
Pagi harinya, setelah mandi dan sarapan Arya pergi menuju kesekolah. Seperti biasa, ia pergi ke halte bus tak jauh dari apartemennya, sambil menunggu bus datang Arya membaca surat kabar yang tergeletak dibangku tunggu. Dalam berita utama itu polisi telah menangkap seorang penjahat yang selama ini menjadi buronan dan meresahkan warga. Arya hanya tersenyum, sebab penjahat itu yang semalam ia tangkap dan ia hantarkan langsung ke pos penjagaan.
Tak lama setelah itu, seseorang menghampirinya dan duduk dengan muka cemberut. Saat Arya melirik, ternyata afril yang semalam ia tolong dari penjahat tersebut dan tentu saja Avril takan mengenali dirinya sebagai super hero sang penolongnya.
"Tumben gak dijemput Berni..." ucap Arya sambil tersenyum.
"Jangan bicarakan ia lagi..." jawab Afril ketus.
"Oh, maaf..."
"Mulai hari ini aku sudah putus dengannya..."
"Bukankah kau sangat mencintainya..."
Afril hanya mendelik tak senang, membuat jantung Arya berdegup kencang. Delikan itu sangat tajam, namun begitu indah bagi Arya.
"Semalam aku dan dia bertengkar, aku pulang sendiri dan dijalan aku hampir celaka dirampok orang. Beruntung saat itu ada seseorang yang melintas dan menolong ku..."
"Siapa penolong mu itu?"
"Aku tidak tahu..."
"Kenapa tidak tahu, apakah orang itu memakai topeng?"
"Kau..."
"Hehe... bercanda, maksud ku kenapa kamu tidak tanya pada orang yang telah menolong mu? Apakah kau tidak mengucapkan terimakasih?"
"Bukan begitu, tapi benar yang kau ucapkan. Orang itu memang mengenakan topeng sebatas hidung, berpakaian ketat berwarna perak layaknya pakaian super hero difilm-film. Tapi ini benar-benar nyata..."
"Oh..."
"Aku serius Ar..."
"Ya aku tau..."
Hening sejenak, kendaraan terus berlalu lalang. Hari itu memang Arya datang terlalu awal hingga harus menunggu bus sekitar 7 menitan lagi.
"Kalau diceritakan, mungkin orang tidak akan percaya dan menganggap ku stress. Namun kenyataanya memang begitu. Orang itu layaknya seorang super hero melawan para perampok sendirian..."
"Memangnya ada berapa orang perampok itu?"
"Cukup banyak! Tapi... tidak juga, ia sendirian namun perampok itu bisa menggandakan diri lebih dari satu orang?"
"Hahh, apa kau bilang?" Arya pura-pura terkejut, sambil menatap gadis sma itu.
"Sudah ku bilang, orang takan percaya apa yang ku katakan. Itu memang diluar nalar, bahkan orang tuaku menyuruh aku beristirahat hari ini untuk tidak masuk sekolah..." jengek Afril mengamuk.
Kembali Arya tersenyum dan berkata, "Yah, apa pun itu. Yang penting, kau kini sudah selamat tidak kurang suatu apa..."
__ADS_1
Afril hanya mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum manis. Membuat jantung Arya kembali berdegup kencang.
Anak gadis ini memang sudah ia sukai sejak lama, semenjak duduk di bangku sd, smp bahkan sekarang. Dari dulu afril memang satu apartemen, satu blok pula meskipun satu sekolahan baru tahun ini.
"Dalam berita utama dikoran hari ini, ada seorang perampok yang berhasil ditangkap polisi. Apakah yang semalam merampok mu penjahat ini?"
Tanya Arya sambil memperlihatkan halaman utama koran yang ia baca.
Gadis itu pun mendekat, wajahnya nyaris bersentuhan, membuat sukma Arya nyaris terbang seketika. Tercium bau harum dari tubuh perempuan itu. sesaat ia hanya mampu melongo seperti orang bodoh, beruntung afril tidak memperhatikan.
"Ya benar, rupanya penolong ku itu langsung membawa penjahat itu kekantor polisi. Bagus.. Bagus sekali..."
Afril berseru kegirangan, karena cerita perampokan semalam memang ada buktinya.
"Sini aku pinjam koranya, agar orang tua ku percaya. Bahwa aku tidak membual dan berbohong..."
"Baik silahkan saja..."
Sesaat kemudian, dari kejauhan bus jemputan sudah terlihat Aryapun berdiri, diikuti Afril.
