
Tiga bulan Setelah Perampokan.
Hari ini.
Disebuah gedung pencakar langit yang berada disebelah utara kota bandung, nampak beberapa orang sedang duduk melingkar mengelilingi sebuah meja marmer bergambarkan pegunungan dan pantai.
Menilik roman dan naga-naga nya yang serius, jelas mereka semua sedang membahas suatu urusan yang sangat penting.
Pieter Smith sang pemilik perusahaan obor merah sangat kecewa, sebab robot x-16 yang raib 3 bulan lalu hingga kini belum juga diketemukan.
Masalahnya, Robot yang hilang itu telah melakukan kejahatan berupa perampokan disertai pembunuhan. Akibatnya ia pun mendapat teguran keras dari pihak yang berwenang, di karenakan robot yang hilang itu terindentifikasi milik perusahaanya.
Tuan Smith yang saat ini sedang berbicara melalui jaringan internet, meskipun tidak terlihat murka namun terdengar suaranya menyeramkan bagi orang-orang yang berada diruangan itu. Karena bisa saja ia mengeluarkan sangsi berupa pemecatan sepihak.
"Mm... Jadi sampai sekarang kalian semua belum bisa menangkap siPencurinya?"
"Maafkan kami tuan, kami semua benar-benar tidak becus. Hingga kini, kami belum dapat melacaknya. Apalagi menangkapnya, tuan..."
"Hm, kenapa bisa begitu?"
"Karena robot x-16 telah dilengkapi dengan fitur anti sadap dan anti radar. Itu sebabnya kami semua cukup kesulitan untuk menemukanya. Namun..."
"Namun apa?"
"Namun menurut beberapa agen, robot itu sempat terlihat disebuah perbukitan yang tidak jauh dari tempat tinggal karyawan kita yang ikut menghilang..."
"Oh iya, siapa nama karyawan kita yang ikut hilang itu? Dan di sekitar mana robot itu terlihat?"
"Namanya Baron Baruna, ia berada di wilayah perbatasan pantura. Ia ikut menghilang, dalam sebuah kecelakaan 3 bulan yang lalu..."
"Hm, apapun itu. Kau harus segera menangkapnya. Sebab jika perampokan terulang kembali, habislah kita semua. Sebab bagaimanapun juga, robot x-16 terindentifikasi milik perusahaan kita. Oleh sebab pemerintah tentu memberikan sangsi berat berupa pencabutan izin atas usaha kita ini..."
"Baik tuan..."
"Nah sekarang, untuk sementara kantor kita berpusat di gedung yang kau pakai. Jangan khawatir tentang dana dan yang lainya. Apa kalian semua mengerti?"
"Mengerti tuan..."
"Nah, miting kita hari ini cukup sekian. Mungkin 2 atau 3 bulan lagi aku akan pulang ke indonesia..."
__ADS_1
"Baik, tuan..."
Maka setelah itu, layar monitor langsung mati seketika. Semua orang yang berada diruangan itu merasa lega, sebab Pieter Smith tidak terlalu ambil pusing, dengan hilangnya sebuah robot beserta pengrusakanya.
"Kita harus menambah lagi beberapa pasukan, untuk menyelidiki siBaron Baruna. Karena aku yakin, orang itulah yang mencuri dan menggunakan robot x-16 milik perusahaan kita..." berkata Jonatan kepada empat rekan lainya.
"Aku tak habis pikir, mengapa karyawan sekelas tukang sapu bisa mengendalikan sebuah robot, yang semestinya tak bisa digunakan sembarang orang bahkan pilot sekalipun..." Rekanya yang bernama doktor Aryanto menyatakan keheranananya.
"Itulah yang harus kita selidiki..." Sahut Jonathan.
"Itu benar, sebelum robot itu melakukan kekacauan lagi. Kita harus dapat menangkapnya kembali..."
"Oh iya, kita kembali ke proyek X 17 P. Dokter Andre sudah brapa persen proyek itu terealisasi kan?"
Yang disebut Doktor Andre segala mengeluarkan ponselnya, lalu ia menjelaskan tentang proyek yang sedang ia kerjakan.
Proyek X-17 P adalah suatu proyek yang sedang ia jalankan,
yakni membuat Robot berikutnya, yang tentu saja lebih hebat dan lebih canggih, dari pada seri sebelumnya yakni robot X-16.
Robot X-17 P merupakan Robot Penghancur, yang mana dalam segi ketahanan dan penyerangan akan lebih mengerikan dari pada robot X-16.
"Wezz.. wez..." mendadak saja ponsel Jonatan bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Ada apa, agen Wily?"
