Balas Dendam Wanita Baik

Balas Dendam Wanita Baik
Bab 44


__ADS_3

"Siapa dia.?" tanya Rangga, yang Mengikuti Kaif ke ruang kantornya, Rangga melirik Shalunna yang berada di luar. Itu adalah wajah baru yang dirinya baru lihat di perusahaan sahabatnya itu.


Karna Kaif biasanya tidak membiarkan Seorang wanita bekerja dekat dengannya. Untuk menghindari masalah yang tidak diperlukan kedepannya, bahkan asistennya sekarang d.


Kaif pun ragu-ragu sejenak, lalu menjawabnya seperlunya, dia berkata,


"Dia… Hanya Seorang pegawai."


Mendengar jawaban Kaif, Mata Rangga seketika menajam, dia tidak akan mau melewatkan perilaku Kaif yang terlihat tidak wajar.


“Persetan. Tidak mungkin. Kamu tertarik padanya, bukan? ”


Rangga tahu betul Kaif adalah temannya yang tumbuh dewasa bersamanya dari kecil. Jadi Rangga mengenalnya lebih baik dari pada orang lain.


Rangga berfikir Jika gadis itu benar-benar hanya sekedar karyawan yang tidak penting, Kenapa Kaif menjawabnya seragu itu.?


"Jangan terlalu banyak tanya, oke.!" Ucap Kaif mengerutkan keningnya dan tiba-tiba merasa bahwa berbicara dengan orang yang terlalu akrab adalah hal yang mengganggu dirinya.


"Jadi, kamu tidak akan pergi melihat kelulusan Milana?" tanya Rangga yang tiba-tiba merasa agak sedih.


Kaif dan Milana adalah pasangan yang serasi dan favorit di lingkaran persahabatan mereka. Semua orang bahkan iri pada mereka. Ada pepatah yang mengatakan bahwa melihat mereka, Anda tahu apa itu cinta yang ideal.


Rangga bahkan merasa kehilangan ketika melihat dua sahabatnya itu yang beranjak dewasa, memutuskan untuk putus. Tanpa menjawab pertanyaan Rangga, Kaif memilih melihat gambar yang berada di atas meja, dan tenggelam dalam pikirannya sejenak.


Dalam foto itu ada pasangan muda dengan seragam sekolah, keduanya berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Saat itu, mereka belum dewasa seperti saat sekarang ini. Lengan Kaif yang dipegang oleh Milana, dengan senyum geli di matanya.


Dalam sekejap, tak terasa sudah tiga tahun berlalu.


"Saya akan memikirkannya lagi tentang hal itu." ucap Kaif meletakkan foto itu dengan sekejap dan beralih menatap Rangga.


“Kamu bisa pergi sekarang.” sambungnya, mengusir sahabatnya itu.


“Benar-benar begitu tidak berperasaan. Jawab dulu pertanyaan dariku Siapa gadis di luar itu.? Aku tahu betul bahwa kamu tidak akan tertarik dengan kisah cinta tentang presiden dan petugas kebersihan, kan.?” tanya Rangga tidak marah karena diminta pergi oleh sahabatnya itu. Sebaliknya, dengan senyum nakalnya, dia menunjuk Shalunna, yang sedang menyeka gelas. Dia memang agak penasaran dengan wanita itu.


Rangga bertanya-tanya, Saat dirinya melihat bahwa wanita itu sepertinya sangat istimewa bagi Kaif, Namun Rangga tidak tau istimewanya wanita itu dalam hal apa dan mengapa Kaif menahannya di sisinya, meskipun Kaif memang tampan tapi baginya ada yang mengganjal dipikirannya.


“Kenapa kamu begitu banyak bicara.? Saya harus kerja. Jika kamu masih ingin tinggal disini, diamlah.”


Kaif melirik Shalunna, yang sedang melakukan pekerjaannya sendiri di luar yang terlihat dari kaca transparan ruangannya, dan matanya seketika menjadi gelap. Kemudian, dia beralih melihat dokumen yang ada di atas meja kerjanya, memilih fokus pada pekerjaannya dan menolak untuk berbicara dengan Rangga.


