
Shalunna tampak bingung dan bangkit, kemudian dia berkata. "Apa itu untukmu.?" Setelah mengatakan itu, dia mengambil tas tangannya dan pergi.
Eva yang masih di tempat sambil melihat punggungnya dengan senyuman aneh. Kemudian, dia berjalan ke tempat yang paling ramai dan berteriak dengan panik,
“Oh tidak,! kalung berlian yang disponsori oleh endorser itu hilang!”
Ketika semua orang mendengar tentang pencurian, mereka semua menoleh kesumber suara Eva.
Perhiasan yang dipegang Eva tak ternilai harganya, bukan hanya karena terbuat dari beberapa berlian berkualitas tinggi yang sangat mahal, tetapi juga karena itu adalah karya terakhir perancang dalam hidupnya, yang bisa disebut mahakarya, jadi nilai dari koleksinya jauh lebih tinggi dari nilai material itu sendiri.
“Kalung itu karya terakhir Tuan William . Jika aku kehilangan kalungnya…” Eva tidak menyelesaikan kalimatnya, dia justru menutupi wajahnya Dan dia terlihat sedih dan bahkan menangis.
Saat orang banyak melihat ini, mereka mengira dia patah hati merasa sangat sedih karena kehilangan karya seninya, jadi mereka merasa bahwa Eva adalah wanita yang lebih baik. Mereka pun segera memanggil satpam untuk membantu menemukan kalung yang hilang.
Dengan Segera, seluruh tempat itu pun ditutup. Mereka yang hadir tidak diizinkan pergi tetapi hanya membolehkan orang yang akan masuk ke sini.
Tapi beberapa menit kemudian, semua orang benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Mereka semua pun mencari kalung itu, tetapi bagaimana cara menemukannya agar tidak menjadi masalah. Semua orang yang hadir di sina berstatus tinggi, dan tidak mungkin mencari satu per satu.
Eva yang masih menangis beberapa saat. Melihat bahwa tujuannya untuk mendapatkan perhatian semua orang hampir tercapai, dia perlahan mendongak,
"Saya khawatir kalung itu hilang ketika saya pergi ke kamar mandi karena saya melepasnya sebentar kalau-kalau basah." ucap Eva bersandiwara dengan cara berbohong.
Begitu Shalunna mendengar ucapan saudranya yang dia tebak sedang berbohong, dia pun segera menyadari, bahwa ada yang tidak beres. Dia pun diam-diam menyentuh bagian dalam tas tangannya.
Dan Benar saja, benda keras yang bukan miliknya menggelitik tangannya yang dia sentuh dari luar tas…
Shalunna berfikir, Pasti di kamar mandi tadi Eva menyelipkannya saat dirinya sedang merapikan sepatu hak tingginya.!
Kini Wajah Shalunna menjadi pucat. Saat itulah dia mengerti mengapa Eva yang datang untuk berbicara dengan dirinya, tapi hal itu sudah terlambat.
Setelah beberapa saat, seseorang menunjuk ke arahnya dan berkata, "Sepertinya wanita muda ini baru saja ke kamar mandi, dan waktunya bertepatan dengannya."
Beberapa gadis yang baru saja ke kamar mandi sudah membuka tas mereka untuk diperiksa, tetapi Shalunna tahu bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak dapat membuka tasnya. Dalam hal itu…
“Nona bisakah anda memperlihatkan isi yang ada di dalam tas anda.?” pinta salah seorang di ruangan tersebut.
Namun Shaunna membeku, Baginya Tidak ada yang akan percaya bahwa dirinya tidak bersalah.!
“Sa...saya tidak mau.” Tolak Shalunna dengan ramah.
__ADS_1
Namun Penolakannya itu justru menjadi pengakuan terselubung di mata semua orang.
"Ya Tuhan. Dia terlihat baik, tapi sebenarnya dia adalah seorang pencuri.”
"Apakah dia telah mencuri barang-barang yang lain.?"
Mereka pun mulai salah paham pada Shalunna dan terus membicarakannya. Ekspresi menghina mereka membuat Shalunna merasa kedinginan seolah-olah dia telah kembali ke hari ketika semua orang salah memahaminya sebagai seorang simpanan.
"Aku tidak mencuri apa pun." ucap Shalunna berusaha membela dirinya, dia mundur selangkah, matanya dipenuhi ketidakberdayaan dan kemarahan.
Melihat ketidakberdayaan saudara perempuannya, Bagaimana Eva bisa puas.? Dia pun berusaha memancing amarah semua orang dengan berkata, “Kamu bilang kamu tidak mencuri apa pun. Mengapa kamu tidak menunjukkan kepada kami apa yang ada di dalam tas yang sedang kamu pegang.?”
Saat dia berbicara, seseorang merebut tas tangan kecil itu dari tangan Shalunna. Namun Shalunna memegangnya dengan begitu erat. Keduanya menemui jalan buntu. Saat tasnya akan direnggut, suara laki-laki yang dingin terdengar menggelegar di seluruh aula itu.
