
Semakin sore situasi ditempat itu mulai lengang, beberapa ojol yang mangkal sudah banyak yang pergi karena orderan tak kunjung datang. Namun masih ada saja yang terus nongkrong sambil bercanda dengan teman seprofesi nya itu.
Waktu menunjukan pukul 15.30. Arya dan kawan-kawan sudah selesai membayar makanan, dan sudah berlalu meninggalkan tempat itu.
Namun baru saja beberapa langkah keluar dari cafe, mendadak saja terdengar suara berisik dari belasan knalpot motor.
Suaranya begitu hingar bingar hingga terdengar dari kejauhan, makin lama suara berisik itu makin mendekat, dan tak lama kemudian munculah belasan motor rx king mendatangi Arya bertiga.
Sekilas terlihat, meskipun mengenakan rompi hitam bertudung namun semuanya mengenakan celana abu. Jadi jelas mereka semua adalah para pelajar yang berkelompok membentuk sebuah geng.
Bahkan empat orang diantaranya langsung turun dan menghampiri Arya beserta teman-temanya. Sedangkan yang lainya, masih duduk diatas motornya masing-masing dengan sikap garang dan mengancam.
"Apakah kalian bertiga dari SMA Bhayangkara?" Terdengar siswa yang diCepak bermata tajam bertanya.
Karena Baim dan Jesika tak berdaya, karena ketakutan akhirnya Arya pun menjawab.
"Iya betul, kami bertiga adalah siswa siswi sma Bhayangkara. Ada yang bisa kami bantu?"
"Hmm..."
Sicepak tercengang, ia sedikit heran sebab siswa yang berada dihadapannya tidak menunjukan rasa takut sedikitpun. Biasanya.. jangankan siswa, sekelas master beladiri pun akan jeri jika sudah berhadapan dengan mereka semua. Yang memang bukan hanya terbentuk dari sebuah geng motor biasa, melainkan mereka semua terbentuk dari disebuah sasana beladiri yang ternama.
"Hm, baiklah. Jika kau benar dari sma Bhayang kara aku mau bertanya. Mana teman mu yang bernama Jake dan Berni?"
Sebelum menjawab, Arya sedikit memiringkan tangan kirinya untuk melihat erloji.
"Ini sudah pukul 15.41. Tentu saja mereka sudah pulang kerumahnya..."
Kembali siCepak tercengang dengan apa yang di pertontonkan Arya, pun juga demikian Baim dan Jesika mereka tak menyangka Arya yang selama ini terkenal pendiam karena mengalami kelumpuhan bisa bersikap begitu tenang saat sudah bisa berdiri dan bahaya didepan mata.
"Hey, kawan bicara yang sopan. apa kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi?" mendadak saja teman siCepak yang berdiri dibelakangnya berkata.
"Ya, kau tidak tahu. Yang kau hadapi adalah Bos Leo pemegang sabuk merah di Sekolahan kami.. sekaligus ketua geng x riders kami..." seru yang lainya penuh dengan kebanggan sekaligus mengintimidasi Arya.
Mendengar itu Arya hanya tersenyum, sebenarnya Arya bukanya tidak takut. Namun saat ini ia sangat yakin akan kehebatan baju zirahnya, yang jangankan dipukul. Bahkan ditembak dengan senjata berkaliber besarpun tubuh Arya akan tetap aman terlindungi baju zirah. Terbukti beberapa waktu yang lalu, ia tertabrak sebuah mobil van. Bukanya ia yang cedera, malah mobilnya yang hancur dibagian depan tatkala menabrak tubuh Arya.
"Sudah cukup, kalian berdua diamlah. Biarkan aku yang bicara..." seru siCepak tegas, sambil melangkah lagi hingga beberapa tindak.
"Hm, jika begitu baiklah. Aku akan menitip pesan kepada mu..."
"Baik, katakanlah..."
__ADS_1
"Katakan pada mereka berdua, jangan merasa sok jagoan mentang-mentang dia anak orang kaya dan anak polisi bisa menghajar orang seenaknya..."
Arya sedikit mengerinyitkan keningnya, ketika mendengar perkataan siCepak yang bernama Leo.
"Menghajar orang?"
"Ya, kemarin siang ia menghajar empat kawanku hingga babak belur, bahkan si Dery sampai patah hidungnya!"
"Lalu mengapa kau baru unjuk gigi sekarang? Apa karena saat itu teman-teman mu ini tidak ada?" sahut Jesika yang sedikit muncul keberaniannya.
"Kau jangan berkata sembarangan, jika saat itu bos Leo ada. Tentu teman sekolah mu sudah habis..." terdengar kawanya yang menjawab.