--"Tuan aku mendengar kabar, bahwa robot x-16 telah ditemukan keberadaanya. Target berada didaerah utara tepatnya pinggir hutan bukit Jarian..'---
"Bagus, kirim beberapa agen lagi untuk memimpin pasukan. Segera tangkap robot itu, namun mesti diingat jangan sampai menimbulkan keributan hebat.."
--'Baik...'---
Setelah sambungan telepon ditutup, lalu Jonatan berkata kepada rekan-rekanya.
"Ada kabar bagus, Robot x-16 kita sudah diketemukan. Kini beberapa agen beserta pasukanya sedang mencoba menangkapnya..."
"Bagus! ini benar-benar diluar dugaan. Ayo! mari kita lihat diruang pengintai..." seru rekan-rekanya, sambil berlarian menuju ruang pengintai.
Yang disebut ruang pengintai itu ternyata, suatu ruangan yang dipenuhi beberapa monitor. Dan setiap monitor, tersembung secara virtual ke beberapa agen beserta pasukannya.
__ADS_1
*****
Di sebuah hutan kota, yang letak nya jauh dari pemukiman. Terdengar beberapa kali rentetan senjata keluar dari senjata otomatis. Bukan hanya itu beberapa kali terdengar ledakan dari sebuah granat atau bom dengan daya ledak cukup tinggi.
Sebuah robot dengan ukuran besar, setinggi 3 meter dan berbobot 7,3 ton sedang di kepung oleh beberapa pasukan bersenjata lengkap termasuk baju pelindung.
"Bes...bes..."
Beberapa Granat asap dan Granat kejut atau flashbang dilontarkan oleh beberapa orang dengan harapan sipilot kehabisan oksigen. Namun robot itu tidak bergeming bahkan serentetan peluru dengan ukuran 12.7 x 55 mm menghujani, beberapa orang penyerangnya hingga lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari kematian. Namun naas, salah satu dari mereka kaki kirinya terkena peluru hingga ia mengerang kesakitan.
"Lapor! Agen e terluka lindungi kami, copy..."
"Baik terus bergerak, kami berada di arah jarum jam angka 3. copy.."
Sambil memapah rekanya yang terluka, agen f terus bergerak menuju arah angka jam 3. Beberapa orang rekanya mencoba melindungi dengan cara menembak siRobot.
Tak ayal terlihat slongsong peluru berhamburan diudara, disertai suara bergemuruh tatkala tubuh robot dicecar habis oleh lusinan agen. Untuk sementara si robot tertahan, apalagi bunga api berpijar di seluruh tubuhnya yang terkena lusinan peluru.
Baron Baruna yang kini terjebak didalam tubuh Robot sangat marah, ia tahu bahwa para penyerangnya tentu para agen utusan perusahaan obor merah.
Dengan ganasnya ia bergerak, sambil membombardir para penyerangnya. Yang dekat ia pukul hingga terpental, yang jauh ia hujani dengan serentetan sejata. Hingga akhirnya para agen berhamburan menyelamatkan diri, namun naas banyak diantara yang tewas meregang nyawa dengan tubuh bersimbah darah.
Tidak sampai Disitu beberapa mobil milik mereka ikut serta ia hancurkan dengan rudal yang ia miliki. Hutan kota yang biasa sepi mendadak hingar bingar oleh ledakan dan suara-suara senjata.
Setelah barhasil mengalahkan musuh-musuhnya, lalu ia pun pergi meninggalkan medan pertempuran.
Baron Baruna terus bergerak di jalan-jalan sunyi. Hati nya gundah gulana, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hatinya.
Ya, semenjak terjebak dalam tubuh robot, kehidupannya sungguh tragis. Keluarganya sudah tak mau menerimanya kembali, bahkan putrinya pun ketakutan saat ia meyakinkanya bahwa ia ayahnya.
Kini ia terus-terusan diburu, oleh pihak Obor Merah bahkan oleh pihak kepolisian. Karena dianggap mesin pembunuh yang sangat membahayakan orang banyak.
Beruntung berkat kecanggihan teknologinya, ia selalu berhasil meloloskan diri dari pengejaran.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya ia berhenti di sebuah kawasan industri yang kebetulan sudah banyak yang mangkrak, kebetulan disitu banyak bangunan tua yang bisa ia tempati sementara.
Meskipun keadaan gelap gulita namun tak jadi masalah, lalu ia memasuki salah satu bangunan tua yang cukup tua. Kebetulan disitu masih ada sisa aliran listrik, itu artinya ia bisa mengisi kembali energi yang hanya tinggal 30 % lagi.
Setelah menghubungkan daya, lalu ia beristirahat hingga terlelap tidur.
__ADS_1
****