Beberapa menit kemudian Rangga yang merasa bosan. Dia tidak tertarik menonton Kaif yang sedang bekerja. Hal itu sangat membosankan. Lalu dia pun memilih untuk berjalan keluar dari ruangan Sahabatnya itu, dan berjalan menghampiri Shalunna, ia pun berhenti tepat di belakang Shalunna, dia kemudian menepuk pundaknya dengan nakal.

__ADS_1


Shalunna yang fokus pada pekerjaan yang sedang di kerjakannya, Namun dia secara tiba-tiba di sentuh oleh seseoeang hal itu membuatnya kaget dan hampir melompat.


Shalunna yang akhir-akhir ini telah diganggu oleh Qisthan beberapa kali, dan membuatnya hampir alergi terhadap sentuhan orang lain.


"Mengapa kamu bereaksi begitu ketakutan.?" tanya Rangga, dia kini memandang Shalunna yang tadi melompat seperti kelinci kecil, dan matanya dipenuhi keterkejutan.


Rangga menatap Wanita itu yang ketakutan, dan matanya berkilauan karna air matanya. Wajahnya memerah, membuatnya cukup menggemaskan.


“Apakah Kaif menyukai tipe wanita seperti yang ada di hapanku sekarang ini.?” gumamnya dalam hati Rangga.


Mata Rangga kini berubah menjadi gelap. Sebagai teman bersama Milana dan Kaif sejak kecil, dirinyaa pastinya menginginkan mereka kembali bersama, jadi Rangga berfikir apakah wanita dihadapannya ini yang sudah menjadi penghalang kedua sahabatnya itu.


"Maaf, Apakah kamu takut.?” tanya Rangga.


Shalunna menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Dia pikir itu Qisthan dan tanpa sadar ingin menghindarinya.


"Apakah kamu bekerja di sini?"


Shalunna pun menjawab pertanyaan pria dihadapannya dengan menganggukkan kepalanya dan berkata dengan lembutnya yang khas dimilikinya,


"Ya."


"Aku adalah teman Kaif." ucap Rangga meyakinkan Shalunna, Namun saat Rangga melihat ekspresi wanita di depannya, tetapi dia tidak menemukan hal yang aneh.


"Yah, apa ada yang bisa saya bantu atau melakukan ssuatu untuk anda tuan.?" tanya Shalunna yang tadi sedikit bingung, tetapi dia berusaha bertanya dengan sopan pada pria dihadapannya itu.


"Tidak ada apa-apa. Kamu tampaknya menjadi karyawan wanita pertama yang memasuki lantai ini, yang tampaknya Kaif memiliki sesuatu hubungan khusus untukmu”


"Betulkah.? Tapi Saya di sini hanya untuk di tugaskan bersih-bersih saja, dan saya tidak tahu apa-apa lagi.” timpal Shalunna,


Shalunna dengan cepat menjauhkan dirinya sendiri dari sesuatu yang berkaitan dengan Kaif.


Rangga melihat bahwa bibir Shalunna seperti tersegel, jadi tidak ada gunanya jika terus bertanya padanya. Dia hanya bisa tersenyum malu, kemudian dia pun berkata, "Baiklah. Lagi pula Dia sudah jatuh cinta dengan seseorang. Aku hanya mengingatkanmu untuk tidak naksir padanya, yang pada akhirnya hanya akan menyakitimu saja.”


Setelah mengatakan itu, Rangga pun pergi. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk Milana.


Sedangkan Shalunna yang mendengar ucapan Rangga kini dia melihat punggung pria itu pergi dari hadapannya dan kemudian ke ruangan Kaif. Melalui jendela, dia hanya bisa melihat sosok Kaif, tetapi dia tidak bisa melihat apa yang dia lakukan.