"Ternyata kau jauh lebih tinggi dari ku?" ucap Afril sambil mengerlingkan bola matanya.
Sesaat kemudian mata Afril seperti terus mengamati, dari bawah hingga atas kepala.
Arya hanya tersenyum, ya.. semenjak memakai Baju Zirah dan melaksanakan petunjuk dari asisten pribadinya, kini bentuk tubuh nya sudah berubah drastis baik tinggi, otot perut dan sebagainya serta noda di wajah juga menghilang mungkin ini efek dari Skill Rehabilitasi.
"Mungkin baru kali ini kau berdiri disamping ku. Jadi kau baru menyadarinya..."
"Mm, yup... mungkin juga..." jawabnya sambil tersenyum.
Tak lama, bus sekolah tiba. Arya dan afril pun masuk.
"Boleh kah aku duduk bersamamu? Hari ini aku malas berdekatan dengan dia..." bicara begitu, sambil menunjuk Berni dengan mulutnya.
"Itu..." sesaat Arya tertegun
"Ayolah, hari ini saja hitung-hitung merilekan otot..."
"Baiklah..."
"Woy, sini..." mendadak Baim menyapa di kursi belakang. Sedangkan Jesika hanya tersenyum kearahnya.
"Hari ini aku duduk disini..." jawab Arya.
"Hey sob, aku pinjam teman mu hari ini ya..."
Afril langsung bicara pada jesika, Jesika hanya tertawa sambil menjawab.
"Tumben-tumbenan, nanti ada yang marah lo..."
__ADS_1
"Dia?! huh aku tak peduli..."
sahut afril sambil melirik ke arah Berni.
Melihat sikap Afril seperti itu, Baim dan Jesika menyadari tentu ada sesuatu yang terjadi antara Berni dan afril.
Sepanjang jalan, raut muka Berni tak sedap dipandang. Biji matanya menyiratkan kemarahan dan rasa cemburu kepada Arya, namun kali ini ia mati gaya sebab saat ini ia sedang dalam masalah besar.
Jake yang sekarang duduk disamping Berni terlihat beberapa kali menenangkan sahabatnya itu, agar tak sampai terjadi keributan. Jake sangat tahu, kalau selama ini Berni sangat membenci Arya.
"Hey jake, tumben kau tak pakai mobil mu sendiri?" terdengar pak supir bertanya,
"Aku rindu harum bus mu ini, pak tua. Hehe..." sahut Jake sambil tertawa.
"Oh ya, baguslah kalau begitu. Kapan kau ajak aku dan kondektur ku minum lagi..."
"Kalau mau, datanglah kerumah. Disana pak tua bisa minum wiski sepuasnya..."
"Haha... oke, kalau begitu. Tunggu pak tua datang, ya..."
"Siap, pak tua..."
Bus terus melaju dengan kecepatan sedang, jalanan cukup ramai. Hari ini semua orang beraktivitas seperti biasa.
Tidak lama berselang, bus sudah tiba di gerbang sekolah. Semua murid turun lantas menuju ruang kelas, termasuk Arya dan dua kawannya baim dan Jesika.
Hari itu jam pelajaran sangat berat bagi siswa yang lain, pelajaran matematika dan fisika. Namun bagi Arya justru dua pelajaran itu sangat mengasikan, termasuk rumus-rumusnya.
Saat ini, yang berada di tiga besar ialah Afril, Jesika, dan Arya. Lalu yang ke empat Jake dan kelima Berni.
Mereka berlima selalu bersaing ketat, dan kini yang membayangi peringkat kesatu tentulah Arya. Karena belakangan, ia selalu mengikuti pelajaran olah raga seperti yang lainya.
Di jam istirahat Baim dan jesika datang sambil membawa makanan. Suasana dikantin sangatlah ramai, meskipun cukup besar namun karena hampir semua murid berada disitu tentu saja kantin tersebut berasa sempit.
"Kau sudah makan, sob?" tanya baim.
"Tentu..."
"Ada berita penting nih, sob..."
"Berita apa?"
"Kemarin, orang tua sidery mengadu kepada kepala sekolah. Bahwa anaknya dipukuli, kini siBerni dalam masalah besar bahkan barusan ia dipanggil kekantor kepala sekolah..."
"Oh, ya..."
"Betul, dan bukan hanya itu. siJake dan afril pun ikut dipanggil..."
"Ya, itu sudah pasti, kan mereka bertiga ikut terlibat ..."
__ADS_1