Baju Zirah

Baju Zirah
Kejuaraan MMA


__ADS_3

"Kriiingggg....."


Suara bel terdengar begitu nyaring dari suatu sekolah menengah Atas. Tidak lama keluar serombongan siswa-siswi mengenakan seragam abu putih.


Sementara yang lainya langsung bubar pulang kerumah masing-masing, sementara tiga siswa lainya keluar dari ruangan kelas paling belakangan. Yang satu seorang siswi dan yang dua lagi, dua orang siswa bertubuh gempal dan sedang.


"Kalian berdua, bagaimana kalau hari ini aku traktir minum?" terdengar situbuh gempal bicara.


"Oh ya, tumben? Apa kau habis menang lotre?" ejek temanya yang bernama Jesika.


"Haha... kau ini, tau aja. Bagaimana, mau gak?" kembali Baim melontarkan pertanyaanya.


"Kalau aku si, ok ok aja..."


"Dan kau, bagaimana?" Tanya Baim sekali ini sambil melirik ke Arya.


"Mmm... baiklah. Namun jam 4 aku harus segera pulang. Sebab kau tau sendiri tabeat paman dan bibiku..."


"No problem, brow. Let's go..." seru Baim sembringah.


"Lalu kita mau ke caffe mana?" tanya Jesika.


"Kita ke tempat yang dekat aja. Caffe Tri Brother..."


"Ok. terserah kamu, aja. Yang penting gratis. Uh, tak sabar aku akan mie pedasnya. Ayo..."


Lalu mereka bertiga pun terus berjalan menyusuri trotoar menuju caffe yang berada disebelah selatan gedung sekolah.


Dijalan cukup ramai, kendaraan berlalu lalang beberapa kali klakson mobil terdengar menawarkan jasa kepada orang-orang yang kebetulan berjalan.


"Cimahi... Cimahi..."


Seru seorang sopir, sambil menepikan mobil angkotnya mendekati Arya dan kawan-kawan.


"Tidak mang, terimakasih..."


"Tid-tiidd... " dari belakangnya seorang ojol membunyikan klaksonya dengan kesal karena jalannya terhalang.


"Sabar kawan..." seru sisopir.


ojol hanya melotot, sambil menyalip dan menyiap mobil angkotnya.


Arya dan Jesika hanya memperhatikan sambil terus berjalan menuju caffe yang sudah terlihat dari situ.

__ADS_1


Siang itu cuaca memang cukup terik, ditambah jalanan padat hingga tak heran cukup menguras tenaga dan emosi membuat darah bisa naik dengan cepat.


Arya yang sejak beberapa bulan terakhir menunjukan kesembuhan kakinya secara signifikan, disambut gembira oleh semua kawan-kawan sekelasnya, apalagi keluarganya sendiri yakni paman dan bibinya.


Sebenarnya Arya adalah anak yang berprestasi, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama dan sampai sekarang di sekolah menengah atas ia selalu berada di rangking tiga besar. Itu mengapa, karena selama ini ia mengalami kelumpuhan makanya ia tidak bisa mengikuti mata pelajaran seluruhnya. Terutama di bidang olah raga atau sejenisnya.


Kini ia sudah bisa berdiri, bahkan berjalan dan berlari. Ada kemungkinan, ia bisa berada di rangking pertama karena sejak seminggu yang lalu ia sudah bisa mengikuti mata pelajaran olah raga.


Bahkan tanpa ia sadari tubuhnya mulai membentuk.


Lebih tegap dan berisi, tinggi badannya bertambah hingga beberapa inchi. Itu semua berkat baju zirah yang setiap hari ia pakai.


Apalagi sekarang, Arya terus-terusan menempa diri dengan cara berlari joging hingga sprint jarak jauh. Bahkan 2 minggu sekali ikut kebugaran, seperti senam dan seni bela diri Muang Thay yang terkenal keras tak berampun. Itu semua ia lakukan sesuai intruksi yang di arahkan oleh asisten canggihnya yakni baju zirah yang tercipta dari masa depan..**


Karena tempatnya memang tidak terlalu jauh, akhirnya mereka pun tiba di Caffe Tri Brother. Seperti biasa, disitu sudah ramai oleh pengunjung, bahkan beberapa ojol duo ijo banyak yang ikut nongkrong sambil menunggu orderan masuk.


Setelah mereka bertiga mendapatkan tempat duduk, seorang pelayan datang menghampirinya dan bertanya.