Shalunna tidak pernah berpikir bahwa Kaif akan memberi tahu teman-temannya siapa dirinya, tetapi diberitahu langsung oleh temannya untuk berhenti berimajinasi mengharapkan cinta darinya, Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.


Mungkin itulah pikiran Kaif yang sebenarnya, dan dia merasa malu untuk memberitahu dirinya, jadi dia meminta temannya untuk mengatakan hal itu padanya, pikir Shalunna.

__ADS_1


Apa sebenarnya yang sudah aku bayangkan padanya sejak awal.?


Kaif membantuku dua kali dan aku benar-benar mengira Kaif akan jatuh cinta padaku.? Ini adalah pikiran yang sangat konyol.


Memikirkan hal itu Shalunna pun Menepuk pipinya, Shalunna membuang muka.


Tanpa disadari, sudah waktunya untuk pulang kerja.


Shalunna dengan diam mengikuti Kaif dan masuk ke dalam mobil pria itu. Pria itu tidak bisa tidak menatapnya karna merasa aneh oleh sikap Shalunna, dia agak memperhatikan bahwa Shalunna tampak sedikit tertekan.


“Apakah Qisthan masih mengganggunya.?” gumam Kaif dalam hatinya saat melihat Shalunna yang tampak tertekan.


Saat Kaif hendak bertanya tepat ketika teleponnya berdering secara tiba-tiba. Nomor yang tersemat di layar ponselnya di sana mengubah wajahnya, tetapi dia memilih untuk turun dari mobil untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


Itu adalah panggilan dari Milana.


Kaif dan Milana putus karena mereka memiliki pendapat yang berbeda tentang apakah Milana harus belajar di luar negeri atau tidak. Namun Milana memilih untuk belajar diluar negri Dan sejak itu, mereka tidak pernah saling menghubungi satu sama lain lagi.


Mereka berdua adalah orang-orang terpilih, yang dikelilingi sebagai inti yang tumbuh dewasa secara bersama. Dan keduanya tidak akan memakan burung gagak terlebih dahulu.


Dia tidak pernah kembali ke tanah air dan mengejar mimpi musiknya di luar negeri. Sedangkan Kaif telah berbaring di ranjang rumah sakit dan tidak pernah mengambil inisiatif untuk mencarinya ketika dia bangun.


Dia pikir mereka akan kehilangan kontak, tetapi di luar dugaannya, Milana justru menghubunginya terlebih dulu.


Kaif terdiam sejenak, dan dia menyadari bahwa dia melewatkan panggilan telephon darinya. Setelah beberapa saat merenung, dia akhirnya meneleponnya kembali.


Setelah panggilan itu tersambung, mereka terdiam sejenak. Kemudian, Milana tersenyum dan berkata dengan nada lembut, "Saya hanya berpikir mungkin Kamu tidak ingin menjawab panggilan dari saya."


“Baru saja melewatkan panggilan itu sekali. Apa yang salah.? kamu menghubungiku dengan tiba-tiba.” jawab Kaif.


Kaif menggelengkan kepalanya, sedikit pasrah. Di dunia ini, hanya Milqna yang berani bercanda di depannya dengan begitu tidak bermoral.


"Maukah kamu datang ke upacara kelulusanku?" tawar Milana mengepalkan jarinya.


Tiga tahun lalu, dia meninggalkan Kota Kartanegara dengan sengaja. Dia mengira Kaif akan datang menemuinya, tetapi pada akhirnya dia tidak datang. Menahan amarahnya, dia belajar di luar negeri, dengan sengaja tidak mempedulikan apa pun, dan menolak untuk pulang.


Tapi di luar dugaannya, alasan mengapa Kaif tidak menghubunginya adalah karena dia mengalami kecelakaan. Itulah mengapa dia mendapatkan kembali keberanian untuk melakukan panggilan ini.


Setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain selama bertahun-tahun, bertemu begitu banyak orang, tidak ada yang lebih baik dari Kaif. Bagaimanapun, orang yang di cintainya masihlah Kaif.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2