dan memasukannya kedalam mobil ambulan.
__ADS_1
__'Nah, pemirsa, Saat ini kami sedang bersama warga yang menyaksikan kejadian kemarin'__
__'Pak boleh, tau siapa nama bapak?'__
"Nama saya nurdin, panggil saja saya udin..'__
__'Baik, pak udin. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin itu?'__
__'Sebenarnya, saya tidak melihat apa-apa, saya hanya mendengar...'__
__'Baik, apa yang bapak dengar?'_ sahut si reporter tv sambil tersenyum.
__'Saya mendengar bunyi senjata dan beberapakali ledakan. Kukira itu suara tni yang sedang latihan bertempur, ternyata memang asli orang yang bertempur...'__ jawab Pak Nurdin dengan wajah polosnya.
__'Baik pak, kira-kira itu jam berapa kejadianya?'__
"Kalau gak salah ba'da magrib, saya bersama keluarga hanya mendengar. Tidak kurang tidak lebih...'__
Sementara reporter tv terus mewawancarai orang-orang yang berada disekitar kejadian, sementara terdengar Dinda bergumam.
"Tak disangka keamanan dikota kita ini semakin hari semakin memprihatinkan..."
"Iya betul, Din. Akhir-akhir ini, banyak kejahatan merajalela..."
"Terus terang saja aku jadi takut kalau jalan sendirian. Mudah-mudahan saja, aparat segera bisa cepat bertindak..."
"Yup, semoga saja..."
"Oh iya, kamu tau siBerni? Orang yang sering ngebuli dirimu?" mendadak saja Dinda bertanya kepada Arya.
"Mm... tentu. Memangnya kenapa?"
"Kemarin dia membuat keributan disekolah ku..."
"Oh iya..." Arya pura-pura tidak tahu. "Memangnya apa yang dia lakukan?"
"Dia menghajar siswa kelas 3a, namanya Dery. Kamu tau penyebabnya..." Arya menggelengkan kepalanya kembali.
"Si Dery itu memang terkenal mata keranjang, ia mencoba menggoda teman cewek nya siBerny. Itu.. SiAfril, anak tetangga sebelah, yang kau taksir..."
Mendengar itu muka Arya memerah, namun ia tak menjawab.
Sejak dulu, Arya memang menyukai Afril. Tetangga yang berbeda blok dari apartemenya, namun tidak dengan Afril yang memandang Arya dengan pandangan seorang anak yang cacad.
"Kamu musti hati-hati, sebab siDery sesumbar akan membalas perbuatan siBerni. Kalau pulang lihat-lihat dulu, siapa tau dia membalas dengan membabi buta..."
"Baik, aku pasti berhati-hati..."
Sesaat kemudian tiba-tiba paman dan bibinya kembali, ia pulang dengan membawa sayuran dan kebutuhan lainya.
"Bibi, saya bantu ya..."
__ADS_1
Berkata begitu, Arya lalu membawa belanjaan ke dapur. Sementara lamanya terlihat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.***