"Apa yang kamu lakukan.? Apa Ini benar-benar kehidupan manusiawi.?”
Ketika Kaif menyelesaikan pekerjaan tak terduganya dan dia langsung kembali, saat dia melihat pemandangan itu. Dia menatap wajah pucat Shalunna dan kemudian pria yang merampok tasnya.
"Tuan Waluyo, sepertinya tidak sopan mengambil paksa benda milik wanita di depan umum.” ujar Kaif, masih dengan nada dingin.
Tuan Waluyo pun melepaskan tangannya ketika dia mendengar ucapannya itu.
Pencurian?
Kaif melihat ekspresi tak berdaya Shalunna. Matanya yang merah, tapi dia menolak untuk menunjukkan kelemahan apapun padanya. Dia berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Wanita ini adalah karyawan perusahaan saya. Dia sering datang ke kantor dan ruang koleksi saya. Jika dia ingin mencuri sesuatu, mengapa tidak mencuri di sana.?”
“Selain itu, saya pikir Anda semua tahu hukum. Dia memiliki hak untuk melindungi privasinya. Dan apa yang anda lakukan Adalah melanggar hukum untuk mencari di tempat umum.”
Nada suaranya yang nyaring dan kuat menenangkan sekelompok orang yang baru saja marah. Jika itu adalah seseorang yang Kaif kenal…
"Mungkin ada beberapa kesalahpahaman."
"Yah, mari kita serahkan pada staf yang relevan."
Mereka segera mengubah sikap mereka dan tidak ingin terlibat dalam masalah yang merepotkan itu. Jika mereka mengganggu Kaif karena hal ini, itu tidak sebanding dengan kerugiannya.
Semua orang yang tadi berkumpul untuk menghakimi Shalunna pun perlahan meninggalkan tempat tersebut dan kembali ketempatnya semula.
__ADS_1
Eva menatap mereka dan wajahnya memerah karena marah. Dia kemudian berkata "Tuan Pratama, Saya mengenalmu dan adikku…”
Sebelum Eva bisa menyelesaikan kata-katanya, dia berhenti saat mata dingin Kaif berhenti menatap padanya seolah-olah dia sedang melihat sesuatu yang mati.
Dia bahkan merasa jika wanita itu mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan, dia bisa saja akan segera dibunuh oleh pria yang sedang dia ajak bicara itu.
“Saya kehilangan barang-barang saya. Tuan Pratama tidak bisa seenaknya menghentikanku untuk mencari pencuri itu, kan?”
Eva dengan paksa menghilangkan hal-hal yang seharusnya tidak dia katakan dan menatap Kaif. Meskipun dia sedikit takut, dia percaya bahwa Kaif tidak akan terlalu tidak masuk akal.
"Ya, tentu saja." Jawab Kaif
Kemudian Kaif berkata dengan acuh tak acuh, “Karena kamu ingin menemukannya, kamu bisa pergi dan memeriksa CCTVnya. Mungkin Kamu yang tidak sengaja kehilangannya di sana.”
Kaif mengatakannya dengan pasti, seolah-olah dia sudah memastikannya.
Ketika yang lain mendengar ucapan ini, mereka pikir itu lebih masuk akal dan menyutujui pendapat Kaif, "Kalau begitu pergi dan segera periksa video CCTV yang terekam."
“Karena Nona Novalendra menganggap ini ada hubungannya dengan stafku, aku akan bertanggung jawab untuk menangani masalah ini. Tolong tetap di sini dan jangan panik.” ujar Kaif menunjukkan sikapnya terhadap orang lain. Melihat dia telah mengambil tanggung jawab, mereka tidak ingin terlibat, jadi mereka meninggalkan tempat itu.
Kaif membawa Shalunna ke ruang pengawasan(CCTV), dan Eva mengikutinya dengan enggan.
“Sialan, kenapa juga tuan pratama datang, di waktu yang tidak tepat.”
Eva mau tidak mau bergumam di dalam hatinya bahwa Kaif datang ke sini pada waktu yang salah. Jika dia terlambat, dia pasti bisa menyalahkan Shalunna, dan dia tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali kepolosannya.
"Tunggu sebentar." ucap Shalunna mengikuti Kaif dan dengan lembut menarik ujung kemejanya karena dia tidak melihat orang lain.
“Sekarang kalungnya ada di tas ku. Dia memasukkannya ketika aku pergi ke kamar mandi untuk mengganti sepatuku. Tidak mungkin adanya terpasang CCTV di sana.” ucap Shalunna memberitahu Kaif.
Shalunna hanya bisa mengagumi kecerdikan Eva saat ini. Dia secara khusus menemukan tempat di mana sama sekali tidak ada video CCTV. Jika bukan karena Kaif, dia tidak akan bisa membela diri.
"Apakah kamu menyentuh benda di dalamnya?" tanya Kaif mengerutkan keningnya dia melirik Eva, yang mengikuti di belakangnya. Dan Matanya berubah menjadi dingin.
"Tidak." jawab Shalunna sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir, aku akan mengurus kasus ini."
...****************...
__ADS_1