"Meskipun ia sedikit arogan tapi mustahil ia melalukan perbuatan seperti itu tanpa alasan yang jelas..."
Seketika itu juga beberapa temanya turun dari motor, masing-masing matanya memerah membuat nyali Jesika ciut kembali.
Melihat keadaan mulai memanas, diam-diam Arya berbisik pelan namun jelas terdengar nyata oleh system Baju Zirahnya.
"Mode bertahan, aktifkan..."
Seketika itu juga terdengar mr al menjawab.
"Baik, mode bertahan diaktifkan...
System mode bertahan telah berhasil diaktifkan..."
Begitu system aktif, seketika itu juga, layar hologram hijau tipis membayang dihadapan nya. Beberapa buletan merah muncul sebagai target menandakan mereka adalah lawan.
Disisi lain, terdengar salah seorang dari mereka yang mendekat berkata, terlihat dari wajahnya lebih sangar dari sicepak Leo.
"Apanya yang mustahil, kenyataanya memang begitu apa perlu aku bawa kemari?"
"Kurasa memang tidak perlu..."
Arya kembali pasang badan, adrenalinya mulai terpacu bahkan ada sesuatu yang bergelora didalam dadanya.. semangat bertarung yang menggebu-gebu.
"Baik! Aku ingin lihat, apa kekuatan mu sehebat keberanian mu?" seru siSangar sambil melangkah hingga satu meter jaraknya ke Arya. Jarak yang ideal untuk melakukan penyerangan.
Arya hanya tersenyum, sambil memberi isyarat agar teman-temanya mundur.
Melihat keadaan seperti itu diam-diam Baim mengeluh, ia tak bisa membayangkan nasib teman baiknya itu.
---'Oh, celaka lah kawan. Baru saja kau bisa berjalan sekarang uh! Tidak-tidak.. aku harus mencari pertolongan...'--
__ADS_1
Ia mencoba menyelinap, namun beberapa orang anggota geng mengadangnya. Kini Arya, Baim dan Jesika telah dikepung oleh belasan siswa yang siap memukulinya.
Beberapa orang yang kebetulan lewat tidak berani melerei, bahkan diantara mereka ada yang buru-buru pergi ketakutan.
Namun sebelum apa yang ditakutkan Baim terjadi, mendadak saja dari arah jalan raya suara klakson mobil berbunyi sangat nyaring. Membuat perhatian semua orang tertuju kearah datangnya suara.
Terlihat sebuah mobil sebuah mobil sedan merah dengan cup terbukanya menderu, dan tak lama mobil itu menepi disusul dengan turunnya tiga orang remaja.
Sontak saja kawanan geng pelajar ini bergerak dan langsung mengepung, dengan posisi siap menyerang.
"Siapa kau?"
terdengar siCepak Leo langsung bertanya.
"Aku orang yang kau cari..." jawab Jake sambil berdiri disamping Arya.
"Hmm... kau Jake?"
"Ya, dan ini teman ku Berni serta pacarnya Afril?"
"Hm, baguslah hari ini aku akan membuat perhitungan..."
"Perhitungan apa?"
"Jangan berpura-pura! Bukan kah kau telah menghajar empat teman ku dan menantang ku untuk bertarung? Nah hari ini akan kulayani..."
"Hmm..."
Terlihat Jake menyeringai, sementara itu terdengar Berni mencoba memberikan penjelasan.
"Leo, dengar kan aku dulu. Sesungguhnya, aku dan kawan ku ini tak pernah menantang mu sama sekali. Namun yang jelas, aku menghajar temanmu yang bernama Dery karena dia telah berani melecehkan pacarku ini..."
SiCepak Leo terlihat sedikit terkejut, dengan tatapan tajam ia pun bertanya.
"Apa benar begitu?"
"Memang begitu adanya, jika kau tak percaya. Tanyakan saja pada orang-orang yang berada didalam kantin saat itu..."
"Benarkah siDery berlaku tak senonoh padamu?"
Afril menganggukan kepalanya, lalu ia pun menjawab.
"Ia terus-menerus menggoda ku dengan kata-kata yang tidak senonoh,, bahkan beberapa kali ia mencoba meraba tubuh ku. Tentu saja kak Berni tidak tinggal diam membiarkan itu terjadi. Hingga akhirnya terjadilah adu jotos antara kak Berni dengan Dery dengan diakhiri pengeroyokan. Tepat saat itu, kebetulan Jake datang dan membantu. Apa kau percaya?"
__ADS_1
#Bersambung