"Kalian bertiga mau pesan apa?"


"Aku dan kawan-kawan pesan Mie pedas porsi, minumannya air jeruk..."


"Baik, akan saya siapkan. Ditunggu, ya.." kata si pelayan sambil mengangguk ramah.


Setelah sipelayan pergi untuk menyiapkan pesanan, mereka bertiga mulai berbincang kembali.


"Sob, sebentar lagi ada kejuaraan mma antar sekolah apa kau mau ikut?" Mendadak saja Baim melontarkan sebuah pertanyaan, yang tentu saja membuat Arya terkejut.


"Oh, tidak..."


"Mengapa? padahal kulihat belakangan ini kau mulai aktif mengikuti Muang Thay? Ayolah sekali ini jangan hanya menonton, aku tau kau sangat menyukai olah raga tersebut..."


"Tidak. Terimakasih, sob. Aku ikutan Muang Thay


hanya untuk menjaga dan supaya tidak gendut..."


"Wah, kau ini menyidir ku ya?"


"Mm, tidak juga. Itu memang keinginan ku sejak dulu. Hanya saja baru terlaksana sekarang-sekarang ini. Lagian untuk mengikuti kejuaraan minimalnya aku harus pegang sabuk tak seperti sekarang masih taraf pemula.."


"Mm.. iya, juga. Seni bela diri kan memang tidak segampang memasak mie instan. Hehe..."


"Ah, kau ini hanya makanan terus yang diurus..." seru Jesika sambil tersenyum.

__ADS_1


Tak lama pesanan tiba, lalu mereka pun mulai menyantap mie pedas yang terlihat panas dan menggoda selera.


"Oh ya, jes. Berapa siswa tahun ini yang menjadi perwakilan sekolah kita?"


"Menurut data yang aku peroleh. Sementara ini hanya baru lima orang yang mendaftar. Padahal tahun kemarin cukup banyak yang mengikuti kejuaraan mma tersebut..."


"Itu mungkin semenjak ada yang meninggal, makanya banyak orang tua siswa yang melarang anak-anaknya mengikuti kejuaraan..."


"Ya, salah satu faktornya itu. Tapi menurut yang aku dengar, tahun ini syarat dan ketentuannya sangat ketat sekali. Mungkin berkaca dari kejadian setahun lang lalu..."


"Bagaimanapun juga, keselamatan lebih penting.." sahut Arya sambil menyeruput es jeruk melalui sedotan. "Oh ya, kelas berapa saja kali ini yang mengikuti kejuaraan?"


"Hanya kelas satu dan dua. Sedang dari kelas tiga tidak ada yang ikutan, mungkin ini sudah mendekati ujian akhir semester jadi saya rasa mereka takut cidera..."


"Itu masuk diakal. Lalu siapa saja yang sudah mendaftar?"


"Kalau dari kelas kita baru Jake dan Berni. Sedang dari kelas lain belum ada. Namun yang mencolok dari kelas satu sudah ada yang mendaftar namanya Hilman..."


"Oh iya..."


"Tapi apakah dia sudah lulus seleksi?"


"Kelihatanya sudah, makanya ia mendaftar..."


"Sayang kakak kelas kita yang terkenal sudah lulus tahun kemarin, padahal dia udah dua kali menyabet piala antar sekolah..."


"Menurut kabar, justru ia sekarang sudah menjadi petarung propesional. Sayang karirnya belum bersinar..."


"Di kejuaraan mma sesungguhnya, diperlukan skil dan keahlian lebih dari satu ilmu bela diri. Mengandalkan Muang Thay saja saya rasa tidak cukup..."


"Yup, itu benar sekali sob..."


Baim mengiyakan sambil masukan mie terakhir kedalam mulutnya.


Disusul Arya dan Jesika, maka selesai lah mereka memakan mie pedas.


"Oh iya, bagaimana kedua saudara mu setelah kejadian kemaren?" Jesika memindah topik sambil mengunyah mie pedas.


"Sementara ini, dia baik-baik saja. Semenjak ketangkap 3 bulan yang lalu, pengawasan paman dan bibiku makin diperketat. Uang saku nya pun banyak dipotong.."


"Baguslah kalau begitu. Dan semoga saja kedua sepupu mu itu kapok dan jera..."


"Ya, mudah-mudahan saja..."***

__ADS_1


#Besambung


__ADS_2